
Hari-hari Nara kian hari kian bahagia, Keluarga kecil nya kembali utuh walau sempat terpisah beberapa tahun yang lalu, Tidak ada yang Nara sesali dari apa yang sudah terjadi dalam hidup nya karena menyesal pun sepertinya tak ada gunanya.
Dan Langit pun benar-benar menepati janji nya sehingga hubungan mereka setiap harinya kian membaik apalagi adanya Julian di keluarga kecil mereka membuat kebahagian mereka berdua kian hari semakin bertambah.
Kebahagiaan yang mereka rasakan tidak lantas membuat mereka melupakan Kai begitu saja, Kai punya tempat khusus di hati kedua orangtuanya yang tidak akan pernah tergantikan oleh siapapun termasuk Julian yang kini menggantikan sosok Kai di keluarga Nara dan Langit.
Jika keluarga Nara kian hari kian bahagia begitupun dengan Vallerie yang sudah resmi menjadi anak dari keluarga Damara, Nyonya Anggie dan Tuan Kana sangat menyayangi Vallerie bahkan kemanapun Vallerie pergi pasti mereka berdua akan ikut begitupun sebaliknya.
Vallerie kini sudah meneruskan pendidikan nya di Universitas terbaik pilihannya mengambil jurusan kedokteran, Tuan Damara dan Nyonya Anggie mendukung pilihan Vallerie, Vallerie teramat sangat bersyukur atas nikmat Tuhan yang di berikan keladanya saat ini.
Vallerie juga mendoakan yang terbaik untuk keluarga kecil Nara untuk membalas segala kebaikan Nara, Jika saat itu ia tidak bertemu dengan Nara mungkin ia tidak akan pernah bisa merasakan kebahagiaan seperti ini.
Saat ini Nara, Rumi dan Alana sedang menunggu anak mereka pulang sekolah di sebuah Cafe yang berada si dalam area sekolahan, Mereka sengaja menyekolahkan anak-anak mereka di sekolahan yang sama agar anak-anak mereka semakin dekat dan tentu saja agar ibu mereka dapat bertemu setiap hari.
"Setelah anak-anak keluar kita langsung ke Mall yuk, Kaya nya udah lama ya kita ga ke Mall bareng" Ucap Rumi sembari mengaduk-ngaduk minuman nya.
Nara dan Alana menggeleng heran dengan ucapan Rumi yang katanya sudah lama mereka tidak ke Mall bersama padahal baru dua hari yang lalu mereka ke Mall bersama, "Kak baru dua hari yang lalu kita ke Mall sama-sama apanya yang lama" Alana menatap Rumi. Tak percaya.
Rumi tersenyum memamerkan gigi rapih nya, "Eh iya ya baru dua hari yang lalu kita ke Mall"
"Nge Mall terus Rum, Ga inget kemarin habis di omelin suami gara-gara kebanyakan belanja" Sela Nara membuat muka Rumi langsung cemberut mengingat bagaimana Bara mengomelinya.
Dua hari yang lalu Rumi yang baru pulang belanja dengan kedua anak nya di buat kaget dengan kehadiran Bara di rumah padahal setahunya Bara ada di restoran cabang untuk mengecek keadaan disana, Dari tatapan Bara Rumi sudah tau jika Bara pasti akan mengomelinya karena belanja terus padahal ia sudah berjanji untuk tidak terus-terusan belanja tapi yang namanya wanita mana mungkin bisa tahan untuk tidak belanja apalagi saat suaminya memberinya uang terus menerus.
Dan benar saja dugaan Rumi Bara mengomelinya habis-habisan tentu saja saat mereka berada di dalam kamar hanya berdua dan tidak di dengar anak-anak, Setelah mengomeli Rumi Bara mendiamkannya semalaman membuat Rumi bingung sendiri, Merasa tidak tahan dengan Bara yang mendiamkan nya Rumi melakukan misi meluluhkan diam nya suami, Ia memakai baju dinas yang Bara belikan namun belum pernah ia pakai dan berdandan secantik mungkin, Kemudian Rumi mendatangi Bara di ruang kerjanya.
