
Hari-hari berlalu dengan sangat cepat kini usia Baby Kai sudah dua bulan, Hari-hari Nara dan Langit di penuhi dengan kebahagiaan, Nara Sangat menyayangi Baby Kai maka dari itu iya tidak mempekerjakan baby sister untuk membatunya menjaga Baby Kai.
Langit pun tidak keberatan dengan keputusan Nara untuk tidak menggunakan baby sister, Setiap hari Nara dan Langit bergantian menjaga Baby Kai, Setiap malam jika Baby Kai terbangun meminta susu Langit akan dengan sigap membuatkan dan memberikan susu anak nya tanpa membangunkan Nara, Langit tau Nara sudah lelah seharian menjaga Baby Kai maka dari itu ia membiarkan Nara istirahat dan Langit yang menjaga Baby Kai.
Satu hal yang belum Langit samapai kan kepada Nara sampai saat ini, Yaitu kenyataan jika rahim Nara sudah di angkat dan ia tidak bisa memiliki anak lagi.
Langit sudah memikirkan nya cukup lama dan saat ini Langit memutuskan akan memberitahu Nara, Langit menghampiri Nara yang sedang memangku Baby Kai di atas kasur.
"Sayang" Panggil Langit ia duduk di samping Nara.
"Iya Mas" Jawab Nara melihat Langit dan tersenyum.
"Ada yang mau Mas omongin" Ucap Langit dengan wajah seriusnya.
Nara mengerutkan alisnya menatap wajah Langit,"Ada apa Mas?"
Langit menarik nafasnya sebentar dan membuangnya perlahan, "Tapi kamu harus janji dulu sama Mas kalau kamu akan kuat, Kamu boleh nangis kamu juga boleh marah tapi Mas mohon jangan lama-lama ya, Kamu boleh lampiasin semua rasa marah dan kecewa mu sama Mas" Langit mengacungkan jari kelingking nya meminta Nara berjanji.
Nara semakin dia buat bingung dengan ucapan Langit, Nara merasa apa yang akan Langit bicarakan itu tentang dirinya, Mengikuti Langit Nara mengangkat jari kelingking nya dan menautkan nya pada jari Langit.
"Aku janji Mas aku akan kuat, Jadi apa yang mau Mas omongin?" Janji Nara.
"Benturan yang terjadi karena kecelakaan kamu kemarin membuat rahim mu meengalami pendarahan hebat dan dokter tidak bisa menghentikan pendarahan itu, Dan akhirnya dokter memutuskan untuk mengangkat rahim mu" Jelas Langit dengan sangat pelan sembari memperhatikan wajah Nara.
Langit terus memperhatikan Nara yang diam tidak mengeluarkan sepatah kata pun, Langit di buat bingung dengan Nara yang tak memberikan reaksi apapun.
"Sayang" Langit menggoyangkan pundak Nara lembut.
Nara tersentak kaget dengan sentuhan Langit di pundak nya, Nara tersenyum menatap Langit, "Maaf ya Mas aku ga bisa ngasih kamu anak lagi"
__ADS_1
Langit terkejut dengan jawaban Nara, Langit benar-benar tidak menyangka jika Nara dengan lapang dada menerima kenyataan itu dan malah meminta maaf kepadanya, Padahal ia sudah merasa takut jika Nara tidak bisa menerima kondisi nya dan menyalahkan dirinya.
"Sayang kamu" Langit tidak bisa berkata-kata lagi.
Nara tersenyum, "Sekali lagi maafin aku ya Mas, Karena hanya bisa memberikan mu satu anak saja" Jeda Nara.
"Tidak apa-apa rahim ku di angkat Mas asalkan anak kita selamat, Mas jangan khawatir ya aku baik-baik saja ko" Lanjut Nara mencoba terlihat baik-baik saja
Mendengar ucapan Nara Langit langsung membawa Nara kedalam pelukannya, Langit bernafas lega karena Nara bisa menerima semua ini, Ketakutannya sirna saat melihat senyum dan wajah tegar istrinya.
"Mas benar-benar takut kamu akan kecewa dan menyalahkan dirimu sendiri sayang, Sekarang Mas sudah lega karena sudah memberitahumu dan kamu bisa menerimanya" Ucap Langit mememluk Nara.
"Maafin Mas ya karena ga bisa menjaga kamu dan Kai dengan baik" Lanjut Langit melepas pelukannya.
"Ini bukan salah Mas jadi Mas jangan nyalahin diri sendiri ya" Nara menggenggam tangan Langit.
"Iya sayang, Mas janji akan menerima kamu apa adanya walau kita hanya memiliki satu anak, Kita rawat Kai sama-sama ya sayang" Kata Langit membawa Nara dalam pelukannya Lagi, Mereka berdua saling menggenggam dan saling menguatkan.
Nara menidurkan Kai di kasur kemudian ia berbaring di samping Kai, Langit memeluk Nara dari belakang mencium kepala Nara dan menghirup wangi tubuh Nara dalam-dalam, Wangi Vanila yang selalu menenangkan nya.
