
Semua menunggu di depan ruang operasi dengan perasaan cemas dan takut, Sahabat Langit dan Nara juga ikut mrnunggu di depan ruang operasi, Bara memeluk Rumi dan Evan berada di sisi Langit menepuk punggung Langit pelan untuk menguatkan nya.
Saat mendapat kabar jika Nara mengalami kecelakaan Bara Evan dan Rumi yang memang sedang bersama langsung pergi ke Rumah Sakit, Langit menyatukan kedua tangannya terus memohon doa kepada sang Kuasa untuk menyelamatkan anak dan istrinya.
Langit sudah tidak memperdulikan penampilannya yang acak-acakan penuh dengan noda darah Nara, Dokter keluar dari ruang operasi Langit berdiri menghampiri dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" Tanya Langit dengan cemas.
"Pasien kehilangan banyak darah benturan di kepala pasien membuat tulang di kepala pasien retak dan mengalami pendarahan, Kami harus mengeluarkan bayi dalam kandungan pasien karena pasien mengalami pendarahan hebat dan kemungkinan kami juga harus mengangkat rahim pasien jika pendarahan tidak bisa di hentikan, Silahkan Tuan tandatangi surat persetujuan operasi" Jelas dokter, Seketika kaki Langit tak bisa untuk berdiri tegak beruntung ada Evan di sampingnya.
Langit merasa dunianya benar-benar hancur saat ini, Semua terjadi secara tiba-tiba, Nyonya Anggie di larikan ke IGD karena pingsang setelah mendengar penjelasan dokter, Sedangkan Nyonya Lingga sama dengan Langit kaki nya benar-benar lemas dan Tuan Kana membawanya duduk.
"Kenapa harus istri Gue, Kenapa ga Gue aja Van" Racau Langit.
"Gue bodoh Vah Gue bodoh ga bisa jaga Nara dengan Baik" Langit memukuli kepalanya menyalahkan dirinya sendiri.
Evan menahan tangan Langit "Tenang Lang tenang, Ini bukan salah Lu ini semua sudah takdir"
Bara meninggalkan Rumi duduk sendiri dan menghampiri Langit dan Evan, "Lang ga ada yang bisa nebak kapan musibah itu datang, Ini bukan salah Lu ini takdir, Lu harus tetap kuat demi anak dan istri Lu"
Bara dan Evan merangkul Langit bersamaan, Langit menangis dalam rangkulan sahabat nya, Tuan Kana merasa bersyukur anak nya memiliki sahabat yang selalu ada untuk nya, Tuan kana memejamkan matanya berdoa dalam hatinya untuk keselamatan menantunya dan untuk kebahagiaan putranya.
__ADS_1
Di IGD Tuan Damara menggenggam tangan Nyonya Anggie yang belum sadarkan diri, Mata nya berair tampak wajahnya begitu sedih semua terjadi secara tiba-tiba, Nyonya Anggie membuka matanya perlahan melihat sekeliling merasa bingun ia ada dimana.
Saat benar-benar tersadar Nyonya Anggie langsung menangis pilu mengingat kondisi putrinya, Tuan Damaran memeluk Nyonya Anggie mereka saling menguatkan, Setelah merasa tenang mereka memutuskan untuk kembali ke ruang operasi, Tuan Damara memapah Nyonya Anggie.
Pintu ruang operasi terbuka bertepatan saat Tuan dan Nyonya damara sampai, Suster medorong box bayi keluar ruang operasi, Semua mendekat ingin melihat kondisi bayi, "Nafas bayi melemah, Bayi akan di bawa keruang PICU NICU untuk perawatan intensif"
Suster mempersilahkan Ayah bayi untuk mengumandangkan adzan, Suara Langit mengumandangkan adzan begitu merdu namun terdengar pilu, Air mata Langit terus mengalir selama ia mengumandangkan Adzan, Setelah itu Suster mendorong box bayi meninggalkan mereka semua.
Langit tidak bisa berkata apa-apa lagi, Hanya untaian doa yang terus ia panjatkan, Bara dan Evan terus menemani Langit untuk mendorong Langit agar lebih kuat.
Rumi duduk besama Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga mereka juga saling menguatkan, Begitupun dengan Tuan Kana dan Tuan Damara, Dua jam kemudian lampu operasi telah padam dokter keluar dari ruang operasi, Semua berdiri menghampiri dokter.
