
Waktu cepat berlalu tak terasa usia kandungan Nara sudah memasuki sembilan bulan, Nara sudah semakin susah bergerak dan Langit semakin posesif kepadanya, Langit selalu malarang Nara melakukan hal apapun bahkan hanya menyiapkan baju kerja Langit pun melarang.
Nara juga sudah tidak tidur di lantai dua lagi, Tentu saja itu perintah Langit dengan alasan berbahaya jika Nara naik turun tangga terus menerus, Nara tidak bisa melakukan apapun selain menuruti perintah suaminya, Langit juga sudah jarang masuk ke kantor, Ia menyerahkan semua pekerjaan nya kepada Rendy, Namun sesekali Langit akan datang ke kantor jika di butuhkan seperti hari ini, Langit harus ke kantor karena ada beberapa pekerjaan yang mengharuskan kehadiran Langit.
Pagi hari Nyonya Lingga dan Nyonya Anggie datang ke rumah Anak dan menantunya, Mereka janjian untuk datang bersama untuk menengok anak dan menantunya, Nyonya Anggie memeluk Nara sedikit kesusahan pasalnya berat badan Nara sejak usia kandungan enam bulan naik drastis.
Nara sempat merasa sedih karena berat badan nya yang melonjak dan Nara juga takut Langit tidak menykai nya lagi, Namun Langit berulang kali meyakinkan Nara jika ia tidak masalah dengan apapun bentuk tubuh Nara, Langit mengatakan jika ia mencintai Nara bukan karena bentuk wajah nya.
"Mami Nara pengen makan cheese cake buatan Mami" Ucap Nara pelan, Sebenarnya ia takut jika berat badannya akan semakin naik karena makan terus tapi Nara begitu menginginkan nya.
Nyonya Lingga dan nyonya Naggue yang mendengar suara pelan Nara tersenyum, Mereka tau jika Nara merasa khawatir dengan berat badannya, "Tidak apa-apa sayang, Jangan khawatirkan berat badanmu, Yang terpenting kamu dan anak mu sehat" Nyonya Lingga mengelus kepala Nara.
"Betul apa yang di katakan Mami mertuamu sayang, Kamu jangan mengkhawatirkan berat badanmu, Itu hal wajar saat hamil, Nanti setelah melahirkan kamu bisa mengembalikan berat badanmu lagi sayang" Kini gantian Nyonya Anggie yang menasehati Nara.
Beruntung Nara memiliki Ibu yang selalu mendukung nya dan Ibu mertua yang tidak pernah mempersalahkan berat badan Nara, Sebab di luaran sana tidak semua ibu mertua mau menerima keadaan menantunya yang memiliki berat badan berlebih saat hamil, Beberapa bahkan ada yang ikut merundung menantunya dan pada akhirnya membuat menantunya stres yang berakibat pada anak dalam kandungan menantunya, Namun parahnya mereka tidak menyadari kesalahan mereka dan malah kembali menyalahkan menantunya.
"Tunggu ya sayang, Mami buatin cheese cake nya dulu" Nyonya Lingga meninggalkan Nara dan Nyonya Lingga, Namun sebelum itu Nyonya Lingga mencium kening Nara sebentar.
Nyonya Anggie dan Nara mengobrol sebentar seputar apa saja yang harus di lakukan ibu baru, Nyonya Lingga banyak memberi masukan dan nasehat untuk Nara, Beberapa saat kemudian Nara sudah merasa lelah Nyonya Anggie menyuruh Nara untuk beristirahat di kamar, Nyonya Anggie juga membantu Nara sampai kamarnya, Mengecup kening Nara sebentar setelah itu Nyonya Anggie pergi ke dapur untuk membantu Nyonya Lingga.
Di kamar ponsel Nara berdering panggilan vidio masuk dari Langit, Nara langsung menjawab dan langsung terpampang wajah Langit yang sedang berada di kantor, "Sayang sedang apa?, Sudah makan buah belum?" Pertanyaan yang selalu rutin Langit tanyakan saat tidak bersama istrinya.
__ADS_1
"Sedang tiduran, Sudah Mas tadi aku sudah makan buah" Jawab Nara masih dengan posisnya bersandar di sandaran ranjang.
"Pinter istri Mas, Baby boy rewel ga sayang?" Tanya Langit lagi, Ya calon anak Langit dan Nara berjenis laki-laki, Mereka mengetahui jenis kelamin calon anak mereka saat usia kandungan Nara tuju bulan.
