Sendiri

Sendiri
Episode 47


__ADS_3

Paginya diruang makan dirumah Darvin....


"Vin, mama mau mengenalkan mu pada seseorang". Imbuh Bu Alma yang telah selesai menyantap sarapan paginya.


" Aku menolaknya". Tandas Darvin datar.


"Sampai kapan kamu menolaknya?" Tanya Bu Alma kesal. "Semua ini pasti karena perempuan itu kan?" Tanyanya lagi.


"Bukan urusanmu. Berhentilah menjodohkan ku dengan perempuan mana pun aku akan selalu menolaknya". Tegas Darvin.


" Darvin, jaga ucapan mu kepada mama mu". Teriak Pak Aldi.


"Aku akan menjaga sikap ku jika Ia juga tidak mencampuri urusan ku". Imbuh Darvin dingin.


" Mama mu bersikap baik, Ia hanya mau mencarikan mu yang terbaik". Jelas Pak Aldi geram.


"Yang terbaik, aku punya penilaian ku sendiri". Ucap Darvin dengan senyum sinis.


" Kalau kamu berpikir bisa mencari yang terbaik, mungkin kamu tidak akan salah dalam menilai Gita". Tandas Pak Alma menyindir.


"Gita hanyalah masa lalu, bukan urusan kalian mengungkitnya". Kata Darvin acuh lalu bangkit dari kursinya dan pergi meninggalkan meja makan.


" Darvin... Darvin... Darvin". Panggil Bu Alma tapi tidak di hiraukan oleh Darvin. "Mama belum selesai, kembali kamu". Teriak Bu Alma kesal. "Pah, bagaimana ini?" Tanya Bu Alma sedih ke suaminya Pak Aldi.


"Tenang yah mah". Ujar Pak Aldi sembari memeluk istrinya untuk menenangkannya. " Mama bicara saja dengan Sarah, suruh Ia lebih dulu mendekati Darvin, bukankah Ia sangat mencintai Darvin dari dulu". Lanjut Pak Aldi.


"Tapi, Pah biar bagaimana pun Sarah juga punya harga diri pasti tidak akan mau mendekati Darvin lebih dulu". Jelas Bu Alma.


"Mah, zaman sekarang mau laki-laki atau perempuan yang mendekati lebih dulu tidak masalah, cinta juga harus di perjuangkan". Sergah Pak Aldi.


" Pah, cara itu akan makin membuat Mas Darvin marah besar". Sanggah Livy yang ikut juga berkomentar.


"Di coba saja dulu". Ngotot Pak Aldi.

__ADS_1


"Papa tau kan bagaimana sikap Mas Darvin kalau Ia di dekati perempuan yang tidak Ia sukai, lagipula Mas Darvin suka sama anak muridnya". Jelas Livy.


" Mama tidak setuju dengan perempuan itu, latar belakangnya tidak jelas". Sergah Bu Alma geram kemudia Ia melepaskan diri dari pelukan suaminya.


"Mama dan papa tidak akan sanggup melawan Mas Darvin, semakin kalian memaksanya, semakin Mas Darvin memberontak. Harusnya kalian paham dengan sifat Mas Darvin yang selalu punya pilihan sendiri". Bela Livy tegas.


" Kamu kok jadi sama dengan kakak mu?" Tanya Pak Aldi melotot.


"Karena aku paham dengan sifat Mas Darvin, aku takut jika kalian memaksanya, kalian sendiri yang menjerumuskannya". Balas Livy lirih.


" Oma, Opa. Tante Livy benar, lagian orang yang disukai Om Darvin sangat baik". Sergah Vania.


"Anak kecil kayak kamu tau apa sih!" Sergah Bu Alma melotot ke arah Vania.


"Apa yang di bilang Vania itu benar, tidak hanya baik tapi Ia memiliki bakat, latar belakangnya memang tidak jelas tapi Ia sungguh berbakat". Tandas Livy membela Darvin, Ia paham dengan kakaknya yang selalu menginginkan Naomi disisinya. Ia setuju jika Darvin bersama Naomi, mengingat kejadian masa lalu dengan Gita, Darvin pasti akan berhati-hati memilih perempuan.


