
Nara dan Julian ikut mengantar Langit ke Bandara, Selama di perjalanan pun berulang kali Nara memohon kepada Langit untuk tidak pergi namun tetap saja permohonannya tidak di dengarkan Langit.
Sedangkan Langit hanya tersenyum sembari bercanda dengan Julian menanggapi permohonan Nara yang memintanya untuk tidak pergi, Sudah berulangkali juga Langit mengatakan kepada Nara jika mimpinya tidak akan menjadi kenyataan dan memintanya untuk tidak terlalu khawatir tapi semua itu sama saja, Tidak dengarkan oleh Nara.
Mereka sudah sampai di Bandara Rendy membawa koper Langit dan juga kopernya menuju tempat khusus yang ada di Bandara, Kali ini Rendy akan ikut ke Lombok bersama tim yang lainnya.
"Daddy pergi dulu ya sayang, Jangan buat Mommy susah oke" Pamit Langit pada Julian dan memeluk nya.
"Oke Daddy Julian janji tidak akan menyusahkan Mommy selagi Daddy pergi" Janji Julian membalas pelukan Langit.
"Oh jagoan Daddy sudah pintar sekarang" Langit dan Julian bertos ria.
Langit melirik Nara yang masih belum sepenuhnya merelakan dia pergi, Langit berdiri dari jongkok nya karena tadi ia berjongkok untuk menyetarakan tingginya dengan Julian, Langit mengusap rambut Julian dan meminta Julian untuk bermain bersama Rendy.
Setelah itu Langjt menghampiri Nara, "Sayang, Kau masih memikirkan mimpi mu?" Langit mengusap pipi Nara lembut.
Nara mengangguk matanya terlihat sayu karena kurang tidur, "Sayang dengerin Mas ya, Mas janji Mas akan hati-hati disana dan akan selalu ngasih kabar, Jadi kamu jangan khawatir ya, Dan soal mimpimu, Itu hanya sebuah mimpi sayang tidak akan mungkin menjadi kenyataan hmm" Untuk kesekian kalinya Langit mencoba memberi pengertian kepada Nara agar ia tidak merasa khawatir lagi.
"Mas harus tepatin janji Mas, Dan Mas harus janji kalau Mas akan pulang dengan selamat" Nara menaikan kelingkingnya meminta Lanjt berjanji.
Langit tersenyum kemudian mengaitkan kelingkingnya ke kelingking Nara, "Iya sayang Mas janji Mas akan pulang dengan selamat, Dan kalaupun Mas ga bisa nepatin janji Mas untuk pulang dengan selamat kamu tetap harus melanjutkan hidupmu dan maafkan Mas karena Mas tidak bisa menepati janji Mas" Ucap Langit kata-kata itu keluar dari mulut Langit dengan sendirinya.
Mendengar kata-kata Langit ntah mengapa hati Nara begitu sakit dan sesak, Nara menengadahkan kepalanya ke atas agar air matanya tidak jatuh namun kata selanjutnya dari Langit membuat pertahanan nya hancur.
"Titip cinta Mas ya sayang kalau seandainya Mas ga bisa pulang dengan selamat, Jadilah wanita yang kuat dan tangguh yang tetap berdiri kokoh walau badai kesedihan menerpamu, Terimaksih sudah menjadi cinta terakhir Mas dan maaf untuk semua kesalahan Mas yang pernah menyakitimu" Tumpah sudah air mata Nara yang sudah susah payah ia tahan agar tidak keluar.
Nara benci Nara tidak suka dengan kata-kata Langit, Nara memukul dada Langit berulang-ulang kali menumpahkan kekesalannya, "Mas jahat, Kenapa Mas berbicara seperti itu, Mas pasti kembali jadi jangan pernah berbicara seperti itu, Aku ga suka!".
Langit membiarkan Nara memukulnya tanpa berniat menghentikannya, "Yang namanya umur kan ga ada yang tau sayang" Jawab Langit membuat Nara memukul dada Langit cukup keras dan berhenti.
"Iya aku tau itu Mas, Karena itu aku akan berdoa kepada Tuhan untuk berbelas kasih kepadaku dengan memanjangkan umur mu agar selalu bisa bersama ku" Balas Nara menatap Langit.
Senyum Langit terbit sepertinya ia jatuh cinta lagi lagi dan lagi kepada Nara setelah Nara mengatakan hal itu, Langit membawa Nara kedalam pelukannya, "Mas sayang banget sama kamu Ra, Mas beruntung bisa milikin kamu di hidup Mas"
Petugas Bandara masuk kedalam ruang tunggu memberitahukan jika pesawat sudah siap, Langit melepas pelukan Nara dan membawa wajah Nara menatap nya, "Mas pergi dulu ya sayang, Jangan Nangis lagi ya, Mas titip Julian Mas yakin kamu bisa menjadi Mommy yang hebat walau tanpa Mas disisi mu" Pamit Langit, Ntah apa maksud dari ucapan Langit yang terakhir Nara tidak tau.
