
Hari berikutnya, Sarah mendatangi kantor Darvin. Meski Ia telah di permalukan tapi Sarah tidak mempedulikannya. Ia hanya fokus dengan tujuannya untuk mendekati Darvin. Saat itu Darvin hanya terduduk di sofa kerjanya seraya membaca dokumen yang di berikan sekertarisnya. Tanpa mengetuk pintu, Sarah masuk dengan gaya yang begitu angkuh membuat Darvin begitu murka, tetapi Ia menahan amarahnya dan begitu lembut menyambut Sarah.
"Nona Sarah, apa yang membuat mu kemari?" Tanya Darvin senyum sumringan.
"Tuan Darvin, aku kesini tentu saja ingin menemui mu". Balas Sarah angkuh.
" Katakanlah ada apa?"
"Aku ingin makan siang bersamamu". Ucap Sarah manja.
" Hm, baiklah ayo". Ajak Darvin terpaksa.
Meski harus terpaksa menerima ajakan Sarah, Darvin harus menunjukkan hal baik di depan Sarah demi rencananya. Sarah dengan angkuhnya menggandeng tangan Darvin, berjalan menyusuri ruang kerja para pegawainya, hingga para karyawan membicarakan sikap Darvin dengan suara pelan. Meski Darvin mendengar tapi mengacuhkannya, Sarah dengan kesal mendengar hal itu jadi merengek ke Darvin.
"Tuan Darvin, karyawan mu sepertinya butuh liburan panjang". Sindir Sarah dengan nada tinggi.
" Tidak perlu pedulikan mereka". Acuh Darvin seraya terus berjalan. Sarah mendengus kesal dengan tatapan sinis melihat ke karyawan Darvin lalu mengikutinya dari belakang.
__ADS_1
Awas aja kalau aku sudah jadi Nyonya, aku akan pecat orang-orang tidak berguna. Gumam Sarah kesal.
Para pekerja di perusahaan Darvin sangat tahu bagaimana sikap bosnya membawahi mereka, meski terkenal sangat tak berperasaan saat berhadapan dengan pekerjaan, namun Darvin ketika diluar dunia kerja sangat perhatian pada bawahannya. Sangat jarang mereka bergosip apalagi saat Naomi selalu ke kantor Darvin, mereka sangat ramah dan senang melihat Naomi, sehingga jarang para karyawan bergosip tentang Darvin. Jika kali ini Darvin mengacuhkan pembicaraan mereka di belakang itu sengaja Ia lakukan agar Sarah tidak nyaman berada di kantor.
"Tuan Darvin, kamu harusnya memecat karyawan yang tidak berguna seperti mereka yang tahunya hanya berbicara di belakang tentang kita". Ujar Sarah manja. Membuat Darvin begitu jijik dengan rengekan Sarah, Ia tak tahan berada di dekatnya, Ia selalu membayangkan wajah Naomi sehingga hatinya sedikit tenang menghadapi Sarah.
"Akan aku pikirkan". Kata Darvin senyum pahit.
Hm, ternyata Darvin orang yang mudah di dekati, aku pikir akan sulit menaklukkannya. Aku yakin bisa dengan cepat menjadi nyonya. Gumam Sarah senyum licik.
Ketika mereka sedang makan siang, terlihat Darvin hanya biasa-biasa saja berbicara dengan Sarah, sementara Sarah sangat antusias dan senang. Kala itu, Naomi tanpa sengaja melintas di jalan yang melewati tempat Darvin dan Sarah makan. Ia sepintas seperti melihat Darvin, tapi Ia mengabaikannya dan melanjutkan jalannya ke kantor Darvin.
Bos tidak bilang soal Nona Naomi yang akan datang hari ini, aku harus apa? Batin Ram bingung. Ia mengirim pesan ke Darvin.
Bos Darvin
Bos gawat, Nona Naomi datang ke kantor.
__ADS_1
Ting! Pesan berbunyi, Darvin membacanya dan Ia pun terbelalak. Lalu membalas pesan Ram.
Ram
Katakan aku sedang meeting, urus Naomi di kantor aku akan membuat segera Sarah pergi setelah makan siang.
Ram yang begitu panik dengan kedatangan Naomi lalu segera menghampirinya dengan rasa gugup. "nona Naomi".
" apa bosmu ada?" tanya Naomi menghentikan langkahnya yang tiba-tiba dicegat oleh Ram.
"ada, tapi bos lagi rapat di luar". balas Ram berbohong dengan senyum paksa menyembunyikan kegugupannya.
" hm, baiklah. bolehkah aku menunggunya di ruangannya?" pinta Naomi.
"tentu saja". seru Ram. " aku akan mengantarmu". sambung Ram.
"tidak usah, aku bisa sendiri. Terima kasih". tolak Naomi dengan halus. Ram pun mengiyakan penolakan Naomi, Ia hanya mengantarnya di depan lift yang biasa digunakan Darvin. Ram tidak mengalihkan pandangannya sampai pintu lift tertutup.
__ADS_1
syukurlah, nona Naomi tidak curiga kalau aku sedang membohonginya. batin Ram dengan menghela nafas lega.