
Satu bulan telah berlalu sejak kematian Kai semua berubah tidak lagi sama, Sifat Langit berubah drastis bahkan Langit tidak tidur satu kamar lagi dengan Nara.
Langit tidur di kamar Kai, Jangankan untuk tidur satu ruangan lagi dengan Nara bertatap muka saja Langit enggan, Langit sangat membeci Nara, Tidak ada lagi Langit yang selalu menyayangi Nara, Tidak ada Langit yang selalu ada untuk Nara, Yang ada sekarang Langit yang sangat membenci Nara.
Langit tidak lagi memperdulikan Nara mau Nara berbuat apapun Langit sudah tidak perduli lagi, Langit juga tidak pernah sekalipun menanyakan bagaiman kondisi Nara.
Sedangkan Nara masih terlihat sama sejak kematian Kai, Nara selalu mengurung diri di dalam kamar ntah apa yang ia lakukan, Badan Nara semakin mengurus tidak ada lagi nafsu makan dalam diri Nara semenjak kematian Kai, Jika bukan bi Yani yang menyuapi makan Nara tidak akan makan atau mimum sekalipun.
"Nyonya makan dulu ya, Bibi suapin" Bi Yani menyuapkan makanan ke mulut Nara.
Nara membuka mulutnya merasa makanan yang masuk kedalam mulutnya terasa hambar padahal masakan bi Yani sangat enak namun terasa hambar di lidah Nara..
Bi Yani merasa sangat kasian melihat keadaan Nara sekang, Biasanya Nara selalu ceria namun kini keceriaan itu sudah menghilang dalam hidup Nara.
Nara duduk di lantai bersandar pada pinggiran ranjang dengan memeluk foto Kai, Bi Yani memperhatikan gerakan Nara yang meraba wajah Kai.
Bi Yani mengambil foto yang Nara pegang meletakan di atas ranjang, "Bibi yakin den Kai sudah bahagia di atas sana nyonya, Tetap lah kuat Nyonya karena bibi yakin den Kai tidak suka melihat nyonya yang seperti ini" Ucap bi Yani menguatkan Nara.
Diam...Nara diam tidak mengeluarkan sepatah katapun kepada bi Yani namun dia mendengarkan apa yang di katakan bi Yani, Bi yani mengembalikan foto Kai kedalam pelukan Nara dan menyuapi Nara lagi.
Pagi hari Langit sudah siap dengan setelan kerjanya, Langit turun ke bawah untuk sarapan, Nara keluar dari kamar dan turun ke bawah namun tidak untuk sarapan melainkan untuk pergi keluar rumah, Langit melihat Nara keluar dari rumah namun ia tidak memperdulikan nya.
Selesai sarapan Langit pergi ke kantor di jalan Langit bersimpangan dengan Nara yang berjalan kaki entah kemana, Wajah Nara terlihat pucat namun Langit tidak memperdulikan ia mejukan kencang mobilnya tanpa memperdulikan Nara, Ya seperti itu lah hubungan Langut dan Nara sekarang seperti orang yang tak saling kenal dan tak pernah jatuh cinta satu sama lainnya.
Nara pergi kemakam Kai sebentar mengelus batu nisan Kai dan setelah itu ia pergi ntah kemana, Akhir-akhir ini Nara sering pergi keluar tapi ntah kemana.
Langit sudah sampai di kantor, Semua yang bersimpangan dengan nya menunduk hormat, Mereka semakin takut dengan Langit sekarang yang semakin mengerikan dan benar-benar dingin.
Sampai di ruangan nya Langit duduk tak lama setelah itu Rendy masuk "Ini agenda tuan hari ini" Rendy menyerahkan Tap ke tangan Langit.
Langit membaca agenda nya yang sangat padat hari ini ,"Jika Tuan ingin membatalkan beberapa agenda saya akan mengurus ulang a..."
__ADS_1
"Tidak, Saya akan menyelesaikan semua agenda ini" Potong Langit menyerahkan Tap kepada Rendy.
"Baik Tuan" Rendi menunduk hormat setelah itu keluar dari ruangan Langit.
Langit sengaja tidak membatalkan agenda hari ini walaupun tidak terlalu penting dan Langit bisa membatalkannya, Namun tetap melakukannya karena semakin ia sibuk dengan bekerja semakin ia bisa melupakan Kai dan tidak harus pulang dan melihat wajah Nara.
•
•
•
•
Di tempat lain tepatnya di kediaman Evan dan Alana kabar bahagia sedang menghampiri mereka, Alana sedang memegang tespek di tangan nya dengan tangan gemetar, Alana tidak percaya apa yang ia lihat dua garis merah terpampang nyata di tespek itu.
