
Darvin mengantar Naomi pulang kerumahnya setelah keluar dari rumah sakit. Mereka hanya diam dalam mobil tak bicara sepatah kata pun, hal ini membuat Naomi canggung dan Darvin terlihat santai menyetir. Tiba dirumah, Darvin membantu Naomi menuju ke kamarnya dengan menggandeng salah satu tangannya.
"Hati-hati, kamu masih perlu banyak istirahat". Imbuh Darvin dengan lembut.
" Terima kasih, sejujurnya ini tak perlu Tuan Darvin, aku bisa pulang sendiri".
"Aku masih penasaran dengan kamu yang tiba-tiba panas, kita bicara di kamarmu saja yah". Kata Darvin, setelah tiba di kamar Naomi Ia membantunya duduk di pinggir kasur dan mengangkat kakinya naik juga. Darvin duduk di samping tempat tidur Naomi, sementara Naomi duduk. Ia pun memulai pembicaraannya lagi, " katakan padaku apa yang terjadi sebenarnya?"
"Aku meluapkan semua emosi ku setelah bertemu denganmu". Balas Naomi dengan pandangan sayu kearah Darvin.
Menghela nafas yang panjang dan membelai pipi Naomi dengan lembut, Darvin berkata dengan suara pelan, " kau harus mengerti dari sikap ku yang ingin kau jauh, aku tidak ingin sesuatu terjadi padamu".
"Justru dengan menjauhi ku kamu membuat ku kenapa-kenapa. Perkataan menyakitkan mu saja bisa membuatku sakit, apalagi kalau kamu benar-benar menjauhi ku". Tandas Naomi.
" Jadi sekarang apa maumu?" Tanya Darvin sembari membelai punggung tangan Naomi.
"Aku ingin kau tetap bersamaku, aku tidak peduli bahaya di depanku saat bersama". Ucapnya sedih.
__ADS_1
" Aku takut kau kenapa-kenapa, aku tidak ingin kejadian Gita terulang".
"Tapi aku dan Gita berbeda, aku bukan orang yang memanfaatkanmu dari awal lalu mencintai mu dan berkorban untukmu. Dari awal Tuan Darvin yang terus mengejar ku, hingga akhirnya perasaanku tumbuh. Kalaupun sesuatu terjadi bukan karena merasa bersalah".
" Yah, kamu benar. Harusnya aku percaya padamu. Kita akan memulai semuanya dari awal, kita menikah saja". Ucap Darvin dengan raut wajah serius.
Naomi tercengang sekaligus terharu mendengar Darvin melamarnya lagi, Ia pun berkata dengan nada suara serak, "iya aku mau, tapi Tuan Darvin kita menikah setelah aku lulus ya?"
"Iya, aku akan menunggumu. Sama seperti dari awal yang terus menunggumu".
Darvin mengernyitkan dahinya, " kenapa kita tidak tidur di kasur yang sama?" Tanya Darvin menggoda Naomi.
"Tidak mau, kita belum jadi suami istri. Aku takut nanti setanmu datang". Jawab Naomi.
" Kalaupun terjadi, kita sama-sama suka dan lagi aku akan bertanggung jawab jika sesuatu terjadi padamu". Ujar Darvin dengan senyum menyeringai, Ia sangat senang mengganggu Naomi, Ia sebenarnya tidak mau melakukan apapun terhadap Naomi meski tidur bersama, Ia tetap akan menjaga Naomi, meskipun Darvin pria kejam Ia bukan lelaki brengsek yang suka merusak perempuan.
"Aku tidak mau, aku tidak percaya padamu". Ucap Naomi sambil membuang mukanya dari Darvin dan memajukan bibirnya.
__ADS_1
Memegang dagunya dan membalikkan kepala Naomi kearahnya sambil berucap dengan lembut, " meskipun aku sangat menginginkan tubuhmu, aku akan menunggumu sampai kau jadi istriku. Jangan takut, aku masih bisa menahan hal itu untuk orang yang ku cintai".
"Tetap saja aku takut". Dengan mata melotot.
" Aku tidak akan memaksamu, seperti mau mu aku akan tidur di kamar tamu atau di sofa. Tapi karena kau tau aku sedang dalam masalah dan aku takut kau jadi target, sofanya ku pindahkan di kamar ini juga". Ucap Darvin sembari melepas dagu Naomi.
Sembari menghela nafas panjang, Naomi berkata lagi, "terserah kau saja Tuan Darvin".
" Satu lagi, berhenti memanggilku Tuan. Kamu sekarang wanitaku".
"Jadi aku harus panggil apa kamu?" Tanya Naomi.
"Panggil aku 'sayang' saja". Balas Darvin tertawa mengejek.
" Tidak mau, aku panggil kamu mulai sekarang 'Mas Darvin', sesuai dengan umur mu yang sudah tua". Ujar Naomi senyum menyeringai.
"Terserah kau sajalah".
__ADS_1