Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 42


__ADS_3

Pagi telah datang Langit membuka mata perlahan, Langit marasakan pusing di kepalanya tangannya terangkat untuk memijat kepalanya dan merasakan sebuah plaster ada di dahinya.


Langit sedikit bingung kenapa ada plaster di kepalanya seingatnya kemarin ia tidak terluka sama sekali, , Mengingat-ingat apa yang terjadi semalam Langit ingat jika ia sempat jatuh saat di club hingga membuat dahinya terluka.


Langit belum mengingat apa yang terjadi semalam, Lamlngit menggerakan ke kanan dan ke kiri menghilangkan rasa sakitnya namun tak kunjung menghilang.


"Ah apa yang terjadi semalam, Aku tidak mengingat apapun" Beo Langit sembari memijit kepalanya dan memejamkan matanya.


Dan seketika saja mata Lamgit membulat sempurna saat bayangan ia menampar Nara terlintas di kepalanya, Mata Langit menatap sekeliling kamar Kai dia beruasa mengingat semua yang terjadi tadi malam.


"Kau pembunuh"


"Kau tidak menyayangi kai"


"Kenapa bukan kau saja yang pergi"


Semua ingatan itu teringat jelas di kepalanya, Langit menarik rambutnya kuat menyesali kebodohannya tadi malam.


"Kau bodoh Langit" Langit memukul kepalanya cukup keras.


Setelah itu Langit turun dari ranjang dan berlari keluar menuju kamar Nara, Langit sampai di depan kamar Nara beberapa kali Langit mengetuk pintu kamar Nara namun tak ada jawaban.


Langit memutar handle pintu pelan ternyata pintu itu tidak terkunci, Langit masuk kedalam kamar yang ia lihat dan rasakan pertama adalah gelap dan sunyi seperti tidak ada penghuninya.


Perasaan Langit seketika menjadi tidak enak, Langit menghidupkan lampu kamar Nara dan benar saja kamar itu kosong tidak ada Nara di dalam nya.


"Ra" Panggil Langit.


"Nara sayang" Panggil Langit lagi.


"Sayang kamu dimana" Langit berjalan ke walk in closet berharap Nara ada di dalam.

__ADS_1


Langit membuka pintu kamar mandi tapi Nara juga tidak ada di dalam nya, Langit panik takut Nara pergi meninggalkan nya namun Langit mencoba berfikir positif jiak Nara tidak pergi meninggalkannya dan hanya pergi seperti hari-hari biasanya.


Namun fikiran positif Langit terpatahkan saat melihat koper Nara sudah tidak ada dan Langit menemukan sebuah surat di atas ranjang.


Langit mengambil surat itu membuka isinya dan membacanya, Hati Langit bak tertusuk pisau yang membuat hatinya terasa sakit dan perih.


* Dear Mas Langit


Sebelumnya aku mau minta maaf sekali lagi sama Mas Langit karena kehadiranku membuat Mas Langit menderita dan harus kehilangan Kai, Maaf karena tidak bisa menjadi ibu yang baik untuk anak mu dan maaf telah membuat Mas menyesal karena menihakhiku, Apa yang di katakan Mas, Keluarga Mas dan Keluargaku memang benar adanya jika aku adalah ibu yang buruk dan aku tidak pantas menjadi seorang ibu, Aku terima semua tuduhan yang kalian berikan untukku tapi Mas, Aku adalah ibu nya Kai aku yang mengandung aku yang melahirkan aku yang merawat dan membesarkannya dengan sepenuh jiwa dan ragaku, Bagaimana bisa kalian menuduhku tidak menyayangi Kai sedamgkan aku adalah ibu yang melahirkan nya, Bukan hanya kalian yang kehilangan tapi aku juga namun aku bisa apa jika ini adalah takdir, Aku pun sama hancurnya dengan kalian bahkan hancurku sudah tidak bisa ku perbaiki lagi, *Anak yang ku daoatkan dengan penuh kesabaran yang luarbisa dan ribuan doa yang ku langitkan unatuk mendapatkannya mati tepat di delan mataku lalu bagaimana bisa kalian menuduhku tidak menyayangi anak ku, Bahkah Mas juga dengan tega tidak mengizinkan aku melihat anak ku untuk yang terakhir kalinya, Hancur mana lagi yang belum pernah aku rasakan Mas namun aku selalu berfikir mungkin ini bentuk rasa kecewa kakia kepadaku tapi Mas kenapa Mas sampai tidak mengizinkan aku melihat anaknku untuk terakhir kalianya, Aku pergi Mas sesuai dengan keinginanmu yang memintaku pergi, Jaga diri Mas baik-baik ya aku harap Mas tidak akan pernah terluka lagi baik fisik maupun raga Mas, Selamat tinggal Mas Langit.


Aku mencintaimu*.


Langit menangis pilu setelah membaca surat itu, Langit membawa surat itu dalam pelukannya menyesali apa yang telah ia lakukan kepada Nara selama ini, Bagaimana tangan manampar wajah Nara beberapa kali dan bagaimana dengan kejamnya Langit menuduh Nara sebagai pembunuh dan tidak menyayangi Kai.


Menyesal Langit sungguh menyesal namun semua sudah terlambat, Nara sudah pergi jauh bersama penyesalan Langit, Langit bangkit dari duduk nya di lantai ia tidak mau melakukan kebodohan yang sama sehingga membuat ia benar-benar kehilangan Nara.


