Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 54


__ADS_3

Malam telah datang setelah selesai makan bersama tadi Tuan Kana dan Nyonya Lingga pergi ke hotel karena apartemen Nara hanya memiliki dua kamar dan tidak muat jika mereka menginap di apartemen Nara, Yang satu adalah kamar dirinya dan yang satu adalah kamar Vallerie.


Sebelum pergi tadi Nyonya Lingga memeluk Nara dan menciumi Nara berkali mengatakan jangan pernah pergi lagi dari mereka, Nara membalas pelukan Nyonya Lingga dan berjanji jika ia tidak akan pergi lagi.


Tuan Damara dan Nyonya Anggie tidur bersama Nara dan Julian, Mereka tidak mau menginap di hotel karena mereka ingin tidur bersamaa putri mereka, Mereka akan menebus waktu yang hilang selama Nara pergi.


Nara menambahkah satu kasur karena kasurnya tidak muat untuk di tiduri mereka berempat, Julian sudah tidur dengan nyenyak sejak satu jam yang lalu dengan terus menggenggam tangan Nara, Hal itu menjadi kebiasaan Julian setiap tidur dan Nara tidak pernah keberatan untuk hal itu.


"Kenapa selama kamu pergi kamu ga pernah menghungi Mama Nara?" Tanya Nyonya Anggie yang tidur memeluk Nara.


"Nara pernah merasa sangat rindu dengan kalian semua dan ingin menghubungi kalian, Namun rasa bersalah Nara karena sudah membuat cucu kesayangan kalian pergi Nara mengurungkan niat Nara dan hanya menyimpan kerinduan Nara, Apalagi mengingat ucapan Mas Langit yang meminta Nara pergi itu semakin membuat Nara takut untuk menghungi kalian" Jawab Nara satu tetes air matanya mengalir dari sudut matanya.


Mendengar jawaban Nara Nyonya Anggie semakin mengeratkan pelukan nya, Tangan Tuan Damara yang tidur di samping istrinya terulur untuk mengusap kepala Nara.


"Maafin Mama ya sayang, Mama benar-benar minta maaf atas kesalahan Mama dan Papa, Dulu Mama pernah bilang jika kamu gagal menjadi seorang ibu tapi apa kau tau sayang" Nyonya Anggie menjeda ucapan nya, Nara menatap langit-langit kamar nya mengingat ucapan Mama nya dulu.


"Bukan kamu yang gagal menjadi ibu, Tapi Mama yang gagal, Mama gagal menjadi ibu yang baik untuk anak Mama, Mama gagal menjadi ibu yang seharusnya ada untuk anak nya saat anak Mama membutuhkan Mama, Dan yang lebih buruk dari sebuah kegagalan Mama malah ikut menuduh anak Mama sebagai pembunuh, Mama gagal Mama jahat" Lanjut Nyonya Anggie yang sudah menangis, Hatinya merasa sakit mengatakan hal itu.


Nara juga menangis mendengar ucapan Nyonya Anggie, Ingatan tentang semua ucapan yang dulu Mama nya ucapkan kembali terngiang-ngiang di kepalanya, Nara memang tidak membenci orangtuanya namun tidak di pungkiri Nara tidak bisa melupakan setiap ucapan yang mereka semua ucapkan kepadanya dulu.


Nara mengangkat kedua tangannya untuk menutup wajahnya yang menangis, Suara isakan yang tertahan membuat hati Nara mau pun Tuan dan Nyonya Damara sakit, Nyonya Anggie hanya mampu memeluk Nara erat tanpa mencoba menghentikan tangis Nara.

__ADS_1


"Mommy" Rengek Julian karena tidak merasakan tangan Nara.


Nara buru-buru menghapus air matanya dan langsung membawa Julian dalam pelukan nya, "Mommy disini sayang" Nara menepuk-nepuk pundak Julian pelan.


Namun Julian masih terus merengek sampai membuatnya menangis, Nara berusaha menenangkan Julian dan berniat untuk menggendong nya hal yang selalu Nara lakukan jika Julian bangun dan menangis tengah malam.


"Boleh Papa yang gendong Ra" Beo Tuan Damara menghentikan Nara yang sudah mau berdiri.


