
Setelah kejadian di kantor polisi satu bulan lalu akhirnya Langit menemukan satu-satu nya keluarga Julian yaitu bibi nya di sebuah desa terpencil berkat bantuan dari petinggi Negara, Langit langsung meluncur ke sebuah desa tersebut bersama pengacara dan dua orang polisi.
Beberapa jam menempuh perjalanan melewati hutan yang panjang akhirnya Langit sampai di rumah bibi Julian, Langit melihat rumah sederhana yang di tinggali bibi Julian, Mematikan mesin mobil mereka semua turun dari mobil.
"Permisi" Suara Langit di sertai ketukan pintu.
Tok...Tok...Tok....Langit mengetuk pintu lagi karena belum ada jawaban dari panggilannya, "Permisi" Ucap Langit lagi meninggikan sedikit suaranya.
"Ada perlu apa Tuan mengetuk pintu rumah saya?" Beo seseorang di belakang mereka secara tiba-tiba dan berhasil membuat mereka berempat kaget.
"Oh astaga" Ucap mereka bersmaan dan secara felek memegangi dada mereka.
Langit mengatur nafas untuk mengurangi rasa berdebar nya, Setelah itu dia mendekati wanita yang seperti nya adalah pemilik rumah, "Apa benar kau Nyonya Maureen adik dari Nyonya Iris dan bibi dari Samuel!" Tanya Langit menatap wanita yang terlihat lusuh itu, Samuel adalah nama asli Julian sebelum Nara memberikan nama yang baru untuk Julian.
"Bagaimana kau mengenal mereka berdua?" Maureen ganti bertanya dengan tatapan tak tajam kepada Lamgit yang baru ia temui.
"Jawab dulu pertanyaan saya apa benar kau adalah Nyonya Iris dan bibi Samuel?" Langit mengulang pertanyaannya sembari menatap Maureen tak kalah tajam, Langit tidak suka dengan cara Maureen menatap nya.
Maureen yang mendapat tatapan tajam dari Langit seketika nyalinya menciut dan menjawab pertanyaan Langit tadi, "Ya aku adik Iris dan bibi Samauel" Maureen menjeda ucapan nya dan kembali menatap Langit namun tatapan tidak setajam tadi, "Jadi dari mana anda mengenal kaka dam keponakan saya Tuan?" Lanjut Mauren.
Langit bernafas lega karena wanita di depan nya benar keluarga Julian, "Ada hal yang ingin saya bicarakan tentang Samuel, Anda ingin saya berbicara disini atau anda bisa ikut saya ke dalam mobil" Tawar Langit karena mengingat cuca yang sedang sangat terik.
"Tidak usah, Silahkan berbicara di dalam rumah saya saja" Mauren membuka pintu rumah nya dan mempersilahkan tamu-tamunya masuk.
__ADS_1
Saat baru memasuki rumah Maureen mereka terkejut dengan isi rumah Maureen yang tampak bersih dan semua barang tertata rapih tidak seperti tampilan luar nya yang terlihat kecil dan sederhana.
"Silahkan duduk Tuan-Tuan" Maureen mempersilahkan Langit dan yang lainnya duduk setelah itu ia pergi kedapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya.
Beberapa saat kemudian Maureen kembali dengan membawa beberapa gelas dan minuman di dalam wadah besar, Mauren menuangkan minuman di gelas-gelas, "Silahkan di minum Tuan" Maureen mempersilahkan tamunya untuk minum.
Namun tidak ada yang menyentuh minuman yang sudah ia siapakan, Maureen tau apa yang di pikirkan tamunya maka dari itu Maureen mengambil satu gelas dan meminumnya di depan tamunya, "Tenang saja Tuan minuman ini tidak beracun" Ucap Maureen setelah menenggak habis minumnya.
Melihat hal itu Langit dan yang lainnya langsung mengambil gelas mereka dan meminum nya, Hal yang wajar jika mereka takut dengan minuman yang disediakan maureen mengingat pertemuan mereka tadi yang sedikit tidak baik.
"Jadi ada urusan ala Tuan-Tuan datang ke rumah saya?" Tanya Maureen setelah tamunya selesai minum.
"Begini Nyonya Maureen, Tuan ini adalah Tuan Langit" Tunjuk pengacara kepada Langit, "Dia adalah suami dari Nyonya Nara yang saat ini mengasuh keponakan anda Samuel" Jelas pengacara secara perlahan.
"Kenapa keponakan ku ada bersama istri Tuan ini, Memang dimana kaka ku?" Tanya Maureen penasaran.
Maureen syok dia menutup mulutnya menggunakan tangan nya saat mengetahui kaka nya sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Maureen juga tidak bisa menahan air matanya ia menangis baru mengetahui kaka nya sudah pergi selamanya.
