Senandung Pilu

Senandung Pilu
Episode 59


__ADS_3

Setelah menempuh perjanan yang memakan waktu berjam-jam akhirnya pesawat yang mereka tumpangi mendarat dengan sempurna di Bandara Internasional Soekarno Hatta, Mereka tiba di Indonesia saat siang hari di saat cahaya matahari bersinar terik siang ini.


Mereka bergantian turun dari pesawat, Langit menyembunyikan tubuhnya saat Nara akan keluar dari pintu pesawat, Tuan Damara yang ada di belakang Nara melirik ke arah Langit yang menundukan wajahnya.


Nara menggandeng tangan Julian yang terlihat kelelahan sedangkan Vallerie membantu Nara membawa barang bawaan Julian, Mereka menunggu bagasi setelah mendapatkan nya mereka berjalan keluar bandara bersama-sama dengan wajah bahagia dari mereka semua.


Di depan sudah ada sopir keluarga Nara yang menunggu mereka, Dari kejauhan Langit memperhatikan Nara sampai Nara hilang bersama mobil yang melaju pergi meninggalkan Bandara.


Langit hanya bisa menatap tanpa bisa mengejarnya, Dari jarak yang tidak terlalu jauh Bara dan Evan menatap sahabatnya yang baru kembali itu dengan perasaan kasian namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain mendoakan yang terbaik untuk sahabatnua.


"Hallo calon duda" Suara Bara meledek Langit dengan melambai-lambaikan tangannya.


Langit menatap Bara dengan tatapan horor kemudian berjalan ke arah mobil Bara, "Sialan" Rutuk Langit saat sudah sampai di mobil Bara.


Langit sudah menceritakan semua yang terjadi saat ia menemui Nara kemarin tanpa terkecuali, Langit melakukan hal itu agar ia tidak salah memilih jalan lagi, karena itulah Bara berani mengejek Langit dengan sebutan calon duda karena Bara ingat dengan apa yang Langit ucap kan waktu itu.


"Jangan berdebat terus, Buruan masuk di belakang udah ngantri" Sela Evan menengahi perdebatan mereka dengan matanya melirik ke arah atrian mobil yang ada di belakang nya.


Bara dan Langit mengikuti arah pandangan Evan setelah itu mereka bertiga masuk kedalam mobil dan kemudian Bara melajukan mobilnya, Langit terlihat sangat lelah ia menyandarkan tubuhnya di jok mobil, Bara dan Evan melirik Langit melalui kaca mobil.

__ADS_1


"Capek banget kayanya Lang?" Tanya Evan membuka obrolan.


"Banget, Pinggang gue rasanya kayak mau patah" Keluh Langit, Seumur-umur baru kali ini Langit menaiki pesawat kelas ekonomi dalam jarak tempuh yang sangat lama, Karena itu lah Langit sangat merasa lelah dan sakit di sekujur tubuhnya.


"Demi cinta ga apa-apa Lang, Gue dukung Lu" Sambar Bara di sertai cengiran.


"Gimana sama Nara Lang?" Evan kembali bertanya.


Langit menegakkan tubuhnya, "Ya seperti yang Gue bilang waktu itu, Nara ga mau sering-sering ketemu Gue, Nara minta waktu yang mungkin cukup lama buat nyembuhin luka nya"


Evan dan Bara diam mendengarkan cerita Langit, "Jujur sebenar nya Gue ga bisa kalau harus berjauhan lagi sama Nara, Tapi Gue ga bisa apa-apa selain menerima syarat dari Nara" Lanjut Langit membuang nafasnya kasar.


"Ga apa-apa Lang mungkin ini memang yang terbaik untuk kalian, Nara juga butuh waktu yang lama buat maafin Lu, Karena luka yang Lu kasih ke Nara bukan luka yang kecil" Bijak Evan menasehati Langit.


Sebagai sahabat sudah seharusnya mereka berdua menasehati teman mereka dan selalu berada di sisi sahabat nya walau dalam ke adaan buruk sekalipun, Sebagai sahabat mereka juga berkewajiban untuk menasehati hal-hal baik dan membantunya jika sahabat nya menemukan jalan yamg mungkin sulit di laluinya.


"Kalau pada akhirnya Nara ga bisa memafkan Gue dan memilih pergi dari hidup Gue, Apa Gue sanggup kehilangan Nara?" Tanya Langit pada dirinya sendiri.


