
Pagi telah datang Langit dan Nara sedang bersiap-siap untuk ke Rumah Sakit, Nara sedikit merasa lemas karena beberapa kali muntah padahal ia belum makan sama sekali, Langit dengan setia menemani istrinya, Langit juga memutuskan untuk tidak masuk kerja hari ini.
Setelah Nara merasa lebih baik Langit menggandeng tangan Nara untuk turun ke bawah, Di bawah Nyonya Lingga sudah menyiapkan makanan untuk anak dan menantunya, Langit menarik kursi untuk Nara, Tuan Kana sudah berangkat ke kantor dari satu jam yang lalu karena ada urusan mendadak.
"Kalian mau pergi?" Tanya Nyonya Lingga saat melihat anak dan menantunya berpakaian rapih.
"Iya Mi kami mau pergi sebentar" Jawab Langit tidak memberitahukan jika mereka berdua akan ke Rumah Sakit.
"Oh ya sudah hati-hati ya sayang, Oiya kalian nanti siang mau makan di rumah atau di luar?" Tanya Nyonya Lingga lagi.
"Iya Mi Langit pasti hati-hati, Kami mau makan di luar saja Mi sekalian nanti sama Bara sama Evan" Jawab Langit yang memang sudah berencana untuk bertemu dengan kedua sahabat setelah pulang dari Rumah Sakit nanti.
"Yasudah kalau begitu, Mami juga mau pergi nanti" Setelah mengatakan itu Nyonya Lingga pergi meninggalkan Langit dan Nara, Nyonya Lingga tidak ikut makan bersama anak dan menantunya karena ia sudah makan dengan suaminya tadi.
Nara sedari tadi hanya diam sambil memakan makanannya sembari mendengarkan percakapan Langit dan Mami nya, Setelah selesai makan Langit dan Nara pergi namun sebelum pergi mereka pamit terlebih dahulu kepada Nyonya Lingga.
Di tengah perjalanan Nara melihat tukang bakso pinggir jalan, Seketika saja Nara menginginkannya dan meminta Langit untuk menghentikan mobilnya, "Mas berenti dulu, Aku mau bakso itu" Pinta Nara pada Langit.
Langit meminggirkan mobilnya, "Kamu yakin sayang mau makan bakso itu?" Tanya Langit setelah memarkirkan mobilnya.
"Iya Mas aku mau bakso itu" Nara menjawab pertanyaan Langit dengan antusias, Membayangkan kuah bakso yang segar saja sudah membuat Nara menelan ludah.
Langit sedikit ragu untuk mengiyakan permintaan istrinya kali ini, Bukan karena bakso nya yang di jual di pinggir jalan, Langit hanya takut istrinya muntah lagi, Langit selalu merasa kasian kepada Nara setiap kali Nara memuntahkan makanan nya.
__ADS_1
"Ayo Mas kita turun, Aku mau makan bakso itu" Ajak Nara menarik-narik baju Langit.
"Yasudah ayo sayang" Pada akhirnya Langit menuruti kemauan Nara, Langit tak tega melihat wajah ceria Nara berubah sedih jika ia menolak keinginannya.
Langit memesan satu porsi bakso untuk Nara, Langit tidak memesan untuk dirinya sendiri karena Langit tidak terlalu menyukai makanan berkuah, Namun jika makanan itu di buat oleh Nara suka tidak suka dengan senang hati Langit akan menghabiskan makanan itu.
Wajah Nara terlihat sangat bahagia saat melahap bakso di mangkuknya, Nara sendiri merasa puas karena keinginan nya di turuti, Selesai memakan bakso dan membayarnya mereka berdua melanjutkan perjalanan mereka ke Rumah Sakit.
Beberapa menit kemudian mereka sampai di Rumah Sakit, Langit mendaftar untuk Nara, Langit memberitahukan keluhan yang terjadi dengan Nara ke pada petugas pendaftaran, Setelah mendengarkan keluhan pasien petugas pendaftaran mengarahkan Langit dan Nara untuk ke dokter kandungan..
Nara dan Langit merasa bingung saat di arahkan untuk ke dokter kandungan padahal Nara tidak sedang hamil, Walau begitu mereka berdua tetap mengikuti arahan petugas tadi, Setelah tiga puluh menit menunggu Nama Nara di panggil, Mereka berdua masuk kedalam ruangan dokter kandungan.
"Selamat siang Tuan Nyonya" Sapa Dokter kandungan itu yang bernama Lany.
"Keluhannya apa saja Nyonya" Dokter Lany menanyakan keluhan yang terjadi pada Nara.
