
Langit menatap penuh kehancuran ia tidak menyangka jika Nara akan menolak kehadiran nya, Sakit tentu saja Langit sakit dengan penolakan itu, Harapan nya untuk memeluk Nara menumpahkan segala kerinduan tidak bisa ia gapai.
"Ra" Lirih Langit ia tidak bisa berkata apa-apa lagi.
Langit mencoba memajukan langkah nya lagi namun Nara juga memundurkan langkahnya, Sekali Langit melangkah sekali juga Nara memundurkan langkahnya, Pandangan mereka masih saling menatap dan air mata masih setia mengalir dari mata mereka masing-masing.
Langit berhenti melangkah ia tidak ingin Nara semakin menjauh dari nya, "Maafin Mas Ra, Mas banyak salah sama kamu" Ucap Langit suaranya terdengar parau.
Nara diam tidak menjawab mulutnya bungkam walau hanya untuk mengeluarkan satu kata saja, "Mas tau Mas salah tidak seharusnya Mas menuduhmu tidak menyayangi Kai, Mas juga salah sudah menuduhmu sebagai pembunuh, Mas akui Mas salah, Mas mohon maafkan Mas" Langit menatap mata Nara dalam Langit dapat melihat dari tatapan mata Nara yang di penuhi kesedihan dan kebencian pada dirinya.
Melihat tatapan mata Nara yang penuh kesedihan dan kebencian terhadap dirinya membuat hati Langit sakit untuk yang kesekian kalinya, Tidak Langit tidak bisa menerima tatapan kebencian itu dari mata Nara yang Langit inginkan adalah tatapan kerinduan dan cinta yang dulu selalu Nara berikan saat menatap dirinya, Namun Langit lupa tatapan penuh cinta itu sudah hilang sejak lima tahun yang lalu.
Diam Nara tetap masih diam tidak mengeluarkan satu patah katapun dan hal itu membuat Langit tidak tau harus berbuat apa, "Ra Mas mohon jangan diam saja"
Langit berlutut di hadapan Nara dan hal itu membuat Nara memundurkan beberapa langkahnya, "Mas mohon Maafkan Mas ra" Mohon Langit mengatupkan kedua tangannya.
"Mas tersiksa dalam kesalahan selama kau pergi Ra, Selama empat tahun Mas mencari mu kemana-kemana untuk meminta maaf, Selama lima tahun sejak kamu pergi Mas hidup dalam penyesalan" Langit menangis menceritakan bagaimana hidup dalam penyesalan selama ini.
Air mata Nara semakin deras mengalir mendengar cerita Langit namun hal itu tidak membuat hati Nara tergerak untuk langsung memeluk Langit, Hatinya masih terluka mengingat perlakukan Langit dulu.
"Maafin Mas Ra, Mas mohon Maafin Mas" Mohon Langit lagi bersungguh-sungguh.
Langit menangis menundukan wajahnya masih dengan mengatupkan tangannya, Nara mengalihkan pandangannya ia tidak sanggup melihat Langit yang memohon-mohon kepadanya, Namun apa mau di kata Nara belum bisa memafkan Langit untuk sekarang, Luka di hati nya masih menganga lebar sampai membuat nya sering kali sesak setiap mengingatnya.
__ADS_1
Bayangan tangan besar Langit menamparnya menjadi memori paling mengerikan yang belum bisa Nara lupakan apalagi mengingat sakit dari tamparan itu, Nara menghapus air matanya kasar setalah itu kembali manatap Langit yang masih menunduk berlutut.
"Pergi" Suara Nara membuat Langit langsung mendongakan kepalanya.
"R-ra" Suara Langit tercekat tidak percaya Nara mengatakan itu.
"Pergi" Ucap Nara lagi dengan wajah tanpa ekspresi.
Langit menggelengkan kepalanya tidak percaya dengan apa yang ia dengar, Langit berdiri dan melangkah ingin mendekati Nara manun lagi-lagi Nara memundurkan langkahnya, Namun Langit tidak perduli ia terus melangkah sampai suara Nara menhentikan nya.
"STOP BERHENTI DI TEMPATMU" Teriak Nara mengangkat satu tangannya memberi tanda agar langit berhenti melangkah.
"JIKA MAS BERANI MELANGKAH SATU KALI LAGI AKU BERSUMPAH AKAN PERGI JAUH DARI HIDUP MAS SAMPAI MAS TIDAK BISA MENEMUKAN KU" Suara Nara lantang terdengar membuat hati Langit sakit.
