
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih satu jam dari Bandara menuju Rumah, Akhirnya mereka semua sudah sampai di Rumah Tuan Damara, Nara merasa bahagia bisa kembali ke Rumah nya yang penuh dengan kenangan ini.
"Ayo sayang kita turun" Ajak Nyonya Anggie kemudian ia turun duluan di ikuti Tuan Damara dan Vallerie.
Vallerie tercengang melihat betapa mewah nya Rumah Nara sampai membuat mulut nya ternganga lebar, Vallerie menelusuri bagaian delan Rumah Nara yang begitu luas dengan matanya, Seumur-umur baru kali ini Vallerie melihat Rumah semewah ini.
Di dalam mobil Nara masih berusaha membangunkan Julian yang masih tidur dalam pangkuannya, Beberapa kala Nara mencoba membangunkan nya namun Julian tak kunjung bangun juga, Mungkin karena Julian merasa lelah makanya dia tidur sangat nyenyak.
Tuan Damara mendekat ke mobil, "Jangan di bangunin Ra kasian mungkin Julian capek, Biar Papa saja yang gendong Julian"
Nara menggangguk menyetujui usul Tuan Damara, Ia juga sudah menyerah membangunkan Julian yang tidak bagun-bangun sedari tadi, Tidak seperti biasanya Julian susah di bangunkan mungkin karena Julian benar-benar lelah fikirnya.
Mereka semua masuk kedalam Rumah, Senyum bahagia tercetak di wajah keluarga itu kecuali Vallerie yang masih terkagum-kagum dengan kemewahan Rumah Nara, "Selamat datang kembali di Rumah sayang" Nyonya Anggie memeluk Nara bahagia akhirnya setelah lima tahun anak nya kembali lagi ke Rumah.
"Terimakasih Mama, Nara rindu sekali dengan Rumah kita" Balas Nara setelah Nyonya Anggie melepas pelukannya.
"Papa bawa Julian ke kamar dulu ya" Setelah mengatakan itu Tuan Julian pergi ke lantai atas dimana kamar Nara berada dan menidurkan Julian disana.
Di lantai bawah mereka bertiga sudah duduk di sofa, Nara masih belum sadar jika Vallerie begitu terkagum-kagum dengan Rumah nya, Merasa bingung karena sedari tadi tidak mendengar suara Vallerie dari pertama kali mereka tiba di Rumah Nara langsung menatap Vallerie yang duduk di sofa single di sampingnya.
Begitu melihat Vallerie tawa Nara tidak bisa Nara tahan, "Vallerie ada apa dengan mu?" Tanya Nara dengan tawa di wajah nya.
"Kaka Rumah mu besar sekali seperti istana" Jawab vallerie matanya masih melihat sekeliling Rumah Nara.
"Apa katamu, Istana, Kamu ini ada-ada saja" Nara tidak tidak tahan dengan kelakuan Vallerie yang menganggap Rumah nya seperti istana.
Nara berfikir baru melihat Rumah keluarganya saja Vallerie sudah mengiranya sebagai istana, Lalu bagaiman jika Vallerie melihat Rumah nya dan Langit mungkin Vallerie akan menganggap seperti sebuah kastil, Memikirkan tentang Langit seketika Nara merasa rindu dengan Langit apalagi semenjak hari terakhir mereka bertemu di kota Riga Langit tidak pernah lagi muncul di hadapannya
Nara mengkesampingkan fikiran tentang Langit, Ia tidak ingin larut dalam perasaan rindu yang tak jelas ini, Nara kembali menatap Vallerie yang masih melihat-lihat Rumah nya dengan matanya, Nyonya Anggie beridiri dari duduk nya dan mendekati Vallerie.
__ADS_1
"Kau mau melihat-lihat Rumah Mama Vallerie?" Tanya Nyonya Anggie yang sudah berdiri di depan Vallerie.
Vallerie mengangguk semangat menjawab pertanyan dari Nyonya Anggie, "Ayo Mama ajak berkeliling" Nyonya Anggie mengenggam tangan Vallerie mengajak nya home Tour di Rumah nya.
Namun sebelum pergi Nyonya Anggie meminta Nara untuk segera beristihat menemani Julian setelah itu Nyonya Anggie dan Vallerie mulai melakukan home Tour, Setelah Nyonya Anggie dan Vallerie pergi Nara naik ke lantai dua menuju kamar nya, Senyum Nara tak pernah hilang saat kaki nya melangkah selangkah demi selangkah menaiki anakan tangga.
