
Nara melepaskan pelukannya pada Tuan Damara kemudian menatap mata Tuan Damara dalam, Tuan Damara menghapus air mata Nara yang masih mengalir.
"Maafin Papa ya, Papa udah jahat sama Nara" Suara Tuan Damara lirih menatap Nara.
Nara mengangguk dengan air mata yang kian mengalir deras mendengar permohonan maaf Papa nya, Jujur dalam hati Nara yang paling dalam Nara tidak pernah sedikitpun membenci Papa dan Mama nya, Terlepas dari apa yang sudah Papa dan Mama nya lakukan padanya, Sebagaimanapun jahatnya mereka berdua mereka tetaplah orangtua Nara.
"Terimakasih, Papa janji seumur hidup Papa, Papa tidak akan pernah melakukan kesalahan yang sama lagi" Setelah itu Tuan Damara kembali membawa Nara dalam pelukannya.
Setelah Tuan Damara melepas pelukan Nara, Nyonya Anggie mengambil tangan Nara, "Mama juga minta maaf ya sayang, Maaf atas semua kesalahan yang sudah Mama lakukan yang membuat hatimu terluka, Maaf untuk kata-kata Mama yang menyakitimu dan Maaf untuk tamparan yang pernah Mama berikan, Jika Nara mau Nara boleh menampar Mama sebagai balasan, Mama pantas mendapatkan itu"
Nara menggelengkan kepalanya kuat, "Tidak Ma, Mama jangan bicara seperti itu, Nara sudah memaafkan Mama" Tolak Nara dengan usul Mama nya, Bagaimana bisa Nara membalaskan perbuatan Mama nya, Nara tidak akan mungkin bisa.
"Nara sudah memafkan Mama dan Papa sedari dulu, Karena memang Nara tidak penah membenci kalian Pa Ma!"
Nyonya Anggie dan Tuan Damara tersenyum bahagia namun juga menyesal, Bagaimana bisa dulu mereka menyakiti putri sebaik Nara yang tidak membenci mereka sekalipun perbuatan mereka menyakiti hatinya.
"Nara" Fokus Nara teralihkan saat mendengar suara yang ia kenali.
Tuan Damara dan Nyonya Anggie bergeser ke samping memberi ruang untuk Nyonya Lingga mendekati Nara, Nyonya Lingga melangkah mendekati Nara yang berada sekitar dua meter dari nya.
Sampai di hadapan Nara Nyonya Lingga tak kuasa menahan air matanya, "Nara" Lirih Nyonya Lingga lagi.
"Mami" Balas Nara lirih.
Nara maju selangkah untuk memeluk Nyonya Lingga, Air mata Nyonya Lingga kian mengalir deras saat Nara memeluknya lebih dulu, Nyonya Lingga tidak menyangka jika Nara akan langsung memeluknya, Padahal Nyonya Lingga sempat berfikir mungkin Nara tidak akan mau berbicara dengan nya seperti yang Nara lakukan kepada Langit karena Nyonya Lingga adalah ibu Langit.
"Mami Nara kangen" Suara Nara begitu lembut terdengar di kuping Nyonya Lingga membuat hati Nyonya Lingga menghangat bahagia.
"Mami juga kangen nak" Nyonya Lingga mengusap rambut Nara lembut.
Nara melepas pelukannya pada Nyonya Lingga, Kini mereka saling menatap, "Maafin Mami ya sayang, Mami banyak salah sama kamu" Ucap Nyonya Lingga sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Iya Mami, Nara juga sudah memaafkan Mami dan Papi sedari dulu, Karena sedari awal Nara tidak pernah membenci Papi dan Mami" Jawab Nara menggenggam tangan Nyonya Lingga.
"Terimakasih sayang terimakasih, Kamu benar-benar wanita yang baik hati, Mami menyesal pernah menyakitimu nak"
"Sutts sudah Mami jangan di bahas lagi semua sudah berlalu" Nara memeluk Nyonya Anggie lagi.
Tuan Kana juga mendekat ke arah Nara dan Nyonya Lingga, "Papi juga minta maaf ya sayang" Tuan Kana mengelus kepala Nara yang masih memeluk istrinya.
Nara tersenyum melepas pelukan Nyonya Lingga dan bergantian memeluk Tuan Kana, Sebagaimanapun perlakuan mereka dulu kepada Nara, Nara tidak bisa membenci mereka tapi entah mengapa kepada Langit Nara tidak bisa melakukan hal yang sama.
Hati Langit sakit saat melihat Nara bisa memaafkan orangtuanya dan orangtua Nara namun tidak bisa memaafkannya, Pandangan mata Nara dan Langut bertemu Langit tersenyum namun dengan cepat Nara memutuskan pandangan mereka.
Langit hanya bisa pasrah atas apa yang akan Nara lakukan padanya, Namun satu yang pasti Langit tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkan maaf dari Nara dan membawa Nara ke dalam pelukannya lagi.
