
hari weekend Nara di sibukan dengan memilihkan baju Langit dan Kai untuk menghadiri tasyakuran anak ke dua Bara dan Rumi, Nara memilihkan warna yang senada untuk Langit dan Kai.
Nara menghampiri Langit yang sedang mengajari Kai memanah di taman belakang, Belakangan ini Kai sangat menyukai olahraga memanah karena itu lah Langit membuatkan arena khusus memanah untuk Kai di taman belakang.
Kai begigu gembira saat Ayah nya membuatkan arena memanah untuk nya, Bahkan Kai sampai memberikan Langit banyak ciuman dan ucapan terimakasih, Bagi Langit kebahagiaan Kai adalah yang nomor satu oleh karena itu Langit selalu berusaha membuat Kai bahagia.
"Sudah selesai belum latihan memanahnya?" Tanya Nara yang kini sudah berdiri di samping Langit.
Kai dan Langit menengok ke arah Nara "Sedikit lagi Bun" Jawab Kai menatap Nara.
"Oke, Setelah ini mandi dan ganti baju ya sayang, Kita mau pergi kerumah adik Anggel" Nara mengelus rambut Kai, Anggel adalah anak pertama dari Bara dan Rumi.
Kai mengangguk mengerti kemudian melanjutkan latihan memanahnya, Langit tersenyum melihat anak panah Kai melesat tepat sasaran.
"Luar biasa nak tepat sasaran, Kamu hebat" Puji Langit memberikan tepuk tangan untuk Kai.
Nara juga bertepuk tangan mengapresiasi kemampuan Kai "Anak Bunda hebat" Nara mengacungkan jempolnya untuk Kai.
"Terimakasih Ayah Bunda" Balas kai tersenyum kepada Ayah Bunda nya.
"Sudah selesaikan, Ayo Ayah Kai masuk dan mandi kalian sudah bau matahari" Ucap Nara menutup hidung berpura-pura seolah Langit dan Kai memang bau.
Langit dan Kai saling pandang dengan menaik turunkan alis mereka memberi isyarat dan setelah itu mereka berdua memeluk Nara yang masih menutup hidung nya.
"Ampun ampun Bunda geli" Teriak Nara dengan tawa geli karena Kai dan Langit menggelitikinya.
"Bagaimana sayang apakah masih mau bilang jika kami bau?" Tanya Langit masih menggelitiki Nara.
"Ampun Mas ampun" Mohon Nara ia benar-benar tidak kuat dengan gelitikan Kai dan Langit.
"Hahaha muka Bunda lucu" Kai menunjuk wajah Nara yang memerah.
Nara membalas menggelitiki Kai, Kai berlari menghindari kejaran Nara, Melihat hal itu Langit ikut dalam mengejar Kai dan mereka saling menggelitik.
Setelah merasa puas bermain mereka bertiga masuk ke dalam rumah, Nara mengantar Kai masuk ke kamar nya dan langsung meminta Kai untuk mandi, Nara menunggu Kai selesai mandi dan membantu nya menggunakan baju koko berlengan pendek, Nara sengaja memilih baju berlengan pendek agar Kai tidak merasa kegerahan di acara nanti.
__ADS_1
"Kai tunggu di bawah dulu ya, Tunggu Ayah sama Bunda" Perintah Nara dan di angguki Kai.
"Oke Bunda" Jawab Kai, Setelah itu Kai turun ke bawah menunggu Ayah dan Bunda nya di kamar bawah, Kamar tempat Kai bermain sehari-hari.
Selesai dengan Kai Nara masuk ke kamar nya di lihatnya Langit baru selesai mandi, Nara membantu mengambilkan baju Langit dan juga membantunya memakaikan baju, Proses membantu Langit memakai baju tidak cepat selesai karena Langit yang selalu mengganggu Nara.
"Mas udah dong ga selesai-selesai ini" Kesal Nara karena Langit menciuminya terus dan membuat Nara sulit untuk mengancingkan baju Langit.
"Kenapa?, Mas kan ga ngapa-ngapain!" Balas Langit masih menciumi Nara.
"Ini apa?, Dari tadi cium-cium terus!" Nara sedikit mendorong pundak Langit agar berhenti menciumnya.
"Ga ada ko, Orang Mas cuma nempelin bibir Mas di pipi kamu aja ko" Senyum Langit merasa tidak bersalah.
"Sama saja itu Mas" Nara kembali berusaha mengancingkan baju koko Langit namun tetap gagal.
"MAS" Kesal Nara menatap Langit tajam.
Langit yang di tatap tajam Nara hanya tersenyum menunjukan gigi putihnya,"Iya deh Mas janji ga ganggu lagi" Janji Langit menaikan dua jarinya.
Mereka semua sudah siap, Mereka sudah dalam perjalanan ke rumah Bara dan Rumi, Tasyakuran anak ke dua Bara di lakukan pada siang hari di hari weekend.
