
Langit sampai di rumah Evan, Mematikan mesin mobil kemudian ia masuk kedalam rumah Evan, Baru memasuki pintu masuk suara riuh anak-anak Evan dan Bara memenuhi pendengaran Langit.
Langit masuk lebih dalam ke rumah Evan matanya melihat betapa bahagianya Evan dan Bara yang sedang bermain dengan anak-anak mereka sedangkan Alana dan Rumi duduk di sofa memperhatikan anak dan suami mereka.
Tak di pungkiri melihat pemandangan seperti itu di depan matanya membuat Langit sakit sekaligus sedih, Sedih karena tidak bisa melakukan hal yang sama seperti kedua sahabatnya dan sakit karena ia telah kehilangan anak dan istrinya.
Langit menatap dalam dua keluarga yang terlihat amat bahagia itu, Langit turut bahagia kedua sahabat nya memiliki kebahagian yang utuh tidak seperti dirinya yang karena kebodohannya akhirnya ia kehilangan anak dan istrinya, Belum ada yang menyadari kehadiran Langit sampai akhirnya Ilzan berteriak memanggilnya dan berlari ke arahnya.
"UNCLE LANGIT" Teriak Ilzan berlari menghampiri Langit dan memeluk nya.
Langit berjongjok agar Ilzan mudah memeluknya, "Hallo jagoan Uncle" Langit membalas pelukan Ilzan.
Angel, Kalana dan Kaleena ikut berlari menghampiri Langit dan memeluk nya, Kalana dan Kaleena adalah anak Evan dan Alana, Mereka di karuniai anak kembar oleh Tuhan dari buah kesabaran mereka, Kini kedua anaknya sudah berusia dua tahun dan terlihat sangat menggemaskan.
"Wah baru beberapa hari ga ketemu Uncle kalian sudah bertambah berat ya" Ucap Langit yang hampir kewalahan memeluk ke empat anak.
"Uncle dari mana?" Tanya Angel yang paling tua dari ke empat anak-anak itu.
Langit tersenyum "Uncle dari kerja sayang"
"Uncle geli" Beo Kalana saat terkena jenggot Langit.
"Oh benarkah kalau begitu Uncle akan membuat kalian bertambah geli" Langit dengan sengaja menciumi anak-anak sehingga membuat mereka tertawa geli.
Bara dan Evan mendekati Langit, Mereka sedikit tersenyum melihat Langit tertawa bersama anak-anak, Setidak nya untuk sesaat Langit melupakan kesedihannya fikir mereka.
"Lama banget sih Lu Lang kagak tau apa Gue udah laper" Protes Bara.
Langit mendongak menatap Bara dan hanya mengedikan bahu sebagai tanda dia tidak perduli, "Anak-anak ayo ikut Mama biar Uncle Langit nya istrirahat dulu" Ajak Alana mengambil anak-anak dan Pergi ke ruang bermain.
Setelah anak-anak pergi Langit, Bara dan Evan mengonlbrol bersama di ruang tamu, Wajah Langit sudah kembali seperti semula saat ia datang karena sudah tidak ada anak-anak.
__ADS_1
"Gimana Lang proses pencarian Nara, Sudah ada kemajuan?" Tanya Evan setelah mereka duduk.
"Belum" Jawab Langit singkat.
"Lu udah coba nyari di Negara Negara terpencil Lang?" Bara ikut bertanya.
"Udah tapi belum semuanya" Balas Langit.
"Gue juga udah minta tolong sama kenalan Gue yang di Brazil untuk nyari Nara, Semakin banyak yang mencari Gue yakin Nara pasti akan cepat ketemu" Ucap Bara serius.
"Makasih Lu semua udah mau bantu Gue buat cari Nara"
"Kita sahabat Lang, Memang sudah seharusnya kita saling tolong menolong" Jawab Evan setelah itu mereka melanjutkan obrolan mereka
Beberapa saat kemudian Alana memanggil mereka semua untuk makan, Makan siang hari itu terlihat hangat karena suara anak-anak yang terdengar ceria memenuhi ruang makn.
Di toko rotinya Nara sedang membuat stok-stok roti yang sudah habis, Tiba-tiba dadanya terasa sakit seketika ia berhenti membuat adonan roti, Nara mendudukan dirinya di kursi tangannya mengelus dadanya naik turun.
Nara berkali-kali menarik dan membuang nafasnya untuk menghilangkan rasa sakit di dada nya, Beberapa saat kemudian sakit di dadanya perlahan hilang namun belum sepenuhnya.
