
Brakkkkk suara tabrakan yang cukup keras yang berasal dari mobil Evan yang menabrak pembatas jalan cukup tinggi demi menghindari tukang becak karena Evan yang tidak fokus sebab ia masih mengantuk.
Baruntung Bara menggunakan sabuk pengaman membuat nya tidak terluka, Namun lain hal dengan Langit yang tidak menggunakan sabuk pengaman, Tubuh nya terlempar kedepan dan kepala nya terkena serpihan kaca mobil yang pecah akibat menabrak pembatas jalan dan membuat Langit tak sadarkan diri.
Evan memagang kepalanya yang sedikit pusing dan menengok ke arah Langit yang sudah tak sadarkan diri, "Lang bangun Lang" Panik Evan menggoyangkan tubuh Langit untuk membangunkan nya.
"Lang bangun" Evan terus menggoyangkan tubuh Langit.
Melepas sabuk pengaman Bara turun dari mobil, Beberapa orang yang ada di sekitaran tempat kejadian datang menghampiri mobil Evan, "Tolong teman saya pak" Ucap Evan sembari membawa tubuh Langit keluar dari mobil, Orang-orang yang ada disitu juga membantu Evan mengeluarkan Langit..
"Lang bangun Lang" Panggil Evan lagi membangunkan Langit.
"Bawa ke rumah sakit saja Nak" Ucap salah satu bapak-bapak yang paling tua di antara mereka.
Dan salah satu dari mereka menyetop sebuah mobil untuk membatu membawa Langit ke rumah sakit, "Ayo nak itu mobil nya sudah ada". Bapak tua itu menepuk pundak Evan.
"Iya pak, Tolong bantu saya pak" Evan dan beberapa orang menggotong tubuh Langit dan menaikan nya ke mobil.
Evan meninggalkan Langit sebentar dan berlari ke mobilnya untuk mengambil ponselnya setelah itu mereka pergi ke rumah sakit, Di perjalanan Evan menghubungi Bara.
"Hallo Bar Gue sama Langit kecelakaan, Mobil Gue nabrak pembaras jalan" Ucap Evan panik setelah panggilan tersambung.
"Apa? Bagaimana bisa? Gimana kondisi kalian? Kalian baik-baik saja kan?" Tanya Bara berentetan dari nada suaranya terdengar panik.
"Nanti Gue ceritain, Langit pingsan dan sekarang Gue lagi menuju rumah sakit Permata, Lu datang ke rumah sakit Permata sekarang ya?"
"Oke Van Gue berangkat sekarang"
Setelah itu panggilan terputus, Evan masih merasa panik dan terus berusaha membangunkan Langit, Dua puluh menit kemudian mereka sampai di rumah sakit, Evan di bantu dengan pemilik mobil mengeluarkan Langit dan meletakan nya di brankar yang sudah di siapkan suster setelah itu Langit di bawa ke UGD.
__ADS_1
Pemilik mobil pamit pergi Evan mengucapkan banyak terimakasih kepada pemilik mobil dan setelah pemilik mobil pergi Evan menunggu Langit di depan UGD, Lima belas menit kemudian Bara datang dengan nafas terengah-engah karena berlari dari tempat parkir ke ruang UGD.
"Van gimana keadaan Langit?" Tanya Bara dengan nafas terengah-engah.
"Gue belum tau, Langit masih di periksa Dokter" Jawab Evan masih dengan kepanikannya.
"Gimana ceritanya Lu bisa nabrak pembatas jalan Van?" Tanya Bara bagaimana kecelakaan ini bisa terjadi.
"Gue ngantuk banget Bar maknya Gue kurang fokus pas nyetir, Dan Gue hampir nabrak tukang becak maka dari itu Gue langsung buang setir dan nabrak pembatas jalan" Jelas Evan yang kini sudah duduk di kursi yang di sediakan.
"Gue merasa bersalah banget sama Langit Bar" Lanjut Evan Jujur.
"Lu tenangin diri Lu dulu Van, Lu jangan terlalu menyalahkan diri Lu sendiri, Ini musibah Van, Kita ga ada yang tau kapan musibah datang kepada kita" Bijak Bara menenangkan Evan.
"Van Lu sudah menghubungi orangtua Langit belum?"
"Yaudah Lu tenang saja biar Gue yang menghungi Uncle Kana" Bara mengambil ponsel nya dan menghungi orangtua Langit.
