Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 36


__ADS_3

Menjadi Ayah dari dua orang anak tidak lah mudah bagi seorang Bara, Pasalnya Bara harus harus menerima jika sang istri tidak memiliki banyak waktu dengan nya, Tak jarang saat malam Bara yang sedang ingin bermesraan dengan istrinya harus gagal karena kedua anak nya bangun dan menangis membuat sang istri harus pergi menemui anak-anak mereka.


Contoh nya seperti malam ini saat Bara sudah setengah jalan menuju kenikmatan duniawi bersama Rumi istri tercintanya terpaksa harus berhenti karena Angel anak pertama mereka menggedor-gedor pintu kamar mereka sambil menangis.


Bara dan Rumi langsung buru-buru menyudahi aksi mereka dan segera memakai pakaian, Tidak di pungkiri Bara merasa kesal karena lagi-lagi gagal membawa sang istri ke puncak nirwana, Namun apa mau di kata ia tidak mungkin membiarkan anak nya menangis menunggu Papi dan Mami yang sedang bermain di dalam kamar.


Imbasnya dari kejadian semalam pagi-pagi muka Bara terlihat sangat kusut karena semalam Bara benar-benar tidak bisa melanjutkan aksinya sebab Angel merengek ingin tidur bersama mereka dan memeluk Rumi erat, Belum lagi Ilzan yang juga pindahkan tidurnya di ranjang bersama mereka oleh Rumi.


"Ko cemberut gitu si Pi mukanya?" Ledek Rumi di sertai senyuman.


Bara semakin menekuk wajah nya "Tau ah aku ngambek" Seru Bara menyendok makanan nya dan memasukan ke dalam mulutnya.


Saat ini mereka tengah sarapan, Rumi tersenyum geli melihat wajah suaminya semakin di tekuk, Angel yang duduk di depan Bara memperhatikan wajah Papi nya.


"Muka Papi kaya telor" Beo Angel membuat wajah Bara semakin cemburut.


Rumi dan Angel tertawa mereka berdua senang sekali membuat Bara kesal, Ilzan yang duduk di kursi bayi pun ikut tertawa karena melihat Mami dan kaka nya tertawa.


Rumi berjalan ke arah Bara dan membisikan sesuatu,"Jangan cemberut terus ya Papi, Nanti malam Malm Mami janji tidak akan gagal lagi karena anak-anak akan di jemput dan menginap di rumah Papa Mama" Bisik Nara di kuping Bara, Seketika wajah Bara berubah drastis senyum merekah terbit di bibirnya.


"YESSS" Seru Bara mengepalkan tangannya keatas dengan bahagia.


Rumi tersenyum melihat ekspresi senang suaminya, Rumi mencium pipi Bara setelah itu ia kembali ke tempat duduk nya, Mereka meneruskan sarapan mereka, Setelah selesai sarapan Bara dan Angel pamit pergi untuk bekerja dan sekolah.


"Mami Angel berangkat sekolah dulunya" Pamit Angel mencium tangan Rumi dan memeluknya.

__ADS_1


"Iya sayang Mami, Hati-hati ya sayang" Rumi membalas pelukan Angel.


Angel terseyum "I Love You Mami" Mencium pipi Rumi.


"I Love You Too Baby"


"Sayang Papi juga berangkat kerja ya" Bara mengulurkan tangan nya dan mencium kening Rumi.


"Iya Papi semangat kerja nya dan hati-hati di jalan ya Papi" Ucap Rumi sembari membenarkan dasi Bara.


Tak lupa Bara dan Angel juga pamit kepada Ilzan, Setelah itu mereka pergi, Bara mengantarkan Angel kesekolah terlebih dahulu sebelum ke kantor, Di perjalana setelah mengantar Angel sekolah Evan menelfonnya mengajaknya bertemu Langit sahabat mereka yang kian hari terlihat tidak baik-baik saja.


Bara menyetujuinya dan mereka berencana bertemu Langit nanti malam di kantor Langit, Karena mereka tau Langit selalu menghabiskan waktunya di kantor sampai larut malam.


Malam telah tiba Bara dan Evan sudah ada di kantor Langit, Mereka berdua sama-sama menarik nafas dalam-dalam melihat keadaan sahabatnya yang kini tampak tidak ada semangat hidup.


Bara dan Evan turut prihatin dengan keadaan Langit semenjak kehilangan Kai, Minuman berakohol menjadi teman Langit semenjak hari itu, Mereka berdua sudah berusaha menasehati Langit jika apa yang ia lakukan itu salah namun Langit tidak pernah mendengarkannya.


Langit merebut kembali botol yang di ambil Bara dan menenggak nya lagi, "Kalau kalian cuma mau nasehatin Gue lebih baik kalian pergi" Usir Langit.


Evan mendekat ke arah Langit, "Lang sadar Lang, Lu salah Lang, Ga seharusnya Lu kaya gini, Kalau Lu kaya gini terus kasihan Nara Lang" Sela Evan.


