Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 37


__ADS_3

Malam semakin larut namun Langit masih berada di kantor meresapi apa yang Bara dan Evan katakan tadi, Kepalanya tiba-tiba pusing memikirkan banyak hal.


Meremas rambutnya kuat Langit memutuskan untuk pulang mengistirahatkan tubuhnya yang lelah, Jalanan terasa sepi karena malam sudah larut, Langit melewati jalan pemakanman yang ada di dekat rumah nya.


Tanpa sengaja Langit melihat Nara yang baru keluar dari gerbang area pemakan, Langit bertanya-bertanya untuk apa Nara malam-malam begini datang kepemakaman, Apakah untuk mengunjungi pusara Kai tapi seeprtinya tidak mungkin bukankah Nara tidak menyayangi Kai, Buktinya saja Nara tidak ada di hari pemakaman Kai, Fikir Langit.


Namun Langit juga berfikir mungkin karean hal ini Nara selalu pulang malam, Melihat hal ini membuat hati Langit sedikit bimbang sudah benarkah apa yang ia lakukan selama ini kepada Nara.


"Apa yang sebenarnya terjadi? Apakah aku salah selama ini?" Monolog Langit pada dirinya sendiri.


Langit mengikuti Nara dari belakang sorot lampu menerangi jalan Nara, Nara terus berjalan tidak menengok atau memperdulikan mobil siapa yang menyoroti jalan nya.


Beberapa menit kemudian Nara sampai di rumah, Nara membuka gerbang dan menutupnya kembali, Tidak lama setelah itu Langit menyusul masuk, Langit turun dari mobil dan mengikuti Nara dari belakang sampai Nara hilang di balik pintu kamar.


Langit menarik nafas dalam sebelum pergi ke kamar Kai, Namun seketika langkahnya terhenti saat samar-samar kupingnya mendengar suara tangisan, Mata Langit tertuju pada pintu kamar Nara yang tidak tertutup rapat.


Langit mendekat ke arah pintu itu untuk memperjelas pendengarannya dan benar saja suara tangisan itu berasal dari dalam kamar Nara, Langit sedikit membuka pintu dan suara tangisan itu sangat terdengar jelas.


Langit dapat mrlihat dan mendengar jelas apa yang sedang di lakukan Nara, Hati Langit terenyum mrlihat pemandangan di depan nya, Dimana Nara sedang meringkuk dan menangis sembari memeluk foto kai, Dan kata maafin Bunda maafin Bunda berulang-ulang Langit dengar dari mulut Nara.


Langit menutup kembali pintu itu dan pergi kekamar nya, Langit tidak tau apa yang harus ia lakukan saat ini, Mempercayai apa yang ia lihat saat ini atau mempercayai fikirannya saat ini.


"Apa yang harus aku lakukan Ra?, Apa yang harus Ayah lakukan nak?" Tanya Langit pada foto Nara dan Kai yang saling memeluk.


Tidak mendapat jawaban dari pertanyaan nya Langit membawa foto Nara dan Kai dalam pelukannya dan terlelap bersama gelapnyanya malam.


Gelap berganti terang sinar matahari masih malu-malu untuk menunjukan kecerahannya, Langit sudah bangun hari ini ia memutuskan untuk tidak pergi ke kantor, Langit akan mengikuti kemanapun Nara pergi hari ini, Langit ingin mencari tau jawaban dari pertanyaan-pertanyaan nya selama ini.

__ADS_1


Tepat jam 10:00 Nara keluar dari kamar, Di bawah bi Yani sudah menunggu Nara, Langit memperhatikan Nara dari ruang keluarga tanpa sepengetahuan Nara.


"Nyonya sudah mau pergi?, Nyonya makan dulu ya?" Ucap bi Yani pelan sembari membawa Nara keruang makan.


Bi Yani membantu Nara duduk dan menyuapi Nara, Hati Langit terenyuh melihat Nara yang makan di suapi bi Yani, Sebodoh itu kah dirinya sampai dia tidak tau apa yang terjadi dengan Nara setelah kematian anak mereka dan lebih parahnya dia menuduh Nara sebagai pembunuh.