Tengah malam Nara membuka matanya sedari tadi ia tidak benar-benar tidur, Ada satu hal yang mengganjal di hati nya yang mana membuat hati nya terasa sesak.
Nara menyingkirkan tangan Langit yang masih memeluk nya dengan perlahan, Setelah berhasil Nara dengan sangat pelan-pelan turun dari ranjang, Nara berjalan mengendap-endap ke kamar mandi.
Masuk kedalam kamar mandi Nara mengunci pintu dan air matanya langsung mengalir deras, Nara menangis menumpahkan segala sesak di hatinya, Ia benar-benar merasa hancur saat mengetahui jika ia tidak bisa memiliki anak lagi namun ia tidak mau menangis di depan Langit karena tidak mau membuat Langit khawatir dan menambah beban Langit.
Tubuh Nara merosot duduk di lantai ia menangis meraba perutnya yang tak lagi memiliki rahim, Nara berusaha kuat menerima semua takdir Tuhan untuk hidupnya, Setelah merasa cukup lama dan puas menumpahkan sesak di dada nya Nara mencuci wajah nya membersihkan bekas-bekas air matanya.
Selesai membersihkan wajah nya buru-buru Nara membuka pintu kamar mandi dan kembali ke kamar, Nara takut Langit akan bangun dan mencarinya jika ia terlalu lama di kamar mandi.
__ADS_1
Masuk kedalam kamar Nara begitu bahagia melihat pemandangan di depan nya dimana Langit dan Baby Kai tidur dengan gaya yang sama, Nara mencium sayang kening Langit, "Terimakasih sudah hadir di hidup ku dan terimakasih karena sudah menjadi suami dan Ayah yang baik untuk aku dan Kai, aku mencintai mu Mas Langit" Ucap Nara kemudian mencium kening Langit lagi.
Nara naik ke atas ranjang berbaring dan memejamkan matanya, Untaian doa Nara langitkan untuk kebahagian rumah tangga nya, Tak lupa Nara berterimakaish kepada Tuhan atas semua yang sudah Tuhan berikan untuk hidupnya selama ini, Setelah itu Nara terlelap dalam gelapnya malam, Mengarungi mimpi-mimpi indah dalam tidur nya.
Pagi hari seperti biasa Nara bangun lebih dulu dari Langit dan anak nya, Nara bangun dan membersihkan tubuhnya kemudian menyiapkan baju kerja Langit, Setelah selesai Nara turun ke bawah untuk memasak sarapan Langit.
Nara membuat makanan kesukaan Langit kemudian menatanya di meja makan di bantu dengan bi Yani, Tepat setelah Nara selesai membuat sarapan dua sahabat Langit datang.
Bara dan Evan menyapa Nara yang baru selesai menata makanan di meja " Selamat pagi Bunda nya Kai" Sapa mereka berdua.
"Selamat pagi Uncle nya Kai" Nara membalas sapaan Bara dan Evan.
"Kalian pagi-pagi sudah disini, Pasti kalian ada janji ya?" Tanya Nara, Sebenarnya Nara sudah tidak kaget jika pagi-pagi sekali Bara dan Evan sudah ada di rumah nya karena hal ini sering terjadi, Bagi Bara dan Evan rumah Langit adalah rumah kedua mereka.
"Kita ga ada janji kita cuma mau ketemu Kai sama mau numpang sarapan" Jawab Bara yang mendapat toyoran dari Evan.
Nara menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah dua manusia di depan nya, "Kalian ini ada-ada saja"
"Ra Kai udah bangun belum, Gue kangen banget ni sama Kai?" Tanya Evan.
"Tadi si pas aku tinggal belum bangun ga tau kalau sekarang, Aku liat dulu ya?, Kalian duduk aja dulu kalau mau makan udah aku siapin di meja ya" Jawab Nara setelah itu ia naik ke atas untuk membangunkan suaminya.
Membuka pintu kamar Nara langsung di suguhkan pandangan Langit yang tidak memakai baju sedang menggendong Baby Kai yang sudah bangun, Nara mendekati mereka berdua dan memeluk Langit dari samping.
" Hallo kesayang Bunda sudah pada bangun ya," Nara mencium pipi Langit dan Baby Kai bergantian.
"Iya Bunda Ayah cama Kai cudah banun" Jawab Langit menirukan suara anak kecil membuat Nara tetawa gemas.
"Mas di bawah ada Bara sam Evan" Beo Nara memberi tahu Langit.
__ADS_1
"Ngapain mereka pagi-pagi kesini, Pasti mau merebut Kai dari Mas dan minta sarapan kan" Tebak Langit yang sudah hafal dengan kelakuan dua sahabatnya yang lebih sering datang kerumah nya semenjak ada Kai.
Nara tertawa mendengar ucapan Langit yang memang benar adanya, Nara mengambil Kai dalam gendongan Langit dan menyuruh Langit mandi, Setelah Langit selesai mandi mereka turun kebawah untuk sarapan bersama.