Langit pasrah ia tidak lagi maju melangkah untuk mendekati Nara, "Oke Mas akan diam disini tapi Mas mohon kita bicara baik ya sayang"
Langit menggelengkan kepalanya ia tidak bisa menerima apa yang Nara katakan, Selesai...tidak mereka belum selesai Nara masih menjadi istrinya sampai saat ini.
Langit ingin melangkahkan kaki nya mendekati Nara namun lagi-lagi suara Nara menghentikannya, "Stop Mas, Mas sudah berjanji untuk tetap berada di tempat Mas"
Langit mengguk mengerti, "Mas tau Mas salah Ra, Kamu boleh menghukun Mas apapun tapi jangan katakan jika kita sudah selesai, Kamu masih istri Mas dan selamanya kamu akan tetap menjadi istri Mas.
"Tidak Mas, Kenyataan nya kita memang sudah selesai, Mas sendiri yang mengatakan bahwa satu-satu nya penyesalan Mas dalam hidup adalah menikahiku"
__ADS_1
Nara masih mengingat jelas semua yang pernah Langit ucapkan dulu, Ucapan-ucapan yang membuat hati Nara luluh lantah hancur lebur saat itu sampai membuatnya pernah berfikir untuk mengakhiri hidupnya saat itu, Beruntung iman Nara kuat sehingga ia tidak melakukan yang di benci Tuhan itu.
Langit menangis menyesali semua yang pernah ia ucapkan dulu kepada Nara, Jika waktu bisa di ulang Langit tidak akan pernah mengatakan hal itu, Namun apa mau di kata semua sudah terlambat Nara sudah terjanjur sakit karena ucapannya.
"Ra Mas Mo...." Ucapan Langit terhenti saat mendengar suara seseorang memanggil Nara.
"Nara" Suara itu dengar lirih namun mampu di dengar Langit dan Nara.
Nara menatap seseorang yang memanggil namanya, Air matanya mengucur deras melihat siapa orang itu, Seseorang itu mendekat selangkah demi selangkah mendekati Nara mereka sama-sama menangis.
"Ma-Mama" Cicit Nara ia kaget Nyonya Anggie ada di hadapannya.
Ya seseorang itu adalah Nyonya Anggie Mama Nara, Nara langsung memeluk Nyonya Anggie sangat erat, Nyonya Anggie pun sama ia membalas pelukan Nara dengan sangat erat, Menumpahkah segala kerinduan yang selama ini mereka pendam.
"Nara anak Mama, Mama rindu Nak" Ucap Nyonya Anggie memeluk Nara.
"Nara juga rindu sama Mama" Segala ketakukan Nara akan kebencian Mama nya telah hilang bersama dengan pelukan Nyonya Anggie yang begitu erat kepadanya.
Mereka sama-sama menangis, Tuan Kana menepuk pundak putranya memberinya semangat, Mereka semua melihat bagaiman Nara menolak kehadiran Langit karena mereka tiba tidak lama setelah Julian dan Vallerie naik ke atas.
Zayan dan Ziyan menahan mereka untuk tidak masuk kedalam karena melihat hubungan Langit dan Nara yamg masih menegang, Mereka menunggu dia luar namun karena Nyonya Anggie sudah tidak sabar untuk memeluk putrinya Nyonya Anggie akhirnya masuk ke dalam untuk menemui putrinya..
Tuan Damara berdiri di belakang istrinya, Nara melihat Papa nya berdiri di belakang Mama nya dan langsung melepaskan pelukan Mama nya, "Pa-Papa" Lirih Nara.
__ADS_1
Tuan Damara mengangguk dan merentangkan tangannya untuk menyambut putri kesayangannya yang dulu pernah ia sakiti hatinya, Nara langsung memeluk tubuh Tuan Damara erat menangis tersedu-sedu dalam pelukan Ayah nya, Tuan Damara balas memeluk erat putrinya seolah jika ia melepaskan pekukan nya putri nya akan pergi lagi.
Di belakang mereka Tuan Kana dan Nyonya Lingga memeluk Langit memberinya semangat untuk berjuang lebih lagi mendapatkan Nara kembali, Mereka semua merasa senang bisa bertemu Nara kembali walau Langit harus berjuang lagi untuk mendapatkan hati Nara kembali, Dan mungkin saja perjuangan nya akan sia-sia karena hati Nara sudah mati untuk Langit sejak lima tahun lalu.