Bara terkejut melihat Rumi yang begitu menggoda iman nya, Namun sebisa mungkin Bara menahan diri agar tidak terpancing namun akhirnya Bara kalah dan terjadilah apa yamg seharusnya terjadi, Rumi fikir setelah misi nya sukses Bara akan memberikan izin untuk belanja lagi namun kata-kata terakhir Bara malam itu masih terngiang-ngiang di kepalanya.
"Walau Mami sudah berhasil meluluhkan Papi tapi tetap saja Mami di larang belanja-belanja terus, Lagi pula ini memang sudah kewajiban Mami menyenangkan suami"
"Ih memang menyebalkan tu Papi nya anak-anak" Gerutu Rumi setelah ingatannya tentang dua hari yang lalu buyar.
"Tapi cintanya ga main-main kan" Nara menarik turunkan alisnya.
"Ya memang benar sih tapi kan" Rumi menarik nafasnya dan meletakan kepalanya di meja.
"Yang sabar ya kak, Gapapa kaka di rumah saja biar kami bedua saja yang belanja" Ledek Alana mengelus kepala Rumi dan hal itu membuat Rumi semakin cemberut.
Nara dan Alana tertawa karena berhasil membuat Rumi semakin cemberut, Beberapa saat kemudian anak-anak sudah keluar kelas mereka menghapiri ibu mereka masing-masing dan setelah itu mereka berpamitan untuk pulang ke rumah masing-masing.
Nara dan Julian tidak langsung pulang ke rumah mereka akan pergi ke kantor Langit tampa sepengetahuan Langit karena ingin memberikannya kejutan, Sebelum sampai di kantor Langit Nara membeli makanan untuk mereka makan bersama nanti.
Setelah pesanan nya selesai Nara kembali melanjutkan perjalanan nya, Julian selalu senang setiap kali di ajak ke kantor Langit apalagi Julian memang jarang ke kantor Daddy nya, Mereka sampai di kantor Langit, Satpam langsung menghampiri mobil Nara dan membukakan pintu.
"Selamat siang Nyonya" Sapa Pak satpam yang bernama Aji dengan hormat.
"Selamat siang Pak Aji" Balas Nara.
__ADS_1
"Ini pak buat cemilan" Nara memberikan satu kantung paper bag yang berisi makanan dan minuman untuk beberapa satpam yang ada di lobi utama.
"Wah terimakasih Nyonya" Pak Aji menerima pemberian Nara dengan hati senang, Istri atasannya ini memang sangat baik kepada mereka.
"Sama-sama Pak, Ini tolong parkirkan mobilnya ya Pak" Nara menyerahkan kunci mobil kepada Pak Aji.
"Baik Nyonya" Jawab Pak Aji setelah itu Nara menggandeng tangan Julian dan membawa nya masuk ke kantor Langit.
Namun sebelum bener-benar masuk Julian berbalik badan dan sedikit berteriak, "Selamat bekerja Pak Aji" Ucap Julian membungkukkan badannya.
"Terimakasih Tuan Muda" Balas Pak Aji membungkukkan badan nya juga.
Nara tersenyum melihat kelakuan Julian, Menggandeng kembali tangan Julian Nara membawa Julian masuk, Nara berjalan menuju lift khusus untuk para petinggi perusahaan namun langkahnya terhenti saat seseorang menghentikannya.
"Permisi Nyonya anda di larang menaiki lift ini karena lift ini hanya khusus untuk para petinggi perusahaan, Jika anda ingin menemui seseorang yang bekerja di kantor ini silahkan menaiki lift khusus karyawan" Larang seseorang itu yang sepertinya resepsionis baru yang tidak mengenal Nara.
"Oh iya mba saya tau ko kalau ini lift khusus petinggi perusahaan" Jawab Nara dengan senyuman.
"Kebetulan yang ingin saya temui juga orang penting di perusahaan ini" Lanjut Nara lagi.
"Maaf jika boleh tau siapa yang ingin anda temui Nyonya?" Tanya Resepsionis wanita itu.
"Maaf Nyonya kenapa Nyonya masih ada disini" Belum sempat Nara menjawab pertanyaan Resepsionis itu suara Pak Aji mengalihkan atensi mereka berdua.
"Pak Aji kenal dengan Nyonya ini?" Resepsionis bernama Yesy itu melirik Nara.
