
Zayan, Ziyan dan Rendy mulai menjalan kan rencana mereka, Namun Rendy hanya terlibat sesekali saja sebab ia juga harus menyelesaikan pekerjaan kantor Langit, Zayan dan Ziyan menunggu Sevanya di sekitaran apartemennya.
Beberapa saat menunggu akhirnya Sevanya keluar dari apartemen nya, Mereka mengikuti mobil Sevanya dari belakang, Mobil Sevanya berenti di Cafe untuk menemui Langit, Ya mereka berdua memang membuat janji untuk bertemu itu bagian dari rencana Langit.
Langit tidak datang sendiri ada Bara dan Evan yang memantau Langit di bagian paling sudut Cafe, Betapa terkejutnya Zayan dan Ziyan melihat orang yang di temui Sevanya adalah Langit.
"Za itu Tuan Langit" Ucap Ziyan tak percaya melihat Langit bertemu dengan Sevanya.
"Iya Gue juga Liat" Jawab Zayan tak habis fikir dengan Langit.
"Bagaimana bisa, Apa mereka berdua" Ziyan menatap Zayan dengan fikiran-fikiran negative tentang Langit
"Tutup mulutmu itu tidak mungkin, Tuan Langit sangat mencintai Nona Nara" Ucap Zayan membantah fikiran negative Ziyan.
Namun apa yang ia lihat di depan matanya tidak sebanding dengan yang ia ucapkan, Ia melihat Langit menggenggam tangan Sevanya, Zayan dan Ziyan sungguh kaget tidak menyangka jika Langit bisa berbuat seperti itu.
Fikir mereka mungkin Langit tidak mengetahui jika Sevanya adalah dalang dari kecelakaan yang menimpa Nara tapi seharusnya Langit tidak boleh seperti itu, Bertemu Sevanya saat istrinya sedang di rawat di rumah sakit, Jujur Zayan dan Ziyan kecewa dengan Sikap Langit.
Di dalam Cafe Sevanya sedang mengeluarkan rayuan menjijikan nya untuk merayu Langit, Sevanya menggenggam tangan Langit mengelusnya perlahan agar Langit terpancing, Sungguh Langit merasa jijik saat Sevanya menggenggam dan mengelus tangan nya namun demi rencanya Langit akan menahan nya.
Langit berjanji setelah ini ia akan mencuci tangan nya menggunakan sabun sampai bekas tangan Sevanya hilang dan akan meminta maaf kepada Nara.
"Langit aku bahagia banget kamu udah maafin aku" Ucap Sevanya masih menggenggam tangan Langit.
Langit memaksakan tersenyum "Semua sudah berlalu tidak ada salahnya aku memaafkan mu, Aku tau kamu juga tidak sengaja waktu itu"
Sevanya terlihat bahagia mendengar jawaban Langit "Terimakasih Langit aku sungguh menyesal dengan perbuatan ku dulu" Sevanya nya menunjukan muka menyeselnya.
"Aku tau itu" Singkat Langit.
"Mmm Langit?" Suara Sevanya terdengar ragu-ragu.
__ADS_1
"Tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan" Langit bisa menebak Sevanya ingin menanyakan sesuatu padanya tapi ragu-ragu.
Sevanya tersenyum Langit tau apa yang ada di fikiran nya "Mmm bagaimana keadaan istrimu?"
Langit menatap wajah Sevanya sebelum menjawab pertanyaan nya " Masih sama belum ada perkembangan" Jawab Langit.
"Apa kau akan menunggu terus, Bukan kah anak mu membutuhkan seorang ibu?" Sevanya sengaja menanyakan itu.
Langit mengepalkan jari-jari nya mendengar pertanyaan Sevanya, "Tentu saja memang apalagi yang bisa ku lakukan selain menunggu, Tentang anak ku aku juga berfikiran sama sepertimu" Jawab Langit sengaja agar Sevanya merasa senang.
Seperti mendapat angin segar Sevanya lagi-lagi tersenyum mendengar jawaban Langit "Kau bisa berhenti menunggu Langit, Lagi pula aku rasa istrimu tidak akan bangun lagi, Mmm dan jika kau ingin mencari Ibu untuk anak mu aku siap untuk menjadi Ibu anak mu" Tanpa rasa malu Sevanya mengatakan hal itu.
Ingin rasanya Langit menampar dan menyumpal mulut Sevanya sekarang dengan sepatunya agar mulutnya berhenti bicara dan menyeretnya keluar kemudian membuang nya, Namun Langit berusaha sebisa mungkin menahan emosinya demi rencananya.
