
Ketiga sahabat itu masih berada di apertemen Langit, Mereka sama-sama diam setelah kata terakhir terucap dari mulut Bara, Langit tidak menyangka kalau Bara akan melontarkan pertanyaan seperti itu.
"Bener kan Lang kata Gue, Sebenarnya dari awal tuduhan itu bukan untuk Nara tapi untuk diri Lu sendiri dan karena ke egoisan Lu yang ga mau nyalahin diri Lu sendiri akhirnya Lu nyalahin Nara sampai membuat luka yang begitu hebat di hati Nara" Ucap Bara lagi tepat sasaran,
Langit tidak bisa mengelak semua tuduhan Bara, Karena semua itu adalah kenyataan, Langit terlalu pengecut untuk mengakui kesalahan nya sampai akhirnya ia menuduh Nara.
"Lalu Gue harus apa? Gue udah kehilangan Kai dan Gue ga mau kehilangan Nara juga" Pasrah Langit ia tidak tau harus berbuat apa lagi.
"Akui kesalahan Lu di depan Nara, Katakan semua yang ada di hati Lu tanpa terkecuali" Evan menatap Langit serius.
"Bagaimana jika setelah Gue jujur tentang apa yang sebenarnya terjadi selama ini dan Nara semakin membenci Gue?" Tidak...Langit tidak akan sanggup menerima kebencian Nara yang terus bertambah kepada dirinya setelah ia jujur.
"Lu egois Lang, Nara salah apa si Lang sama Lu sampai Lu sejahat itu sama Nara" Kesal Evan.
"Lang itu resiko Lu kalau seandainya Nara tambah membenci Lu setelah Lu jujur, Setidaknya tidak ada lagi batu besar yang menghimpit hati Lu dan Lu bisa mengejar Nara lagi tanpa di bayangi rasa bersalah" Kata Bara bijak.
Mendengar masukan-masukan yang sahabatnya berikan membuat Langit berfikir sejenak, Haruskan ia berkata jujur kepada Nara tapi jika setelah itu Nara semakin membencinya, Mampukah ia menerima kebencian itu, Tapi apa yang di katakan Bara benar setidak nya ia tidak akan terbayang-bayang rasa bersalah lagi setelah ia jujur.
"Gue akan jujur sama Nara" Ucap Langit mantap, Tidak perduli jika nanti Nara semakin membencinya, Langit akan mengejar Nara sampai ia mendapatkan nya kembali.
Bara dan Evan tersenyum senang akhirnya sahabat nya memilih jalan yang benar, "Kita dukung Lu Lang"
Langit tersenyum merasa beruntung memiliki sahabat yang setia menemaninya walau dalam keadaan buruk sekalipun, " Thank you kalian selalu ada untuk Gue"
"Rencana nya kapan Lu mau menemui Nara Lang?" Tanya mereka penasaran.
"Nanti, Biarkan Nara istirahat dulu dan biarkan dia menikmati kepulangannya, Gue ga mau ngerusak perasaan bahagia Nara yang baru kembali dengan ke jujuran Gue" Jawab Langit, Ya begitulah Langit cintanya tak pernah main-main untuk Nara.
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan tidak terasa sudah satu bulan Nara kembali ke Rumah nya, Hari-hari Nara jalani dengan senyum kebahagiaan apalagi hari-harinya di temani dengan keluarganya.
__ADS_1
Julian dan Vallerie juga sudah bisa menyesuaikan diri mereka teehadap cuaca yang ada di Indonesia, Julian dan Vallerie juga terlihat sama bahagianya dengan Nara apalagi Tuan Damara dan Nyonya Anggie dapat menerima mereka dengan baik.
Tidak ada hal yang lebih membuat Vallerie bersyukur selain bertemu dengan Nara di dunia ini, Jika bukan karena Nara Vallerie tidak akan mungkin bisa menginjakan kaki di Indonesia dan jika bukan karena Nara juga Vallerie tidak akan mungkin bisa merasakan hangatnya pelukan seorang Ayah dan Ibu yang ia dapatkan dari Tuan Damara dan Nyonya Anggie.
Tuan Damara dan Nyonya Anggie menerima Julian dan Vallerie dengan tangan terbuka, Mereka menyayangi Julian dan Vallerie seperti mereka menyayangi anak dan cucu nya sendiri, Berulang-ulang kali Vallerie mengucapkan terimakasih kelada Nara karena sudah hadir di hidupnya dan mbuatnya bahagia, Begitupun dengan kesehatan Nyonya Anggie yang berangsur-angsur membaik.
Menjelang sore hari Nara membawa Julian bermain di taman belakang, Julian tanpak senang bermain basket di lapangan mini yang Tuan Damara buatkan dua minggu yang lalu.
"Mommy bisa tolong lemparkan bola nya ke sini" Suara Julian sedikit berteriak yang berada beberapa meter dari tempat Nara duduk.
"Oke sayang" Nara melemparkan bola basket ke arah Julian dan di tangkap oleh Julian.
