
Waktu cepat berlalu tak terasa sudah dua tahun Nara pergi dari kehidupan Langit, Nara menjalani hidupnya dengan lebih tenang dan bahagia walau sesekali tidak di pungkiri Nara merindukan Langit.
Nara perlahan mulai bisa mengiklaskan kepergian Kai namun rasa bersalah itu tetap ada di dirinya, Trauma pada dirinya pun masih ada hanya saja Nara berhasil menyembunyikannya.
Di kota Riga Nara membuka usaha toko roti kecil tidak jauh dari apertemen nya, Karena susah mencari rasa roti yang cocok di lidah nya membuat Nara akhirnya memutuskan membuat roti sendiri dan menjualnya, Tidak di sangka roti Nara banyak peminatnya sampai akhirnya Nara membuka toko roti sendiri.
Nara di bantu dengan satu teman nya uang sudah ia anggap sebagai adik sendiri untuk membuat usaha toko roti itu, Valerie gadis cantik asli dari kota Riga itu adalah teman sekaligus adik Nara satu-satunya di Negara itu, Awal bertemu dengan Valerie adalah saat Nara tidak sengaja menjatuhkan satu potong roti yang Valerie miliki dua tahun silam.
Valerie yang saat itu baru di tinggal pergi kedua orangtuanya secara bersamaan membuat Valerie hidup sebatang kara dengan keadaan ekonomi yang sulit, Mendengar cerita Valerie yang tidak memiliki siapa-siapa lagi bahkan tempat tinggal sekalipun menbuat Nara kasihan dan mengajaknya untuk tinggal bersama.
"Kaka lihat pria yang duduk disana" Tunjuk Valerie pada seorang laki-laki yang duduk di meja bagian pojok, "Dari tadi laki-laki itu melihat ke arah kaka terus, Aku rasa laki-laki itu menyukai Kaka"
Nara melihat arah tunjuk Valerie "Turunkan tanganmu Valerie" Nara menurunkan Tangan Valerie.
"Kau tidak boleeh menunjuk orang yang tidak kau kenal dengan sembarangan" Peringat Nara dan Valerie hanya tersenyum memamerkan gigi putihnya.
Saat ini Nara dan Valerie sedang berada di toko roti milik nya, Pengunjung hari ini cukup ramai selain menyediakan roti Nara juga menyediakan berbagai minuman seperti Coffe dan lain-lain karena itulah toko roti Nara banyak di datangi pengunjung karena di kota Riga jarang ada yang membuka toko roti seperti Nara.
"Lihat ka laki-laki itu melihat kaka lagi" Bisik Valerie di kuping Nara.
"Tidak Valerie laki-laki itu bukan melihat kaka tapi melihat lukisan yang ada di belakang kita" Jawab nara mencari alasan.
Nara bukan tidak tau laki-laki itu memperhatikannya sedari tadi, Hanya saja Nara tidak memperdulikannya lagi pula itu hak laki-laki itu untuk melihat siapa dengan matanya.
"Tapi ka.."
"Cukup Valerie jangan bergosip terus, Bukankah sudah waktunya kau pergi les" Potong Nara.
"Ahh aku hampir saja lupa ka" Balas Valerie melihat jam di tangannya.
"Ya sudah cepat pergi, Ingat langsung pulang setelah selesai" Pesan Nara pada Valerie.
__ADS_1
"Baik ka, Valerie pergi dulu ya ka" Pamit Valerie menyalami tangan Nara.
Selama tinggal dengan Nara Valerie sedikit-sedikit sudah mempelajari tentang budaya asal dari Negara Nara, Nara tidak mengajarinya tapi Valerie yang ingin belajar agar saat Nara membawanya ke Negaranya Valerie sudah tau budaya disana.
Ya Nara pernah mengatakan jika ia akan membawa Valerie ke Negaranya suatu saat nanti karena itulah Valerie semangat untuk mempelajari budaya-budaya yang ada di negara Nara.
•
•
•
•
Di Negara lain tepatnya negara Indonesia Negara dimana Nara berasal semenjak Nara pergi kehidupan Langit benar-benar kacau, Langit menjadi laki-laki yang berkali-kali lipat lebih bengis dari pada Langit saat masih ada Nara.
