Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 39


__ADS_3

Hal pertama kali yang Langit rasakan saat memutar vidio itu adalah sakit, Sakit melihat Nara sebegitu menderitanya atas kesalahan yang tidak pernah ia lakukan, Jika saja Langit yang ada di posisi Nara mungkin Langit tidak akan sekuat Nara yang sudah kehilangan anak di tambah dengan kebencian suami dan orangtuanya.


Tangis tak dapat Langit tahan air mata mengalir seperti air sungai derasnya, Badannya bergetar kaki nya lemas melihat apa yang terjadi dalam vidio itu.


Flashback


Satu bulan setelah Kai pergi hidup Nara kian menderita apalagi ia mendapat kebencian dari orang-orang yang seharusnya ada untuknya menjadi sandarannya dan merangkulnya, Nara merasa tidak ada tempat untuk ia bercerita menceritakan apa yang ia rasakan saat kehilangan Kai.


Hari demi hari ia jalani untuk belajar menerima takdir yang Tuhan beri namun tidak berhasil, Nara pergi ke pusara Kai untuk menjenguk nya, Di pusara Kai pun Nara tidak pernah menceritakan apapun yang sedang terjadi kepadanya.


Nara keluar dari area pemakaman ia berjalan tanpa ada tujuan hingga ia berhenti tepat di sebuah klinik dengan plang yang bertulis Psikolog, Ntah apa yang mendorong Nara untuk masuk kedalam klinik itu, Nara merasa seperti ia membutuhkan seseorang untuk mendengarkan ceritanya.


"Permisi Nona ada yang bisa saya bantu" Tanya resepsionis saat Nara baru masuk.


"A-apa saya bisa bertemu dokter Lyly" Jawab Nara pelan, Dokter Lyly adalah dokter psikolog yang tertulis di palng yang ada di luar tadi.


"Bisa nona silahkah isi formulir ini terlebih dahulu" Petugas resepsionis menyerahkan formulir pendaftaran.


Selesai mengisi formulir pendaftaran Nara menunggu di kursi yang sudah di sediakan, Beberapa saat kemudian Nara di persilahkan masuk, Menarik Nafasnya sebentar Nara masuk kedalam ruangan itu.


Dokter Lyly sedikit terkejut melihat kondisi pasiennya yang seperti mayat hidup untuk pertama kalinya, Ya ini adalah kali pertama dokter Lyly bertemu pasien seperti Nara yang hanya dari melihat wajah nya saja sudah tau jika keadaan nya sangat tidak baik-baik saja.

__ADS_1


Kasihan itu adalah hal pertama yang dokter Lyly rasakan saat melihat pasiennya, Dokter Lyly sedikit bertanya-tanya hal terburuk apa yang membuat pasiennya ini sampai semenderita itu.


"Silahkan duduk Nona" Sapa dokter Lyly mempersilahlan Nara duduk.


Nara duduk tanpa menjawab sapaan dokter Lyly, "Naraya Jasmine Damara nama yang sangat bagus" Ucap dokter Lyly setelah melihat nama Nara di tangannya.


"Apa yang...."


"Apa saya bisa menceritakan hal yang tidak bisa saya ceritakan kepada siapapun ke dokter" Sela Nara memotong ucapan dokter Lyly.


Dokter Lyly tersenyum ia tidak marah Nara memotong ucapannya, "Tentu saja Nara"


"Kamu boleh menceritakan apapun yang kamu pendam selama ini kepada saya, Anggap saja saya ini teman yang bisa kamu percayai" Lanjut dokter Lyly.


Mata Nara sudah tertutup namun ia tidak tidur dan ia masih bisa di ajak berbicara, Dokter Lyly menyalakan musik terapi agar perasaan Nara tenang dan merasa Nyaman, Setelah perasaan Nara tenang dokter Lyly baru mengajukan pertanyaan.


"Nara apa kau bisa mendengarkan ku" Tanya dokter Lyly menepuk tangan Nara pelan.


"Ya aku bisa mendengar dokter" Jawab Nara.


"Apa yang ingin kau ceritakan Nara, Cerita yang tidak bisa kau ceritakan kelada siapapun itu?"

__ADS_1


Belum memulai ceritanya air mata Nara sudah mengalir, "Aku kehilangan anak ku satu-satunya tepat di depan mataku, Anak ku mati di depan mataku, Saat kejadian itu hidupku benar-benar hancur bahkan rasanya aku ingin ikut menyusulnya saat itu juga, Aku tidak tau jika hari itu adalah hari terakhir anak ku hidup, Jika saja aku tau aku akan menghabiskan waktu bersama anak ku, Andai saja aku tau tragedi itu akan terjadi aku tidak akan pernah melepaskan tangan anak ku untuk menolong anak orang lain" Nara menjeda ucapan nya, Suaranya tenggelam oleh tangisannya.