Kaki Alana sampai lemas tidak mampu menopang tububnya, Alana luruh di lantai kamar mandi tangannya meraba perutnya, Ia menangis bahagia.
Alana keluar dari kamar mandi ia berjalan dan duduk di ranjang, Alana masih sesegukan ia mangatur nafasnya sebentar dan mengambil ponselnya ia ingin menghubungi suaminya.
Alana beberapa kali menghungi Evan namun tidak di jawab sampai pada panggilan ke tuju Evan baru menjawab telfon Alana.
"Hallo sayang maaf tadi kaka sedang meeting" Suara Evan menjawab panggilan.
Alana diam tidak mampu berbica, Air matanya seketika mengalir mendengar suara Evan
"Hallo sayang, Kenapa diam?" Tanya Evan karena tidak mendengar suara Alana.
Bukan menjawab pertanyaan Evan Alana malah semakin menangis dan Evan dapat mendengar suara itu.
"Sayang ada apa kenapa menangis?" Panik Evan.
__ADS_1
Namun lagi-lagi Alana tidak menjawab pertanyaan itu membuat Evan semakin panik, Mematikan ponselnya Evan langsung berlari keluar dan pulang.
Evan membawa mobil nya secepat mungkin karena merasa khawatir dengan Alana takut terjadi sesuatu kepadanya, Dua puluh menit kemudian Evan sampai dirumah, Evan buru-buru turun dari mobil dan berlari memasuki rumah.
"Sayang sayang kamu dimana?" Panggil Evan di lantai bawah namun tidak ada Alana di sana.
Evan langsung naik ke kamar mereka di lantai dua, Evan membuka pintu dengan buru-buru, Alana menatap Evan yang membuka pintu dengan air mata di wajahnya.
Evan langsung memeluk Alana erat jantungnya berpacu sangat cepat takut sesuatu telah terjadi pada Alan saat ia tidak ada.
"Ada apa sayang? Kenapa menangis, Apa terjadi sesuatu kepadamu?" Tanya Evan sembari memeriksa tubuh Alana.
Alana menggeleng menjawab pertanyaan Evan, Evan bernafas lega karena tidak terjadi sesuatu kepada Alana, Tapi kenapa Alana menangis dan hal itu membuat Evan semakin bingung.
"Jiak tidak terjadi sesuatu kenapa menangis sayang?" Tanya Evan lagi karena marasa bingung.
Tidak menjawab pertanyaan Evan Alana langsung menyodorkan tespek bergaris dua itu kepada Evan, Mata Evan membulat ia tidak percaya dengan apa yang ia lihat.
Evan mengambil tespek di tangan Alana dengan tangan gemetar "Sa-sayang ini" Beo Evan tak mampu meneruskan ucapannga.
Alana mengangguk membuat Evan langsung menangis dan berucap Syukur "Alhamdulillah" Ucap Evan dan langsung bersujud di lantai.
Alana tak kuasa melihat raut bahagia Evan yang tidak lama lagi akan menjadi seorang Ayah, Sebuah keajaiban yang mereka nanti-nantikan selama ini, Evan berdiri dari sujudnya dan langsung memeluk Alana.
"Terimakasih terimakasih sayang" Evan menciumi wajah Alana.
"A-aku akan menjadi seorang I-ibu kak" Ucap Alana terbata karena menahan isak tangis.
Evan tersenyum bahagia dengan air mata yang masih mengalir "Iya sayang kamu akan menjadi ibu dan kaka akan menjadi ayah" Jawab Evan setelah itu memeluk Alana kembali.
Tuhan maha baik kepada semua umatnya, Doa-doa Evan dan Alana telah di jawab sang kuasa, Hal yang menurut Alana mustahil terjadi tapi tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berkendak
__ADS_1
Di balik kesedihan dan duka dalam keluarga Langit dan Nara ,Tuhan memberikan kebahagiaan kepada keluarga Evan dan Alana, Semua sudah di atur Tuhan dengan sangat baik, Begitupun dengan ujian yang harus mereka lalui, Jika selama ini Evan dan Alana di uji keimanan mereka karena belum memiliki keturan, Namun sekarang mereka dapat tersenyum karena berhasil melalui ujian tersebut, Laih hal dengan Langit dan Nara mereka sedang di uji ke imanan mereka karena kehilangan anak mereka, Tuhan ingin melihat mampukah mereka berdua menjalani ujian yang Tuhan berikan sebelum memberikan mereka kabahgiaan kembali.