
Langit sudah mencari Nara kesana kemari namun tak kunjung ketemu, Namun Langit masih belum putus asa walau hari sudah mulai malam, Langit juga meminta bantuan kepada Bara dan Evan untuk membantunya mencari Nara, Namun hasilnya juga sama mereka belum menemukan Nara.
Sudah ribuan kali Langit menghungi Nara tapi nomor Nara tidak aktif, Langit juga sudah mencari tempat-tempat yang biasa Nara datangi tapi tetap tidak ada, Langit juga menemui dokter Lyly untuk menanyakan apakah dokter Lyly tau keberadaan Nara namun hasilnya nihil dokter Lyly tidak tau keberadaan Nara.
"Ra kamu dimana?" Beo Langit lirih.
"Jangan pergi Ra Mas mohon!" sambung Langit lagi.
Jam sudah menunjukan pukul 01:00 tapi Langit masih belum menemukan keberadaan Nara, Langit sudah hampir menyerah untuk mencari Nara, Langit melajukan mobil nya ke rumah orangtuanya.
Sampai di rumah orangtua nya Langit turun dari mobil dan masuk kedalam rumahnya dengan lesu, Langit tidak tau harus mencari Nara kemana lagi karena itulah mampir kerumah orangtuanya untuk mengustirahatkan tubuhnya sejenak.
Langit masuk kedalam kamarnya dan menutup pintunya rapat, Wangi Vanila menusuk indra penciuman nya saat masuk kedalam kamar, Wangi yang mengingatkan Langit akan Nara karena Nara sangat menykai wangi Vanila.
Langit merebahkan tubuhnya, "Mas kangen Ra, Maafin Mas Ra"
"Jangan pergi Ra, Mas ga bisa hidup tanpa kamu" Racau Langit satu tetes air matanya menetes.
Tok tok tok pintu kamar Langit di ketuk dari Luar, Nyonya Lingga masuk kedalam kamar Langit, "Langit kamu disini nak?"
"Kamu kenapa Langit, Kenapa kamu menangis?" Tanya Nyonya Lingga duduk di samping Langit.
Langit mengangkat kepalanya dan tidur di pangkuan Nyonya Lingga, "Langit bodoh Mi, Langit sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal" Ucap Langit dalam pangkuan Nyonya Lingga.
Nyonya Lingga mengelus kepala anak nya sayang, "Kesalahan apa yang kamu perbuat sampai membuatmu sesedih ini Langit?" Tanya Nyonya Lingga dengan nada pelan.
"Mami, Kenapa Langit menangis" Tanya Tuan Kana yang baru datang.
"Mami juga ga tau Pi" Jawab Nyonya Lingga memalingkan wajahnya menatap Tuan Kana.
"Cerita sama Mami Langit kesalahan apa yang kamu lakukan sampai membuatmu seperti ini?"
__ADS_1
"Langit bodoh Mi Langit bodoh, Kenapa Langit bisa sebodoh itu menyakiti Nara sampai membuat Nara pergi meninggalkan Langit" Ungkap Langit penuh sesal.
"Apa maksud mu Langit, Pergi...Nara pergi kemana Langit?" Tanya Nyonya Lingga penasaran.
"Selama ini kita salah Mi, Nara bukan pembunuh, Nara sangat menyayangi Kai, Nara juga sama hancurnya dengan kita karena kehilangan Kai, Bahkan Nara lebih hancur dari kita sampai membuat mentalnya terganggu dan berakhir membuat Nara mengidap PTSD" Jelas Langit yang mana selalu mambuat hatinya merasa sakit setiap mengatakan apa yang terjadi kepada Nara.
Tangan Nyonya Lingga berhenti mengelus kepala Langit, Nyonya Lingga dan Tuan Kana diam seperti patung mencerna ucapan Langit sekali lagi karena takut salah dengar.
Dan saat mendengar tangisan Langit yang begitu pilu setelah menceritakan semuanya barulah mereka sadar jika mereka tidak salah dengar.
Air mata Nyonya Lingga sudah mengalir, Mengingat bagaiman ia menampar Nara waktu itu dan menuduhnya sebagai pembunuh, Nyonya Lingga menangis sejadi-jadinya Tuan Kana mendekati istrinya dan membawanya kedalam pelukannya.