"Thank you Mommy" Teriak Julian Lagi setelah itu ia mendribel bola sampai bola itu berhasil masuk ke dalam ring.
Dari kursinya Nara bertepuk tangan saat bola Julian berhasil masuk kedalam ring, Vallerie berjalan menghampiri Nara dengan membawa beberapa lembaran formulir Universitas terbaik di Indonesia.
"Kaka" Panggil Vallerie dari jarak kurang dari dua meter dari tempat Nara duduk.
"Bagaimana Vallerie, Apakah kamu sudah mememilih Universitas yang kamu suka" Tanya Nara setelah Vallerie duduk di samping nya.
Beberapa saat yang lalu Vallerie di temani dengan ajudan Papa nya untuk melihat-lihat beberapa Universitas terbaik di Indonesia atas permintaan Nyonya Anggie dan Tuan Damara, Mereka ingin Vallerie meneruskan pendidikan nya.
Awalnya Vallerie menolak karena merasa tidak enak dengan keluarga Nara, Sudah di bawa ke Indonesia dan di izinkan tinggal di rumah mereka saja Vallerie sudah sangat merasa bersyukur, Namun setelah di paksa oleh Tuan Damara dan Nyonya Anggie dan juga Nara yang mendukungnya akhirnya Vallerie mau meneruskan pendidikan nya.
"Sudah ka, Universitas ini sepertinya bagus" Vallerie menunjukan salah satu universitas terbaik di kota Jakarta.
"Benar Vallerie, Ini adalah salah satu universitas terbaik di kota Jakarta" Jawab Nara melihat Universitas yang Vallerie tunjuk.
"Mmm Kak" Cicit Vallerie pelan, Sepertinya masih ada sesuatu yang mengganjal di hatinya yang ingin ia sampaikan kepada Nara namun ia ragu untuk mengatakan nya.
__ADS_1
"Katakan Vallerie jangan ragu" Nara menggenggam tangan Vallerie, Sesekali Matanya melirik Julian yang masih bermain basket.
"Kak jika aku akan meneruskan pendidikan ku disini bukankah itu berati banyak dokumen-dokumen yang harus di urus karena aku bukan berasal dari Negara ini?" Ucap Vallerie mengungkapkan ke gundahan hatinya.
Nara tersenyum mengerti arah pembicaraan Vallerie, "Memang benar banyak dokumen-dokumen yang harus di urus jika kau akan meneruskan pendidikan mu di sini, Tapi Vallerie kau tidak perlu khawatir tentang hal ini karena Papa akan mengurus semuanya"
"Apa itu tidak merepotkan Papa kak?, Bukan kah itu harus membuat Papa bolak-balik Indonesia Latvia untuk mengurus dokumen-dokumen nya" Vallerie merasa tidak enak jika harus merepotkan Tuan Damara untuk bolak-balin Indonesia Latvia hanya untuk mengurus dokumen-dokumen nya.
Nara kembali tersenyum, Ini lah yang Nara suka dari Vallerie, Hatinya terlalu baik karena itu ia tidak mau merepotkan orang-orang di sekitarnya, "Tidak apa-apa Vallerie, Papa bersedia melakukan semua itu dan ada satu lagi kabar baik untuk mu"
"Apa itu kak?" Tanya Vallerie penasaran.
"Papa dan Mama akan secara resmi mengangkat mu sebagai anak, Karena itulah minggu depan Papa akan terbang ke Latvia untuk mengurus dokumen-dokumen mu" Jawab Nara memberi tahukan kabar baik itu kepada Vallerie.
Air mata Vallerie langsung menetes saat mendengar kabar baik itu, Ia tidak menyangka akan mendapatkan kebahagiaan yang luarbiasa ini, Vallerie langsung memeluk Nara dan mengucapkan banyak terimakasih kepadanya.
Dari arah belakang Nara Julian beralri mendekati nya, "Momy Julian capek, Julian mau makan ice cream" Beo Julian yang memeluk tubuh Nara.
"Capek istirahat sayang bukan makan ice cream" Ucap Nara mencolek hidung mancung Julian"
Julian tertawa memamerkan gigi putihnya, "Iya Momny Julian mau istirahat sambil makan ice cream"
"Tidak ada ice cream karena aunty sudah memakan nya semua" Ledek Vallerie membuat Julian memanyunkan bibirnya.
"Mommy aunty nakal" Adu Julian dengan wajah lucunya membuat Nara tidak tahan melihat nya dan menciumi nya.
"Sudah jangan dengarkan aunty mu, Sekarang Julian ikut aunty masuk dan mandi ya, Mommy akan menyiapkan ice cream nya oke" Perintah Nara yang langsung di turuti Julian.
"Oke Mom" Julian dan Vallerie langusng masuk ke dalam, Nara menyusulnya di belakang namun langkah nya terhenti saat membaca pesan masuk di ponselnya.
__ADS_1
"Nara bisakah kita bertemu ada yang ingin Mas bicarakan, Mas juga merindukan mu"