Nara menatap Ayah nya dan mengangguk, Tuan Damara tersenyum dan mengambil Julian yang sedang menangis dalam pelukan Nara dan menggendongnya, Tuan Damara menimang Julian kesana kemari mencoba untuk membuat Julian tenang, Hal itu membuat Nara dan Nyonya Anggie merasa Dejavu.


Dulu Tuan Damara selalu melakukan hal yang sekarang ia lakukan kepada Kai, Nara seperti melihat bayangan Kai yang sedang di gendong Tuan Damara, Bayangan itu membuat Air mata Nara kembali menetes.


"Nara rindu Kai Ma" Cicit Nara pelan.


Nyonya Anggie mengeratkan pelukan nya, "Nanti kita pergi kerumah Kai sama-sama ya sayang" Nara mengangguk sebagai jawaban, Hatinya sesak karena sangat merindukan Kai.


Di hotel Langit sedang duduk di balkon yang ada di kamar nya, Pandangannya lurus kedepan dengan memikirkan bagaimana Nara menolak nya tadi, Hatinya masih sangat sakit dengan penolakan Nara namun ia harus menerimanya.


Langit tau kesalahan nya sangat fatal namun Langit tidak menyangka jika Nara sampai menolak kehadirannya, Padahal ia sangat ingin memeluk Nara tapi apa mau di kata Nara sudah sangat membencinya.


"Jangan benci Mas Ra, Karena Mas tidak akan sanggup untuk menerima kebencian mu" Suara Langit terdengar putus asa.

__ADS_1


Langit berdiri di pinggir balkon menarik nafas dalam-dalam menghirup udara malam kota Riga, Mencoba menghilangkan sesak di dadanya namun tidak bisa, Sesak di dadanya tidak bisa hilang membuatnya tanpa sadar meneteskan air mata.


Pagi telah datang dan Langit sudah berada di parkiran apartemen Nara, Langit sengaja datang pagi-pagi ke apartemen Nara karena ingin bertemu dengan Nara dan berharap Nara keluar apartemen.


Dua jam menunggu akhirnya senyum Langit terbit saat melihat Nara keluar bersama Julian, Langit menebak Nara akan mengantar Julian sekolah karena melihat Julian yang memakai seragam sekolah, Langit sudah tau siapa Julian dan Vallerie karena tadi malam Mami dan Papi nya sudah menceritakan semuanya kepadanya.


Langit mengikuti mobil Nara dari belakang, Sepuluh menit kemudian mobil Nara sudah sampai di sekolahan Julian, Nara turun dari mobil dengan menuntun Julian, Sampai di depan gerbang Nara berlutut di hadapan Julian.


"Julian sayang dengarkan Mommy, Belajar yang rajin ya sayang dan dengarkan penjelasan guru mu oke" Pesan Nara pada Julian.


"Oke Mom" Julian memeluk Nara dan Nara balas memeluk nya.


Dari dalam mobil Langit memperhatikan interaksi Nara dan Julian, Ia merasa Dejavu melihat apa yang Nara lakukan kepada Julian, Setelah Julian masuk Nara langsung pergi tujuan nya kali ini adalah ke supermarket untuk belanja keperluan apartemen nya apalagi sekarang ada orangtuanya di rumah maka dari itu Nara harus berbelanja banyak bahan makanan.


Langit mengikuti Nara dari belakang tanpa sepengetahuan Nara, Langit mengambil apa saja yang di ambil Nara, Langit ingin makan-makanan yang sama seperti yang Nara makan walau mereka tidak bisa makan bersama.


Langit asik mengambil apa yang Nara ambil sampai membuatnya tidak sadar jika Nara sudah tidak ada di depan nya, Langit mencari Nara kesana kemari namun tidak menemukannya sampai akhirnya Langit menyerah dan membayar belanjaan nya, Langit fikir mungkin Nara sudah selesai belanja dan pulang.


Namun kenyataan nya Nara masih ada di dalam supermarket itu dan sembunyi di balik pintu menuju ruang karyawan supermarket, Nara tidak mau bertatapan atau bertemu dengan Langit karena itu ia langsung bersembunyi saat menyadari jika Langit mengikutinya sedari tadi.


"Mas Langit maaf" Cicit Nara pada dirinya sendiri, Ia masih belum bisa menerima kehadiran Langit, Luka di hatinya karena Langit masih terbuka lebar membuat nya sulit menerima kehadiran Langit lagi.

__ADS_1


__ADS_2