Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 17


__ADS_3

Sudah lebih dari dua minggu Nara belum juga sadar, Selama dua minggu pula Langit tidak meninggalkan Rumah Sakit sama sekali, Makan dan baju gantinya akan di antarkan Bara dan Evan bergantian kadang juga Nyonya Lingga.


Orangtua Nara setiap hari juga datang untuk melihat kondisi anak dan cucu mereka, Langit tidak lagi memegang urusan kantor semua pekerjaan kantor sudah Tuan Kana ambil alih di bantu dengan Rendy.


Kondisi anak Langit juga sudah membaik dokter mengatakan jika besok anak Langit dan Nara sudah bisa di bawa pulang, Langit juga belum memberikan nama pada anak mereka, Langit menunggu Nara bangun untuk memberikan Nama pada bayi mungil yang sedang Langit gendong saat ini.


"Kita doa sama-sama ya sayang, Kita mohon sama Tuhan agar Bunda cepet bangun dari tidurnya" Ucap Langit mencium pipi mungil anak nya.


Bayi dalam gendongan Langit tersenyum tipis seolah tau apa yang Langit bicarakan, Langit kembali mencium pipi anak nya hati-hati.


"Langit" Panggil Nyonya Lingga menhampiri Langit.


Langit yang merasa namanya di panggil menengok kearah suara si pemanggil "Mami"


"Kamu makan dulu Langit biar baby boy Mami yang gendong" Nyonya Lingga memberikan paper bag yang berisi makanan kepada Tuan Kana.


Nyonya Lingga mencuci tangannya terlebih dahulu baru setelah itu mengambil alih baby boy dalam gendongan Langit, Nyonya Lingga tersenyum melihat wajah lucu cucu satu-satu nya itu saat mengeliat dalam gendongannya, Nyonya Lingga merasa gemas dan menciumnya.


Tuan Kana menyerahkan paper bag kepada Langit "Makan lah Papi sama Mami akan di sini menjaga baby boy"


"Iya Pi, Langit akan makan di ruangan Nara saja Pi" Langit pergi ke ruangan Nara dengan menenteng paper bag di tangannya.


Sampai di ruangan Nara Langit mencium kening Nara setelah itu ia memakan makanan nya, Saat Langit sedang makan tangan Nara bergerak namun sayang Langit tidak melihat itu.


Langit selesai makan, Ia membersihkan dirinya dan setelah itu ia duduk di kursi samping ranjang Nara "Sayang Mas kangen" Ucap Langit menggenggam tangan Nara.

__ADS_1


"Sudah dua minggu kamu tidur Mas benar-benar rindu, Mas juga belum memberikan nama untuk anak kita, Mas nunggu kamu bangun dan ngasih nama anak kita" Satu air mata lolos dari mata Langit.


"Separuh hidup Mas seperti hilang saat kamu ga ada di samping Mas, Bangun sayang Mas dan anak kita membutuhkan mu" Langit tak kuasa menahan air matanya, Langit menangis mencium tangan Nara.


Air mata Nara keluar dari sudut matanya tapi Langit tidak menyadarinya karena Langit terlalu larut dalam tangisannya, Bara dan Evan yang berada di luar ruangan Nara tidak jadi masuk ke dalam saat melihat sahabatnya menangis pilu.


Bara dan Evan pergi meninggalkan Rumah Sakit dan akan kembali nanti malam, Di ruangan bayi Tuan dan Nyonya Kana bergantian menggendong cucu mereka yang sangat tampan persis seperti Langit.


"Pi Mami takut jika cucu kita tidak akan pernah di gendong Ibunya" Nyonya Lingga berkata tanpa melihat suaminya.


Tuan Kana merangkul pundak Nyonya Lingga "Mami jangan ngomong kaya gitu, Papi yakin Nara pasti akan secepatnya sadar" Tuan Kana meyakinkan Nyonya Lingga.


"Malang sekali nasib mu nak, Kau masih sangat kecil untuk menerima semua ini, Semoga setelah kesulitan ini kau dan Bundamu akan di berkahi kebahagiaan" Doa Nyonya Lingga untuk cucu dan menantunya.