Nara benar-benar merindukan Rumah nya, Sampai di depan pintu kamar Nara membuka pintu secara perlahan, Di lihatnya Tuan Damara yang baru saja meletakan Julian di atas ranjang.
"Julian tadi bangun Pa?" Tanya Nara sedikit berbisik.
Tuan Damara mendekat ke arah Nara, "Iya tadi bangun sebentar terus Papa gendong lagi"
"Kenapa ga di bangunun saja Pa, Kan kasian Papa harus gendong terus" Mereka berbicara dengan berbisisk agar tidak mengganggu tidur Julian.
"Ga apa-apa sayang, Kasian kalau Julian di bangunin, Lagian Papa ga keberatan ko kalau harus gendong Julian terus" Jawab Tuan Julian.
"Dimana Mama dan Vallerie Ra, Kenapa ga ikut kesini?"
"Ha Home Tour" Bingung Tuan Damara..
"Iya Pa, Vallerie terkagum-kagum milihat Rumah kita Maka dari itu Mama ajak Vallerie untuk Home Tour" Jelas Nara.
Tuan Damara mengangguk mengerti "Ya susah kalau begitu Papa keluar dulu ya, Papa mau nyusul Mama dan Vallerie, Kamu istirahat ya"
"Iya Pa" Jawab Nara setelah itu Tuan Damara keluar Kamar, Namun sebelum keluar Tuan Damara mencium kening Nara sayang.
Setelah Tuan Damara keluar Nara menatap sekeliling kamar nya, Tidak ada yang berubah sama sekali dengan kamarnya, Semua masih tertata rapih seperti dulu, Pandangan mata Nara berhenti pada sebuah foto yang tergantung cukup besar di atas tempat tidurnya.
Nara masih ingat betul kapan foto itu di ambil, Foto dimana mereka bertiga tersenyum bahagia karena merayakan prestasi Kai, Foto itu adalah foto Langit, Nara dan Kai, Foto itu di ambil setelah Langit dan Nara mengetahui jika Kai menjadi juara umum di sekolahannya.
__ADS_1
Melihat foto itu tanpa sadar air mata Nara lolos dengan sendirinya, Nara menatap dengan intens foto yang tergantung itu, "Apa kabar anak Bunda, Bunda sudah kembali nak, Besok Bunda akan datang ke rumah baru Kai, Tunggu Bunda ya nak"
•
•
•
•
Di tempat lain Langit sudah sampai di apartemen nya, Langit sengaja memilih pulang ke apartemen nya di banding ke rumah nya, Karena selama Nara pergi Langit memang jarang pulang ke rumah mereka, Bagi Langit rumah itu penuh dengan kenangan menyakitkan maka dari itu Langit tidak mau kembali menetap di rumah nya jika tidak dengan Nara.
Bara dan Evan juga ada di apartemn Langit, Mereka berdua merasa pembicaraan mereka di mobil tadi belum selesai karena itu mereka ikut masuk ke unit Langit Mereka berudua ingin membuat Langit sadar jika apa yang Langit lakukan selama ini adalah salah.
"Lang ambilin Gue minum" Suara Bara yang sudah duduk selonjor di sofa memerintah Langit.
Langit menatap Bara horor namun tak ayal dia berjalan ke dapur untuk mengambilkan minuman kaleng untuk kedua sahabat nya dan juga untuk dirinya, Langit melemparkan satu kaleng ke arah Bara, Beruntung Bara berhasil menangkap nya dengan cepat sebelum kaleng itu mengenai kepalanya
"Sialan" Rutuk Bara membenarkan posisi duduk nya.
Langit tidak menanggapi makian Bara, Langit menyerahkan satu minuman kaleng yang ada di tangan nya kepada Evan, Mereka meneguk minuman kaleng itu bersamaan.
"Lang Lu...." Belum selesai Evan berbicara Langit sudah memotong ucapan nya.
"Van bisa ga besok aja kita bahas masalah ini, Gue capek Van" Potong Langit beralasan.
"Tidak, Tidak bisa kita harus bicarain ini sekarang biar Lu cepet sadar" Tolak Evan.
"Kenapa sih Lu takut banget dengan pembahasan ini, Kenapa Lamg?, Lu takut terima kenyataan kalau sebenarnya tuduhan Lu itu sebenar nya Lu tujukan pada diri Lu sendiri" Tebak Bara tepat sasaran.
__ADS_1
Langit menatap kedua sahabat nya bergantian Menyenderkan tubuhnya Langit menarik nafas dalam-dalam, Sekarang ia pasrah untuk mendapat makian dari kedua sahabat nya.