
Jenazah Kai sudah di bawa pulang kerumah, Para pelayat dan karangan bunga bela sungkawa memenuhi rumah Langit dan Nara, Langit duduk bersimpuh di samping jasad Kai, Air matanya tak berhenti mengalir, Hati nya terasa amat sangat sakit melihat wajah damai anaknnya dalam tidur panjangnya.
Bukan hanya Langit yang duduk bersimpuh di samping jasad Kai melainkan ada kakek dan nenek Kai juga, Mereka sama kehilangan nya dengan Langit, Anak dan Cucu satu-satunya dari ketiga keluarga itu telah pergi untuk selama-lamanya.
Sedangkan Nara, Ia tidak di izinkan oleh Langit untuk berada di dekat Kai, Langit melarang keras Nara untuk tidak dekat dengan Kai karena Nara adalah penyebab kematian Kai, Nara hanya bisa menatap tubuh kaku anak nya dari jauh.
Ia tidak menangis sama sekali saat Langit tidak mengizinkan nya untuk melihat wajah anak untuk yang terakhir kalinya, Nara hanya diam seperti patung namun tatapan penuh kesedihan.
"Kenapa kau begitu cepat meninggalkan Ayah nak, Ayah baru sebentar merawatmu, Kenapa kau memilih pergi?" Bisik Langit di kuping Kai.
"Maafin Ayah karena belum bisa membuat Kai bahagia, Tenang di sana ya anak Ayah" Lanjut Langit mencium kening Kai.
"Bahagia disana ya cucu Nenek" Nyonya Lingga juga mencium pipi Kai.
"Cucu kakek tenang disana ya, Kakek menyayangi Kai"
"Bahagia disana cucu Oma, Oma akan selalu mendoakan Kai"
"Surga tempat mu nak"
Merka bergantian berbisik di kuping Kai sebelum Kai di mandikan dan di sholat kan terkecuali Nara, Tidak ada belas kasih mereka untuk mengizinkan Nara membisikan atau mencium anak nya untuk terakhir kalinya, Mereka terlalu benci dan marah kepada Nara sehingga membutakan hati mereka bahwa Nara lah orang yang paling kehilangan Kai.
__ADS_1
Rumi dan Alana hanya bisa menatap Nara dari kejauhan sambil menangis, Mereka juga di larang Langit untuk berbicara atau menemui Nara, Langit mengancam akan mengusir mereka jika mereka berani menemui Nara.
Zayan dan Ziyan juga kembali dari Maroko setelah mendengar kabar dari Rendy, Mereka bertiga merasa bersalah dan menyesal, Jika saja dulu mereka bertiga terus mencari Sevanya sampai ketemu walau tinggal jasad nya semua ini pasti tidak akan terjadi.
Kai sudah di mandikan dan di sholatkan, Jasad Kai akan di makamkan di pemakaman yang tidak terlalu jauh dari rumah mereka, Semua pergi menggunakan mobil dan meninggalkan Nara sendirian.
Nara menyusul dengan berjalan kaki, Sampai di pemakaman Langit tak bisa menahan tangis nya saat menerima tubuh anak nya untuk di masukan kedalam liang lahat.
"Ayah hanya berniat mengazanimu satu kali seumur hidup Ayah, Tapi mengapa kau paksa Ayah untuk mengazanimu dua kali Nak" Tangis pilu Langit saat harus mengazani anak nya untuk yang kedua kalinya.
Semua yang ada di pemakaman menangis saat mendengar latunan azan dari bibir Langit yang bergetar, Selesai mengazani Kai, Langit naik ke atas di bantu dengan Bara dan Evan, Nara sampai di pemakaman tepat setelah jasad Kai tertutup tahan dan Langit benar-benar tidak mengizinkan Nara untuk melihat Kai terakhir kalinya
Mereka berdoa di pusara Kai dan menabur bunga, Langit memeluk batu nisan yang bertulis nama anak nya, Nara menyaksikan dari kejauhan orang-orang yang menangisi anak nya, Ia tidak berani mendekat karena larangan Langit.
"Ayo nak kita pulang, Hujan sudah turun" Ajak Tuan Kana dengan suara lirih.
