
Malam harinya Darvin dan Naomi menikmati makan malam mereka di sebuah restoran yang tak jauh dari hotel tempat Darvin menginap. Saat itu juga Sarah yang datang di restoran itu bersama dengan teman-teman sosialtianya tanpa sengaja matanya melihat Darvin bersama perempuan lain, Ia datang menghampirinya dengan kesal dan langsung memukul meja yang di tempati oleh mereka berdua, tentu saja membuat keduanya tersentak kaget. Naomi yang di buat kaget langsung berdiri dan menampar Sarah dengan keras.
Plak!!!
"Kamu berani sekali". Bentak Sarah dengan nada tinggi sembari memegang pipi bekas tamparannya. Darvin yang melihat hal itu tiba-tiba terbelalak dan tak bergeming dengan tingkah Naomi. Sarah yang melihat Darvin langsung menghampirinya dengan manja. " Darvin, kamu lihat perempuan ini, sangat kasar ". Sarah melihat Naomi dengan sinis. Naomi melihat tingkah Sarah jadi kesal, terlebih lagi panggilannya ke Darvin terasa akrab.
Darvin? Gumam Naomi keheranan menatap Darvin. Seketika wajah Darvin memperlihatkan kepanikan.
" Kamu siapa? Berani sekali kamu mendekati calon suamiku". Gertak Sarah kesal sembari merangkul tangan Darvin. Naomi yang mendengar dan melihatnya merangkul Darvin, menatap Darvin dengan penuh pertanyaan terlebih lagi Darvin terlihat tidak menolak.
__ADS_1
Aduh kenapa jadi kacau begini sih. Batin Darvin kesal.
"Mas apa benar yang dikatakannya? Kenapa kamu tidak menolak atau memberontak?" Tanya Naomi dengan pandangan yang berbinar-binar. Darvin hanya terdiam dan tak bergeming, Ia tak mampu menjawab pertanyaan Naomi. Ia hanya menatap Naomi dengan penuh kesedihan di dalam matanya.
"Jangan dekati calon suamiku. Kamu akan berurusan denganku". Ancam Sarah dengan senyum sinis. Ia semakin senang karena merasa Darvin ada di pihaknya. Seketika air mata Naomi jatuh di pelupuk matanya, Ia merasa Darvin diamnya adalah jawaban yang membenarkan semua perkataan Sarah. Lalu tanpa berkata apapun lagi, Naomi berlari pergi meninggalkan mereka sambil menangis. Darvin tak mengejarnya, Ia membiarkan Naomi pergi tanpa memberinya penjelasan.
Harusnya bukan malam ini aku ingin berpisah darimu. Aku ingin melewatkan beberapa saat bersamamu, tapi semuanya sudah terjadi. Maafkan aku, Omi. Gumam Darvin sedih, Ia menutup matanya menahan bulir air mata jatuh dipelupuknya karena masih mengingat ada Sarah di sampingnya.
"Bukan siapa-siapa". Balasnya singkat berbohong. " Kamu duduk, kita makan malam bersama". Lanjut Darvin seraya menarik tangan yang merangkulnya dan mengarahkannya duduk di kursi tepat di depannya.
__ADS_1
"Jangan bohong padaku". Seru Sarah kesal. Darvin mulai emosi, Ia tak bisa membendungnya, lalu berdiri dan meninggalkan Sarah tanpa berkata-kata. Namun Sarah tak berhenti berteriak memanggil nama Darvin tapi tak diindahkan olehnya, Ia terus berjalan.
Darvin yang begitu kesal dan sangat menyesal keluar dari restoran tersebut, lalu Ia berhenti disudut tembok restoran, mengambil handphone menghubungi Ram.
Tut! Tut! Tut! Suara bunyi telpon.
" Ram". Sapa Darvin dengan kondisi tak bisa menahan rasa sakit di dadanya. "Ram hubungi Hans, lakukan rencananya sekarang". Titah Darvin seraya menutup telponnya sebelum Ram menjawab, dari balik telpon Ram terperangah. Ia hanya bisa melakukan perintah Darvin lalu menghubungi Hans dalam keadaan bingung.
" Tuan Hans, sekarang juga anda menemui Naomi". seru ram dari balik telpon.
__ADS_1
"Baik, Tuan Ram". Hans mengikuti perintah dari Ram, Ia pun segera bergegas menemui Naomi dengan melajukan mobilnya secepat kilat kerumah Naomi.