
Malam telah datang sebelum berangkat ke Bandara Langit mampir ke rumah orangtuanya untuk berpamitan, Mobil yang Langit kendarai masuk ke perkarangan rumah orangtuanya yang begitu luas.
Mematikan mesin mobil Langit turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, "Mami Langit pulang" Suara Langit sedikit keras membuat Nyonya Lingga yang sedang membuatkan jus untuk Tuan Kana di dapur langsung meninggalkan pekerjaan nya.
"Langit anak Mami" Nyonya Lingga langsung memeluk Langit.
"Mami dari mana? Lagi ngapain?" Tanya Langit penasaran karena melihat Mami nya keluar dari pintu dapur.
"Mami lagi buat jus untuk Papi, Langit mau juga?" Tawar Nyonya Lingga kini mereka duduk di ruang keluarga.
"Engga Mi, Langit cuma sebentar ko"
"Loh ko cuma sebentar, Kenapa?" Tanya Nyonya Lingga mengerutkan alisnya.
"Langit mau pergi ke Kota Riga Mi" Balas Langit menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Papi mana Mi?" Lanjut Langit sebelum Nyonya Lingga membuka suaranya.
"Papi ada di halaman belakang, Sebentar Mami panggilin" Nyonya Lingga meninggalkan Langit untuk mehampiri suaminya.
Beberapa saat kemudian Nyonya Lingga sudah kembali bersama Tuan Kana, Nyonya Lingga juga sudah mengatakan jika Langit akan pergi ke Kota Riga sembari mereka berjalan menuju ruang keluarga tadi.
"Jadi kamu ke Kota Riga mau ngapain Langit?" Tanya Tuan Kana setelah ia duduk, Sedangkan Nyonya Lingga kembali ke dapur untuk menyelesaikan jus buatan nya.
"Langit mau mengurus dokumen-dokumen kepindahan Vallerie dan Julian Pi" Jawab Langit yang sudah membenarkan posisi duduk nya.
Tuan Kan mengangguk mengerti, "Sama siapa kamu kesana nya?"
"Bara dan Evan Pi"
"Berapa lama disana?"
"Satu bulan atau mungkin lebih Pi"
"Kenapa ga minta tolong Zayan sama Ziyan saja, Bukan kah pekerjaan mu disini juga membutuhkan mu?" Usul Tuan Kana karena memang akhir-akhir ini banyak pekerjaan kantor yang membutuhkan kehadiran Langit.
__ADS_1
"Tidak Pi, Zayan dan Ziyan sedang mengembangkan usaha mereka di Maroko"
"Oh yasudah, Kapan kamu mau berangkat?" Tanya Tuan Kana karena memang dia belum tau jika Langit akan berangkat malam ini.
"Setelah ini Pi" Jawab Langit santai.
"Apa nya yang setelah ini" Sela Nyonya Lingga yang sudah kembali sambil membawa dua gelas jus.
"Langit mau berangkat ke Kota Riga setelah dari sini Mi" Tuan Kana menjawab pertanyaan Nyonya Lingga.
"Apa, Kenapa mendadak Langit" Kaget Nyonya Lingga.
"Iya Mi lebih cepat lebih baik"
Tidak ada yang bisa Nyonya Lingga dan Tuan Kana lakukan selain mengizinkan Langit pergi, Lagi pula ini adalah salah usaha anak mereka untuk mendapatkan kembali istri nya walaupun sebenarnya istrinyaa tidak tau.
Setelah cukup megobrol Langit berpamitan kepada kedua orangtuanya, Nyonya Lingga berpesan supaya Langit hati-hati dan tidak melupakan makannya, Setelah berpamitan Langit pergi ke Bandara dengan mengendarai mobilnya sendiri.
Satu jam kemudian Langit sudah sampai di Bandara, Di ruang tunggu khusus Bara dan Evan sudah datang sejak tiga puluh menit yang lalu, "Lama banget sih Lang, Lu yang nyuruh cepet-cepet tapi Lu juga yang datang
"Serah" Cuek Langit sedangkan Evan hanya diam sembari berbalas pesan dengan istrinya.
Mereka menunggu di ruang tunggu khusus sekitar tiga puluh menitan setelah pesawat mereka siap mereka bertiga langsung naik ke pesawat dan pesawat mereka terbang meninggalkan Indonesia.
