
Saat ini Nara sedang duduk berhadapan dengan Langit di sebuah Cafe favorite Nara, Langit sengaja memilih tempat pertemuan mereka di tempat favorite Nara karena Langit ingin Nara tau jika dirinya masih mencintainya dan tidak melupakan tempat-tempat yang Nara sukai.
Tadi sebelum akhirnya Nara menyetujui ajakan Langit untuk bertemu, Nara sempat merasa bimbang atara mengiyakan ajakan langit atau menolak nya, Namun setelah lama menimbang-menimbang akhirnya Nara menyetujui nya.
Bukan hal yang mudah untuk Nara bisa sampai berada di Cafe favorite nya dulu dan duduk berdua dengan Langit, Ada sedikit drama saat Nara akan meninggalkan Julian tadi, Julian menangis tidak ingin di tinggal saat Nara berpamitan kepadanya tadi.
Nara sudah merayu Julian dengan segala macam rayuan namun tetap tidak mempan, Julian terus merengek ingin ikut dengan Nara bahkan Nyonya Anggie dan Vallerie juga tidak berhasil membujuk Julian, Untuk membawa Julian ikut bersamanya pun tidak mungkin.
Akhirnya Nara menghubungi Papa nya untuk menitipkan Julian kepadanya karena jika bersama Papa nya Julian akan menurut, Barulah setelah itu Nara pergi menemui Langit.
Nara duduk dengan tidak nyaman saat Langit terus menatap terus menerus, Tak ayal jantung Nara pun berdebar kuat saat Langit tiba-tiba tersenyum saat menatapnya, Senyum yang masih sama seperti dulu yang membuat nya jatuh cinta setiap kali melihatnya.
Nara berdehem untuk menetralkan detak jantungn nya sebelum menanyakan sesuatu kepada Langit, "Apa yang mau Mas bicarakan?"
Langit merubah posisi duduk yang tadinya bersandar di meja dengan menopang dagu sembari menatap Nara kini duduk dengan tegak, "Apa kabar Ra?" Tidak menjawab pertanyaan Nara Langit malah balik bertanya.
"Aku baik Mas, Mas bagaimana?" Balas Nara menatap Langit.
"Alhamdulillah kalau kamu baik Ra, Mas ikut senang dengarnya, Mas juga baik ko Ra" Langit tersenyum sangat manis membuat jantung Nara kembali berdebar melihat senyuman itu.
__ADS_1
"Ra Mas mau bilang sesuatu sama kamu, Tapi sebelum Mas bilang bisa kamu janji sama Mas sebenci apapun kamu sama Mas nanti, Mas mohon jangan pernah berfikir untuk pergi dari hidup Mas lagi ya Ra" Ucap Lamgit membuat Nara Langsung menatap Langit dalam.
Perasaan Nara mengatakan jika apa yang ingin Langit bicarakan adalah sesuatu yang sangat besar yang mungkin bisa membuatnya tambah membenci Langit, "Aku tidak bisa janji Mas"
Langit menarik nafasnya dalam-dalam ia sudah bisa menebak jika Nara akan mengatakan itu, "Mas mau jujur sama kamu dari awal kejadian yang terjadi sama anak kita sebenarnya Mas tidak pernah menyalahkan mu, Semua yang Mas lakukan sama kamu adalah sesuatu yang Mas ga bisa lakukan ke diri Mas sendiri" Langit menjeda ucapan nya sembari menatap ekpresi Nara yang sudah berubah seperti sedang menebak-nebak sesuatu di fikirannya.
"Iya Ra yang kamu fikirkan itu benar, Mas menjadikan mu pelampiasan sebagai rasa bersalah Mas yang ga bisa Mas lakuin ke diri Mas sendiri, Mas merasa bersalah karena tidak bisa menjaga kalian dengan baik sampai akhirnya kita kehilangan anak kita, Namun Mas ga bisa menyalahkan diri Mas sendiri karena itulah Mas menyalahkan mu, Mas akui Mas bodoh Mas egois dan Mas pengecut Ra"
"Maafkan Mas atas semua kesalahan Mas Ra, Mas memang tidak layak menjadi suamimu tapi Mas juga ga bisa kalau kamu ga jadi istri Mas, Silahkan benci Mas selama yang kamu mau Ra tapi Mas mohon jangan pernah pergi dari hidup Mas lagi" Langit merasa lega karena sudah mengungkapkan semua rasa gundah yang menghimpit hatinya selama ini.
Air mata Nara tidak bisa ia tahan saat mendengar apa yang Langit katakan, Hati nya begitu sakit mengetahui jika selama ini yang Langit lakukan kepadanya adalah hal yang tidak bisa ia lakukan kepada dirinya sendiri.