Dokter Lyly membiarkan Nara menumpahkan tangis nya sampai Nara benar-benar bisa kembali melanjutkan ceritanya, Nara menangis meraung-raung tangis yang selama ini tidak bisa ia keluarkan terdengar sangat pilu, Dokter Lyly hanyut dalam tangisan Nara tanpa sadar air matanya ikut mengalir.


Nara mengeluarkan tangisnya cukup lama hingga ia bisa sedikit tenang, Dokter Lyly keluar ruangan menemui resepsionis di kliniknya, Ia meminta untuk membatalkan janjinya hari ini untuk pasiennya yang lain, Karena dokter Lyly merasa Nara membutuhkan waktu lama dengan dirinya.


Dokter Lyly kembali keruangannya dan Nara sudah sedikit tenang dan sudah tidak menangis hanya saja suara isakan masih terdengar jelas.


"Bagaimana keadaan mu Nara, Apa sudah lebih tenang?" Tanya Dokter Lyly yang kini sudah kembali duduk di samping Nara


Nara hanya menganggukan kepalanya, "Apa kau bisa melanjutkan ceritamu Nara?"


Nara menarik nafasnya sebentar sebelum memulai ceritanya kembali, "Aku melepaskan tangan anak ku hanya untuk menolong anak lain, Sungguh aku adalah ibu yang sangat buruk seperti yang di katakan suami dan orangtuaku, Andai saja aku tidak melepaskan tangan anakku waktu itu mungkin sekarang anak ku masih bersamaku, Tidak bukan itu andai saja aku tidak mengajak anak ku ke taman mungkin ini semua tidak akan terjadi, Ini salah ku seharusnya aku yang mati bukan anak ku, Aku adalah ibu terburuk benar kata Ibu ku aku tidak pantas menjadi seorang ibu" Nara meluapkan emosinya dengan memukul pipinya berkali-kali.


Dokter Lyly membiarkan Nara meluapkan emosinya dan saat mersa Nara sudah di luar kendali dokter Lyly menahan tangan Nara," Tenang Nara tenang" Suara dokter Lyly berbisik di kuping Nara.


Nara kembali tenang, "Apa salah anak ku dokter kenapa wanita itu membawa anak ku pergi bersmanya, Kenapa wanita itu menabrak anak ku apa salahku kepadanya kenapa wanita itu tega kepadaku, Seharusnya dia menabrak ku dan bukan anak ku, Seharusnya aku yang mati bukan anak ku, Karena suami dan keluargaku sangat menyayangi anak ku, Semua orang sangat membenciku karena kesalahan ku anak dan cucu kesayangan mereka telah tiada"


"Mereka marah mereka membenciku mereka mencaci makiku bahkan mereka juga mengatakan aku tidak menyayangi anak ku dan menuduhku sebagai pembunuh, Mereka terlalu sibuk dengan persaan kehilangan mereka masing-masing sampai mereka tidak tau bahwa aku sama hancurnya dengan mereka, Aku Ibu nya, Aku yang melahirkan anak ku bertaruh nyawa karena orang yang sama, Aku yang merawatnya siang dan malam, Bagaimana bisa mereka menuduhku sebagai pembunuh dan tidak menyayangi anak ku, Padahal tragedi itu terjadi karena perbuatan seseorang dari masalalu suamiku, Tapi kenapa aku yang di salahkan bahkan mereka tidak mengizinkan ku melihat anak ku untuk yang terakhir kalinya" Sesak sangat sesak dada Nara terasa sesak namun juga lega karena sudah menceritakan apa yang ia pendam selama ini.


Nara menangis meraung-meraung keadaan nya saat ini terlihat sangat hancur, Nara menyalahkan dirinya sendiri atas apa yang terjadi kepada Kai, Dokter Lyly sudah tidak bisa lagi membendung air matanya, Dokter Lyly berdiri dan membawa tubuh Nara dalam pelukannya mereka menangis bersama.

__ADS_1


"Maafkan Bunda Kai maafkan Bunda, Tolong maafkan Bunda Kai" Racau Nara terus menerus tiada henti, Dokter Lyly memanggil salah satu perawat dan meminta perawat untuk menyuntikan obat penenang untuk Nara.


flashback off


__ADS_2