Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 14


__ADS_3

Sampai di rumah Langit langsung berlari menuju kamar, Langit membuka pintu kamar dengan kasar, Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga menggeser tubuh mereka memberikan ruang untuk Langit, Nara seketika mengulurkan tangannya agar Langit memeluknya.


Langit memeluk Nara tangannya mengusap punggung nara pelan-pelan untuk menenangkan nya, Bukanya tenang Nara malah semakin menangis, Nara merasa amat sangat takut jika mimpinya akan jadi kenyataan.


"Sssttss tenang ya sayang, Jangan nangis terus kasian Baby nanti ikut sedih" Ucap Langit masih memeluk Nara.


Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga sudah keluar dari kamar Nara, Mereka memberikan ruang untu anak dan menantunya, Nyonya Lingga dan Nyonya Anggie menunggu dengan cemas di ruang keluarga, Mereka menghubungi suami masing-masing dan menceritakan apa yang terjadi, Tuan Kana dan Tuan Damara langsung meninggalkan pekerjaan mereka dan langsung ke rumah anak mereka.


Di kamar Nara sudah sedikit tenang, Suara isakan sesekali masih terdengar, Langit berusaha sebaik mungkin untuk tidak terlihat khawatir agar bisa menghadapi situasi ini.


"Sayang ada apa? Ada Mas disini kamu bisa berbagi sama Mas" Dengan sabar Langit menanti Nara membuka suaranya, Langit bisa saja mendesak Nara untuk menceritakan apa yang terjadi kepadanya, Namun Langit masih waras untuk tidak melakukan hal itu.


"Kalau kamu belum mau cerita ga apa-apa sayang, Tapi yang harus kamu tau kamu ga sendiri kamu punya Mas yang selalu ada untuk kamu" Langit kembali membawa Nara dalam pelukannya, Langit tidak akan memaksa jika Nara belum mau menceritakan apa yang terjadi dengan nya.


"A-aku mimpi" Ucap Nara pelan, Tangan nya kembali memegangi perutnya, Langit tak mengeluarkan sepatah kata pun ia menunggu kata selanjutnya dari Nara.


"A-aku mimpi ada anak laki-laki datang kepadaku dengan berlumur darah dan memanggilku Bunda Mas, Aku bertanya siapa dia tapi dia diam saja Mas tidak menjawab ku, Dia terus memanggilku Bunda dengan tangisnya, Aku ingin menggapainya tapi tidak bisa, Kemudian datang seorang wanita yang tiba-tiba menyeret anak itu dengan kuat, Anak itu meminta tolong tapi aku tidak bisa menggapainya Mas, Aku takut anak kita....." Mendengar cerita Nara Langit langsung menutup mulut Nara dengan tangannya membuat Nara tidak bisa menyelesaikan ucapan nya.


"Tidak sayang tidak, Jangan berfikiran seperti itu, Itu hanya mimpi anak kita akan baik-baik saja, Kamu tidak perlu takut" Sekarang Langit tau betapa takutnya Nara saat ini sampai membuatnya menangis, Jika posisi itu ada pada Langit, Langit pun akan sama takutnya dengan Nara.


"Tapi Mas mimpi itu seperti nyata"


"Tidak sayang, Itu hanya mimpi, Mas yakin anak kita akan baik-baik saja " Ucap Langit meyakinkan Nara.


"Anak kita akan baik-baik saja kan Mas?" Tanya Nara menyentuh perutnya.


"Pasti sayang, Anak kita akan baik-baik saja" Jawab Langit yang juga menyentuh perut Nara.


Baby boy dalam perut Nara menendang-nendang seolah memberi tau Ibu nya bahwa ia baik-baik saja, Nara tersenyum merasakan tendangan pada perutnya namun air matanya juga mengalir.

__ADS_1


"Bunda sayang sama kamu nak" Beo Nara pada calon anak nya.


"Ayah juga sayang sama kamu, Jadi Ayah mohon tetaplah sehat dalam perut Bunda ya nak sampai kita bisa bertemu nanti" Ucap Langit yang berbicara tepat di depan perut Nara dan mendapat respon dari calon anak mereka.


Nara terseyum ia bahagia anak nya baik-baik saja, Namun tidak Nara pungkiri ia masih merasa khawatir dengan mimpi tadi, Nara benar-benar merasa itu seperti nyata, Dalam hati Nara berdoa kepada Tuhan agar mimpinya tidak menjadi kenyataan.


Di luar Tuan Kana dan Tuan Damara sudah sampai, Mereka menemui istri mereka di ruang keluarga menanyakan apa yang sebenarnya terjadi kepada istri mereka, Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga mengatakan mereka juga belum tau pasti apa yang terjadi, Mereka semua memutuskan menunggu Langit keluar dan menjelaskan apa yang terjadi kepada mereka.