Nara sampai tak habis fikir kenapa Langit laki-laki yang menjadi suami nya, Laki-laki yang ia cinta bisa sejahat itu kepadanya padahal saat tragedi itu terjadi dunia nya benar-benar hancur dan dia membutuhkan Langit, Namun Langit malah menyalakah nya saat itu yang sebenarnya kesalahan itu ia tujukan kepada dirinya sendiri.
Pertanyaan Nara berhasil membuat hati Langit seperti tertusuk sebuat pisau yang tepat mengenai ulu hatinya, Sakit...sungguh sakit mendengar pertanyaan Nara apalagi saat melihat Nara menangis.
"Maaf Ra, Maaf" Hanya itu kata yang mampu Langit ucapkan ia tidak tau lagi harus berkata apa untuk mengutarakan penyesalan nya.
Nara menutup wajah nya dengan tangan nya dan menangis tersedu-sedu, Beberapa pengunjung Cafe memperhatikan Nara dengan pandangan bertanya-tanya apa yang sedang terjadi kepadanya, Karena memang saat ini Cafe sedang banyak pengunjung.
__ADS_1
Ntah susah seberapa banyak Langit menorehkan luka di hati Nara sampai-sampai membuat Nara tidak bisa berdiri tegak karena merasakan sakitnya luka-luka yang Langit berikan, Sakit yang Langit berikan seperti sebuah Senandung Pilu yang alunan nya membayang-bayangi hidup Nara.
Langit juga tidak bisa menahan air matanya melihat Nara yang menangis sedemikian rupa, Tangan Langit terulur menyentuh tangan Nara dan membawanya dalam genggaman nya.
"Silahkan hukum Mas Ra, Silahkan benci Mas selama yang kamu mau asal jangan pernah pergi dari hidup Mas sebagai hukuman untuk Mas, Karena Mas ga akan bisa Ra, Kalau kamu mau bilang Mas egois karena ga mau kamu pergi dari hidup Mas ga apa-apa Ra mas akan terima itu semua, Mas akan tebus semua kesalahan yang pernah Mas lakukan dulu jadi Mas mohon jangan pergi dari hidup Mas Ra" Mohon Langit menggenggam kedua tangan Nara.
Nara sediri hanya diam ia tidak bisa berkata apa-apa lagi, Hati nya begitu sakit Langit sudah menghancurkannya sampai berkeping-keping untuk yang kesekian kali nya.
Langit membiarkan Nara menangis menumpahkan segala sesak di dadanya sampai ia merasa lebih tenang, Beberapa menit kemudian Nara sudah mulai tenang, Nara menarik tangannya yang di genggam Langit.
"Terimakasih untuk semua luka yang Mas Langit berikan selama ini, Aku tidak pernah menyesal menjadi istri mu namun aku juga tidak bisa membuang rasa benciku kepada Mas," Jeda Nara untuk mengambil nafas.
"Jika akhirnya aku memilih mengakhiri hubungan kita itu bukan salah ku kan Mas, Karena sakit yang aku rasakan mungkin tidak bisa aku sembuhkan" Lanjut Nara membuat Langit menggeleng kuat.
"Jangan Ra jangan, Mas mohon jangan berkata seperti itu" Mohon Langit ia begitu takut kehilangan Nara, Tangan Langit berusaha meraih tangan Nara namun Nara memundurkan tangan nya membuat Langit hanya bisa menggenggam angin.
"Aku tidak bisa Mas, Lepasain aku Mas kita susah tidak sejalan lagi" Lirih Nara.
"Tidak Ra kita masih sejalan, Mas janji tidak akan mengulanginya lagi tapi Mas mohon jangan pergi dari Mas, Beri Mas satu kesempatan Ra Mas mohon" Langit tidak bisa membayangkan semengerikan apa hidupnya jika Nara pergi dari hidupnya.
__ADS_1
Nara berdiri dari duduk nya ia merasa sudah tidak ada lagi yang harus mereka bicarakan, "Aku tidak bisa berjanji untuk tidak pergi dari mu Mas, Aku juga tidak bisa berjanji untuk tidak mengambil waktu yang lama untuk aku bisa menyembuhkan luka ku, Aku akan mencoba memberi mu kesempatan namun jika pada akhirnya aku memilih pergi maka lepaskan aku Mas"
Setelah mengatakan itu Nara pergi meninggalkan Cafe dan Langit sediri tanpa membiarkan Langit berbicara lagi, Langit membiarkan Nara pergi ia tidak mengejarnya setidaknya ia merasa senang Nara mau memberinya kesempatan, Langit berjanji akan berusaha sebaik mungkin agar Nara kembali kepelukan nya.