"Kaka, Kaka kenapa?" Tanya Valerie panik yang baru pulang les piano dan melihat Nara kesakitan.
Nara menatap Valerie yang terlihat panik dengan senyuman, "kaka tidak apa-apa Valerie" Bohong Nara.
"Kaka bohong, Kalau kaka tidak kenapa-kenapa kenapa wajah kaka pucat" Sela Valerie dengan air mata yang sudah mengembun di matanya.
"Tenanglah Valerie kaka baik-baik saja, Mungkin kaka hanya kecapean saja" Nara mencoba menengkan Valerie.
Satu tetes air mata Valerie jatuh buru-buru dia menghapusnya, "Sudah kaka istirahat saja biar aku saja yang menyelesaikan adonan ini" Pinta Valerie yang mau tidak mau di turuti Nara.
Valerie begitu menyayangi Nara ia sudah menganggap Nara sebagai keluarga nya karena ia hanya punya Nara dan hanya Nara lah satu-satunya orang yang peduli kepadanya, Karena itulah Valerie sangat merasa sedih jika Nara sakit.
__ADS_1
Valerie mengantar Nara ke kamar yang ada di lantai dua di toto roti mereka, Yang memang Nara sediakan untuk mereka beristirahat, "Kaka istirahat ya" Pesan Valerie sebelum meninggalkan Nara.
"Ya terimakasih Valerie" Jawab Nara setelah itu Valerie turun untuk menyelesaikan adonan kue.
Di dalam kamar Nara memejamkan matanya tiba-tiba air matanya mengalir dari sudut matanya dan dadanya kembali sakit, "Mas Langit" Panggil Nara lirih.
Ya Nara sangat merindukan Langit sampai membuat dadanya sakit, Berulang-ulang kali Nara menyebut nama Langit mengatakan jika ia sangat merindukan nya, Tanpa Nara sadari Valerie mendengarkan ucapan Nara yang merindukan Langit.
Valerie tadinya hanya ingin mengantarkan teh hangat untuk Nara namun langkahnya terhenti saat Nara menyebut nama Langit, Valerie tidak tau siapa Langit karena memang Nara tidak pernah menceritakan siapa Langit, Nara hanya pernah memberitahunya jika ia sudah menikah selebihnya tidak.
Valerie membawa turun kembali teh yang ia bawa tadi, Valerie meletakan di atas meja sembari berfikir siapa Langit kenapa Nara sampai sebegitu merindukan nya sampai membuatnya menangis pilu seperti itu.
Valerie bertekat akan mencari tau tentang Langit tanpa sepengetahuan Nara nanti, Sekarang tugas dia adalah menyelesaikan adonan roti ini karena sudah banyak pelanggan yang menunggu roti itu.
Di tempat lain hal yang sama terjadi dengan Langit Langit pulang kerumah ia tidur di kamar mereka dulu, Langit memeluk foto Nara sembari menangis, Mengatakan jika ia begitu merindukan Nara, Ikatan batin mereka sangat kuat sampai-sampai mereka saling merasakan kerinduan secara bersamaan.
"Pulang lah sayang Mas merindukan mu"
"Mas rindu Ra"
"Mas mau peluk"
"Mas tidak bisa hidup tanpa mu"
"Hidup Mas hampa tanpa kamu"
"Mas mohon pulanglah"
Racau Langit pada foto Nara yang ia peluk, Tangisnya terdengar pilu sampai membuat dadanya sakit sama seperti yang Nara rasakan saat ini, Andai waktu bisa di putar kembali Langit tidak akan melakukan hal bodoh seperti ini sehingga membuatnya kehilangan kedua nya namun apa mau dikata semua sudah terjadi penyesalan selalu datang di akhir.
Di kota Riga Nara dan Valerie sudah pulang ke apartemen, Nara pun sudah tidur sedari tadi karena malam sudah larut, Namun Valerie masih membuka matanya ia mencari info tentang Langit di internet, Berjam-jam kesulitan mencari tau tentang Langit karena kendala bahasa dan tidak tau Langit itu siapa akhirnya Valerie menemukan satu foto Nara bersama laki-laki saat menggunakan baju pengantin.
__ADS_1
Valerie menebak itu adalah suami Nara dan itu berati Langit adalah nama dari suami Nara, Valerie membaca berita-berita yang terkait dengan mereka berdua sampai akhirnya Valerie menemukan berita jika anak mereka berdua sudah meninggal, Valerie syok ia tidak tau jika Nara memiliki anak dan sudah meninggal.