
"Kamu berkata benar, Nao. Ketika aku tahu masa lalumu, aku tidak bisa menerima semuanya". Kata Darvin sambil menyeka air matanya.
Baru kali ini ku lihat seorang Darvin, yang dikenal pria dingin, arogan dan acuh bisa mengeluarkan air mata hanya karena cinta.
"Tuan Darvin, bukalah hatimu untuk menerima perempuan lain yang lebih baik dariku, aku yakin wanita itu akan mencintaimu dan menyayangi Vania". Kata ku sambil memegang tangan Darvin, untuk menenangkan hati dan pikirannya yang kini tengah bergejolak.
"Nao, seumur hidupku baru kali ini aku mencintai seseorang yang sangat dalam". Katanya sambil membalas genggaman tanganku, matanya yang mulai sembab.
"Aku paham dengan perasaanmu, tapi tidak bisa memaksakan semua ini. Aku selalu sadar dengan statusku, tidak akan mudah orang menerimanya".
"Aku akan mencoba perjodohan ini". Katanya sambil tersenyum dan kamipun saling melepas genggaman.
Aku mendengarnya begitu kaget, tidak menyangka Darvin akan benar-benar meninggalkan ku selama tiga tahun disampingku.
__ADS_1
"Apa kamu pernah mencintaiku sedikit saja?" Tanya Darvin dengan tatapan sedih.
"Mencintaimu pernah atau tidak, harusnya aku sadar bahwa statusku tidak akan bisa diterima. Meskipun kamu menerimanya, keluargamu akan sulit". Jawabku dengan santai.
"Apa kamu menyesal dengan statusmu yang sekarang, diusia yang masih mudah?" Tanyanya lagi.
"Tak perlu disesali. Takdir kematian yang membuatku terpisah, bukan karena pihak lainnya. Lagipula ini bukan keinginanku, tidak ada yang mau seperti ini". Jawabku sambil menundukkan kepala.
"Ini alasanmu menyembunyikan semuanya? Bukan karena malu?" Tanya Darvin sambil mengelus-elus kepalaku.
"Kau benar, kau tidak salah menyembunyikannya. Tenanglah, selesaikan kuliahmu disini". Ucapnya sambil menyeka air mataku dan memelukku. Lagi-lagi aku terdiam dalam pelukan Darvian, terhanyut dalam dekapannya. Kami berpelukan begitu lama, seakan ini adalah pelukan perpisahanku dan terakhir dengan Darvian sebelum akhirnya Ia menikah.
Bekerja part time disebuah restoran mewah dengan gaji yang lumayan untuk memenuhi kehidupan sehari-hariku. Sepulang kuliah, aku bekerja di restoran dan pulang pukul 10 malam. Meski melelahkan tapi ini lebih baik, agar setiap malam aku tidak menangisi Rayyan dan Ranvie lagi.
__ADS_1
Sore harinya Darvin memutuskan untuk bertemu dengan wanita pilihan orangtuanya di sebuah restoran tempat Naomi bekerja.
"Tuan Darvin". Sapa wanita itu yang berdiri di depan Darvin.
"Yah, Nona Mona". Sapa balik Darvin, sambil berdiri dari kursinya. "Ayo silahkan duduk". Lanjutnya sambil duduk bersamaan.
"Udah lama ya?" Tanya Mona yang begitu senang bertemu Darvian.
"Lumayanlah". Jawab Darvin santai. "Kamu pesan dulu saja". Lanjutnya sambil memberi buku menu.
"Oke", ucap Mona mengambil buku menu itu. "Saya pesan steak beef lada hitam dan ice lemon tea". Lanjut Mona sambil menutup buku menu dan memberikannya ke pelayan, pelayan itupun mencatatnya.
"Baik, Tuan dan Nona. Mohon tunggu pesanan anda beberapa menit". Kata pelayan dengan ramah, lalu meninggalkan mereka pergi.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka bertemu dengan Tuan Darvin yang ternyata aslinya keren ya". Puji Mona sambil tertawa, mengajak Darvin bercanda.
"Nona Mona, anda terlalu berlebihan". Ucap Darvin sambil tertawa.