Sendiri

Sendiri
Episode 30


__ADS_3

"Apa kau terpaksa bertemu denganku?" Tanya Rayyan dengan wajah serius dan dingin


Kenapa wajahnya menakutkan? Gumam Naomi ketakutan. "Ti.. tidak, tentu saja tidak". Jawabnya canggung


" Apa kau mau dijodohkan denganku?"


"Itu.. itu terserah dari orangtua Mas Rayyan dan ayahku, aku mengikuti". Jawabnya senyum getir.


" Kenapa aku merasa kau seperti terpaksa menerimanya?"


Aku bingung harus jawab apa, aku tidak ingin membuatnya kesal dan membuat ayah kecewa. Batin Naomi. "Maaf sebelumnya Mas Ray, harusnya anda paham jika saya terpaksa menerima semua ini, karena saya punya keinginan. Maafkan saya jika ucapan saya membuat Anda kesal dan kecewa, tapi saya mau belajar untuk menerima semuanya tanpa keterpaksaan, mengingat Ayah saya tidak pernah meminta apapun, saya ingin mengikuti kemauannya. Tapi apakah anda bersedia memberi saya waktu untuk menerimanya?" Tanya Naomi tersenyum.


Rayyan tertegun, Ia makin takjub dengan gadis yang di cintainya, Ia tak menyangka jika Naomi bisa berbicara sedewasa ini terhadapnya.


"Yah tentu saja". Jawabnya singkat.


"Mas Rayyan sendiri, apa tidak terpaksa?"


"Aku sama denganmu, akan sama-sama belajar". Jawabnya. Gadis bodoh, Ia belum paham ternyata perasaanku padanya. Hm, sudahlah setidaknya Ia mau menerimaku meski harus keterpaksaan. Nanti juga Ia akan membalas rasaku. Gumamnya.


"Kamu pulang biar aku antar ya!" Lanjut Rayyan.

__ADS_1


"Tidak perlu Mas, nanti aku pulang sendiri saja, tidak ingin merepotkan siapapun". Tolak Naomi.


" Aku tidak merasa repot, tenang saja. Lagian sebentar lagi akan malam, tidak baik buatmu pulang sendiri".


"Saya sudah biasa Mas Rayyan, hal seperti ini selalu saya lakukan".


"Apa?" Kaget Rayyan. "Kamu berani juga, kenapa Ayahmu tidak menjemput?"


"Saya tidak ingin membebani Ayah saya, Mas apalagi merengek hanya hal sepele seperti ini". Jawab Naomi senyum.


Tidak ku sangka, Ia benar-benar mandiri. Bisa melakukan apapun dengan sendiri di usianya yang masih remaja. Gumam Rayyan.


" Apa kamu bisa masak?" Tanya Rayyan sambil menyeruput kopi yang telah di pesannya.


" Kamu benar, Ayahmu hanya mengharapkan mu".


"Mas Rayyan khawatir yah kalau aku tidak bisa masak?" Tanya Naomi tertawa kecil.


"Tidak juga. Kamu bisa atau tidak, aku tetap akan menggunakan ART".


Malam harinya, Naomi dirumah dan bertemu Pak Arka.

__ADS_1


" Bagaimana hari ini?" Tanya Pak Arka didepan pintu kamar Naomi yang terbuka lebar, karena melihat Naomi sedang duduk di meja belajarnya. Naomi membalikkan badannya dan berjalan menuju kearah Pak Arka, menarik tangannya duduk di pinggir kasur.


"Baik Ayah, Mas Ray orang yang pengertian".


" Apa kamu setuju?"


"Aku mengikut saja, Yah". Jawabnya tertunduk.


" Jika kau merasa terpaksa, Kau boleh membatalkannya, jangan karena keogoisan Ayahmu ini membuatmu menderita" Ucap Pak Arka sedih.


"Tidak, Yah. Aku pasti akan perlahan-lahan menerima semua ini, Ayah tidak perlu khawatir. Mas Ray juga mau belajar menerima semua ini".


Pak Rayyan orang yang tepat, aku yakin dia tidak akan membuat Naomi menderita selama menjadi istrinya, Orangtuanya pun juga baik dan pasti akan menyayangi Naomi seperti anak mereka sendiri. Batin Pak Arka.


" Apa ada sesuatu disampaikan Rayyan kepadamu?"


"Belum ada Ayah, hanya saja hari ini aku terlambat karena kendala dijalan tadi begitu banyak". Jawabnya sambil menghela nafas panjang.


" Apa Pak Rayyan marah padamu?"


"Tidak kok Ayah, Mas Ray baik. Hanya saja, Mas Ray ingin aku menemaninya seharian penuh sebagai keterlambatan ku hari ini".

__ADS_1


" Kapan Pak Rayyan mengajakmu lagi?"


"Minggu depan".


__ADS_2