Langit mencium batu nisan Kai untuk yang terakhir setelah itu ia pergi meninggalkan pemakaman, Saat sudah berada di pintu keluar Langit membalikan badannya matanya mencari sekeliling ia tidak menemukan Nara ada dimanapun, Dan hal itu membuat Langit semakin yakin jika Nara tidak menyayangi Kai dan Langit membenci Nara.
Setelah semua pergi Nara keluar dari persembunyian nya, Tadi saat melihat Langit akan pergi meninggalkan pemakaman Nara sengaja bersembunyi di balik pohon besar yang ada di sekitaran pemakaman, Nara tidak ingin Langit tau jika ia ada disitu.
Nara mendekati pusara anaknya langkahnya di iringi hujan yang semakin deras, Nara bersimpuh di samping pusara Kai tangannya dengan gemetar memegang batu nisan bertulis nama anak nya Kai Atalaric Samudra.
__ADS_1
Tidak ada setetes pun air mata yang keluar dari matanya, Hatinya terlalu sakit sampai ia tidak bisa mengeluarkan air matanya, Hujan turun semakin deras membasahi pusara Kai, Langit benar-benar berduka akan kehilangan Kai.
Di rumah Langit berada di dalam kamar Kai, Langit mengambil bantal kai dan memeluknya, Menghirup wangi Kai yang tertinggal di bantal itu, Semakin mencium wangi Kai semakin sakit hati Langit.
"Kenapa cepat sekali meninggalkan Ayah Nak, Ayah belum sanggup Nak" Racau Langit memeluk bantal Kai.
"Dunia Ayah hancur saat kau pergi Nak!" Lirih Langit.
Langit menangis meraung di dalam kamar Kai, Tangis nya terdengar menyakitkan sampai di ruang keluarga, Di ruang keluarga masih berkumpul keluarganya dan juga para sahabat nya, Mereka semua tidak bisa saling menguatkan karena mereka sama kehilangannya.
Malam sudah hampir larut Nara belum juga kembali, Namun tak ada satupun yang perduli dengan keadaannya, Bahkan mereka tidak mencari tau dimana keberadaan Nara, Mereka hanya sibuk memikirkan perasaan mereka masing-masing.
Nara masih berada di pemakaman, Tidak ada rasa takut sama sekali dalam diri Nara berada di pemakaman saat langit sudah gelap, Nara masih bersimpuh di samping pusara Kai, Nara enggan meninggalkan Kai sendirian karena Kai takut sendiri.
Badan Nara menggigil hebat karena dingin namun Nara tetap enggan berdiri dan bertahan di posisinya, Penjaga makam datang menghampiri Nara dengan membawa senter.
"Permisi Nyonya, Sudah malam apakah Nyonya tidak ingin pulang?" Tanya penjaga makam itu.
Nara diam tidak menjawab pertanyaan penjaga makam itu, Bibir nya terasa kelu untuk berbicara, "Saya tau bagaimana rasanya kehilangan orang yang kita sayang karena saya juga pernah merasakan nya, Tapi Nyonya pernahkah Nyonya berfikir jika ini sudah takdir Tuhan, Kita sebagai manusia tidak bisa berbuat apa-apa selain menerimanya"
"Yang datang akan pergi, Yang hidup akan mati, Semua sudah di atur oleh Tuhan, Yang harus kita lakukan adalah menerima semua ini dengan hati ikhlas karena semua yang kita miliki di dunia ini hanya titipan dan akan kembali kepada penciptanya, Bertahanlah Nyonya saya yakin itu juga yang di inginkan anak Nyonya." Nasehat penjaga pemakaman membuat hati Nara tergerak.
__ADS_1
Apa yang di katakan penjaga pemakaman itu benar yang datang akan pergi, Yang hidup akan mati, Semua yang hidup akan kembali ke penciptanya, Tapi bagaimana dengan rasa sakit yang di rasakan seorang ibu yang kehilangan anak nya tepat di depan matanya.
Jika boleh memilih mungkin Nara akan memilih ikut bersama Kai dari pada hidup tapi penuh dengan rasa bersalah dan di benci semua orang termasuk suami dan kedua orangtuanya yang seharusnya menjadi sandaran untuk nya.