Di kamar Nara terus memeluk Langit, Ia tidak mau di tinggal sendirian bahkan untuk menutul matanya pun Nara merasa takut, Ia takut mimpi itu akan kembali Lagi, Langit tak merasa keberatan sama sekali, Dengan sayang Langit menemani Nara.







Awalnya Rumi menolak undangan Bara namun setelah Bara terus memaksa dan mengatakan jika Bara akan menunjukan keseriusannya baru lah Rumi mau, Bara memasak makanan kesukaan Rumi dengan tangannya sendiri, Walau bara terlihat seperti urakan dan tidak bertanggung jawab tapi sebenarnya Bara adalah orang yang paling bertanggung jawab, Bara juga memiliki keahlian memasak sejak ia sekolah namun jarang ia tunjukan.


"Silahkan....Gue yakin rasanya persis seperti yang Lu bayangin" Bara meletakan makanan kesuakaan Rumi di atas meja kemudian ia duduk di meja yang sama dengan Rumi.


"Yakin banget Lu rasanya bakal sama seperti yang Gue bayangin" Rumi menatap tak percaya dengan masakan yang ada di demejanya.


"Pastinya, Lu coba aja kalau ga percaya"


Rumi menyendok makanan yang di masak Bara dan memasukan nya dalam mulut, Rumi mengunyahnya perlahan menikmati rasa masakan yang benar-benar persis seperti yang ia bayangkan, Rumi benar-benar tidak menyangka jika masakan Bara benar-benar enak.

__ADS_1


"Gimana, Enak kan masakan gue?" Tanya Bara menaik turun kan alisnya.


"Biasa aja sih" Bohong Rumi, Ia merasa gengsi untuk mengakui jika masakan Bara memang benar-benar enak.


"Kalau emang enak bilang aja kali Rum,"


"Apaan sih, Emang rasanya biasa aja kok" Kekeh Rumi pada kebohongan nya.


"Kenapa sih Rum Lu ga pernah mau jujur, Padahal mah kalau emang enak ya tinggal bilang enak, Kalau emng suka ya bilang suka, Kenapa harus bohongin diri sendiri Rum?" Ucap Bara serius, Bara merasa Rumi terlalu menjunjung tinggi egonya.


"Sesusah itu ya Rum jujur sama diri sendiri" Lanjut Bara menatap Rumi intens, Rumi yang di tatap seperti itu salah merasa tak nyaman.


"Apa sih Lu Bar ga jelas, Gue pulang aja lah" Rumi berdiri berbalik arah ingin pergi namun Bara menahan tangan nya.


"Lu mau kemana Rum, Gue belum selesai ngomong" Ucao Bara menahan tangan Rumi.


"Mau Lu apa sih Bar, Kayak nya gue selalu salah ya di mata Lu" Rumi menjeda ucapan nya sebentar, "Kenapa Lu ga ngerti juga sih Bar Gue juga suka sama Lu tapi Lu ga pernah terlihat serius buat Gue jadi ga yakin sama Lu" Lanjut Rumi, Air matanya keluar bersamaan dengan ia menyelelesaikan ucapannya.


Bara benar-benar kaget mendengar ucapan Rumi, Bara tidak menyangka jika Rumi juga menyukainya, Bara kira selama ini hanya dia yang mencintai Rumi ternyata ia salah, Rumi juga mencintai nya ia tak mencintai sepihak saja.


Bara menarik tangan Rumi mendekat kepadanya dan membawa tubuh Rumi dalam pelukannya, "Gue emang orang nya kaya gini Rum, Gue ga bisa romantis kaya yang lainnya, Gue juga ga bisa pura-pura nyembunyiin perasaan gue kaya Lu nyembunyiin perasaan Lu, Tapi yang harus Lu tau cinta gue ke Lu ga pernah main-main Rum" Jujur Bara memeluk Rumi.


Kali ini Rumi benar-benar percaya dengan ucapan Bara, Terbukti dari detak jantung Bara yang berdetak cepat tak karuan, Rumi mengeratkan pelukannya pada tubuh Bara menyembunyikan wajahnya disana sembari mendengar detak jantung Bara yang terdengar indah di telinganya.


Bara merenggangkan tangannya, Bara membawa wajah Rumi untuk menatatapnya, " Do you want to be mine?" Tanya Bara sunggyh-sungguh.


" Yes I want to" Jawab Rumi, Bara benar-benar merasa senang dengan jawaban Rumi, Bara mengangkat tubuh Rumi membawa nya berputar-putar, Para karyawan yang ada di situ bertepuk tangan turut merasa bahagia melihat cinta bosnya tidak berteluk sebelah tangan lagi.


Mohon dukungannya ya teman-teman😇

__ADS_1


__ADS_2