Yesy langsung membungkuk meminta maaf karena ketidaktahuannya, Nara tersenyum tidak mempermasalahkan apa yang di lakukan Yesy tadi karena menurutnya itu hal wajar, Setelah selesai urusan di bawah Nara langsung naik ke atas dengan lift khusus karena Julian terus merengek ingin bertemu dengan Daddy nya.
Sampai di ruangan Langit Julian langsung membuka pintu tanpa mengetuk, "Daddy" Suara Julian begitu asuk kedalam ruangan Langit dan langsung berlari menghampiri Langit.
"Sayang kalian disini" Kaget Langit melihat anak dan istrinya datang ke kantornya.
Nara menunjukan apa yang ia bawa dan meminta Langit untuk makan bersama, Mereka makan bersama di kantor, Nara dan Julian memutuskan untuk menunggu Langit bekerja dan akan pulang bersama nanti.
Tidak jauh berbeda dengan Rumi yang hobi sekali belanja sama halnya dengan Alana namun yang membedakan adalah Alana lebih sering membelanjakan anak dan suaminya dari pada dirinya sendiri, Seperti saat ini Alana membawa kedua anaknya ke Mall untuk mencari baju yang akan mereka pakai untuk acara besok.
Alana mencoba berbagai macam model baju yang cocok untuk si kembar yang kini sudah berusia hampir sepuluh tahun, Setelah menemukan baju yang cocok untuk si kembar dan juga Ayah nya si kembar Alana membawa si kembar untuk makan siang sembari menunggu Ayah mereka datang untuk menjemput mereka.
Hari berganti hari semua berjalan sesuai dengan keinginan Nara, Langit yang kembali seperti dulu, Keluarga yang menerima Vallerie dan Julian dengan tangan terbuka, Luka yang di berikan Langit dulu sudah sembuh semuanya dan Langit juga lah yang menjadi obat nya, Terkadang memang benar obat dari luka yang kita derita adalah si pembuat luka itu sendiri dan Nara sudah membuktikannya,
Nara berdoa memohon kepada Tuhan agar mereka selalu bahagia dan mereka selalu bersama sampai mereka tua, Hanya itu harapan Nara tidak ada yang lain, Namun Nara lupa jika Tuhan lah satu-satunya pemilik takdir di dunia ini.
Langit dan Nara sedang beristirahat setelah melakukan kegiatan yang tidak bosan untuk di ulang setiap harinya, Langit meraih tubuh Nara agar semakin mendekat ke tubuhnya, Ada sesuatu yang ingin Langit bicarakan kepada Nara, "Sayang Mas mau izin pergi ke Lombok ya, Karena Mas ada pekerjaan disana"
"Ke Lombok Mas?, Pekerjaan apa?, Kapan?, Berapa lama?" Tanya Nara berentetan.
"Satu-satu dong sayang tanyanya" Langit mencubit hidung Nara pelan.
__ADS_1
"Ih Mas Langit kebiasaan deh" Nara menarik tangan Langit dari hidungnya, "Mas jawab saja semua pertanyaan aku tadi" Lanjut Nara.
"Iya sayang di Lombok, Ada proyek baru disana, Mas berangkat besok dan mungkin sekitar dua mingguan" Langit menjawab semua pertanyaan Nara.
Mendengar jawaban Langit Nara seketika bangun dan duduk menatap Langit tajam sehingga membuat bagian tubuh atas Nara yang tanpa busana terbuka, Langit ikut duduk ia merasa takut dengan tatapan tajam Nara, Ia tau ia sudah melakukan kesalahan karena meminta izin secara mendadak kepada Nara.
"Sayang jangan marah ya" Rayu Langit menaikan selimut untuk menutup bagian atas tubuh Nara, Karena jika tidak segera di tutup Langit akan memangsa nya lagi.
"Gimana aku ga marah, Mas Langit minta izin mendadak gitu" Omel Nara merasa kesal dengan Langit, Bisa-bisa nya Langit baru meminta izin sekarang padahal kan ga mungkin proyek itu datang tiba-tiba pasti sudah dari jauh-jauh hari.
