
Zayan dan Ziyan menatap seseorang yang ada di depan matanya dengan perasaan campur aduk, Mereka sama-sama diam tidak menyangka Tuhan mempertemukan mereka dengan seseorang itu.
Zayan dan Ziyan mendekat ke arah seseorang yang sedang asik melayani pelanggan untuk memastikan lagi jika mereka tidak salah lihat, Saat melihat seseorang itu dari dekat Zayan dan Ziyan yakin jika memang benar dia adalah orang yang mereka cari selama ini.
"Nara" Suara Zayan terdengar lirih namun mampu membuat Nara langsung berhenti kaku.
"Naraya Jasmine Damara" Zayan memanggil Nara dengan nama lengkapnya.
Nara mengangkat kepalanya dan menatap seseorang yang memanggil namanya, Brak....Nara menjatuhkan nampan yang berisi roti-roti milik pelanggan nya, Ia terkejut melihat Zayan dan Ziyan ada di depannya.
Air mata Nara mengalir tanpa di minta saat menatap dua laki-laki yang sudah ia anggap seperti kaka nya sendiri ada di hadapan nya secara nyata.
"Nara" Kini suara Ziyan bergantian memanggil Nara.
Mendengar suara itu Nara langsung berlari menghampiri mereka dan memeluk Zayan, Zayan menyambut hangat pelukan Nara.
Nara menangis dalam pelukan Zayan, Ziyan mengelus rambut Nara yang ada dalam pelukan Zayan, Mereka berdua merasa lega dan bahagia karena sudah berhasil menemukan Nara, Mereka sungguh tidak menyangka jika selama meraka berada di Kota Riga Nara berada dekat dengan mereka.
"Kaka aku rindu" Lirih Nara dalam pelukan Zayan.
"Kaka juga rindu, Kemana saja selama ini kenapa tidak memberitahu kaka jika selama ini kau ada disini?" Balas Zayan.
Nara melepas pelukan nya dari Zayan kemudian menatap nya sebentar, "Maaf" Cicit Nara setelah itu suaranya tenggelam dalam tangisan.
Ziyan membawa tubuh Nara untuk ia peluk, Nara tak mampu menahan tangis nya, "Ssst jangan menangis" Ziyan menepuk punggung Nara pelan.
__ADS_1
Beberapa pengunjung memperhatikan mereka dengan bingung, Vallerie yang memang sedari tadi ada di toko roti bersama Nara mendekati Nara, "Kaka sebaik nya kaka naik ke atas saja agar kaka lebih enak ngobrolnya" Saran Vallerie.
Mendengarkan saran Vallerie Nara membawa Zayan dan Ziyan ke lantai dua, "Ayo ka kita ke atas" Nara berjalan mendahului Zayan dan Ziyan.
Vallerie memperhatikan mereka bertiga sampai mereka hilang di balik pintu, Vallerie tidak tau siapa yang menemui Nara tadi, Tapi satu yang Vallerie tau jika mereka adalah keluarga Nara, Vallerie mengambil alih pekerjaan Nara yang sempat terhenti tadi tak lupa juga Vallerie meminta maaf kepada pelanggan atas ketidak nyamanan yang terjadi tadi.
Di lantai atas Nara membawa Zayan dan Ziyan duduk di sofa yang berada di balkon, Nara masih menangis sesenggukan ia masih tidak menyangka bisa bertemu Zayan dan Ziyan kembali.
"Sudah jangan menangis lagi" Zayan yang duduk di samping Nara mengelus pundak Nara naik turun.
Bukan nya diam Nara malah semakin menangis saat Zayan mengusap punggungnya, Bukan karena Nara ada rasa terhadap Zayan hanya saja Nara sangat merindukan mereka sampai membuatnya menangis sampai seperti ini.
Zayan dan Ziyan membiarkan Nara menangis sampai Nara benar-benar merasa lebih tenang, Beberapa saat kemudian Nara sudah mulai tenang dan sudah bisa di ajak berbicara.
"Akau baik ka, Kaka bagaimana kabarnya?" Balas Nara.
"Kami berdua baik" Zayan menjeda ucapannya, "Kenapa pergi selama ini Ra?" Lanjut Zayan.
Nara diam tidak menjawab pertanyaan Zayan, Ia bingung harus menjawab apa karena pada kenyataan nya Langit lah yang menginginkan nya pergi dari kehidupan nya.
