
Waktu demi waktu berjalan dengan cepat kini Nara sudah pergi dari kehidupan Langit lima tahun lamanya, Kian hari rasa penyesalan dan rasa bersalah Langit kian menumpuk apalagi sampai detik ini belum ada kabar tentang keberadaan Nara.
Langit juga sudah kembali keperusahaannya satu tahun yang lalu, Tepat nya saat Ayah nya yang semakin Tua tidak mamapu untuk mengurus perusahaan lagi, Empat tahun mencari Nara namun tidak ada hasil Langit memutuskan untuk berenti mencari Nara sendiri dan meminta tolong Zayan dan Ziyan untuk mencari Nara.
Zayan dan Ziyan tidak merasa di repotkan ataupun menolak saat Lamgit memintanya untuk mencari Nara ke berbagai Negara, Karena sebelumnya Zayan dan Ziyan juga sudah berusaha mencari Nara tanpa sepengetahuan Langit.
Langit memutuskan berhenti mencari Nara karena dia harus menghendle dua perusahaan sekaligus, Perusahaan nya dan perusahaan ayah mertuanya, Iya Langit juga menghendle perusahaan keluarga Nara karena Tuan Damara sibuk mengurus Nyonya Anggie yang sakit-sakitan dan membutuhkan perhatian lebih dari Tuan Damara.
Langit sedang berkutat dengan beberapa berkas di mejanya, Pintu ruangan Langit di ketuk Tuan Damara masuk kedalam ruangan Langit, "Papa" Sapa Langit berdiri dari duduk nya dan menghampiri Tuan Damara.
Langit menyalami tangan Tuan Damara dan mempersilahkannya untuk duduk, "Ada apa Papa?" Tanya Langit saat mereka sudah duduk, Penasaran kenapa Ayah mertuanya datang jauh-jauh ke kantornya.
Tuan Damara menarik nafasnya, "Tidak ada apa-apa Langit, Papa hanya mampir sebentar" Balas Tuan Damara.
"Maaf karena Papa pekerjaan mu semakin banyak" Sesal Tuan Damara saat melihat berkas-berkas yang menumpuk di meja kerja Langit yang bukan hanya berkas perusahaan Langit saja melainkan perusahaan nya juga.
"Papa jangan berkata seperti itu, Langit tidak keberatan sama sekali Papa jadi Papa jangan pernah merasa bersalah dengan Langit" Jawab Langit tidak suka Ayah mertuanya berkata seperti itu.
Tuan Damara menganggukan kepalanya dan tersenyum, Ia merasa bangga dan beruntung memiliki menantu seperti Langit, "Terimakasih Langit"
"Papa bagaimana keadaan Mama, Apa sudah lebih baik?" Tanya Langit lagi.
"Sejauh ini keadaan Mama mu masih sama saja belum ada perubahan" Tuan Damara menghela nafas berat memberitakukan keadaan istrinya yang kian hari kian tidak baik..
Langit berdiri dan duduk di samping Tuan Damara, "Pa, Papa dan Mama jangan terlalu khawatir ya Langit janji Langit akan secepatnya menemukan Nara" Ucap Langit tulus.
Tuan Damara melihat Langit dan tersenyum, "Papa mempercayaimu Langit"
Mereka melanjutkan pembicaraan mereka banyak yang mereka bicarakan dari mulai pekerjaan dan lain-lain, Beberapa saat kemudian Tuan Damara pamit pulang karena sudah terlalu lama meninggalkan istrinya di rumah.
"Papa pulang dulu Langit" Pamit Tuan Damara.
__ADS_1
Langit menyalami tangan Tuan Damara, "Iya Pa, Papa hati-hati ya" Setelah itu Tuan Damara pergi.
Setelah kepergian Tuan Damara Langit kembali ke meja kerjanya, Sebelum memulai kerja Langit menyetel lagu kesukaan Nara dan mencium foto Nara terlebih dahulu sebagai penyemangat untuknya, Hal itu Langit lakukan saat ia mulai kembali ke perusahaan, Langit merasa Nara ada bersama nya dengan melakukan hal-hal yang di sukai Nara.
•
•
•
Di tempat lain pesawat yang di tumpangi Zayan dan Ziyan baru mendarat di Badara Internasional Lidosta Riga Latvia, Kota Riga adalah kota terakhir di Negara Latvia yang Zayan dan Ziyan tuju setelah sebelum nya mencari Nara di dua kota di Negara Latvia.
Zayan dan Ziyan sedang dalam perjalanan untuk menuju hotel tepat mereka menginap di kota Riga, Mereka berdua terlihat amat sangat kelelahan karenena sudah hampir dua bulan mereka mencari Nara di Negara Latvia tapi belum mendapatkan hasil.
Walau merasa lelah namun mereka berdua tidak pernah berfikir untuk menyerah mencari Nara, Karena menemukan Nara adalah tujuan hidup mereka untuk sekarang, Zayan dan Ziyan sudah sampai di hotel yang berada di tengah kota Riga, Rencana mereka akan tinggal di hotel itu selama satu bulan.
