
Nara langsung terduduk lemas saat menerima kabar jika Langit kecelakaan bahkan ponsel nya sampai terjatuh begitu panggilan terputus, Pandangan nya kosong menatap ke depan, Bayangan kelam bagaimana saat ia mengalami kecelaan saat hamil dulu dan saat Kai mati di tempat karena kecelakaan tergiang-ngiang di kepalanya.
Rasa takut kehilangan menghantui Nara yang masih terduduk lemas dia atas kasur, Air matanya nya lolos begitu saja membayangkan jika ia harus kehilang untuk yang kedua kali nya, Tidak...tidak Nara tidak mau kehilangan Langit, Dunianya sudah setengah hancur karena kehilangan Kai, Dan Jika ia kehilangan Langit juga maka Nara sudah tidak punya dunia Lagi.
Sadar jika diamnya di rumah dengan membayangkan hal yang tidak-tidak tidak membuahkan hasil dan malah semakin membuang waktu Nara berlari keluar kamar dan akan pergi ke Rumah Sakit.
Di bawah Nyonya Anggie dan Vallerie sedang bermain dengan Julian, Mereka semua memperhatikan Nara yang turun tergesa-gesa dan menangis, Nyonya Anggie berdiri menghampiri Nara, "Sayang ada apa? Kenapa kau menangis?"
"Mas Langit Ma, Mas Langit" Nara tidak sanggup untuk mengatakan apa yang terjadi dengan Langit.
"Iya Langit kenapa?" Khawatir Nyonya Anggie ada apa dengan Langit.
"Mas Langit kecelakaan Ma" Ucap Nara membuat Nyonya Anggie kaget, Vallerie yang mendegarkan pembicaraan mereka juga kaget dan mendekat ke arah Nara dan Nyonya Anggie.
"Nara mau ke Rumah Sakit Ma, Nara mau liat Mas Langit, Nara ga bisa kehilangan lagi" Nara menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mengalir deras.
Nyonya Anggie tau apa yang di rasakan Nara, Rasa takut akan kehilangan orang yang ia sayang untuk kedua kalinya adalah hal yang saat ini paling di takutkan, Karena itulah Nyonya Anggie membawa Nara dalam pelukannya.
Vallerie memperhatikan Julian hanya yang diam memperhatikan Mommy nya yang sedang menangis dalam pelukan Nenek nya, Tidak seprti biasanya Julian hanya diam saat melihat Nara menangis biasanya ia akan banyak bertanya ini itu tapi kali ini dia diam, Mungkin Julian mengerti jika ini bukan saat nya ia merengek dan membuat Mommy nya semakin sedih fikir Vallerie.
"Ma Nara mau ke Rumah Sakit" Ucap Nara masih dengan tangisan nya setelah melepas pelukan Nyonya Anggie.
"Iya sayang, Tapi jangan bawa mobil sendiri ya, Biar Vallerie saja yang bawa mobil nya" Jawab Nyonya Anggie melarang Nara membawa mobil sendiri karena keadaan Nara yang kurang baik dan takut terjadi sesuatu jika Nara memabawa mobil sendiri.
Nara menggangguk pasrah tidak perduli siapa yang akan membawa mobil yang terpenting dia cepat sampai di Rumah Sakit dan tau kondisi Langit, Nara belum tau bagaiman kondisi Langit karena tadi Tuan Kana hanya memberi tau jika Langit kecelakaan dan tidak memberi tau kondisi Langit.
"Ayo Ka" Vallerie menggandeng tangan Nara keluar Rumah dan meninggalkan Julian bersama Nyonya Anggie.
Vallerie mengendarai mobil dengan kecepatan rata-rata, Nara yang duduk di samping Vallerie masih menangis sesekali Vallerie melirik ke arah Nara, Vallerie hanya diam membiarkan Nara menangis tanpa berusaha menenangkan nya.
Empat puluh lima menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit yang jaraknya cukup jauh dari rumah Nara, Nara langsung turun begitu sampai di Rumah Sakit dan meninggalkan Vallerie di belakang, Nara sampai di tempat resepsionis.
"Permisi dimana ruangan pasien bernama Langit Samudra?" Tanya Nara pada petugas resepsionis.