Langit sekarang terlihat semakin kurus dan penampilan nya seperti orang yang tak terurus, Langit yang dulunya tidak pernah punya kumis dan jenggot karena Nara tidak menyukai nya sekarang kedua hal itu tumbuh di wajah Langit walau tidak lebat dan malah membuat Langit terlihat lebih tampan.
"Mas harus mencari kamu kemana lagi sayang, Mas rindu" Ucap Langit pada foto Nara.
"Beri Mas petunjuk agar Mas bisa menemukan mu sayang" Lanjutnya.
Ponsel Langit berdering panggilan masuk dari Evan, Meletakan foto Nara Langit mengambil ponselnya dan menjawab panggilan Evan.
"Hallo Lang" Suara Evan langsung terdengar saat Langit sudah menempelkan ponsel di telinganya.
"Hmm kenapa?" Balas Langit.
"Lu dimana? Datang kerumah Gue sekarang, Ada Bara juga disini"
"Untuk" Jawab Langit singkat.
__ADS_1
"Gue mau ngajak Lu makan siang di rumah Gue karena Gue tau Lu pasti belum makan dari pagi"
Langit diam tidak mennawab ucapan Evan, Bara dan Evan tau jika sahabat nya itu sejak kepergian Nara tidak pernah memperdulikan dirinya sendiri bahkan untuk sekedar makan pun Langit sering melupakan nya.
"Lang Lu denger Gue kan" Tanya Evan karena Langit hanya diam saja.
"Hmmm" Jawab Langit.
"Yaudah Gue tunggu ya Lang"
Setelah itu sambungan telfon mati, Langit meletakan ponselnya kembali dan melihat foto Nara lagi, "Mas benar-benar rindu sayang" Ucap Langit tidak ada kebohongan dalam setiap ucapannya.
Meletakan foto Nara Langit melajukan mobilnya ke rumah Evan, Tidak jauh berbeda dengan keadaan Langit keadaan Tuan Damara dan Nyonya Anggie pun sama, Bahkan Nyonya Anggie menjadi sakit-sakitan sejak kepergian Nara anak nya.
Terkadang Tuan Damara sampai kelelahan dan berakhir jatuh sakit karena harus mengurus perusahan, istrinya yang sakit dan juga mencari keberadaan Nara, Tubuh Nyonya Anggie terlihat kurus sejak kepergian Nara, Tiada hari tanpa tangis penyesalan dalam kehidupan Nyonya Anggie sekarang.
"Mama makan dulu ya" Rayu Tuan Damara untuk yang kesekian kalinya karena sedari tadi Nyonya Anggie menolak untuk makan.
"Mama ga laper Pa, Mama mau ketemu Nara" Jawab Nyonya Anggie dengan Air mata yang sudah mengalir sedari tadi.
Tuan Damara menarik nafasnya "Mama sabar ya Nara pasti ketemu suatu saat nanti" Balas Taun Damara menangkan istrinya.
"Tapi kapan Pa sudah dua tahun kita ga tau kemana Nara pergi"
"Sabar ya Ma, Kita perbanyak doa kita, Papa yakin Tuhan akan mengabulkan doa kita suatu saat nanti" Tuan Damara membawa Nyonya Anggie dalam pelukannya.
Beruntung Tuan Damara memiliki kesabaran yang luar bisa untuk menghadapi semua ujian yang Tuhan berikan sehingga ia mampu menjadi pondasi yang kuat untuk istrinya yang membutuhkan kesabaran luar biasa darinya.
"Mama makan dulu ya sekarang" Rayu Tuan Damara lagi, Kali ini Nyonya Anggie tidak menolaknya.
Tuan Damara menyuapi nyonya Anggie dengan telaten, Tidak di pungkiri hati Tuan Damara juga sakit melihat istrinya yang sakit-sakitan dan badannya kian mengurus semenjak putri mereka pergi entah kemana karena kesalahan mereka.
__ADS_1
Dalam hati Tuan Damara berdoa "Ya tuhan pertemukan aku dengan putriku dan iznkan aku untuk menebus segala kesalahan ku dan istri ku kepada putri ku, Izinkan kami bertemu putri kami lagi Tuhan, aku berjanji aku tidak akan membuat kesa****l**ahan yang sama kepada putriku**"