Langit mencium seluruh wajah Nara dan saat ciuman Langit berhenti di bibir Langit sedikit lama mengecup bibir Nara, Hanya sebuah kecupan tidak lebih dan Nara juga menghirup aroma tubuh Langit seolah itu adalah terakhir kalinya mereka melakukan itu, Dengan berat hati Nara melepas kepergian Langit.
Air mata Nara kembali mengalir bersamaan dengan pesawat Langit yang mengudara, "Hati-hati Mas Langit, Cepatlah kembali aku menunggumu" Suara Nara mengudara bersama dengan Langit.
Membawa tangan Julian mereka keluar dari Bandara dan pergi meninggalkan Bandara bersama sopir yang mengemudikan mobilnya, Di perjalanan Nara masih menangis hati nya benar-benar tidak rela melepas Langit pergi, Julian memperhatikan Mommy nya yang masih menangis.
"Mom Are you okay?" Suara Julian membuat atensi Nara yang fokus menatap jalanan beralih kepada Julian.
"No, Mom is not okay" Jujur Nara dengan air mata yang mengalir deras.
" it's oke Mommy, Jangan bersedih Julian besama Mommy" Julian memeluk Nara erat.
__ADS_1
Hari-hari terus berlalu sudah enam hari Langit berada di Lombok, Dan selama enam hari itu tidak terjadi apa-apa kepada Langit, Langit dalam keadaan baik-baik saja tanpa kurang satu apapun dan hal itu membuat Nara bernafas lega dan secara perlahan melupakan mimpi nya waktu itu.
Langit menepati janji nya untuk menghubungi Nara terus, Pagi siang sore dan malam Langit menghubungi Nara memberinya kabar jika ia baik-baik saja, Sampai tiba saat nya hari terakhir Langit di Lombok, Langit menghubungi Nara lewat sambungan Vidio.
"Hallo sayang" Sapa Langit saat sambungan vidio terhubung.
"*Hallo Mas"
"Daddy Julian rindu*" Suara Julian berteriak mengatakan rindu membuat Langit tersenyum senang.
"Daddy juga rindu, Sabar ya sayang besok Daddy pulang"
"Benarkah Dad, Yeyy Daddy pulang" Julian bersorak gembira Nara mengalihkan kamera belakang agar Langit bisa melihat Julian yang melompat kegirangan.
Langit tertawa melihat Julian yang begitu senang mendengar kabar kepulangan nya, Nara mengalihkan kamera depan sehingga wajah nya yang berada di layar ponsel Langit, "Mas besok terbang jam berapa?"
"Jam tuju malem sayang"
"Oh, Hari ini Mas ga ada kerjaan?"
"Ada sayang, Mas habis ini mau ke proyek untuk pengecekan terakhir sebelum Mas kembali ke kota malam ini" Jelas Langit, Proyek Langit berada di sebuah desa yang cukup jauh dari kota Lombok, Karena itu sebelum ia kembali ke kota ia harus memastikan jika peoyeknya berjalan dengan lancar sebelum ia kembali satu bulan lagi.
"Ya sudah Mas hati-hati ya, Jangan lupa helm poroyeknya di pakai saat Mas masuk area proyek" Pesan Nara kepada Langit.
"Pasti sayang, Terimakasih sudah mengingatkan"
"Mas ngomong apa sih aku ga suka" Omel Nara menatap Langit tidak suka.
"Maaf ya sayang kakau kata-kata Mas bikin kamu kesel" Langit tersenyum tanpa dosa padahal tubuh Nara sudah bergetar mendengar ucapan Langit tadi, Ketakuatannya akan mimpinya waktu itu datang kembali, "Yasudah Mas pergi dulu ya sayang, Rendy sudah datang, I Love You Naraya Jasmine Damara" Setelah itu sambungan vidio terputus tanpa sempat Nara membalas ungkapan cinta Langit.
"I Love You Too Mas, I Love You Too, Kembalilah dengan selamat" Balas Nara walau Langit tidak dapat mendengarnya lagi.
Meletakan nya ponselnya tiba-tiba saja air mata Nara mengalir dengan sendirinya, Ia benar-benar merasa takut jika terjadi sesuatu kepada Langit, "Ya Tuhan aku mohon jaga suamiku dimana pun dia berada, Lindungi dia dan kembalikan dia kepadaku Tuhan" Doa Nara tulus dari hatinya.
