
Alma sangat senang ketika Darvin setuju untuk memilih gadis pilihannya, hingga Ia tak sadar sedang memasukkan anaknya kedalam perangkap mafia. Ya, Sarah adalah wanita yang bekerja sama dengan Ronny, Darvin tahu tapi pura-pura tak tahu. Tujuan Sarah tak lain hanya ingin mengusai harta Darvin, kelak jika Sarah berhasil menikahi Darvin, maka Ronny akan membunuh Darvin dan Sarah akan menjadi satu-satunya hak waris untuk harta Darvin. Namun Ia bukanlah lelaki bodoh yang mampu dimanfaatkan, Darvin sengaja menyetujui perjodohonnya dengan Sarah agar, Ia menunjukkan dimana keberadaan Ronny. Sejak keluarganya mengalami perekonomian yang surut, Ronny mengajaknya kerjasama kalau itu.
"Sarah, bekerja samalah denganku. Ambil hati Darvin lalu kau akan menguasai hartanya". ujar Ronny yang saat itu sedang mengisap rokoknya dan duduk dikursi.
"Apa kau yakin aku bisa menjadi nyonya dikeluarga Darvin?" Tanya Sarah yang tak yakin.
"Sarah bukan kah kau sangat dekat dengan orangtua Darvin? bukankah kalian dari dulu hubungan kalian cukup dekat? saat ini Alma dan Aldi sedang mencarikan jodoh Darvin, kamu harus bisa mengambil kesempatan ini". seru Ronny sembari tertawa keras. Sarah hanya diam tak berbicara, Ia memikirkan kata-kata Ronny.
"baiklah, aku setuju denganmu". Sarah menyetujuinya dengan senyuman sinis, Ia membayangkan kelak menjadi jutawan yang paling kaya di kota B. Ronny sangat tahu persis jika Sarah sangat beda dengan Gita, Sarah hanya memikirkan uang dan tahta, Ia percaya Sarah tak akan menggunakan perasaan seperti Gita.
__ADS_1
*****
"halo". jawab telpon disebrang sana.
" Sarah kita berhasil membuat Darvin mau menerima mu, Ia menyerahkan semuanya pada tante". sahut Alma kegirangan.
"benarkah? kalau begitu kita percepat saja hari tunangannya tante". ucap Sarah tersenyum kecut, Ia merasa sangat senang karena selangkah lagi Ia akan mendapatkan semua yang diinginkannya. Ronny benar-benar membantunya mencapai yang diinginkannya.
Sarah tersenyum bahagia, karena akhirnya orang yang paling kaya di kota B sebentar lagi akan menjadi miliknya, begitupun kekuasaan penuh terhadap kota B. "Kau memang gadis cerdas Sarah". puji Sarah sembari memandang dirinya kearah cermin.
__ADS_1
*****
Setelah selesai mengurus pembayaran rumah sakit, Raka mengajak Naomi pulang karena Dokter yang menanganinya mengizinkannya pulang pada hari itu. Ketika mereka tiba dirumah, terlihat Hans berdiri menyandarkan tubuhnya ke mobilnya dalam keadaan melipat kedua tangannya yang Ia tempelkan ke atas perutnya. Naomi turun dari mobil lalu menghampirinya.
" Hans " sapa Naomi. Hans pun dengan cepat berdiri dan tidak lagi melipat kedua tangannya."apa yang kau lakukan disini?" tanya Naomi dengan wajah sembab.
"aku mengkhawatirkan dirimu, semalam aku melihat mu pulang menangis lalu tidak menemukan mu di kampus". jawab Hans sedih sembari memegang bahu Naomi.
Naomi menatap Hans lirih dengan tatapan yang mengisyaratkan bahwa hatinya sedang tidak tenang dengan yang terjadi semalam Ia tak mampu bercerita apapun pada orang-orang disekitarnya, namun Ia juga tak mampu menyimpan luka hatinya. Dalam keadaan bingung tanpa berkata sepatah katapun Naomi berjalan menuju kerumahnya diikuti oleh Raka dan Hans. Ia berjalan dengan tatapan kosong, seperti orang yang tak memiliki semangat hidup lagi, Darvin yang Ia percayakan cintanya padanya ternyata selama ini memiliki tunangan diam-diam di belakangnya. Hans dan Raka tak bergeming melihat Naomi berjalan selangkah demi selangkah seperti tak ada arah, mereka hanya bisa diam tak bisa melakukan apapun yang membuat Naomi kembali senyum, bahkan Raka tidak tahu apa yang terjadi. Hans mengetahui kejadian semalam namun Ia pun pura-pura bingung di depan Raka, meski Ia tahu Hans juga tak tahu mau berbuat apa. Naomi berjalan menuju kamarnya, lalu Ia menutup dan mengunci pintu kamarnya mengabaikan Hans dan Raka. Naomi membuang tubuhnya di tempat tidur dalam keadaan diam, masih dengan tatapan kosong, diam dan hanya berbaring meluruskan badannya, matanya melihat keatap langit yang Ia hias dengan pernak pernik bintang.
__ADS_1
Raka dalam kebingungan, Ia tak berhenti bolak balik di depan Hans yang sedang duduk berpikir. Namun Raka seketika ada ide, Ia menjauh dari Hans lalu mengambil handphonenya, memencet nomor dan berbicara dengan seseorang disebrang telpon. Hans yang memperhatikan Raka dari jauh bingung dan tak tahu siapa yang ditelpon Raka, Ia tak mengerti rencana apa yang dibuat Raka. Setelah selesai menelpon Raka kemudian bergegas kembali ke tempat dimana Hans berada, Hans yang melihat Raka selesai berbicara langsung kembali ke tempatnya duduk di tempat semula, seolah-olah tak tahu apa-apa.