
Malam sudah larut Langit baru pulang dari kantor, Tubuhnya terlihat lelah wajah nya terlihat kusut seperti tak ada semangat hidup, Langit menidurkan kepalanya di setir mobil membayangkan hari-hari bahagia yang dulu pernah ada dalam hidupnya sebelum Kai tiada.
Biasanya selarut apapun Langit pulang ia akan selalu terlihat bahagia karena ada Kai yang menjadi penyemangatnya, Namun kini semua itu telah hilang bersama kehidupan Kai.
Langit turun dari mobil bersamaan dengan Nara yang baru pulang, Langit menatap Nara tajam di lihatnya jam yang melingkar ditangan nya, Selarut ini Nara baru pulang apa saja yang ia lakukan di luar sana fikir Langit.
"Selain gelar ibu terburuk di dunia aku rasa kau juga pantas memiliki gelar sebagai wanita murahan" Ucap mulut kejam Langit menghunus hati Nara, Padahal Langit tidak tau dari mana Nara pergi dan kenapa baru kembali selarut ini.
Nara tidak menjawab atau membalas ucapan Langit yang menyakiti hatinya, Ia hanya diam berdiri di depan Langit sembari menundukan kepalanya.
Langit masih menatap tajam Nara yang menunduk "Apa mulut sudah tidak berfungsi lagi?" Kesal Langit karena Nara hanya diam.
Lagi-lagi Nara hanya diam, Langit merasa marah karena Nara hanya diam tidak menjawab pertanyaan nya sama sekali, Langit meraih dagu Nara dan mencengkram pipinya nya kuat.
Mata mereka saling menatap Langit dapat melihat jelas mata Nara yang penuh kesedihan, Namun hati Langit sudah terbutakan oleh kebencian sehingga Langit dengan tega semakin mengcengkram pipi Nara sampai kukunya menusuk pipi Nara dan membuatnya terluka.
"KESALAHAN TERBESARKU DALAM HIDUP ADALAH MENIKAHI MU DAN MENJADIKAN MU SEORANG IBU DARI ANAK KU, AKU MEMBENCI PEMBUNUH SEPERTIMU" Suara Langit penuh penekanan sembari melepaskan cenkraman nya setelah itu ia meninggalkan Nara.
Ntah sudah seremuk apa hati Nara saat ini, Orang yang paling ia cintai tega mengatakan hal menyakitkan padanya, Nara menyusul masuk kedalam rumah dan langsung naik ke kamar nya.
Sampai di kamar Nara mengambil foto Kai dan memeluknya, Nara menangis tersedu-sedu sembari memeluk foto Kai, Ini lah yang selama ini Nara lakukan tanpa seorangpun yang tau, Menangis sendiri di dalam kamar sambil memeluk foto anaknya.
"Maaffin Bunda nak maaf" Hanya kata itu yang berulang-ulang Nara ucapkan pada foto Kai.
__ADS_1
Nara bukan tidak bisa menangis di depan Langit atau keluarganya, Nara hanya tidak mau membuat mereka khawatir namun ternyata yang ia lakukan ini malah membuat mereka beranggapan jika Nara tidak menyayangi Kai.
Nara terus menangis pilu tidak ada yang bisa mendengar karena memang kamar mereka kedap suara, Nara terus menangis sampai membuatnya kelelahan dan terlelap.
Hal yang sama yang di lakukan Langit di dalam kamar Kai, Langit mengambil foto Kai dan berbicara kepada foto itu, "Ayah rindu nak"
Satu tetes air mata Langit jatuh mengenai foto Kai, "Bagaimana kabar mu disana nak, Apakah disana kau lebih bahagia di banding bersama Ayah nak, Maaf sampai saat ini Ayah belum bisa mengiklhaskan mu" monolog Langit pada foto Kai.
Langit memeluk foto Kai membawanya tidur bersamanya, Berharap akan bertemu Kai dalam mimpinya dan memeluknya, Menyalurkan rasa rindunya yang kian menumpuk.
Hari berganti minggu, Minggu berganti bulan, Kini tepat enam bulan setelah kepergian Kai, Tidak ada yang berubah yang ada kebencian Langit kepada Nara semakin bertambah apalagi melihat Nara yang selalu pulang malam.
Berkali-kali Langit menegur Nara agar tidak pulang malam seperti wanita murahan namun Nara tidak mendengarkan dan hal itu membuat Langit kian marah, Pernah sekali Langit yang sangat emosi karena masalah di kantor dan melihat Nara pulang malam langsung menampar pipi Nara keras hingga membuat sudut bibir Nara robek.