Langit menatap Evan dingin yang menyebutkan nama Nara, "Apa yang perlu Gue kasihanin untuk pembunuh itu ha" Balas Langit masih dengan menatap dingin Evan.


"Nara bukan pembunuh Lang, Berapa kali Gue harus bilang kalau Nara bukan PEMBUNUH, INI TAKDIR LANG" Ucap Evan menekankan kalimat terakhirnya agar Langit sadar, Evan tak habis fikir dengan fikiran Langit yang menganggap Nara pembunuh selama ini.

__ADS_1


"DAN BERAPA KALI GUE BILANG INI BUKAN TAkDIR, DIA PEMBUNUH KALAU SAJA DIA GA BAWA KAI KELUAR KAI MASIH ADA SAMA GUE SEKARANG" Teriak Langit emosi.


"Lang Van stop" Bara berusaha melerai kedua sahabatnya yang saling menatap dingin.


"LU GA TAU GIMANA RASANYA JADI GUE, KARENA LU BERDUA GA PERNAH KEHILANGAN ANAK" Teriak Langit lagi sembari menunjuk wajah Evan dan Bara.


"Gue emang ga pernah kehilangan anak kaya Lu lang, Tapi seharusnya Lu sadar kalau ini takdir dan ga seharusnya Lu nyalahin Nara" Evan menurunkan nada bicaranya berusaha menasehati Langit sekali lagi.


"Bener kata Evan Lang, Lu ga boleh nyalahin Nara terus-terusan, Karena bukan hanya Lu aja yang kehilangan Kai tapi Nara juga" Bara ikut menasehati Langit.


Namun percuma saja karena pada dasarnya hati Langit sudah di tutupi dengan kebencian untuk Nara, " BULLSHIT, WANITA ITU GA PERNAH KEHILANGAN KARENA DIA GA PERNAH SAYANG SAMA KAI" Kekeh Langit pada tuduhannya.


Evan yang sudah benar-benar kepalang emosi menonjok wajah Langit cukup keras, Kemudian Evan menarik kerah baju Langit "DIA IBU NYA LANG, BAGAIMANA BISA LU BILANG DIA GA SAYANG SAMA KAI, LU TAU SENDIRI BAGAIMANA PERJUANGAN DIA BUAT MELAHIRKAN KAI, DIA BERTARUH NYAWA SAAT MELAHIRKAN KAI DAN LU TAU ITU" Jeda Evan untuk mengatur nafasnya.


"BUKAN HANYA LU YANG KEHILANGAN LANG, DIA JUGA SAMA KEHILANGANNYA KAYA KALIAN BAHKAN LEBIH, ANAK NYA MATI DI DEPAN MATANYA LU BISA BAYANGIN GIMANA HANCURNYA DIA SAAT ITU, ANAK YANG IA LAHIRKAN BERTARUH NYAWA MATI DI DEPAN MATANYA, SEHARUSNYA LU BISA BAYANGIN SEHANCUR APA DIA SAAT ITU DAN SELEMAH APA MENTAL DIA SAAT INI, SEHARUSNYA KALIAN ADA UNTUK DIA TAPI APA YANG KALIAN LAKUKAN, KALIAN MALAH MENUDUH DIA PEMBUNUH" Lanjut Evan penuh emosi, Tidak habis fikir dengan fikiran Langit.


"DAN LU HARUS INGET UCAPAN GUE LANG, KALAU LU TERUS-TERUSAN SEPERTI INI LU GA CUMA KEHILANGAN KAI TAPI LU JUGA AKAN KEHILANGAN NARA" Ucap Evan sekali lagi penuh penekanan.


Seketika Langit diam mendengar ucapan Evan, Benarkah selamana Nara sama kehilangannya dengan dirinya, Langit limbung kaki nya sedikit lemas, Bara melepaskan tangan Evan yang memegang kerah baju Langit dan memisahkan mereka.


"Udah kalian kenapa jadi berantem kaya gini sih?" Ucap Bara menengahi mereka.


"Bilangin tu temen Lu jangan cuma mikirin perasaan nya sendiri dan buta kenyataan" Jawab Evan setelah itu ia pergi meninggakkan ruangan Langit.


Bara bingung harus mengejar Evan atau menenangkan Langit yang terlihat kacau, Bara mendekati Langit "Yang di bilang Evan benar Lang, Ga seharusnya kalian nyalahin Nara, Nara Ibunya Lang hal yang tidak mungkin jika Nara tidak merasa kehilangan"

__ADS_1


"Gue harap setelah ini Lu bakal sadar kalau yang selama ini Lu lakuin salah, Jangan sampai Lu telat sadar dan Lu benar-benar kehilangan untuk yang kedua kalinya" Pesan Bara sebelum ia meninggalkan Langit, Bara tau Langit butuh waktu sendiri untuk sekarang.


__ADS_2