"Pasien atas nama Langit Samudra berada di ruang VIP Mandala nomor sagu lantai sepuluh" Jawab petugas resepsionis ramah.
"Terimakasih" Setelah mengatakan itu Nara langsung menuju ke arah Lift.
Di dalam lift Nara terus memperhatikan angka lift yang menurut nya sangat lama untuk sampai di lantai sepuluh, Nara berdiri dengan gelisah tangan nya sudah berkeringat dingin, Pintu lift terbuka Nara buru-buru keluar dari lift dan langsung mencari kamar rawat Langit.
Setelah menemukan ruangan Langit Nara langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dulu, Brakk pintu ruangan Langit terbuka kasar membuat Langit yang baru keluar dari kamar mandi terlonjak kaget dan bukan hanya Langit saja yang kaget tapi Tuan Kana dan Nyonya Lingga juga.
Nara menatap Langit sebentar dan setelah itu berjalan cepat ke arah Langit dan langsung memeluknya, Langit yang mendapat pelukan dari Nara kaget bukan main begitu juga dengan Tuan Kana dan Nyonya Lingga.
Nara menangis menumpahkan rasa lega nya dalam peluk.an Langit, Langit yang di peluk Nara merasa bingung dan juga senang, Langit bingung haruskah ia membalas pelukan Nara atau diam saja, Ia takut jika ia balas memeluk Nara setelah ini Nara akan marah, Namun di sisi lain Langit bahagia akhirnya ia bisa merasakan pelukan Nara yang sangat ia rindukan.
"Ra" Panggil Langit lirih.
"Ra kamu" Langit tidak mampu melanjutkan kata-katanya.
"Jangan tinggalin aku Mas, Aku sudah kehilangan Kai, Aku tidak sanggup jika kehilangan Mas juga" Cicit Nara dalam tangisnya masih memeluk Langit.
Hati Langit seperti taman bunga yang bunganya semua nya bermekaran, Ia bahagia sangat bahagia mendengar apa yang Nara katakan barusan, Tanpa rasa takut lagi Langit membalas pelukan Nara sama eratnya seperti Nara memeluknya.
__ADS_1
"Iya sayang, Mas janji Mas ga akan tinggalin kamu, Kita akan menua bersama keluarga kita" Janji Langit bersungguh-sungguh.
Tuan Kana , Nyonya Lingga dan Vallerie yang berdiri memperhatikan mereka tersenyum bahagia akhirnya kebahagiaan menghampiri pasangan itu, Nyonya Lingga memeluk Vallerie sembari memperhatikan Nara dan Langit bahkan air mata Nyonya Lingga juga mengalir karena bahagia anak dan menantunya sudah kembali.
Nara masih betah memeluk Langit, Tangis nya sudah mereda hanya ttinggal isakan kecil saja yang sesekali terdengar keluar dari mulut Nara, Langit tidak merasa keberatan Nara masih memeluk nya ia malah merasa senang walau ia harus menahan pegal dan sakit di tangan nga karena ternyata beberapa serpihan kaca juga mengenai lengan Langit.
Sampai pada akhirnya Langit tidak kuat lagi manahan pedih di lengan nya karena lukanya mengeluarkan sedikit darah, "Sayang boleh mas duduk, Tangan Mas sedikit sakit"
Seketika Nara langsung melepas pelukan Langit dan menunduk tidak berani menatap Langit, "Maaf" Lirih Nara.
Langit kelabakan karena Nara meminta maaf, "Tidak sayang jangan meminta maaf" Tangan Langit terulur memegang pipi Nara membawa nya menatap dirinya.
Mata Nara menatap Langit masih dengan canggung, "Jangan minta Maaf ini bukan salah mu, Kaki Mas hanya sedikit pegal"
Nara menggangguk, Tuan Kana, Nyonya Lingga dan Vallerie menghampiri mereka, "Kami keluar dulu ya, Kami mau ke kantin" Pamit Nyonya Lingga, Mereka akan memberikan waktu untuk mereka berdua.
"Iya Mi" Jawab Langit setelah itu mereka keluar meninggalkan mereka berdua.
"Bantu Mas duduk di ranjang sayang" Beo Langit sengaja menggoda Nara padahal dia mampu jalan sediri.