Suara tangis penyesalan mereka memenuhi kamar Langit, Namun tangis mereka kini sudah tidak berati apa-apa karena nyatanya Nara sudah pergi jauh dari kehidupan mereka semua.
•
•
•
•
Keluar dari bandara Nara menaiki taksi menuju tempat yang belum sempat ia datangi bersama Kai yaitu Danau Thun, Salah satu danau terindah di negara Swiss dan tempat dimana Dirinya dan Langit bertemu pertama kali.
Empat jam menempuh perjalanan dari bandara akhirnya Nara sampai di Danau Thun, Nara turun dari mobil menarik kopernya menuju pinggir danau, Nara menarik nafas dalam-dalam dan memejamkan matanya.
Menghirup udara yang begitu segar dan mengingat kenangan-kenangan nya bersama Langit di danau ini, membayangkan hal itu air mata Nara menetes melalui sudut matanya.
"Mas Langit aku rindu" Ucap Nara lirih.
Bak seperti mantra suara Nara terdengar sampai di kuping Langit yang mana membuat Langit membuka matanya dan mencari-cari keberadaan Nara.
__ADS_1
"Nara sayang kau sudah kembali" Langit mencari Nara di dalam kamar dan di kamar mandi namun tidak ada.
"Nara sayang" Panggil Langit lagi.
Langit benar-benar mendengar suara Nara yang mengatakan rindu kepadanya, Langit yakin Langit tidak salah dengar, Langit berlari menuruni Tangga memanggil-manggil nama Nara.
"NARA SAYANG, NARA KAMU DIMANA SAYANG" Teriak Langit mengelilingi rumah mencari keberadaan Nara seperti orang gila.
"Langit Langit apa yang sedang kamu lakukan Nak" Nyonya Lingga mengejar Langit.
"Langit berhenti Nara tidak ada di rumah ini" Tuan Kana juga ikut mengejar Langit yang mencari Nara kesana kemari sampai ke taman belakang.
"Tidak Mi Pi Nara disini Langit mendengar suaranya tadi" Jawab Langit masih mencari Nara.
Tuan Kana berhasil menarik tangan Langit dan menghentikan nya, "Sadar Langit sadar, Nara tidak ada disini" Ucap Tuan Kana meyakinkan Langit.
nyonya Lingga sudah menangis sesenggukan melihat anak nya yang seperti orang gila mencari Nara kesana kemari, Melihat Langit yang kebingungan mencari Nara saja membuat Nyonya Lingga sakit sedemikian rupa lalu bagaiman Nara yang melihat langsung anak nya yang mati tepat di depan matanya dan bagai mana bisa dirinya menuduh Nara tidak menyayangi Kai, Sungguh kejam perlakukannya kepada Nara selama ini.
"Langit sadar Nak, Nara tidak ada disini" Nyonya Lingga membawa Langit dalam pelukannya.
"Nara benar pergi dari Langit Mi, Langit tidak bisa hidup tapa Nara Mi" Racau Langit dalam pelukan Nyonya Lingga.
Tuan Kana tak kuasa melihat anak dan istrinya menangis, Tuan Kana memeluk mereka bertiga erat-erat, Tuan Kana juga menyesal karena sudah membenci menantunya padahal menantunya adalah wanita yang paling baik yang pernah ia kenal.
Di Danau Thun Nara duduk di kursi yang di sediakan di sekitaran danau, Nara mengeluarkan foto Kai yang selalu ia bawa kemana-kemana selama ini, Nara menghadap kan foto Kai ke danau.
"Lihat Nak Bunda menepati janji Bunda membawamu ke danau Thun" Suara Nara terdengar parau.
"Danau nya indah kan Nak, Dulu Ayah dan Bunda pertama kali bertemu di danau ini dan akhirnya Ayah dan Bunda jatuh cinta" Nara menceritakan kisah pertama kali dirinya bertemu Langit.
"Bunda merasa lega karena sudah bisa menepati janji Bunda membawa mu ke danau ini walau hanya bersama fo..fotmu" Suara Nara tenggelam dalam tangis.
__ADS_1
Nara menangis tersedu-sedu mendekap foto Kai, Beberapa orang yang lewat menatap heran Nara yang menangis sendirian, Nara sengaja datang ke danau itu terlebih dahulu sebelum pergi ketempat yang lebih jauh untuk menepati janjinya membawa Kai ke danau itu walau hanya bersama foto Kai saja dan tidak dengan orangnya.