"Za kalau di kota ini Nona Nara juga tidak ada kita akan mencari ke Negara mana lagi?" Tanya Ziyan yang sudah merebahkan tubuhnya di ranjang hotel yang empuk.
"Ntah lah aku juga tidak tau, Sudah hampir ke semua Negara kita memcari Nona Nara tapi tetap tidak ketemu" Jawab Zayan sembari menghela nafas berat.
Zayan menatap Ziyan, "Itu tidak mungkin, Aku yakin sebentar lagi kita akan menemukan Nona Nara" Yakin Zayan.
Ziyan menganggukan kepalanya setelah itu kembali merebahkan tubuhnya yang lelah, Sedangkan Zayan ia berdiri di balik jendela melihat pemandangan indah di kota Riga dengan menikmati secangkir cofee di tangannya.
Di tempat lain tidak jauh dari hotel dimana Zayan dan Ziyan menginap, Nara sedang memperhatikan anak laki-laki yang membuatnya berhasil merasakan sosok Kai dalam diri anak itu, Anak laki-laki yang usia nya tidak jauh dari Kai itu berhasil mengembalikan senyum Nara yang sudah hilang beberapa tahun ini.
Julian Atala nama yang Nara berikan untuk anak laki-laki itu, Nara bertemu julian tiga tahun yang lalu saat itu Julian yang sedang bersama Ibu nya datang ke toko rotinya, Ibu Julian ingin membeli roti tapi uang mereka tidak cukup, Nara yang memang orang yang tidak tegaan akhirnya memberi roti secara gratis untuk Julian dan Ibu nya setiap hari, Nara juga mempekerjakan Ibu Julian di toko rotinya.
Karena itulah Ibu Julian dan Nara semakin dekat, Sampai pada suatu hari Ibu Julian meninggal dalam kecelakaan saat akan pergi ke makam suaminya, Sebelum meninggal Ibu Julian menitipkan Julian kepada Nara karena Julian sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi.
Nara tidak merasa keberaran Julian di titipkan kepadanya, Sejak saat itu Nara sudah menganggap Julian seperti anaknya sendiri apalagi Nara yang memang sangat merindukan Kai saat itu.
__ADS_1
"Julian ayo, sudah saat nya kau berangkat sekolah" Ajak Nara mengambil tangan Julian.
"Oke Mom" Jawab Julian mengikuti Nara.
"Mom apa hari ini aku di antar aunty Vallerie lagi" Tanya Julian tidak semangat terdengar dari nada bicaranya.
Nara tersenyum, "Memang nya kenapa kalau di antar aunty Valerie hmm?"
"Oh ayolah Mom aunty Vallerie tidak asik dia menyebalkan" Julian menunjukkan muka tidak suka nya.
"Apa kau bilang aunty menyebalkan" Sela Vallerie dari arah belakang.
Julian paling tidak suka jika Vallerie yang mengantarkannya sekolah karena Vallerie sering mampir kesana kemari sehingga membuatnya terlambat masuk sekolah, Dan hal itu bukan hanya terjadi satu atau dua kali tapi sering, Karena itulah Julian tidak mau jika Vallerie yang mengantarkan nya sekolah.
Nara tertawa terbahak sampai membuat perutnya sakit, Hal seperti itu selalu terjadi setiap hari dan itu selalu berhasil menghibur Nara, "Tidak sayang hari ini Mommy yang akan mengantarkan mu sekolah, Karena Aunty mu ini sedang ada tugas jadi tidak bisa mengantarkan mu sekolah" Seketika raut wajah Julian berseri, Bibir nya tertarik ke atas sampai gigi putihnya terlihat.
"Benarkah Mom?" Tanya Julian meyakinkan.
"Iya benar sayang" Jawab Nara, Julian langsung memeluk Nara dengan hati senang.
"Iss awas saja ya aunty tidak akan membelikanmu ice cream lagi" Ancam Vllerie.
"Ada Mommy yang akan membelikan ku" Julian menjukurkan lidahnya meledek Vallerie.
Ledek-ledekan itu terus berlanjut sampai akhirnya Nara menghentikan mereka, "Sudah-sudah, Julian ayo kita berangkat, Dan Kau Vallerie cepat mandi bukankah kau juga harus segera pergi" Perintah Nara yang membuat Vallerie dan Julian Diam.
"Iya kak sebentar lagi aku mandi"
"Ya sudah kaka berangkat dulu ya, Julian ayo salam kepada aunty" Julian menyalami tangan Vallerie dan Vallerie menciumi Julian sampai membuat Julian kesal.
"Aunty jorok" Kesal Julian menghapus bekas ciuman Vallerie.
__ADS_1
"Sudah-sudah ayo kita berangkat" Nara membawa Julian keluar apartemen dan mengantarnya ke sekolah.
Nara merasa senang karena bisa melakukan rutinitas yang sudah lama tidak ia lakukan setelah Kai pergi, Nara sepeti menemukan sosok dirinya yang sudah lama hilang semenjak kehadiran Julian di hidupnya.