Langit sempat merasa bersalah setelah menampar Nara namun lagi-lagi kebencian berhasil menutipi rasa bersalah itu, Kebencian yang Nara dapatkan bukan hanya dari Langit yang lebih menyakitkan adalah Ibu dan Ayah nya juga membencinya.
Mereka sengaja datang bersama untuk melihat keadaan Langit, Karena beberapa hari ini mereka tidak melihat Langit mengunjungi rumah mereka.
"Jawab Nara dari mana kamu pergi sampai malam begini baru pulang?" Tanya Nyonya Anggie lagi karena Nara tidak menjawab pertanyaan nya.
"Jadi ini tujuanmu membunuh cucu ku agar kau bisa bebas keluar sampai malam tanpa ada yang mengganggu, Benar begitu Nara" Nyonya Lingga berdiri di di depan Nara.
Tuan Damara dan Tuan Kana hanya menyaksikan istri-istri mereka menghakimi anak dan menantu nya tanpa berniat membela nya, Mereka sama kecewa dan marah nya dengan istri-istri mereka.
__ADS_1
"JAWAB NARA, APA BENAR BEGITU MAKSUDMU" Bentak Nyonya Lingga memekakan telinga mereka semua.
Masih sama Nara masih diam tidak menjawab pertanyaan Ibu mertua dan Mama nya, Kesal dengan sikap Nara Nyonya Lingga menampar pipi Nara sampai membuat Nara menoleh kesamping.
Nyonya Anggie tidak membela putrinya ia hanya diam melihat anak nya di hakimi dan di tampar bahkan ia juga turut menghakimi putrinya yang seharusnya ia rangkul dan ia bela.
Nara mundur selangkah dan pergi meninggalkan mereka, Namun langkah nya terhenti saat mendengar perkataan Nyonya Anggie, "SELAIN IBU TERBURUK KAU JUGA ANAK YANG DURHAKA NARA, AKU MENYESAL TELAH MELAHIRKAN MU" Pekik Nyonya Anggie, Hati Nara bak tertusuk ribuan pisau rasanya sungguh sakit mendengar kata paling menyakitkan itu keluar dari mulut ibu yang melahirkannya.
Nara berlari menuju kamar nya, Menutup pintu nara berlari dan naik keranjangnya kemudian menumpahkan tangisnya yang menyesakan dada, Di bawah Langit melihat semua apa yang Ibu dan Ibu mertuanya ucapkan dan lakukan pada Nara, Langit hanya menyaksikannya tanpa ingin membelanya.
Ada rasa yang menyakitkan hati saat Mami nya menapar Nara dan Ibu mertuanya mengatakan ucapan yang seharusnya tidak dikatakan seorang ibu kepada anak nya, Tapi Langit segera menepis rasa sakit itu dan membiarkan Nara tersakiti oleh Ibu dan Ibu mertuanya.
Langit berjalan mengahampiri keluarganya, "Langit kamu sudah pulang" Sapa Nyonya Lingga yang melihat Langit berjalan ke arah meraka.
"Iya Mi" Jawab Langit singkat dan duduk di sofa kosong yang ada di sebrang mereka.
"Langit sudah makan nak" Tanya Nyonya Anggie perhatian.
"Langit sudah makan Ma"
"Langit kami sudah membicarakan ini, Jika kamu ingin bercerai dengan Nara kami semua akan mendukung kamu" Ucap Tuan Kana membuat jantung Langit berhenti berdetak sebentar.
Cerai....Selama ini Langit tidak pernah berfikir sampai keperceraian, Langit memang membeci Nara tapi Langit tidak pernah sekalipun berfikir untuk menceraikan Nara.
__ADS_1
"Papa dan Mama juga setuju jika Langit mau bercerai dengan Nara, Papa dan Mama tau Kai pergi karena kesalahan Nara, Maka dari itu bercerailah dengan Nara dan cari lah kebahagiaan mu" Tuan Damara ikut memberikan pendapatnya.
Langit diam tidak memberikan jawaban ia sendiri merasa bingung haruskah ia bercerai dengan Nara, Tanpa mereka sadari Nara mendengarkan semua apa yang mereka bicarakan dan hal itu membuat luka di hati Nara kian bertambah, Nara yang tadi nya ingin megambil minum di bawah membuat langkah nya terhenti saat mendengar pembicaraan mereka, Hatinya terlalu sakit Nara memnutuskan untuk kembali ke kamar.