•
•
•
Waktu demi waktu telah berlalu sudah dua minggu Langit pergi meninggalkan Indonesia, Selama dua minggu itu pula Langit tidak menghubungi Nara sama sekali, Penah sekali Langit menghubungi Nara saat ia baru tiba di kota Riga untuk menanyakan Julian.
Selama Langit pergi Julian terus menanyakan dimana Daddy nya, Kenapa tidak datang menemui nya, Nara memberi alasan mengatakan jika Langit sedang bekerja ke luar kota dan membutuhkan waktu yang lama seperti yang Langit katakan waktu itu.
Julian juga terus meminta Nara untuk menghungi Daddy nya karena Julian merindukan nya namun Nara menolaknya dengan banyak alasan mengatakan jika Langit tidak bisa di ganggu dan hal itu membuat Julian bersedih.
__ADS_1
Seperti siang ini Julian duduk di sofa dengan menundukan kepalanya, Nara yang sedang merangkai bunga dan memperhatikan tinggkah Julian mendekati Julian, "Sayang ada apa?, Kenapa murung begitu?" Tanya Nara duduk di karpet menyesuaikan tinggi Julian.
Julian diam tidak menjawab pertanyaan Nara, Nara memegang dagu Julian dan menaikan nya sehingga membuat mereka saling menatap, "Ada apa sayang? Coba cerita sama Mommy?"
"Mommy" Lirih Julian.
"Iya sayang ada apa?"
"Julian rindu Daddy Mommy" Aku Julian di sertai air mata yang ikut meleleh.
Hati Nara terenyuh melihat Julian yang menangis karena merindukan Langit membuat mata Nara berkaca-kaca, "Daddy kemana Mommy?, Kenapa Daddy tidak datang lagi?" Tanya Julian lagi namun kali ini suara nya lebih lirih dari sebelum nya.
Nara diam tidak tau harus menjawab apa karena jawaban yang ia punya masih sama seperti sebelum-sebelum nya bahwa Langit sedang pergi bekerja, Satu tetes air mata Nara menetes tanpa di minta.
Vallerie yang tanpa sengaja mendengar percakapan ibu dan anak itu berjalan mendekati mereka dan duduk di samping Nara, "Kaka kenapa tidak telfon ka Langit saja?" Usul Vallerie tangan nya menepuk-nepuk pelan pundak Nara.
Kemudian Vallerie beralih menatap Julian dan menghapus air mata Julian, "Hey jagoan jangan menangis nanti kau tambah jelek" Ledek Vallerie namun kali ini Julian hanya diam saja tidak marah dengan ledekan Vallerie seperti biasanya.
"Mommy ayo telfon Daddy" Mohon Julian kepada Nara.
Nara tidak mengiyakan atau menonak permohonan Julian, Dia hanya diam sebab ia merasa bimbang, Vallerie yang tau jika Nara merasa bimbang kembali bersuara, "Jika kaka tidak mau menghubungi ka Langit biar aku saja yang menghubungi ka Langit, Kasihan Julian ka"
Nara memikirkan sejenak usul Vallerie, Sepertinya usul Vallerie ada benarnya, Nara mengambil ponselnya dan memberikan nomor Langit kepada Vallerie kemudian Vallerie menghungi Langit, Julian marasa bahagia saat aunty nya menghubgi Daddynya.
Namun senyum Julian harus kandas karena Langit tidak menjawab semua panggilan telfon Vallerie, Julian yang merasa kecewa menangis sesenggukan, Nara membawa Julian kedalam pelukannya.
"Tidak apa-apa sayang, Mungkin Daddy sedang bekerja tidak bisa angkat telfon" Suara Nara memberi pengertian pada Julian yang masih menangis.
"Ta-tapi Ju-julian ri-rindu Da-Daddy Mom" Jawab Julian terbata-bata karena tangisnya.
"Iya Mommy tau Julian rindu Daddy, Nanti kita coba telfon Daddy lagi ya sayang"
"I-iya Mommy"
Nara menepuk-nepuk punggung Julian pelan sampai Julian merasa tenang, Setelah Julian tenang Vallerie mengajak Julian makan ice cream untuk mengembalikan senyum nya, Dan benar saja setelah makan ice cream Julian tidak murung lagi.
__ADS_1