
Langit pulang kerumah sebelum jam makan malam, Langit langsung menuju ke kamar Nara namun sebelum benar-benar pergi Langit menyapa Nyonya Anggie yang berada di ruang keluarga.
Langit masuk ke dalam kamar namun tak menemukan Nara, Langit mencari Nara di walk in closed saat baru membuka pintu Langit mendengar suara Nara sedang muntah-muntah dari arah kamar mandi, Buru-buru Langit menghampiri Nara, Nara memuntahkan semua makanan yang ia makan tadi siang.
"Sayang kamu kenapa?" Tanya Langit, Tangannya memijit tengkuk Nara pelan.
Langit tidak merasa jijik sama sekali bahkan Langit juga membersihkan mulut Nara dengan tangannya, Selesai dengan muntah nya Langit menggendong Nara membawanya ke kamar, Langit meletakan istri nya pelan-pelan.
"Sayang kenapa?" Tanya Langit lagi karena tadi belum mendapatkan jawaban dari Nara.
"Aku ga tau Mas tiba-tiba aku merasa mual, Kepala aku sakit, Badan aku juga lemes banget Mas" Jawab Nara, Wajah nya berubah pucat.
"Kita kerumah sakit ya sayang" Ajak Langit merasa khawatir dengan keadaan istrinya.
"Ga usah ya Mas, Aku takut nanti Mama khawatir" Tolak Nara halus, Langit hanya bisa pasrah dengan ucapan Nara.
"Kamu yakin sayang, Tapi wajah kamu pucat banget Mas ga tega liat nya" Jujur Langit sungguh ia tidak tega melihat wajah pucat istrinya.
"Ga papa Mas, Mungkin aku kecapekan aja, Seharian tadi aku jalan-jalan keliling Mall, Terus aku makan banyak banget sampe perut aku sakit dan muntah tadi, Sayang banget ya Mas makanan yang aku makan kebuang sia-sia" Jawab Nara di selingi candaan agar suaminya tidak merasa khawatir.
"Kamu ini ada-ada aja sayang" Langit mengelus kepala Nara sayang.
"Mas mandi gih, Mas bau asem tau" Perintah Nara, Tangan nya membuat gerakan menutup hidung seolah-olah Langit memang benar-benar bau, Hal itu ia lakukan agar suaminya tidak merasa khawatir.
"Kamu tu ya" Langit menjapit hidung Nara "Ya sudah Mas mandi dulu ya" Langit mencium kening Nara sebentar kemudian ia pergi mandi.
Langit bukan tidak tau jika keadaan istrinya sedang tidak baik-baik saja, Hanya saja Langit pura-pura mempercayai ucapan istrinya melihat bagaimana usaha istrinya untuk meyakinkannya.
Beberapa saat kemudian Langit sudah selesai mandi, Langit masuk kedalam kamar dan medekati istrinya yang sudah memejamkan matanya.
"Sayang" Panggil Langit, Tangannya menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah Nara.
"Hemm" Nara hanya menjawab dengan deheman, Nara benar-benar merasa pusing dan lemas.
"Makan dulu ya, Sayang belum makan malam kan?" Tanya Langit pelan.
__ADS_1
"Aku ga pengen makan Mas" Tolak Nara, Ia benar-benar tidak nafsu makan untuk saat ini.
"Sedikit saja ya sayang, Biar ga tambah sakit" Rayu Langit namun Nara tidak menjawab nya.
"Mas ambilin makan ya, Habis itu minum obat biar cepet sembuh" Langit masih belum menyerah agar Nara mau makan.
Nara menganggukan kepala nya sebagai jawaban nya, Langit mencium kening Nara kemudian ia turun kebawah untuk mengambilkan Nara makanan, Sampai di meja makan Tuan dan Nyonya Damara sudah menunggu mereka.
"Langit sendiri nak, Nara mana?" Tanya Nyonya Anggie melihat menantunya turun sendirian.
"Nara ada di kamar Ma, Nara males turun mau makan di kamar aja katanya, Makanya Langit turun mau ngambilin makanan untuk Nara Ma" Jawab Langit tidak memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya, Karena takut membuat Nyonya Anggie khawatir.
"Tumben Nara mau makan di kamar" Heran Nyonya Anggie.
"Sudah Ma biarin aja, Mungkin Nara memang pengen makan di kamar aja, Sudah Langit cepat kamu ambilin makanan untuk Nara dan untuk kamu juga" Ucap Tuan Damara, Langit mengambil makanan di bantu Nyonya Anggie dan membawa nya ke atas.
"Langit" Panggil Tuan Damara sebelum Langit meninggalkan ruang makan.
"Iya Pa" Jawab Langit.
"Baik Pa" Jawab Langit yang belum tau apa yang akan di bicarakan Ayah mertuanya, Fokus Langit sekarang ada pada istrinya yang menunggunya di kamar.
Langit sampai di kamar, Ia meletakan nampan yang berisi makanan di atas nakas samping ranjang, Langit membangunkan Nara "Sayang bangun, Mas sudah bawa makanan" Langit mengusap kepala Nara sayang.