Di tempat lain Langit dan Rendy sudah sampai di parkiran proyek pembuatan Rumah Sakit terbesar di desa itu, Langit turun dari mobil dengan membawa helm proyek di tangannya.
Sampai di lokasi proyek Rendy langsung naik ke lantai atas dan Langit di lantai satu bersama kontraktor dan arsitek, Langit mendengarkan apa yang di jelaskan oleh arsitek tentang bangunan mereka hingga sebuah goncangan hebat menggoncang tanah yang Langit pijaki.
Para pekerja proyek berhamburan keluar bangunan untuk menyelamatkan diri karena gempa dahsyat menggoyang tanah desa tersebut, Begitupun dengan Langit namun sayang seribu sayang dahsyatnya gempa tersebut merobohkan bangunan Rumah Sakit itu sebelum Langit berhasil menyelamatkan diri.
Tubuh Langit hilang bersama runtuhnya bangunan tersebut yang sudah hancur lebur, Di waktu yang sama foto pernikahan yang tergantung indah di ruang keluarga rumah Langit dan Nara terjatuh dah pecah, Nara yang kebetulan ada di ruang tersebut berjingkat kaget, Dada nya tiba-tiba terasa sesak melihat foto yang terjatuh, Fikirannya langsung tertuju pada Langit.
Gempa dahsyat itu berlangsung selama lima menit namun mampu menghancur lebur kan desa itu, Rendy yang berhasil selamat mencari-cari Langit namun ia tidak menemukannya, Ia berteriak memanggil nama Langit, Rendy melihat arsitek yang tadi bersama Langit dan mendekatinya.
"Diamana Tuan Langit?" Tanya Rendy dengan keadaan nya yang berantakan.
"Tu-Tuan Langit belum sempet menyelamatkan diri, Di-dia ada disana" Tunjuk arsitek itu pada bangunan yang runtuh karena ia melihat dengan mata kepanya sendiri bagaiman bangunan itu runtuh menimpa Langit.
__ADS_1
Seketika Rendy merasa lemas ia jatuh terduduk ia berteriak histeris, Di rumah bi Yani membereskan pecahan bingkai foto sedangkan Nara mencoba menghubungi Langit karena lerasaan nya mengatakan ada yang tidak beres, Saat sedang menghubungi Langit Tv nya yang menyala menampilkan sebuah berita gempa yang terjadi di desa tempat Langit berada, Ponsel Nara terjatuh air mata nya mengalir keluar melihat bangunan Ruamah Sakit peroyek suaminya Runtuh dan berita itu juga sudah Tuan Kana dan Nyonya Lingga lihat.
Tim medis dan tim Sar datang ke lokasi runtuhnya bangunan Rumah Sakit yang terkena gempa, Rendy turut membantu tim Sar untuk mencari Langit, Rendy seperti kesetanan mencari tubuh Langit.
Tuan Kana Langsung terbang ke Lombok untuk mencari anak nya, Karena beberapa saat lalu karyawan kantor yang selamat menghubunginya dan mengatakan jika Langit hilang tertimpa reruntuhan bangunan, Tuan kana menitipkan Nyonya Lingga di rumah Nara, Begitupun dengan Bara dan Evan mereka juga langsung terbang ke Lombok saat mendengar berita.
Tuan Damara tidak ikut ke Lombok karena ia harus berada di rumah untuk menjaga mereka semua jika terjadi sesuatu, Nyonya Anggie, Nyonya Lingga dan Vallerie berusaha menenangkan Nara yang menangis histeris setelah mendengar kabar jika Langit hilang tertimpa bangunan, Bahkan Nara sempat pingsan beberapa kali.
Mereka bertiga sudah sampai di lokasi dan langsung ikut mencari Langit, Berjam-jam mencari akhirnya tubuh Langit sudah di temukan namun sudah tidak lagi bernyawa, Keadaan Langit benar-benar parah tangannya patah, kaki nya patah dan kepalanya yang yang mengeluarkan banyak darah karena tertimpa sebuah besi.
Mereka semua yang melihat kondisi Langit terduduk lemas tak bertenaga, Evan dan Bara tidak bisa menahan air matanya melihat sahabatnya tergeletak tak benyawa dengan keadaan yang parah, Tim sar membawa jasad Langit ke tempat yang sudah di sediakan di ikuti mereka semua.
Seseorang menghungi Tuan Damara mengatakan jika Langit sudah di temukan namun sudah tidak bernyawa, Mendengar itu Tuan Damara langsung menatap Nara yang juga menatapnya, Seolah tau kabar apa yang Papa nya dengar Nara menggelengkan kepalanya, "Tidak Pa Tidak" Nara menangis histeris meraung-raung tidak percaya apa yang sedang terjadi sampai membuatnya jatuh pingsan.