Bara dan Evan yang mendengar semua percakapan Langit dan Sevanya melalui sambungan telfon yang sudah tersambung dari sebelum Sevanya datang juga merasa sangat emosi, Bara sudah ingin berdiri dan menghampiri Sevanya namun di tahan Evan.
Evan menahan pundak Bara saat Bara akan berdiri "Mau ngapain Lu?" Tanya Bara.
"Gila Lu, Lu mau rencana kita berantakan, Tahan emosi Lu Bar, Bukan cuma Lu aja yang emosi Langit bahkan lebih emosi dari Lu tapi dia masih bisa menahannya" Jelas Evan dengan suara pelan agar tidak kedengaran siapapun.
Bara menarik nafasnya kasar ia benar-benar merasa marah tapi tidak bisa beebuat apa-apa sebelum rencanya berjalan semua, "Tenang Bar, Nanti kalau semua rencana ini sudah berhasil Lu bebas melakukan apa saja sama ****** itu"
Bara mengerti apa yang di bicarakan Evan kemudian mereka kembi mendengarkan percakapan Sevanya dan Langit, Di luar Zayan dan Ziyan tidak bisa mendengar apapun percakapan Langit dan Sevanya karena mereka hanya mengawasi dari luar dan di dalam mobil, Jika saja Zayan dan Ziyan mendengar mungkin mereka sufah turun dan menyeret Sevanya keluar.
Langit tak menjawab ucapan Sevanya tadi, Langit malah menatap Sevannya dalam-dalam, Tatapan ingin memangsa namun di artikan salah oleh Sevanya, Sevanya menganggap itu adalah tatapan cinta oleh Langit dan membuatnya salah tingkah dengan wajah merah.
"Langit" Panggil Sevanya menyentuh tangan Langit yang ada di atas meja.
"Ya" Singkat Langit.
"Kenapa diam?"
__ADS_1
"Kenapa kau yakin sekali jika istriku tidak akan bangun lagi?" Tanya Langit membuat Sevanya bingung harus menjawab apa.
"Mmm itu Langit," Bingun Sevanya menundukan kepalanya.
Langit tersenyum culas tanpa sepengetahuan Sevanya, "Sudah lupakan saja"
Sevanya mengangkat kepalanya menatap Langit, Ia merasa lega Langit tak lagi membahas nya, "Langit apa kau sudah memberi nama untuk anak mu?" Tanya Sevanya semakin tidak tahu diri.
"Belum" Singkat Langit, Ia sudah merasa muak dengan wanita di depannya.
"Kenapa, Apa kau menunggu istrimu untuk memberikan nama?" Tebak Sevanya.
Langit sedikit terkejut Sevanya bisa mengetahui jika ia menunggu Nara bangun untuk memberikan nama anak nya,"Tidak, Aku hanya belum menemukan nama yang bagus saja" Bohong Langit.
"Benarkah, aku kira kau menunggu istrimu" Senang Sevanya.
Setelah itu tidak ada percakapan di antara mereka, Mereka sama-sama diam dengan fikiran masing-masing, Jika Langit memikirkan akan menyeret Sevanya kuar dan membalaskan perbuatannya pada Nara lain hal dengan Sevanya yang membayangkan dirinya yang memberikan nama untuk anak Langit, Sungguh fikiran Sevanya benar-benar konyol.
Langit merasa jenuh dan muak karena itulah Langit mengakhiri pertemuannya dengan Sevanya, "Kita akhiri pertemuan hari ini, Aku harus kembali ke kantor" Bohong Langit.
Sevanya merasa tidak rela harus berpisah dengan Langit, "Apa kita masih bisa bertemu lagi Langit" Tanya Sevanya berharap cemas.
"Tentu" Jawab singkat Langit yang membuat Sevanya senang bukan main.
Langit berdiri di ikutu dengan Sevanya, Sevanya memegang tangan Langit sedikit ragu takut Langit menolak nya tapi ternyata Langit tidak menolaknya, "Hati-hati ya Langit" Ucap Sevanya dengan nada menjijikan.
"Ya kau juga" Balas Langit.
Sevanya melihat ada rambut Langit yang rontok jatuh di kemejanya, Sevanya berniat untuk membersikan nya namun saat ia mendekat kaki nya tersandung kaki meja sehingga membuat Sevanya terjatuh ke arah Langit dan terlihat seperti ia sedang memeluk Langit.
"SIALAN" Ucap Bara, Evan, Ziyan dan Zayan bersamaan namun dari tempat yang berbeda.
__ADS_1