"Ayo Mas" Nara membantu Langit dengan sangat pelan.
Langit duduk bersandar di ranjang pasien, Senyum nya tak lepas dari bibir nya ia sangat merasa bahagia karena Nara nya sudah kembali, Nara salah tingkah karena Langit sedari tadi menatapnya dengan tersenyum.
Langit membawa tangan Nara dalam genggaman nya, "Sayang terimakasih karena sudah memafkan Mas, Mas bahagia sekali karena kamu mau kembali sama Mas, Maaf atas semua kesalahan Mas yang pernah membuatmu terluka, Mas janji Mas tidak akan mengulanginya lagi"
"Mas banyak belajar dari semua ini, Mas belajar apa yang namanya kehilangan, Kesepian dan kesedihan dan Mas tidak mau mengulangi nya lagi, Sayang maukah kamu kembali membangun rumah tangga kita kembali bersama anak kita Julian" Lanjut Langit membuat Nara menatap Ltngit dalam saat menyebut nama Julian.
"Julian,,, Mas mau menerima Julian?" Tanya Nara tak percaya.
Nara tersenyum mendengar jawaban Langit bahwa kehadiran Julian dapat di terima oleh Langit, Langit semakin erat menggenggam tangan Nara namun seseat ia lepaskan, "Boleh Mas minta peluk"
Tanpa ragu lagi Nara langsung memeluk Langit erat, Mereka berpelukan kebahagiaan akhirnya menghampir mereka setelah lima tahun, Hari semakin sore dan Nara masih berada di Rumah Sakit merawat Langit sedangkan Vallerie ikut Nyonya Lingga dan Tuan Kana pulang kerumah nya.
Julian datang bersama kakek dan nenek nya, Begitu masuk kedalam ruangan Langit Julian langsung berlari memeluk Langit, "Daddy Julian rindu" Julian memeluk Langit erat.
Kebahagiaan tergambar jelas dari wajah mereka, Julian tidak mau jauh-jauh dari Langit bahkan ia juga tidak mau di ajak pulang, Akhirnya Julian ikut menginap di rumah sakit bersama Nara dan tidur di samping Langit.
Waktu terus berlalu sudah satu tahun sejak Nara dan Langit kembali menjadi pasangan suami istri, Keluarga mereka kembali utuh seperti sedia kala karena hadirnya Julian di keeluarga kecil mereka, Nara juga mendapatkan kembali perannya sebagai seorang ibu yang mengantar jemput anak nya sekolah seperti dulu.
Mereka hidup bahagia dengan tetap menyimpan sosok Kai di tempat khusus di hati mereka, Langit juga sudah menceritakan bagaiman usaha nya untuk mendapatkan hak asuh Julian, Nara merasa tersentuh dengan perjuangan Langit dan semakin yakin jika keputusan nya kembali pada Langit tidak lah salah.
Pagi hari di rumah keluarga kecil Nara, Nara di buat pusing dengan teriakan Langit dan Julian yang saling bersahutan, Membuat Nara yang berada di dapur sedang membuat sarapan hanya bisa menarik nafasnya dalam-dalam dan memperbanyak sabar.
"SAYANG CELANA KU MANA?"
"ADA DI GANTUNGAN BERSEBELAHAN DENGAN KEMEJA YANG SUDAH AKU SIAPAKAN"
"MOMMY DIMANA KAOS KAKI JULIAN?"
"DI LACI NOMOR DUA SAYANG"
"SAYANG DASI KU DIMANA DISINI TIDAK ADA"
__ADS_1
"ADA DI SAMPING LEMARI MAS"
"MOMMY KANCING BAJUKU LEPAS"
"SAYANG DASINYA TIDAK ADA YANG COCOK"
Belum sempat Nara menjawab yang satu yang satu nya lagi sudah kembaii berteriak, Hal seperti itu sudah menjadi hal biasa yang hampir setiap hari menghiasi pagi di rumah keluarga Nara.