Nyonya Lingga juga sama ia manangis histeris hati nya sakit sdan sesak anak semata wayang nya telah pergi, Tuan Kana membawa jasad Langit ke Rumah Sakit terdekat untuk mengurus kepulangan Langit ke Jakarta, Tuan Kana menangis tubuh nya lemas anak nya telah pergi namun ia harus tetap kuat.
Semua berjalan lancar jasas Langit sudah berada di pesawat dan siap di bawa pulang ke Jakarta, Mereka semua yang ada di pesawat menangis mereka tidak menyangka Langit akan lergi secepat itu, Terutama Langit dan Bara mereka berdua benar-benar kehilangan.
"Kenapa Lu ninggalin Gue Lang" Tangis Bara tak birasa ia bendung.
"Secepat itu Lu pergi Lang" Begitupun dengan Evan.
Pesawat mendarat sempurna di bandara, Jasad Langit langsung dibawa menuju rumah Langit, Di rumah Nara seperti orang tak punya semangat hidup ia mati untuk yang kedua kalinya, Lagi dan Lagi tragedi itu terjadi lagi di hidup Nara seolah Tuhan tidak membiarkan Nara hidup bahagia.
Jasad Langit tiba di rumah di sambut dengan tangis para pelayat, Nara bangkit untuk menjemput jasad suaminya, Kaki nya lemas tubuh nya limbung ia hampir ambruk jika Tuan Damara tidak menangkapnya saat melihat jasad Langit.
Jasad Langit di letakan di tempat yang di sediakan tubuh Nara ambruk memeluk Langit, "Mas bangun, Mas bangun, Jangan tinggalin aku" Tangis Nara memeluk jasad Langit.
"Aku mohon Mas bangun, Mas sudah berjanji untuk tidak meninggalkan ku, Ayo Mas bangun, Aku tidak sekuat itu untuk kau tinggalkan" Teriak Nara pilu dada nya begitu sesak dan sakit.
Ntah bagaimana lagi Nara melanjutkan hidupnya setelah ini setelah seluruh dunia nya hilang dari hidupnya, Nara menangis histeris tangisnya memilukan hati semua orang, Julian yang berada dalam gendongan Rendy pun sama menangis nya ia tau jika Daddy nya telah tiada.
Alana dan Rumi membawa tubuh Nara yang sudah setengah sadar dan memeluknya karena jasad Langit akan di mandikan dan di sholatkan, Jasad Langit selesai di sholatkan kan dan siap di bawa ke pemakaman, Mereka semua ikut mengantarkan Langit ke peristirahatan terakhirnya.
Hujan tiba-tiba turun dengan deras saat mereka semua baru keluar pagar rumah seolah langit ikut bersedih akan kepergiannya, Proses pemakaman tetap berlanjut walau hujan deras mengguyur mereka, Tuan Kana dengan tangisnya mengazankan Langit untuk yang terakhir kalinya
Tubuh Nara ambruk saat tanah mulai menutupi jasad Langit, "MAS LANGIT, MAS LANGIT JANGAN TINGGALIN AKU" Jerit Nara histeris Rumi dan Alan memeluk Nara dengan tangis mereka.
Selesai semua selesai, Kisah Langit dan Nara telah usai, Langit pergi meninggalkan Nara sendirian dengan dunianya yang hancur, Nara terkurung dalam dunia kehancuran yang ia terima sebagai takdirnya.
Setelah kepergian Langit yang memberikan luka terhebat di hidupnya Nara menutup diri dan hatinya rapat-rapat, Tidak ada lagi Nara yang selalu ceria, Tidak ada lagi seyum di bibir Nara semua hilang bersama kepergian Langit.
Alasan Nara bertahan hidup setelah kepergian Langit adalah hanya untuk keluarganya dan juga keluarga Langit, Nara ingin menepati janjinya kepada Langit untuk tetap berdiri kokoh sekalipun badai menerpa walau sebenarnya dirinya sudah hancur berkeping-keping.
THE END.
NOTE : Semua yang ada di dunia ini hanyalah titipan Tuhan yang sewaktu-waktu bisa Tuhan ambil kembali tanpa memberitahukan mu terlebih dulu, Tetaplah kuat dan Tetaplah sabar jika sesuatu yang berharga darimu di ambil oleh Tuhan, Karena semua yang hidup di dunia ini pasti akan kembali ke penciptanya.
__ADS_1
Selesai sudah kisah SENANDUNG PILU terimaksih untuk semua yang sudah mengikuti cerita ini, Author tidak akan bisa menulis cerita ini sampai selesai jika bukan karena dukungan kalian, Sekali lagi Author mau ngucapin terimakasih yang sebanyak-banyak nya dan sampai jumpa lagi di cerita selanjutnya😇