"Dulu kaka mu bekerja di Toko Roti milik istriku dan setelah kaka mu meninggal istriku merawat keponakan mu atas permitaan kaka mu sebelum meninggal, Dan sekarang Samuel berada di Negara saya di Indonesia karena istri saya yang sudah kembali ke Negara kami" Lanjut Langit menjelaskan lebih detail.
Maureen menghapus air matanya dan menatap Langit kembali, "Jadi sekarang Samuel berada di Indonesia?"
"Ya Samuel berada di Indonesia bersama istriku"
__ADS_1
"Lalu apa niat Tuan mendatangi saya?"
"Begini Nyonya Maureen, Tuan Langit dan Istrinya ingin mengangkat Samuel secara resmi menjadi anak mereka, Istri Tuan Langit sangat menyayangi Samuel seperti anak nya sendiri dan begitupun sebaliknya" Pengacara menyodorkam foto-foto Julian yang tersenyum bahagia saat bersama dengan Nara kepada Maureen.
"Sebelum kembali ke Indonesia Nona Nara merawat Samuel dengan sangat baik bahkan saat kaka anda masih hidup, Nyonya Nara bahkan sempat menyekolahkan Samuel di sekolah terbaik di Kota Riga, Hubungan mereka berdua persis seperti seorang ibu dan anak kandungnya, Karena itulah Tuan Langit datang kesini untuk meminta persetujuan dari keluarga Samuel untuk proses pengangkatan Samuel menjadi anak dari Tuan Langit dan Nona Nara" Lanjut pengacara menjelaskan maksud dan tujuan mereka data.ng menemui Maureen.
Maureen diam sesaat ia tidak langsung memberi jawaban kepada mereka karena ia sendiri masih syok dengan kabar kaka yang sudah meninggal tiga tahun yang lalu, Maureen dan Iris adalah anak yatim piatau mereka berpisah sejak Iris menikah, Awal nya Maureen tinggal dengan Iris dan suaminya sampai Samuel lahir keduania, Namun saat Samuel lahir kehidupan ekonomi kaka nya semakin memburuk karena suami kaka yang kecanduan bermain judi dan hampir melecehkan nya.
Maureen pamit pergi dari rumah Iris dengan alasan ingin mandiri, Maureen sengaja tidak menceritakan perbuatan suami kaka nya karena takut suami kaka nya akan melukai kaka nya seperti ancaman suami kaka nya beberapa waktu lalu dan semenjak itu Maureen tidak tau kabar keluarga kaka nya lagi.
"Jadi bagaimana Nyonya Maureen apa anda mengizinkan Samuel di asuh oleh Tuan Langit dan istrinya?" Suara pengacara membuyarkan lamunan Maureen.
Mauren sedikit terkejut mendengar suara pengacara itu, Mauren manarik nafasnya sejenak, "Apa Tuan dan istri Tuan bisa berjanji jika kalian akan menyayangi Samuel dengan sepenuh hati" Tanya Maureen pelan.
"Ya saya dan istri saya berjanji akan menyangi Samuel dengan sepenuh hati kami" Janji Langit tulus dari hatinya.
"Kalau begitu saya setuju memberikan kuasa kepada Tuan Langit dan istrinya untuk mengasuh Samuel" Ucap Maureen memberikan kuasa kepada Langit untuk mengasuh Julian, Karena ia sendiri pun tidak akan mampu merawat Julian apalagi dengan keadaan ekonomi nya yang seperti ini dan juga Maureen tidak memiliki suami.
"Baik jika begitu silahkah Nyonya tandangani dokumen-dokumen ini" Pengacara memberikan dokumen yang harus Maureen tandatangani.
"Dan satu lagi Nyonya, Anda akan mendapatkan uang sebagai ucapan terimakasih dari Tuan Langit dan Istrinya" Ucap Pengacara membuat Maureen berhenti menandatangi dokumen.
Maureen menatap Langit, "Saya tidak menginginkan bayaran karana saya tidak menjual keponakan saya" Seru Maureen setelah itu ia kembali meneruskan menandatangi dokumen dengan di saksikan dua anggota polisi, Langit dan juga pengacara.
__ADS_1
Acara tandatangan selesai, Sesuai yang di katakan Maureen tadi ia tidak menginginkan bayaran sama sekali, Namun sebagai gantinya Langit memaksa Maureen menerima pemberian sebuah kendaran, Bukan sebagai bayaran karena telah mengizinkan Langit mengasuh Julian melainkan sebagai tanda kemanusiaan agar Maureen bisa pergi kemanapun tanpa lelah, Setelah di paksa akhirnya Maureen menerima pemberian Langit.
Setelah semua selesai Langit meninggalkan rumah Maureen dan kembali ke kota, Ia merasa lega dan bahagia karena urusannya di Negara ini sudah selesai dan ia bisa pulang ke Indonesia dan bertemu Nara dan Julian, Membayangkan Nara mengetahui jika Julian sudah resmi menjadi anak mereka sudah membuat Langit tersnyum bahagia.