
Acara makan siang dadakan selesai mereka pamit dan pulang ke rumah masing-masing, Di tengah perjalanan Julian yang kelelahan tertidur dengan menjadikan paha Nara sebagai bantal, Langit sesekali melihat Nara dan Julian yang duduk di belakang melalui kaca.
Langit ingin membicarakan sesuatu namun ia ragu takut Nara tidak ingin ia ajak bicara, Langit melihat Nara melalui kaca lagi dan kali ini pandangan mereka bertemu, Langit kaget dan buru-buru mengalihkan pandangannya.
Beberapa kali Langit mengatur nafas nya Langit memutuskan untuk berbicara kepada Nara, "Mmm Ra, Ada yang mau Mas bicarain"
"Apa Mas?" Jawab Nara melihat Langit dari belakang.
"Satu bulan kedepan atau mungkin lebih mungkin Mas ga bisa datang ke rumah, Ada pekerjaan yang harus Mas selesaikan jadi kalau seandainya Julian mencari Mas tolong bilangin Mas lagi kerja ya Ra" Jelas Langit, Namun Langit tidak mengatakan kemana ia akan pergi.
Nara diam sebentar dengan pandangan matanya yang masih menatap Langit dari belakang, Ada sedikit rasa tidak rela jika Langit pergi dan Nara ingin menanyakan kemana Langit pergi namun egonya lebih besar dari rasa penasarannya.
"Iya Mas" Akhirnya hanya jawaban itu yang mampu Nara ucapkan.
Langit sedikit kecewa dengan jawaban Nara padahal Langit berharap Nara akan menanyakan akan pergi kemana kenapa sampai satu bulan bahkan lebih seperti yang dulu sering Nara tanyakan jika Langit pergi sampai lama.
Namun Langit harus sadar hubungan mereka tidak sedekat dan sehangat dulu ada jarak yang menghalangi mereka untuk saling mendekat, Langit hanya bisa menahan dirinya menerima semua perlakuan Nara kepadanya tanpa bisa menolak.
Tiga puluh menit kemudian mobil Langit sampai di rumah Nara, Di kursi belakang Julian masih nyenyak dalam tidurnya, Langit turun dari mobil dan membuka pintu mobil belakang kemudian menggendong Julian.
"Dimana kamar Julian Ra" Tanya Langit saat mereka sudah ada di dalam rumah.
"Di kamar ku Mas" Nara berjalan mendahului Langit.
Sampai di kamar nya Nara membuka pintu kamar setelah itu Langit masuk kedalam kamar, Tidak ada ada yang berubah di kamar Nara semua masih sama seperti dulu, Langit tersenyum dan hati nya merasa hangat saat melihat foto keluarga kecil mereka masih tergantung di tempatnya.
Langit menidurkan Julian dan melepaskan sepatu Julian sedangkan Nara masuk ke dalam walk in closed untuk mengambil air untuk mengelap badan Julian dan baju ganti Julian, Melihat Nara kesusahan Langit membantu Nara membawakan wadah berisi air.
Nara mengelap tubuh Julian dengan telaten dan kemudian memakaikan baju bersih ke tubuh Julian persis seperti yang Nara lakukan pada Kai dulu, Setelah Nara selesai membersihkan tubuhkan Julian Langit membantu Nara mengembalikan wadah air ketempat nya.
"Mas pulang dulu ya Ra" Pamit Langit karena Nara sudah selesai memakaikan baju Julian.
Nara berdiri dan berhadapan dengan Langit, "Iya Mas hati-hati"
Melihat Nara berdiri di depan nya tangan Langit reflek terangkat ingin mengusap kepala Nara namun seketika ia sadar dan menurunkan kembali tangannya, " Maaf Ra, Mas pergi ya!" Setelah mengatakan itu Langit keluar dari kamar Nara dan pergi dari rumah Nara.
Selelas Langit pergi Nara duduk kembali di ranjang nya, Matanya menatap foto keluarga kecil mereka yang tergantung indah di atas tempat tidur, "Kau mau kemana Mas, Kenapa lama sekali?" Desah Nara.
Tak di pungkiri hati Nara merasakan khawatir namun hatinya juga bimbang, Ntah apa yang di inginkan hati nya ia sebdiri pun tak tau, Nara menarik nafas dalam-dalam dan membuangnya pelan berulang-ulang agar hatinya lebih tenang.
•
__ADS_1
•
•
Setelah dari rumah Nara Langit tidak langsung pulang ke apartemen nya tapi Langit pergi ke kantor Evan, Ada hal yang akan mereka bahas, Beberapa menit kemudian Langit sampai di kantor Evan.
Langit masuk ke dalam kantor Evan dengan langkah tegas dan wajah datar nya, Semua karyawan Evan sudah hafal betul dengan Langit karena Langit sering datang ke kantor tempat mereka bekerja jadi mereka tidak heran lagi jika tiba-tiba Langit ada di kantor tempat mereka bekerja.
Sampai di ruangan Evan tanpa mengetuk pintu Langit langsung masuk kedalam ruangan Evan membuat Evan yang sedang mengetik sesuatu di laptop nya kaget, "Bisa ga Lu kalau masuk ketuk pintu dulu" Kesal Evan menatap tajam Langit dari meja kerjanya.