"Engga Mas, Baby boy ga rewel dia malah pinter banget, Mungkin Baby boy tau Ayah nya sedang tidak ada" Calon anak mereka sangat dekat dengan Langit, Setiap Langit ada di dekat ibu nya dia selalu menendang-nendang perut Nara seolah memanggil Langit, Dan saat Langit sudah mengelus perut Nara barulah ia merasa tenang.
"Benarkah, Coba sayang arahkan ponselnya ke perutmu, Mas mau ngomong sama Baby boy" Pinta Langit dan Nara langsung mengarahkan ponselnya ke perutnya.
"Hai jagoan Ayah, Sehat-sehat ya di perut Bunda, Ayah sayang banget sama kamu dan Bunda, Jangan rewel ya kasian Bunda, Tunggu ayah pulang ya sayang" Ucap Langit dan langsung mendapat respon dari calon anak mereka, Ia menendang perut Nara dan Langit menyaksikan gerakan itu.
"Anak pintar" Senang Langit anak nya merespon ucapannya.
"Kapan Mama sama Mami datang sayang"
"Belum lama Mas"
"Yasudah kamu hati-hati ya sayang, Ingat jangan capek-capek, Kalau mau apa-apa minta sama Zayan dan Ziyan" Pesan Langit sebelum mengakhiri panggilan vidio.
"Iya Mas, Mas cepet pulang ya aku kangen" Jawab Nara membuat Langit gemas.
"Iya sayang Mas akan langsung pulang setelah menyelesaikan pekerjaan Mas"
__ADS_1
"I Love You Mas"
"I Love You Too Bunda" Nara tersenyum mendengar panggilan Bunda dari Langit, Setelah itu panggilan terputus, Nara dan Langit ingin anak mereka memanggil Ayah dan Bunda kepada mereka.
Nara merebahkan tubuhnya selang beberapa menit Nara tertidur, Dalam tidur Nara bermipi seorang anak laki-laki datang kepadanya dengan berlumur darah dan memanggilnya Bunda, Anak laki-laki itu menatap Nara sembari menangis, Di dalam mimpi Nara ingin menggapai anak laki-laki itu namun tidak bisa, Anak laki-laki itu terus menangis memanggil Bunda kepada Nara, Nara terus berusaha menggapai anak itu namun tetap tidak bisa, Nara menangis histris dalam mimpinya saat melihat anak laki-laki itu di seret oleh seorang wanita dengan kejam dan hilang dari pandangannya.
"JANGAN" Teriak Nara.
Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga yang mendengar suara jeritan dan Tangisan Nara langsung berlari ke kamar Nara, Nara menangis histeris dalam tidur nya tangannya melambai-lambai ingin menggapai sesuatu, Nyonya Anggie dan Nyonya Lingga membangunkan Nara.
"Sayang bangun" Nyonya Anggie menepuk pipi Nara.
"Bangun nak, Kamu hanya mimpi ayo bangun" Nyonya Lingga juga menepuk pipi Nara.
Nara membuka matanya lalu menangis histeris dan langsung memegang perutnya, Nara merasa takut Mimpi itu seperti nyata, Nyonya Anggie memeluk Nara mengelus kepala Nara, Sudah beberapa menit Nara masih saja menangis dan Nara juga tidak menjawab pertanyaan dari Nyonya Lingga dan Nyonya Anggie.
Nyonya Lingga menghubungi Langit menceritakan apa yang terjadi kepada Nara, Langit yang mendapat kabar jika istrinya sedang tidak baik-baik saja langsung meninggalkan pekerjaan nya dan langsung pulang, Langit membawa mobil dengan kecepatan tinggi, Ia ingin segera sampai di Rumah, Sungguh Langit merasa khawatir dengan keadaan Nara saat ini.
Di rumah Nyonya Lingga dan Nyonya Anggie masih berusaha menenangkan Nara, Nara sendiri sedari tadi memegangi perut nya ia takut anak laki-laki yang ada dalam mimpinya itu adalah anak nya, Semakin memikirnya membuat Nara semakin menangis, Bibirnya pun terasa kelu untuk menceritakan apa yang terjadi.
NOTE : Tidak ada salah nya kamu mencoba hal baru untuk mencari kebahagian mu yang sesungguhnya.
__ADS_1