Nara menceritakan semua keluhan yang ia alami beberapa hari ini, Dimulai dari ia yang sering merasa pusing, Mual saat mencium bau masakan dan badan dia yang tiba-tiba merasa lemas, Dokter mendengarkan dengan seksama keluhan Nara setelah itu meminta Nara untuk melakukan tes urin dan memberikan tespek.
Walau bingung dengan saran dokter Nara tetap melakukannya, Nara keluar dari kamar mandi dengan membawa hasil tespek di tangannya dan menyerahkan nya kepada dokter Lany, Dokter Lany tersenyum melihat hasil tespek di tangannya.
"Selamat ya Tuan Nyonya kalian akan menjadi orang tua" Ucap Dokter Lany menyalami Nara dan Langit.
Nara dan Langit diam tak merespon ucapan dokter Lany, Mereka berdua mengira hanya salah mendengar ucapan dokter Lany, "Bisa dokter ulangi ucapan dokter tadi" Ucap Langit yang tersadar lebih dahulu sedangkan Nara masih diam di samping Langit menunggu dokter Lany mengulangi ucapannya tadi.
__ADS_1
Dokter Lany tersenyum sebelum kembali mengulangi ucapannya, "Selamat Tuan Nyonya kalian akan menjadi orangtua, Nyonya Nara hamil Tuan"
Seketika air mata Nara keluar tanpa di minta, Tangannya meraba perutnya, Ia tak percaya jika di dalam perutnya tumbuh darah dagingnya, Langit sendiri langsung memeluk Nara ia juga tak bisa membendung air matanya.
"Aku hamil Mas, Aku bisa punya anak Mas" Beo Nara dalam pelukan Langit.
"Iya sayang kamu hamil, Kita akan punya anak, Aku akan jadi Ayah sayang" ucap Langit penuh bahagia, Dokter Lany dan suster yang ada di ruangan itu turut bahagia dengan kehamilan pasiennya.
Langit masih memeluk Nara mereka berdua tak henti-hentinya mengucap syukur atas karunia Tuhan yang di berikan untuk mereka berdua, Mereka berdua juga mengucapkan terimakasih kepada dokter Lany dan juga suster yang ada di ruangan itu.
"Mari Nyonya kita lakukan USG untuk melihat usia janin dalam kandungan Nyonya" Dokter Lany meminta Nara untuk berbaring di ranjang yang ada di ruangan itu.
Dokter Lany mengoleskan jel di perut Nara dan mengarahkan alat di perut Nara, "Lihat Tuan Nyonya ini calon anak kalian, Usia nya sudah delapan minggu" Dokter Lany menjelaskan usia kandungan Nara.
Langit tak kuasa melihat calon anak nya, Air matanya kembali mengalir begitupun dengan Nara, Langit mencium kening Nara dan mengucapakan banyak terimakasih untuknya.
Selesai melakukan USG dokter menjelaskan lagi jika anak mereka berkembang dengan sehat, Dokter memberikan saran kepada Nara untuk jangan terlalu lelah dan menyarankan untuk memakan-makanan yang bergizi dan sehat, Dokter juga meresepkan vitamin untuk Nara.
Langit dan Nara keluar dari ruangan dokter, Langit mrnuntun jalan Nara dengan sangat hati-hati, Setelah mendapatkan Vitamin mereka berdua pergi meninggalakn Rumah Sakit, Sepanjang perjalanan Langit menciumi tangan Nara, Nara merasa sangat bahagia saat ini, Nara mengucap syukur kepada Tuhan.
Langit memutuskan untuk langsung pulang kerumah, Ia membatalkan janji makan siangnya dengan Evan dan Bara, Sebalikanya Langit mengundang mereka berdua untuk makan malam di rumah orangtuanya, Langit juag menghubungi mertuanya untuk makan malam di rumah orangtuanya, Tak lupa Nara juga mengundang Rumi satu-satunya sahabatnya untuk datang ke rumah orangtua Langit.
Langit dan Nara ingin memberitahukan kabar bahagia ini kepada keluarganya dan orang-orang terdekatnya, Senyum bahagia tak lepas dari bibir Langit, Nara menatap Langit dengan intens, Nara ingin merekam raut bahagia Langit dalam memori ingatannya dan akan mengenangnya seumur hidupnya.
__ADS_1
NOTE : Hiduplah sesukamu buatlah dirimu bahagia, Jangan hiraukan ucapan orang lain yang tidak pernah memberikan pengaruh apa-apa dalam hidupmu.