Langit berlari keluar dengan penampilannya yang acak-acak kan, Langit membawa mobilnya secepat mungkin untuk mencari Nara, Tempat pertama yang Langit datangi adalah pusara Kai, Langit melihat setangkai bunga berada di atas pusara Kai, Langit mengambil bunga itu yang terlihat masih segar dan baru, Itu berati Nara belum pergi jauh fikirnya.


Langit teringat satu tempat yaitu rumah orangtua Nara, Ya mungkin saja Nara ada di rumah orangtuanya, Langit memacu mobilnya menuju rumah mertuanya, Tiga puluh menit kemudian Langit sampai di rumah mertuanya, Buru-buru Langit turun dari mobil dan masuk kedalam rumah.


"Langit kamu disini Nak" Kaget Tuan Damara karena tiba-tiba Langit datang kerumah nya dengan penampilan yang acak-acakan.


"Nara mana Pa?" Tanya Langit dengan Nafas memburu.


"Loh Nak Langit ada disini ko Papa ga bilang sama Mama" Sambar Nyonya Anggie yang baru kembali dari dapur dengan membawa kue buatannya.


"Ma Nara mana Ma, Nara disini kan Ma?" Tanya Langit lagi yang membuat Ayah dan Ibu mertuanya bingung.


"Kamu kenapa Langit, Kanapa pakaian mu acakan-acakan begini?" Tanya balik Nyonya Anggie tidak menjawab pertanyaan Langit.


"Penampilan Langit tidak penting untuk sekarang Ma, Langit tanya Nara ada disini kan?"

__ADS_1


"Apa lagi yang di lakukan pembunuh itu Langit sampai kamu seperti ini?" Kata itu keluar dari mulut Tuan Damara.


"Nara bukan pembunuh Pa, Stop mengatakan Nara pembunuh!" Jawab Langit.


Langit tidak suka Tuan Damara mengatakan Nara pembunuh padahal seblumnya Langit juga mengatakan jika Nara adalah pembunuh namun setelah mengetahui yang sebenarnya Langit menjadi tidak suka jika ada yang mengatakan Nara pembunuh.


"Dia sudah membunuh cu...."


"Stop Pa Ma Nara bukan pembunuh, Kai pergi karena itu sudah takdirnya dan bukan kesalahan Nara, Selama ini kita salah menuduh Nara sebagai pembunuh dan tidak menyayangi Kai, Selama ini Nara sama hancurnya dengan kita bahkan lebih hancur" Jelas Langit dengan air mata yang sudah keluar.


"Apa maksudmu Langit?" Nyonya Anggie penasaran.


"Iya Ma Nara juga hancur sama seperti kita sampai membuat ia trauma dan sampai membuatnya Mengidap PTSD, Nara sampai harus pergi ke psikolog karena mentalnya terguncang karena kematian Kai tepat di depan matanya, Dan sekarang Nara pergi Ma Nara pergi meninggalkan Langit Ma" Jelas Langit Lagi dan hal itu me.buat tubuh Nyonya Anggie luruh ke lantai.


Begitupun Tuan Damara kaki nya terasa lemas dada nya sesak mengetahui kebenaran yang sebenarnya tentang putri kesayangannya yang telah ia sakiti hati dan fisiknya sedemikian rupa.


Mereka menangis menyesali apa yang sudah mereka lakukan kepada Nara, Nyonya Anggie menangis histeris menyalahkan dirinya sendiri sampai membuat dirinya sulit untuk bernafas.


Mengetahui sebegitu kagetnya mertunya tau tentang yang sebenarnya kepada Nara membuat Langit menebak jika Nara tidak ada di rumah mertuannya, Langit bergegas pergi untuk mencari Nara sebelum terlambat.


"Papa Mama Langit pamit pergi, Langit mau cari Nara sebelum terlambat" Pamit Langit sebelum pergi


Nyonya Anggie mengambil tangan Langit dan ia genggam "Mama mohon cari Nara sampai ketemu Langit dan bawa Nara kemari" Mohon Nyonya Anggie.


"Pasti Ma, Langit akan mencari Nara sampai ketemu itu janji Langit" Jawab langit setelah itu Langit pergi.


Tuan Damara memeluk istrinya yang terlihat rapuh, Mereka sama-sama rapuh dan menyesal, Kenapa mereka bisa sejahat itu kepada Nara padahal Nara adalah anak kandung mereka dan anak satu-satunya di keluarga mereka.


Tuan Damara membawa Nyonya Anggie duduk di kursi masih dengan memeluknya, Ponsel Tuan Damara bergetar tanda pesan masuk ke ponselnya, Tuan Damara membuka ponsel nya dan ada pesan masuk dari Langit berupa Vidio.


Tuan Damara dan Nyonya Anggie memutar Vidio itu dan meonton nya bersama, Mereka semakin terluka setelah menonton vidio itu, Vidio dimana Nara mencurahkah isi hatinya yang Langit dapat dari dokter Lyly waktu itu.

__ADS_1


Semua sudah terlambat menyesalpun sudah tidak ada gunannya, Nara sudah memutuskan untuk pergi dari kehidupan mereka sesuai dengan keinginan Langit.


__ADS_2