Bara juga mengundang anak-anak panti asuhan, Jika kedua sahabat sudah memiliki anak, Lain hal dengan Evan dan Alana yang sampai saat ini belum memiliki anak.
Bara menepati janjinya menerima Alana apa adanya, begitupun kedua orangtua Evan, Mereka benar-benar menerima Alana dalam keluarga mereka bahkan Nyonya Julia sangat menyayangi Alana.
Evan dan Alana sudah datang lebih dulu dari Langit dan Nara, Alana sedang memangku baby Ilzan anak kedua Bara dan Rumi, Satu tetes air mata Alana jatuh tanpa sengaja saat melihat tubuh mungil nan menggemaskan baby Ilzan.
Evan yang sedari tadi memperhatikan istrinya mendekatinya dan menepuk pelan pundak Alana Mersakan tepukan di pundaknya buru-buru Alana menghalus air matanya.
"Baby Ilzan lucu ya yang" Ucap Evan sengaja tidak menayakan kenapa Alana menangis, Karena tanpa di tanya pun Evan sudah tau jawaban nya.
"Iya Kak lucu, Aku gemes deh kak pengen bawa pulang" Alana menjawab dengan senyum di wajahnya.
"Kita culik aja gimana yang, Mumpung Papi Mami nya ga ngeliatin" Canda Evan yang berhasil membuat Nara tertawa.
__ADS_1
"Ih kaka ini nanti kalo kita di laporin ke polisi gimana?" Alana meladeni candaan Evan.
"Ya makanya kita jangan sampai ketahuan yang" Balas Evan Lagi.
Mendengar jawaban Evan yang semakin ngawur Alana mencubit pinggang Evan, "Ngawur aja kamu kak" Alana kembali tertawa.
Evan yang melihat tawa istriny sudah kembali merasa lega, Evan sering kali mendapati Alana yang menangis diam-diam. karena belum juga hamil tidak jarang juga mendengar Alana menyalahkan dirinya sendiri, Dan saat tanpa sengaja Alana kepergok Evan sedang menangis di depannya Evan tidak pernah menanyakan alasan kenapa Alana menangis, Evan lebih memilih untuk langsung membawa Alana jalan-jalan agar perasaan Alana kembali senang.
Para tamu undangan sudah datang, Mereka semua berkumpul dan memulai acara tasyakuran anak ke dua Bara, Bayi laki-laki yang menggemaskan kan itu di beri nama Rasyi Ilzan Nugraha, Nugraha adalah marga dari keluarga Bara.
Langit dan Nara membiarkan Kai bermain dengan anak-anak panti, Kai pun mudah berbaur dengan anak-anak panti dan merasa senang mendapat teman baru, Langit dan Nara selalu mengajarkan Kai untuk tidak memilih-milih teman siapa pun itu dan Kai berhasil menerapkan itu.
Terilihat dari Kai yang tidak merasa marah saat berbagi makanan dengan anak-anak panti, Kai justru merasa senang melakukan hal itu, Nara dan Langit membiarkan Kai bermain namun tetap dalam pengawasan mereka.
"Yang ayo yang kita bawa pulang baby Ilzan mumpung masih tidur" Bisik Evan di kuping Alana.
Alana menatap tajam Evan "Kak jangan becanda deh" Beo Alana tak percaya dengan ucapan Evan.
"Kaka ga bercanda sayang, Ayo kita bawa pulang, Kasian ini anak punya Papi kaya Bara"
"Ayo yang kita lewat pintu belakang sa.."
Plakkk....Suara tepukan di punggung Evan terdengan cukup kuat dan menyakitkan membuat Evan tidak dapat menyelesaikan ucapan nya, Pelakunya adalah Bara ayah dari baby Ilzan.
"AWW SAKIT BEGO" Teriak Evan kesakitan mengelus punggungnya yang terasa panas.
"Sukurin" Bara menatap tajam Evan "Ngapain Lu ngajak bini Lu buat nyulik anak Gue, Segala ngatain kasian anak Gue punya Papi kaya Gue lagi" Emosi Bara, Namun tidak benar-benar emosi.
Bara yang memang duduk di samping Evan mendengar jelas apa yang Evan bisikan pada Alana, Awalnya Bara tersenyum mendengar ide gila Evan yang menurutnya Lucu namun saat mendengar kata terakhir Evan seketika Bara berdiri dan sengaja menepuk pundak Evan kuat.
Evan tertawa memerkan gigi rapihnya "Becanda Bar becanda" Seru Evan.
Semenjak menikah dengan Alana Evan menjadi orang yang berbeda, Evan sekarang menjadi orang yang menyenangkan dan suka bercanda, Evan melakukan semua itu demi Alana agar ia selalu bisa menghibur Alana dengan candaan nya saat ia sedang merasa sedih, Secinta itu Evan kepada Alana sampai mau melakukan apalun demi Alana.
Langit, Nara, Rumi dan Alana hanya menggeleng-gekeng kan kepalanya melihat dua manusia yang tidak lagi muda itu saling mengejek.
__ADS_1