"Mau ga mau Lu harus siap Lang, Sudah cukup Lu menyakiti Nara dulu, Lu ga mau kan menyakiti Nara lagi dengan ego Lu yang ingin mempertahan Nara yang sudah tidak menginginkan Lu" Jawab Evan yang memiringkan tubuhnya ke samping untuk menatap Langit yang duduk di belakang.

__ADS_1


Bara hanya mengangguk-anggukkan kepalanya dengan masih fokus menyetir, Bara membiarkan Evan yang menjawab semua pertanyaan Langit karena Bara tau Evan lebih bisa menenangkan Langit dari pada dirinya.


"Andai dulu Gue ga pernah kenal sama Sevanya mungkin saat ini Kai masih ada bersama Gue, Gue masih bisa liat senyum Kai, Gue masih bisa bawa Kai jalan-jalan ke Luar Negeri, Gue masih bisa liat Kai tumbuh sampai dewasa dan masih banyak lagi yang bisa Gue lakukan sama Kai kalau saja Gue ga kenal Sevanya dalam hidup Gue" Desah Langit tanpa sadar mengatakan hal itu dan kembali menyandarkan tubuhnya.


Dalam setiap ucapan nya hanya nama Kai yang ia sebut tidak ada nama Nara di dalam nya yang mana membuat Bara dan Evan memikirkan sesuatu.


"Jujur sama kita Lang, Sebenarnya Lu masih menganggap Nara bersalah atas kejadian yang terjadi sama Kai kan?" Tebak Evan membaut Langit langsung menegak kan punggung nya dan menatap Evan.


"A-apa maksud Lu" Gugup Langit.


Melihat Langit yang gugup Bara dan Evan saling menatap sebentar, Ternyata tebakan mereka berdua benar, "Gue ga habis fikir Lang kenapa ada manusia sejahat Lu, Lu bilang Lu mencintai Nara Lu ga mau Nara pergi lagi dari hidup Lu, Tapi yang lu lakukan berbanding terbalik dengan yang Lu ucapkan, Lu bahkan ga menyebutkan nama Nara sama sekali dalam ucapan Lu barusan" Kini Bara ikut bersuara ia tidak tahan melihat kelakuan Langit yang masih menganggap Nara bersalah.


Langit menarik nafas pasrah apa yang ia sembunyikan selama ini akhirnya terbongkar juga, Langit sadar toh cepat atau lambat rahasia ini pasti akan tetap terbongkar, "Kalau boleh jujur Gue juga ga tau kenapa hati Gue masih menganggap Nara bersalah atas apa yang terjadi pada Kai padahal Gue udah tau semua kebenaran nya, Tapi tetap saja hati Gue masih menyalahkan Nara" Aku Langit membuat Evan dan Bara kecewa.


Jika merereka berdua saja kecewa lalu bagaimana dengan Nara jika ia tau di dalam hati Langit masih menyalahkannya, Bara dan Evan menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya dengan apa yang Langit ucapkan barusan.


"Gue kecewa sama Lu Lang, Gue ga nyangka Lu masih belum sadar juga jika yang terjadi dengan Kai bukan kesalahan Nara padahal Lu udah tau kebenarannya" Evan diam sebentar untuk mengambil nafas," Gue ga bisa bayangin kalau sampai Nara tau Lu masih menyalahkannya, Mungkin saat itu juga Nara bakal melayangkan surat cerai di wajah Lu Lang" Lanjut Evan yang sudah membenarkan posisi duduk nya seperti semula.


Mendengar ucapan Evan barusan membuat Langit di hantui ketakutan jika Nara benar-benar melayangkan surat cerai kepadanya, Tidak...Tidak Langit tidak mau bercerai dengan Nara, Langit mencintai Nara Langit tidak sanggup jika harus bercerai dengan Nara,

__ADS_1


Cinta Langit kepada Nara memang benar adanya, Rundu, Sayang dan ketakutan nya akan kehilangan Nara juga benar adanya, Hanya saja Langit belum bisa mengikhlaskan kepergian Kai karena itulah dalam hati Langit masih menyalahkan Nara atas apa yan.g terjadi kepada Kai, Padahal menyalahkan Nara adalah hanya alibinya saja, Sebenarnya kesalahan itu ingin ia tunnjukan untuk dirinya sendiri yang gagal menjaga anak dan istrinya hanya saja Langit tidak pernah mau sadar.


Egois ya Langit memang egois.


__ADS_2