Tuan Kana yang mendapat kabar dari Bara jika Langit mengalami kecelakaan seketika syok bahkan membuat dadanya langsung nyeri, Begitupun dengan dengan Nyonya Lingga ia langsung menangis mengetahui anaknya kecelakaan, Setelah mendapat kabar itu mereka berdua langsung pergi ke Rumah Sakit.
Beberapa menit menunggu akhirnya Dokter keluar dari UGD, Bara dan Evan langaung mengahampiri dokter laki-laki itu, "Bagaimana keadaan teman saya dok?" Tanya Bara yang di angguki Evan.
"Teman anda baik-baik saja Tuan, Serpihan pecahan kaca yang mengenai kepala dan wajah pasien sudah kami angkat dan bersihkan, Tidak ada yang serius dari luka pasien" Jelas dokter, Bara dan Evan menyimak dengan seksama.
"Jika tidak ada yang parah dengan teman kami lalu kenapa dia pingsang dok?" Evan bertanya penasaran karena Evan sendiri lah yang menyaksikan Langit tak sadarkan diri saat kecelakaan terjadi.
"Pasien hanya mengalami syok yang mengakibatkan pasien pingsan, Tuan tenang saja tidak ada yang perlu di khawatirkan karena pasien baik-baik saja dan saat ini pasien belum sadarkan kan diri, Setelah ini kami akan memindahkan pasien ke ruang perawatan." Jelas dokter lagi dengan senyum wibawanya.
Bara dan Evan mengangguk mengerti dengan penjelasan dokter, Mereka berdua bernafas lega karena Langit baik-baik saja, "Terimakasih Dokter" Ucap Bara dan Evan membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Sama-sama Tuan" Balas dokter laki-laki itu membungkukan badannya juga, "Kalau begitu saya permisi dulu" Pamit dokter itu kemudian pergi meninggalkan Bara dan Evan.
Bara dan Evan duduk di depan ruang UGD menunggu Langit keluar dari ruang UGD dan di pindahkan ke ruang perawatan, Dari arah lorong Rumah Sakit orangtua Langit berlari mendekati Bara dan Evan.
"Bara Evan bagaimama keadaan Langit?" Tanya Tuan Kana panik.
"Anak Mami baik-baik saja kan Bara Evan?" Tanya Nyonya Lingga dengan air mata yang mengalir deras.
"Mami Papi tenang saja Langit baik-baik saja Mi Pi" Jawab Bara menuntun Nyonya Lingga untuk duduk.
"Evan bagaimana ini bisa terjadi?" Tanya Tuan Kana pada Evan karena Evan yang mengalami kecelakaan bersama Langit.
"Maaf Papi Evan tadi masih mengantuk jadi tidak fokus menyetir" Sesal Evan wajahnya benar-benar menunjukan penyesalannya.
Mendengar penjelasan Evan Tuan Kana hanya bisa menarik nafasnya perlahan, Lagi pula ini bukan sepenuhnya salah Evan tapi musibah, Tuan Kana menepuk Pundak Evan memberi isyarat bahwa ini bukan salahnya.
Mereka berempat menunggu di luar ruang UGD, Lima belas menit kemudian Langit keluar dari Ruang UGD dan di pindah ke ruang perawatan VIP, Setelah mengecek infus Langit suster keluar dari runag perawatan Langit.
Nyonya Lingga duduk di samping ranjang Langit dengan menggenggam tangan Langit, Di ciuminya tangan Langit berulang kali dengan lelehan air mata, "Cepat bangun ya Langit anak Mami"
Tuan Kana berdiri di belakang Nyonya Lingga, "Mami jangan sedih lagi ya, Kan kata dokter Langit baik-baik saja"
"Tapi tetap saja Pi Mami belum merasa tenang kalau Langit belum sadar"
Tidak ada lagi yang bisa Tuan Kana katakan ia membiarkan istrinya mengis meluapkan kesedihannya, Di ruangan perawatan Langit hanya tinggal mereka berdua sedangkan Bara dan Evan sudah pulang atas perintah Tuan Kana, Tuan Kana tau Evan pasti merasa syok juga dan butuh istirahat karena Evan berada di mobil yang sama.
Tuan Kana keluar sebentar untuk menghubungi Nara, Nara harus tau kondisi Langit karena bagaimanapun Langit masih menjadi suami Nara, Dering kedua Nara Langsung menjawab Panggilan Tuan Kana.
"Hallo Nara Papi mau kasih tau kalau Langit kecelakaan dan sekarang Langit berada di Rumah sakit Permata"
__ADS_1