" Kalian benar-benar. Pikiran kalian seperti sudah di rasuki oleh perempuan tidak jelas itu, sama kayak Darvin". Kata Bu Alma geram lalu pergi.


"Kalian lihat". Kata Pak Aldi seraya melotot ke arah Vania dan Livy lalu menyusul istrinya yang lagi marah.


Livy menghela nafas yang panjang, Ia tidak menjawab pertanyaan Vania, karena Ia masih belum cukup dewasa mengerti persoalan orang besar. Ia pergi meninggalkan meja makan di ikuti oleh Vania.


Dikantor Darvin...


Suara ketukan pintu, tok tok tok...


Dari dalam ruangan Darvin teriak, "ya, masuk".


Saat Livy melihat kakaknya sedang sibuk bekerja Ia menyapanya dan langsung mencercanya dengan berbagai pertanyaan, " Apa kamu lupa bahwa kekasih mu menunggumu?"


"Apa yang kau katakan? Darvin bertanya balik dengan wajah keheranan.


" Sampai kapan Mas Darvin akan menyembunyikannya dariku?" Livy bertanya lagi.

__ADS_1


"Kalau kau sudah mengetahuinya untuk apa aku beritahu mu lagi?". Sergah Darvin seraya berjalan ke arah adik kesayangannya. Yah Darvin sangat menyayangi Livy dan Vania melebihi apapun, karena mereka selalu mengerti Darvin.


" Mas kamu jahat, kenapa tidak memberi tahu ku kalau kamu dan Naomi sudah jadian?" Tanya Livy kesal seraya memukul badan Darvin.


"Hey, berhenti itu sakit". Keluh Darvin seraya tertawa. Ia kemudian memeluk adiknya dengan penuh kasih sayang dan Livy pun bermanja dengan kakaknya.


" Mas kamu curang, harusnya kamu ngomong sama aku kalau kalian sudah jadi kekasih, kapan kalian akan menikah?" Tanya Livy penasaran.


"Setelah kalian lulus". Balas Darvin singkat.


" Wah, aku tidak sabar menanti hal itu. Vania juga pasti senang". Ucap Livy penuh kegirangan.


Saat meraka sedang tertawa bersama, tiba-tiba Sarah masuk tanpa mengetuk pintu, seketika semuanya langsung hening dan Darvin marah besar.


"Siapa yang menyuruhmu masuk?" Gertak Darvin.


Bella sekertaris Darvin datang berlari dengan penuh ketakutan, "maaf Tuan, Nona ini memaksa masuk".


" Keluarlah Bella". Titah Darvin.


"Hei, apa kamu punya sopan santun masuk keruangan tanpa mengetuk dulu". Teriak Livy geram


" Maafkan aku nona telah mengganggu kebersamaan mu dengan calon suamiku, sebaiknya kau melepaskan diri darinya." Ujar Sarah langsung menarik tangan Livy dengan keras dari pelukan Darvin dan mendorongnya hingga jatuh. Livy jatuh tersungkur dan membuat Darvin marah besar. "Lain kali jaga sikap mu dengan lelaki milik orang".


PLAK.


Darvin menampar keras Sarah karena telah menyakiti Livy. " Keluar kamu". Teriak Darvin emosi.


"Beraninya kamu menamparku". Ujar Sarah seraya memegang pipinya.


" Aku bilang keluar, sebelum aku menyeretmu". Gertak Darvin lagi. Darvin mengangkat Livy bangun, "apanya yang sakit?" Tanya Darvin khawatir.


"Tangan kiri ku sepertinya sedikit terkilir deh Mas". Keluh Livy dengan nada manja. Darvin menggendong adiknya.

__ADS_1


" Jika kamu berani kembali kesini, aku akan membuat hidupmu tidak tenang". Ancam Darvin seraya berlalu meninggalkan Sarah, "Ram bawa orang untuk mengusir perempuan gila ini". Titah Darvin. Akhirnya Sarah diseret tidak terhormat keluar dari kantor Darvin dan semua orang yang melihat hal itu menjadikannya sebagai bahan perbincangan.


__ADS_2