Mereka semua duduk bersama di meja yang ada di toko Nara kecuali Langit, Beberapa saat lalu Nara meminta Langit untuk keluar karena ia tidak mau melihat Langit, Awalnya Langit menolak dan orangtua mereka pun mencoba untuk membujuk Nara agar membiarkan Langit tetap ada di dalam bersama mereka, Namun Nara mengancam jika Langit tidak keluar maka dirinya lah yang akan krluar.
Mendengar ancaman mereka akhirnya Langit mengalah ia keluar dan menunggu mereka di luar bersama Zayan dan Ziyan, Mereka mengobrol banyak hal menanyakan bagaimana keadaan Nara dan dimana Nara tinggal selama ini samapai suara Vallerie mengalihkan perhatian mereka.
"Kaka" Panggil Vallerie pelan.
"Dari tadi Julian menangis kak, Julian mau sama kaka" Ucap Vallerie.
"Oh astaga" Mendengar itu Nara langsung berlari ke atas menemui Julian.
Para orangtua pun mengikuti Nara ke lantai atas dengan bingung, Pasalnya mereka tidak tau siapa Julian sampai membuat Nara berlari secepat itu menemui Julian, Vallerie juga mengikuti mereka dari belakang.
"Tenanglah sayang Mommy disini" Ucap Nara memeluk Julian berusaha menenangkan nya.
"Mommy Mommy" Tangis Julian dalam pelukan Nara.
"Mommy disini sayang, Tenanglah jangan menangis lagi" Nara mengusap punggung Julian naik turun, Hal yang selalu ia lakukan untuk Julian ketika menangis.
__ADS_1
Mereka menatap heran dan bingung kepada Nara yang sedang memeluk anak kecil, Nara menatap orangtuanya dan orangtua Langit, Nara tau mereka bingung dengan apa yang mereka lihat.
"Sayang lihat Mommy" Nara membawa wajah Julian untuk menatapnya.
Julian menatap Nara masih dengan suara tangis, "Mommy sudah ada disini, Jadi bisakah Julian berhenti menangis sekarang" Beo Nara suara nya terdengar sangat lembut.
Julian menggangguk, "Bi-bisa Mom-Mommy" Jawab Julian terbata.
"Good Job anak Mommy" Nara mencium pipi Julian sayang.
Senyum di bibir Orangtua Nara dan Orangtua Langit terbit saat mrlihat interaksi Nara dan Julian yang seperti ibu dan anak itu, Senyum yang tidak pernah mereka lihat setelah kepergian Kai kini mereka dapat melihatnya lagi.
Setelah Julian tenang Nara mengajak mereka ke apartemen Nara, Nara akan menjelaskan siapa Nara dan Vallerie, Sampai di apartemen mereka duduk di ruang tamu, Nara duduk di tengah di apit Valleri dan Julian di kanan dan kirinya.
"Papa Mama Mami Papi ini Julian anak Nara dan ini Vallerie adik Nara" Ucap Nara memperkenalkan Vallerie dan Julian.
Mereka berempat syok mendengar ucapan Nara, Anak...Julian anak Nara bagaimana bisa, Apakah Nara disini sudah menikah lagi, Bukankah Nara masih menjadi istri Langit, Pertanyaan-pertanyaan itu memenuhi kepala mereka berempat.
"Anak" Sauara Nyonya Anggie tak percaya.
"Iya Ma ini anak Nara tapi bukan anak kandung Nara" Jelas Nara membuat mereka berempat semakin bingung.
Nara mengerti mereka masih bingung karena itulah Nara menjelaskan dengan detail bagaimana ia bisa bertemu dnegan Vallerie dan Julian sampai menganggap mereka sebagai anak dan adik nya.
"Vallerie Julian ayo sapa orangtua Mommy" Perintah Nara.
Vallerie dan Julian berdiri mereka bergantian menyalami tangan Tuan Damara, Nyonya Anggie, Tuan Kana dan Nyonya Lingga, "Hallo Tuan Nyonya saya Vallerie" Sapa Vallerie dengan canggung, Ia merasa takut jika kehadiran nya tidak di terima oleh keluarga Nara.
"Hallo Tuan Nyonya saya Julian" Sapa Julian mengikuti kata-kata Aunty nya.
Mereka tersenyum mendengar suara Julian yang terdengar lucu, "Hallo sayang, Kau bisa memanggil kami Kakek dan Nenek" Ucap Nyonya Lingga membalas sapaan Julian yang di angguki Tuan Kana, Tuan Damara dan Nyonya Anggie.
__ADS_1
"Dan kau Vallerie kau bisa menganggap kami orangtua mu juga" Nyoya Anggie turut bersuara.
Mendengar itu Nara dan Vallerie dapat bernafas lega pasalnya sebelum nya mereka berdua sama-sama merasa takut jika kehadiran Vallerie dan Julian tidak bisa mereka terima.