"Kami sudah berhasil menghentikan pendarahan di kepala pasien, Tapi kami tidak berhasil menghentikan pendarahan di rahim pasien, Benturan di perut pasien saat tertabrak sangat kuat dan berakibat fatal untuk rahim pasien, Kami terpaksa menganggkat rahim pasien, Untuk sekarang kondisi pasien masih kritis pasien akan di bawa ke ruang ICU, Dan untuk sekarang pasien belum bisa untuk di temui" Jelas dokter secara rinci.
Semua menangis terutama Langit, Langit terduduk di lantai tangisnya terdengar pilu, Bara dan Evan pun tak bisa menahan air matanya untuk tidak keluar, Tidak ada yang bisa mereka lakukan selain saling menguatkan kan dan memanjatkan ribuan doa untuk Nara.
Di sebuah apartemen seseorang tengah tertawa puas, Mengingat semua rencana nya berhasil, Seseorang itu mengambil sebatang rokok dan membakarnya, Asap rokok keluar dari mulutnya bibirnya tersenyum tangannya memegang gelas yang berisi minuman alkohol.
Seseorang itu sungguh berfikir jika rencana nya berhasil dan ia juga berfikir jika tidak ada saksi mata yang melihat ia turun dari mobil yang menabrak Nara, Namun fikirannya benar-benar salah rencana nya tidak sesuai dengan bayangannya, Zayan dan Ziyan akan membalaskan perbuatan seseorang itu kepada Nara.
Ketukan pintu terdengar memekakan telinga pemilik apartemen, Mematikan rokok nya seseorang itu membuka pintu dan mempersilahkan tamunya masuk dan membawanya ke kamar, Ntah apa yang sedang merka lalukan.
__ADS_1
Nara sudah di pindahnya Ke ruang ICU dari satu jam yang lalu, Dan dari satu jam yang lalu pula Langit tidak bergerak sama sekali dari tempat berdiri, Ia menatap Nara yang terbaring lemah dengan banyak alat di tubuhnya.
Kedua orangtua Langit sudah pulang begitupun dengan Sahabatnya dan juga Rumi, Langit berjalan ke arah ruang NICU yang berada tidak jauh dari ruang ICU, Langit tidak masuk ke dalam ruangan NICU, Langit hanya melihat dari luar, Dari dalam suster menunjukan letak box anak nya.
"Anak Ayah anak kuat, Maafkan Ayah yang tidak bisa menjaga kamu dan Bunda dengan baik" Monolog Langit pada dirinya sendiri.
Jika boleh di tukar Langit ingin menukar dirinya, Biar dirinya yang menderita asal jangan anak dan istrinya, Langit meninggalkan ruang anak nya dan kembali keruangan Nara, Langit berdiri di tempatnya tadi.
Siang berganti malam Langit tetap berdiri di tempatnya, Bara dan Evan datang membawa baju ganti Langit dan makanan untuk Langit, Bara menepuk pundak Langit pelan "Ganti baju dulu Lang, Terus makan Lu belum makan sama sekali kan"
Evan menyerahkan paper bag berisi baju kepada Langit, Langit tak menerimanya matanya masih fokus melihat Nara, "Lu ganti dulu Lang biar Gue sama Bara yang jaga Nara"
"Ayo Lang ganti baju dulu, Nara ga suka kan kalau liat Lu pake baju yang kotor" Ucap Bara menggunakan nama Nara, Seketika Langit mengambil paper bag dari tangan Evan dan pergi ke kamar mandi untuk ganti baju.
Bara dan Evan menarik nafas mereka berlahan menatap sahabatnya dengan iba ,"Van menurut Lu kejadian ini di sengaja atau engga?" Tanya Bara merasa janggal dengan kejadian yang menimpa Nara.
"Menurut Gue ini di sengaja, Di liat dari CCTV jalan gue yakin itu memang sudah di rencanakan" Yakin Evan.
"Menurut Lu siapa dalang di balik semua ini Van?"
"Cuma satu orang yang berani berbuat nekat seperti ini" Evan menjawab tanpa menatap wajah Bara, pandangan nya lurus kedepan ntah memikirkan apa.
__ADS_1
"Maksud Lu dia" Ntah dia siapa yang Bara maksut.
Evan menganggukan kepalanya ia tidak bisa memikirkan orang lain sebagai dalang kecuali satu orang ini yang ada di oatak nya.