Langit hanya mengedikan bahu dan menatap acuh Evan setelah itu ia duduk di sofa yang ada di ruangan kerja Evan, Dari tempat duduk nya ingin sekali Evan melempari Langit dengan semua benda-benda yang ada di ruangan nya namun ia tidak seberani itu apalagi melihat keadaan Langit yang sepertinya kurang baik.
Menyelesaikan pekerjaan sebentar setelah itu Evan menghampiri Langit yang kini sudah merebahkan tubuhnya di sofa, "Kenapa lagi muka Lu Lang, Perasaan tadi waktu makan siang bahagia banget muka Lu?" Tanya Evan saat sudah duduk di sofa.
"Pengen peluk Nara tapi ga bisa" Aku Langit tidak ada yang ia tutup-tutupi dari Evan maupun Bara.
"Kasihan" Evan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan wajah di buat sedih.
Langit bangun dari rebahan nya dan kemudian duduk bersebrangan dengan Evan, "Bara mana kenapa belum datang?" Tanya Langit.
Sebelumnya mereka memang sudah janjian bertemu di kantor Evan melalui grup chat, "Ga tau, Bentar Gue telfon dulu" Evan mengambil ponselnya dan menghubungi Bara.
Seketika Evan mengaftifkan mode loudspeaker di ponselnya, "Buset abis ngapain Lu sampe ngos-ngosan gitu?"
"Tanam benih" Jawab Bara to the point.
Membuat Langit dan Evan langsung saling menatap, "Gila Lu masih siang ini"
"Napa Lu sirik aja, Ngapain Lu nelfon Gue ganggu tau"
"Emang anak-anak Lu kemana sampe Lu bisa nanem benih siang-siang" Tidak menjawab pertanyaan Bara Evan malah balik bertanya.
"Gue anterin ke rumah nenek nya hehehe" Sura tawa cekikikan Bara terdengar menjijikan di kuping Evan dan Langit.
"GILA" Maki Langit.
"Ko ada suara Langit, Lu lagi sama Langit ya Van?"
"Iya lah Lu lupa kita udah janji buat ketemuan di kantor Gue!"
"Astaga Gua lupa" Suara Bara terdengar panik, "Bentar Gue nyusul kesana"
__ADS_1
"Ga usah Lu di rumah aja, Lu dengerin lewat telfon aja" Suara Langit memberitahu Bara.
"Sorry Lang gue beneran lupa" Sesal Bara.
"Makanya jangan nanem aja" Suara Evan ikut meyahuti.
"Sirik aja lu Van"
"Diem Gue mau ngomong sesuatu" Jeda Langit sebentar Bara dan Evan diam mendengarkan, "Gua ada urusan di Kota Riga, Gue mau minta tolong ke Lu berdua ikut sama Gue ke Kota Riga selama satu minggu"
"Ngapain Lu ke Kota Riga Lang, Bukanya itu Kota tempat Nara di temukan kan ya?" Penasaran Evan.
"Iya Lang Lu mau ngapain disana?"
"Gua mau ngurus dokumen-dokumen kepindahan Julian dan Vallerie, Gue butuh bantuan kalian karena Gue harus mencari keluarga Julian dan Vallerie untuk meminta persetujuan pengangkatan Vallerie menjadi bagian keluar Nara" Jelas Langit menjelaskan alasan nya pergi ke Kota Riga.
"Jadi gimana Lu berdua mau ikut Gue kan, Gue janji cuma satu minggu saja sisanya biar Gue yang nyelesaiin" Lanjut Langit.
"Gue izin Alana dulu Lang"
"Yang aku ikut Langit ke Negara Latvia ya" Suara teriakan Bara meminta izin kepada Rumi terdengar begitu nyaring lewat sambungan telfon.
"Iya yang" Suara Rumi samar-smaar terdengr memberikan izin Bara.
"Gue udah izin Lang jadi gue bisa ikut Lu"
"Kalau Lu mau ngurus dokumen-dokumen Vallerie yang akan menjadi bagian keluarga Nara berati Papa mertua Lu ikut juga ya Lang?"
"Iya Papa juga akan kesana tapi nanti setelah semua beres, Biar Gue sama Lu berdua aja yang mencari keluarga Vallerie dan Julian, Kasihan kalau Papa mertua Gue yang harus mencari keluarga Julian dan Vallerie"
Tuan Damara memang sudah bekerja sama dengan Langit untuk mengurus dokumen-dokumen pemindahan Vallerie dan Julian, Tentu saja tanpa sepengetahuan Nara, Awalnya Tuan Damara ingin membantu Langit mencari keluarga Vallerie dan Julian tapi Langit melarangnya mengingat Papa mertunya sudah Tua dan pasti membutuhkan waktu yang lama untuk mencari keluarga Julian dan Vallerie.
"Kita berangkat kapan memang nya?" Tanya Evan dengan santai.
"Nanti malam" Jawab Langit tanpa beban kemudian meyandarkan punggung nya di sofa.
"APA"
"APA"
Teriak Bara dan Evan bersamaa, Namun lagi-lagi Langit hanya mengedikan bahu acuh, Ia menutup matanya sembari mendengar makian dari kedua sahabatnya.
__ADS_1