Nara membuka matanya perlahan kemudian Langit membantunya untuk bangun, Langit menyuapi Nara dengan telaten ia tidak memperdulikan dirinya sendiri padahal ia juga sangat lapar karena dari siang Langit belum makan sama sekali.
"Mas makan juga ya" Nara mengambil sendok dari tangan Langit, Nara bergantian menyuapi Suaminya.
Nara juga tau jika suaminya pasti belum makan, Mereka berdua makan sepiring berdua, Selesai makan Langit memberikan obat untuk Nara yang memang sudah ada di dalam kamar mereka, Langit membaringkan Nara untuk tidur setelah itu ia pamit kepada Nara untuk menemui Tuan Damara sebentar.
Langit meninggalkan Nara di kamar, Ia turun ke bawah, Sebelum menemui Ayah mertuanya Langit meletakan piring kotor kedapur terlebih dahulu, Beru setelah itu ia menemui Ayah mertuanya yang sudah menunggu di ruang keluarga.
"Maaf Pa Langit lama" Ucap Langit setelah duduk berhadapan dengan Ayah mertuanya.
"Tidak apa-apa Nak" Tuan Damara mematikan ponselnya dan meletakan di atas meja.
__ADS_1
"Ada apa Pa?" Tanya Langit, Melihat dari raut wajah Ayah mertuanya sepertinya pembicaraan itu serius.
"Tadi Papa dengar dari cerita Mama katanya tadi di Mall ada yang nyiram Nara dengan minuman dan itu di sengaja, Apa kamu tau Langit siapa yang menyiram Nara?" Tuan Damara menatap Menantuanya serius, Tuan Damara sengaja belum memberitahukan siapa yang menyiram anak nya karena ingin tau apakah Nara sudah menceritakan kerjadian itu pada Langit atau belum.
"Tidak Pa" Jawab Langit penasaran, Langit mengepalkan kedua tangannya ia merasa marah istrinya di siram dengan sengaja.
Dan dugaan Tuan Damara benar Nara belum menceritakan kejadian tadi siang kepada Langit atau lebih tepatnya Nara tidak ingin memberi tahu langit, Karena takut Langit akan sangat marah kepada Sevanya dan terjadi hal yang tidak di inginkan.
"Sevanya mantan kekasih kamu yang sudah menyiram Nara" Tuan Damara memberi tahu siapa yang menyiram Nara.
Seketika Langit bangkit dari duduk nya, Tangan Langit mengepal kuat ia merasa sangat marah, Langit berniat akan mencari Sevanya saat ini juga dan akan memberikan balasan untuk Sevanya, Namun suara Ayah mertuanya membuatnya mengurungkan niatnya.
"Stop Langit jangan gegabah" Suara Tuan Damara menghentikan Langit.
"Duduk Nak" Pinta Tuan Damara pelan dan di turuti Langit.
"Jika kamu ingin membalas perbuatan wanita itu kamu bisa melakukannya nanti Langit, Bukankah Nara sedang membutuhkan mu sekarang" Tuan Damara menjeda ucapannya sebentar.
"Papa tidak perduli apa yang akan kamu lakukan pada wanita itu, Papa juga tidak akan melarang, Yang Papa mau mulai dari sekarang kamu harus menjaga Nara dengan baik-baik, Papa tidak mau kejadian seperti tadi terulang lagi, Jika kamu tidak sanggup untuk menjaga anak Papa biar Papa sendiri yang menjaganya" Pinta Tuan Damara sungguh-sungguh pada Langit.
Sebagai seorang Ayah tentu saja Tuan Damara merasa marah dan tidak terima anak nya di perlakukan seperti itu apalagi di tempat umum, Maka dari itu Tuan Damara meminta Langit untuk lebih lagi menjaga putrinya, Bukan berati Tuan Damara tidak bisa menjaga putrinya sendiri hanya saja Langit lah yang lebih berhak atas putrinya di banding dirinya.
"Baik Pa, Papa tenang saja Langit janji akan menjaga Nara dengan sangat baik, Langit pastikan kejadian tadi tidak akan terjadi lagi, Papa bisa pegang janji Langit" Ucap Langit bersungguh-sungguh.
"Papa percaya sama Langit, Tapi tolong jangan kecewakan kepercayaan Papa ya"
"Pasti Pa Langit janji"
"Ya sudah kamu kembali ke kamar kasian Nara di tinggal sendiri, Papa tau sesuatu sedang terjadi kepada istrimu kan" Tebakan Tuan Damara tepat sasaran, Sebenarnya Tuan Damara tau sedang terjadi sesuatu dengan putrinya saat Nara tidak turun untuk makan tadi.
"Iya Pa Langit ke kamar dulu" Pamit Langit sopan setelah itu Langit pergi meninggalkan Ayah mertuanya.
Langit bersumpah akan membalas perbuatan Sevanya hari ini kepada istrinya, Langit tidak terima istrinya di pelakukan seperti itu, Langit masuk kedalam kamar merebahkan tubuhnya di samping Nara dan memeluk nya erat hingga ia terlelap dalam tidur.
NOTE : Hasil dari kerja kerasmu tidak akan pernah menjadi sia-sia, Jadi tetaplah semangat.
__ADS_1