Di Maroko Zayan dan Ziyan sudah berada di Bandara mereka akan kembali ke Indonesia, Masalah pekerjaan yang terjadi di Maroko sudah teratasi mereka berdua kembali ke Indonesia tanpa memberitahu Langit, Kepulangan mereka memiliki misi tersendiri, Mereka akan memberitahu Langit jika misi itu sudah selesai.


Zayan dan Ziyan sudah menaiki pesawat, Sebelum pesawat lepas landas Zayan menghubungi Rendy mengatakan jika pesawat yang mereka tumpangi akan terbang dan meminta Rendy untuk menjemputnya nanti.


Rendy, Zayan dan Ziyan berasal dari panti asuhan yang sama mereka semua bisa sesukses sekarang berkat bantuan Langit dan keluarga nya, Sedari kecil Langit tidak pernah membeda-bedakan orang, Langit juga tidak pernah memilih dalam lingkup pertemanan nya, Rendy berutang budi dengan keluarga Langit karena menyekolahkan nya dan merawatmya hingga sembuh saat ia di ambang kematian oleh karena itu Rendy sangat setia kepada Langit.


Bara datang sendiri Kerumah Sakit saat tengah malam, Bara membawa baju Langit dan juga foto yang ia dapat dari salah satu orang suruhannya, Bara membuka pintu di lihatnya Langit masih pada posisi sama seperti tadi siang.


Langit memalimgkan wajah nya saat mendengar pintu terbuka, Bara duduk di sofa di ikuti Langit, Bara meletakan paper bag di meja dan menyerahkan amplop coklat yang ia bawa kepada Langit.


"Dia dalang dari semua ini" Ucap Bara setelah menyerahkan amplop coklat ketangan Langit.

__ADS_1


Langit membuka amplop coklat itu dan melihat siapa dalang di balik kecelakaan istrinya, Langit tidak terkejut dengan wajah seseorang itu tapi ia sangat marah sampai membuat wajah nya memerah, Langit mengepalkan tangannya hingga jari-jari nya memutih.


"Apa yang akan Lu perbuat dengan orang ini Lang?" Tanya Bara menunjuk foto yang Langit letakan di meja.


"Yang pasti hal itu sebanding dengan apa yang terjadi pada Nara" Senyum smrik Langit membuat Bara bisa menebak jika hal itu pasti mengerikan.


Langit tidak sebodoh yang seseorang itu fikirkan, Ada banyak cara untuk mengetahui siapa dalang di balik semua ini, Langit di bantu dengan Bara dan Evan menyelidiki kasus ini tanpa bantuan polisi, Langit tidak ingin polisi ikut campur dalam kasus ini biar kasus ini di tutup sebagai kasus kecelakaan biasa.


Namun tanpa sepengetahuan Langit, Rendy Zayan dan Ziyan juga melakukan hal yang sama seperti yang Langit rencanakan, Bahkan Rendy Zayan dan Ziyan sudah membuat rencana yang lebih matang untuk memberikan balasan utuk seseorang itu.


"Lang" Ragu-ragu Bara ingin menyakan sesuatu.


Langit menatap wajah Bara "Kenapa?"


"Gimana cara Lu ngasih tau Nara nanti soal rahim dia yang udah di angkat?" Tanya Bara, Langit langsung menundukan kepalanya mendengar pertanyaan Bara.


Langit menarik nafasnya berat sebelum menjawab pertanyaan Bara, "Gue juga belum tau Bar, Gue takut mental Nara ga siap untuk kenyataan pahit ini"


"Andai saja waktu itu Gue ga ninggalin Nara mungkin semua ini ga akan terjadi Bar" Langit masih menyalahkan dirinya sendiri atas kejadian yang menimpa Nara.


"Stop nyalahin diri Lu sendiri Lang, Gue yakin Nara juga ga akan nyalahin Lu, Karena dia tau ini sudah menjadi takdir dia" Ucap Bara menasehati Langit.


"Satu-satunya penyesalan dalam hudup Gue adalah bertemu dengan dia, Dan Gue bersumpah akan membalaskan semua ini," Jeda Langit.


"Akan ku pastikan kau mendapatkan balasan setimpal SEVANYA" Langit menusuk foto Sevanya Yang keluar dari mobil si penabrak dengan pisau buah yanga da di meja, Foto itu Bara dan Evan dapatkan dari kamera dashboard mobil yang ada di belakang mobil di penabrak.

__ADS_1


__ADS_2