"Iya sayang Mas minta maaf, Kemarin-kemarin Mas lupa mau ngasih tau kamu dan minta izin dari kamu" Aku Langit menaikan dua jarinya membuntuk huruf V dengan senyuman tak berdosanya.
"Mas Langit itu jahat banget tau ga, Mas Langit mau ninggalin aku sama Julian, Dua minggu itu lama Mas" Suara Nara terdengar sedikit parau Langit menebak sebentar lagi pasti Nara menangis.
Dan benar saja satu tetes air mata Nara menetes namun Nara buru-buru menghapusnya, "Iya Mas akui Mas salah sayang, Tapi ini pekerjaan penting Sayang, Mas janji setelah selesai Mas langsung pulang" Ucap Langit menenangkan Nara dan sedikit merayu nya.
"Terserah Mas Langit lah" Beo Nara setelah itu ia menidurkan tubuhnya kembali dan menutup wajahnya dengan selimut, Ia males berbicara lagi dengan Langit.
Langit menarik nafasnya dalam ia harus sabar menghadapi Nara dan tidak boleh marah, Jika saja proyek baru ini tidak terlalu membutuhkan nya sudah pasti Langit tidak akan pergi ke Lombok, Langit merebahkan tubuh nya di samping Nara tangan nya masuk kedalam selimut untuk membawa kepala Nara tidur di lengan nya, Nara diam tidak menolak suara isak tangis menghiasi malam mereka sampai akhirnya mereka terlelap.
Dalam tidurnya Nara bermimpi mimpi yang sama saat ia masih hamil dulu, Beda nya yang ada dalam mimpinya adalah Langit, Langit menemuinya dengan wajah pucat berdarah, Nara menghampiri Langit dan Langit semakin menjauh sampai akhirnya hilang di balik cahaya, Nara terbangun dengan nafas terengah-engah
Langit juga ikut bangun karena Nara yang tiba-tiba bangun, "Ada apa sayang?" Tanya Langit memegang pundak Nara.
"Mas a-aku mi-mimpi buruk" Jujur Nara wajah nya terlihat begitu takut mimpi itu seperti nyata.
"Suttss tenang ya sayang itu hanya mimpi" Langit membawa Nara dalam pelukan nya.
"Tapi mimpi itu seperti nyata Mas"
"Tidak sayang itu tidak nyata, Itu hanya mimpi, Sudah ya sekarang kita tidur lagi" Langit membawa tubuh Nara kembali ke kasur dan Langit langsung tidur karena ia benar-benar mengantuk.
Nara tidak bisa tidur ia masih kepikiran dengan mimpinya, Ia benar-benar takut jika mimpi nya adalah pertanda buruk untuk Langit, Nara baru bisa terlelap saat hari sudah mulai pagi.
Pagi hari Nara bangun lebih dulu padahal ia baru terlelap satu jam, Nara masih memikirkan tentang mimpinya, Nara takut jika mimpinya benar terjadi karena itulah Nara menghampiri Langit yang sedang memakai dasi.
"Mas jangan pergi ya, Mas di rumah saja ya" Mohon Nara dengan mata panda nya karena kurang tidur.
"Ga bisa sayang Mas sudah di tunggu sama yang lain" Jawab Langit lembut mencoba memberi Nara pengertian.
"Tapi Mas aku mohon Mas jangan pergi ya, Kali ini aja" Mohon Nara Lagi dengan mengatupkan kedua tangannya.
Langit menarik nafasnya nya sebentar, "Kamu kenapa sayang? Masih kepikiran dengan mimpi kamu semalem?" Tebak Langit dan Nara menganggukan kepalanya.
"Mas sudah bilang kan jika itu hanya mimpi, Jadi kamu tenang saja yang sayang Mas yakin tidak ada apa-apa" Langit memeluk Nara menepuk pundak Nara berharap pelukan nya bisa menenangkan Nara.
Nara mencoba tenang dan membiarkan Langit pergi, Namun hati kecilnya mengatakan untuk jangan membiarkan Langit pergi, Dengan perasaan yang takut dan khawatir akhirnya Nara membiarkan Langit pergi ke Lombok.
__ADS_1
Maaf ya Author ga jadi selesaiin di episode ini, Author akan tambah satu episode lagi untuk ending besok ya, Terimakasih😇