"Kenapa tidak memberi tahu kami jika kamu ada disini Ra?" Ziyan ikut bertanya namun sama Nara masih diam tidak menjawab.
"Bukankah kami ini kaka mu, Lalu kenapa kau tidak memberi tahu kami tentang masalahmu" Lanjut Ziyan.
Nara menundukan kepalanya air matanya kembali mengalir, Namun Nara buru-buru menghapusnya, "Apa yang harus aku lakukan kak, Jika orang yang ku sayangi memintaku untuk pergi" Jawab Nara menatap Zayan dan Ziyan.
__ADS_1
"Aku pergi karena menuruti kemauannya Ka, Apa aku salah" Nara melanjutkan ucapannya.
"Tidak Nara Tuan Langit tidak bermaksud memintamu pergi Tuan Langit hanya....."
"Dia sendiri yang mengatakan nya kak" Sela Nara memotong ucapan Nara.
"Tidak Nara tidak kau salah paham, Saat itu Tuan Langit mabuk dan dia hanya berbicara sembarangan" Ucap Ziyan membela Langit, Sebelumnya Langit sudah menceritakan alasan kenapa Nara pergi meninggalkannya.
"Tidak kak aku mendengar nya jelas dia memintaku pergi" Kekeh Nara.
Zayan dan Ziyan menarik nafasnya sebisa mungkin mereka tidak boleh menekan Nara untuk mempercayai ucapan mereka, Ziyan berdiri dan duduk di sebelah Nara, "Sudah ya jangan menangis lagi"
Nara menyandarkan kepalanya di pundak Ziyan, Zayan yang juga duduk di samping kanan Nara mengelus kepala Nara, "Ra boleh kak Zi ngomong sesuatu" Izin Ziyan.
Nara menganggukan kepalanya memberi izin Ziyan, "Kau tau saat sebelum Tuan Langit pulang dalam keadaan mabuk, Tuan Langit sudah mengetahui kenyataan yang sebenarnya tentang dirimu" Ziyan menjeda ucapan nya sebentar, Jantung Nara berdetak kencang mendengar ucapan Ziyan, "Hari itu Tuan Langit tau jika kau mengidap PTSD dari dokter yang menanganimu, Tuan Langit sengaja mengikutimu pergi hari itu, Saat Tuan Langit tau kau mengidap PTSD dunia Tuan Langit saat itu hancur, Ia menyalahkan dirinya karena telah gagal menjadi seorang suami"
"Hari itu Tuan Langit mencari mu kemana-kemana tapi Tuan Langit tidak menemukan mu dan berakhir di sebuah club, Hari itu Tuan Langit banyak minum sampai membuatnya mabuk, Tuan Bara dan Tuan Evan juga ada di tempat itu bersama Tuan Langit, Saat itu Tuan Langit menceritakan semua yang ia tau tentang mu kepada Tuan Bara dan Tuan Evan, Tuan Langit bilang ingin meminta maaf kepadamu saat bertemu denganmu, Tapi seperti yang kau dengar Tuan Langit malah mintamu pergi" Lanjut Ziyan.
"Kaka tau ucapan orang mabuk mungkin benar adanya, Tapi Ra coba kamu fikirkan lagi saat itu keadaan Tuan Langit sedang tidak baik-baik saja, Mungkin ucapan itu adalah emosi Tuan Langit yang belum ia keluarkan sebelum mengetahui kebenaran nya, Tuan Langit sangat mencintaimu Ra, Tuan Langit benar-benar hancur saat kau pergi dari hidupnya dan yang harus kamu tau orangtuamu juga sama hancurnya dengan Tuan Langit bahkan Mama Anggie sekarang menjadi sakit-sakittan setelah kau pergi" Zayan melanjutkan ucapan Ziyan, Ia menceritakan semua yang mereka ketahui termasuk kondisi Nyonya Anggie.
Nara menganggat kepalanya menatap Zayan dalam saat mendengar nama ibu nya di sebut, Air mata Nara mengalir saat mentap Zayan seolah bertanya benarkah semua itu, Mengerti arti tatapan Nara Zayan menganggukan kepanya nya dan seketika saja Nara menangis kencang.
Zayan membawa Nara dalam pelukan nya, Tangannya mengusap punggung Nara untuk menenangkannya, Ziyan yang berada di sampimg kiri Nara mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan kepada seseorang.
"Kami sudah menemukan Nona Nara Tuan"
__ADS_1