"SAYANG"
"MOMMY"
Lagi teriakan itu saling besahutan membuat Nara memejamkan matanya sejenak, Bi Yani mendekat ke arah Nara, "Sudah Nana biar bibi yang melanjutkan ini, Sebaiknya Nona ke atas saja"
Memang itulah yang seharusnya Nara lakukan jika tidak ingin mendengar terikan-terikan itu kembali bersahut-sahutan, "Yasudah bi kalau begitu tolong selesaikan ini ya, Saya ke atas dulu" Nara melelas apron yang melekat di tubuhnya dan setelah itu naik ke atas dimana kamarnya dan kamar Julian berada.
Nara terlebih dahulu masuk ke kamar Julian, "Ada apa sayang kenapa berteriak terus, Nanti tenggorokan mu sakit" Ucap Nara setelah masuk ke kamar Julian.
"Kacing baju Julian lepas Mom" Julian menunjukan kancing bajunya yang lepas kepada Nara.
Nara tersenyum kemudian mengambilkan baju seragam yang baru di lemari Julian, Sebenarnya bisa saja ia menjahitnya namun itu tidak akan sempat apalagi mendengar terikan Langit yang memanggil nya dari kamar sebelah.
"Sudah selesai, Sekarang Julian tunggu di bawah ya, Mommy akan ke tempat Daddy dulu, Jika Mommy tidak segera kesana maka sebentar lagi rumah kita akan hancur karena teriakan Daddy" Ucap Nara setelah merapikan pakaian Julian.
Julian tertawa cekikikan, "Oke Mom" Jawab Julian setekah itu mencium pipi Nara dan turun kebawah.
Keluar dari kamar Julian Nara masuk kedalam kamar nya, "SAYA.....NG" Teriakan Langit terhenti saat Nara masuk ke dalam kamar.
Langit tersenyum takut melihat Nara yang menatap nya tajam, "Sayang jangan seperti itu kau menakutiku" Beo Langit saat Nara mendekat ke arah nya.
"Apalagi yang belum ketemu?" Tanya Nara to the point sembari menatap tajam Langit.
"Dasi sayang tidak ada yang cocok dengan warna bajuku"
Nara masuk kedalam walk in closed untuk mencarikan dasi yang cocok untuk Langit di ikuti Langit di belakangan nya, Nara berdiri memilih dasi untuk Langit dan tiba-tiba Langit memeluknya dari belakang.
"Jangan cemberut begitu sayang Mas takut" Bisik Langit di kuping Nara membuat Nara merinding.
"Kenapa sih Mas setiap pagi teriak-teriak terus, Ga ada ini ga ada itu padahal kan sudah aku siapin semuanya" Kesal Nara.
"Ga tau sayang iseng saja, Rasanya tu Mas pengen ngeliat kamu terus" Jujur Langit tanpa merasa bersalah.
Nara mencubit lengan Langit sedikit keras karena merasa kesal dengan jawaban Langit, "Aww sakit sayang"
"Biarin biar tau rasa"
Langit membalikan tubuh Nara dan langsung menyerang bibir Nara sampai membuat Nara sulit bernafas, Nara mendorong tubuh Langit pelan, "Mas ih udah siang ini anak nya udah nunggu di bawah"
Langit menihat jam yang melingkar di tangannya, "Masih ada waktu satu jam, Ayok yang" Langit mengerlingkan matanya.
Kesal dengan kelakuan Langit Nara memukul lengan Langit sedikit keras, "Kurang-kurangin mesumnya nya Mas, Ayo turun anak nya sudah menunggu di bawah" Nara membawa tangan Langit untuk mengikutinya turun kebawah dengan membawa dasi yang cocok untuk Langit.
Gagal sudah rencana Langit untuk mendapatkan jatah pagi untuk menggantikan jatah tadi malam yang tidak ia dapatkan karena ketiduran, Langit turun dengan wajah yang di tekuk, Sudah bisa ia pastikan hari ini pekerjaan nya pasti berantakan karena tidak mendapat jatah sama sekali dari istri tercintanya, Mereka sarapan bersama di pagi yang cerah itu dan setelah itu Langit dan Julian berangkat ke sekolah dan ke kantor.
__ADS_1
Hai Episode kali ini panjang ya, Autor yamau ngasih tau nih kalau tinggal satu episode lagi cerita Senandung Pilu akan selesai, Jadi tungguin episode terakhirnya ya😇