Selesai makan Nara keluar rumah berjalan kaki, Langit mengikuti Nara dari belakang dengan menaiki mobil, Langkah kaki Nara masuk kedalam area pemakaman walau sedikit bingung untuk apa Nara datang ke makam Langit turun daei mobil mengikuti Nara.


Mata Langit membulat sempurnya melihat bagaimana Nara memeluk dan menciumi batu nisan Kai, "Bunda datang lagi nak!" Seru Nara mengelus batu nisan Kai.


"Anak Bunda apa kabar?" Monolog Nara pada pusara Kai.


Langit terus memperhatikan Nara dan tanpa sebab air matanya menetes, Tak di pungkiri Langit merindukan suara Nara yang sudah lama tidak ia dengar, Nara berdiri bersiap untuk pergi.


"Bunda pergi dulu ya nak, Bunda janji nanti Bunda akan datang lagi" Pamit Nara setelah itu ia pergi, Langit bersembunyi di balik pohon, Setelah Nara keluar gerbang Langit mengikutinya


Tidak mau ketinggalan Langit buru-buru turun dari mobil mengikuti Nara namun sayang ia telat Nara sudah masuk kedalam ruangan pemeriksaan.


Langit menuju tempat resepsionis "Permisi" Sapa Langit.


"Ya Tuan ada yang bisa kami bantu" Jawab petugas resepsionis itu ramah.


"Apa yang terjadi dengan wanita yang baru saja masuk kedalam ruangan itu" Tunjuk Langit pada ruangan yang Nara masuki.


Petugas resepsioni mengikuti arah yang Langit tunjuk "Maaf Tuan itu privasi pasien kami, Jadi kami tidak boleh memberitahukannya kepada oranglain"


"Saya suaminya, Katakan apa yang terjadi dengannya!" Sela Langit dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Sungguh Langit sangat penasaran apa yang sebenarnya terjadi kepada Nara sampai Nara pergi ke psikolog, Bukan kah selama ini Nara tidak memiliki gangguan mental, Memikirkan itu seketika mata Langit membulat teringat ucpan Evan tadi malam.


"Maaf Tuan tetap saja kami tidak bisa memberikan informasi pasien termasuk kepada suaminya karena pasien tidak mengizinkannya"


Memang benar Nara pernah mengatakan itu kepada petugas resepsionis saat pertama kali iya datang kesini lima bulan yang lalu.


Langit pergi dari tempat itu dengan perasaan kecewa dan marah karena tidak bisa mendapatkan informasi apapun, Langit kembali ke mobil dan menunggu Nara di dalam mobil.


Langit terus menunggu walau di serang bosan, Empat jam kemudian Nara keluar bersama seorang dokter wanita, Nara dan dokter itu berpisah dan pergi ke arah yang berbeda, Langit bingung harus mengikuti siapa dokter itu ataukah Nara.


Setelah lama memikirkannya akhirnya Langit memutuskan untuk mengikuti dokter itu, Langit ingin tau apa yang terjadi dengan Nara, Dokter itu pergi ke cafe Langit buru-buru mengejarnya.


"Permisi" Langit manghadang jalan dokter itu.


Dokter itu menatap Langit bingung, "Maaf anda siapa?" Tanya dokter itu ramah.


Langit mengatur nafasnya sebentar "Saya suami dari wanita yang tadi anda temui" Langit menjeda ucapan nya.


"Katakan kepada saya apa yang terjadi dengan istri saya?" Lanjut Langit.


Mengetahui jika laki-laki di depannya adalah suami dari pasiennya dokter cantik yang benama Lyly itu langsung merubah raut wajahnya menjadi tidak suka melihat Langit.


"Ikut saya" Dokter Lyly berjalan mendahului Langit dan Langit mengikutinya dari belakang.


Mereka berdua duduk di krsi paling pojok dimana dan tidak ada banyak orang di tepat itu, Dokter Lyly sengaja memilih tempat itu karena yang akan mereka bicarakan sangat penting.


.

__ADS_1


__ADS_2