
Setelah menghabiskan makanannya, Naomi menuju ke kamar Darvin. Ia melihat Darvin sedang merebahkan dirinya dengan kedua tangan di kepalanya. Bajunya sudah terganti, Ia masuk dengan hati-hati tanpa ada suara, karena takut membangunkan Darvin. Ia duduk di pinggir kasur membelakangi Darvin sembari memegang perutnya, rasa sakit di kakinya mulai terasa hingga Ia memijatnya dengan pelan. Ingin rasanya Ia meminta sama Darvin air hangat untuk merendam kaki bengkaknya namun Ia tak mau menyusahkan Darvin. Naomi hanya duduk diam sembari mengelus terus perutnya, sesekali membalikkan kepalanya melihat Darvin. Ia menyadari kedatangan Naomi, dan langsung memeluknya dari belakang membuat Naomi kaget.
"kau butuh sesuatu?" tanya Darvin berbisik lembut di salah satu telinga Naomi. Ia hanya menggelengkan kepalanya tanda Ia tak butuh apapun, padahal dirinya sudah tidak tahan dengan kaki bengkaknya. "katakanlah, aku akan mengambilkannya untukmu". lanjut Darvin lagi.
Ada apa dengannya? kenapa Ia jadi lembut padaku? batin Naomi dengan perasaan menahan kaki bengkaknya. Naomi tak menjawab apapun yang dikatakan Darvin, namun salah satu tangannya mengelus perutnya dengan lembut membuat Naomi makin berdiam diri dan keheranan dengan sikap Darvin. " aku semakin tak mengerti dirinya". gumamnya lagi.
"kenapa kau diam saja? apa kau perlu membersihkan dirimu?" tanya Darvin lagi yang tangannya masih mengelus lembut perut Naomi, Ia makin merasa senang karena Naomi tak menghempaskan tangannya saat menyentuh perutnya.
"tuan aku butuh air hangat untuk merendam kaki ku". jawab Naomi yang sudah tak bisa menahannya lagi, keringat di dalam bajunya tak berhenti mengalir.
" baiklah tunggu aku ". ucap Darvin melepaskan dirinya dari Naomi, Ia bergerak menuju ke kamar mandinya. Tak lama Ia keluar dengan seember air yang di bawahnya.
Hah? Dari mana ember itu berasal? batin Naomi terkejut melihat Darvin membawa ember. Lalu Darvin menundukkan dirinya di hadapan Naomi, mengambil salah satu kakinya untuk dicelupkan ke ember yang di bawahnya lalu mengambil kaki satunya lagi. Darvin membersihkan kaki Naomi, membuat Naomi merasa tak enak hati. " tuan, tidak usah. aku hanya mau merendamnya bukan membersihkannya ". tolak Naomi meraih tangan Darvin untuk segera berdiri, Darvin pun berdiri dan duduk di samping Naomi mendekatkan dirinya, salah satu tangannya kembali mengelus perut Naomi lagi, membuat Naomi menatapnya dengan pandangan sendu. Darvin tersenyum manis saat membalas pandangan Naomi, perlahan mendekatkan wajahnya ke Naomi lalu mencium bibirnya dengan lembut, membuat Naomi tak bisa menolaknya.
" maafkan aku". tutur Darvin lembut sembari melepaskan ciumannya dari Naomi. Ia tercengang mendengar kata maaf. "maafkan aku sudah membuat mu menderita". katanya lagi sembari menyeka rambut Naomi. Air mata yang dari tadi ditahan Naomi tak dapat Ia bendung, akhirnya jatuh di pelupuk matanya membasahi pipinya.
" kau sangat jahat, kau tahu aku sangat menderita karena mu". ucap Naomi sembari memukul dada bidang Darvin yang datar. Darvin meraih tangan itu lalu memeluknya.
"yah, aku memang jahat. maafkan aku. hina aku sepuas mu malam ini, aku akan menerimanya". kata Darvin sedih, air matanya ikut menetes memeluk Naomi.
__ADS_1
" aku mau pulang". pinta Naomi melepaskan diri dari pelukan Darvin, Ia menatap Darvin dengan tatapan masih berlinang air mata.
"apa kau tidak ingin bersamaku malam ini?" tanya Darvin yang melingkarkan tangannya ke pinggang Naomi Ia merasa tubuh Naomi makin melebar.
"tidak". Naomi menggelengkan kepalanya. Ia ingin pulang takut membuat Manda cemas, selama ini Ia selalu menjaga dirinya demi Manda, karena sudah bersedia menerima dirinya.
" tapi aku ingin". ucap Darvin tegas. Naomi terdiam menundukkan pandangannya dari Darvin, selama Ia mengalami rasa sakit yang diberikan Darvin padanya, Ia jadi kebanyakan diam dan selalu pasrah dengan apapun. Darvin menatapnya dengan iba, Ia mengiyakan permintaan wanita yang dicintainya agar suasana hatinya tetap senang. "baiklah, aku akan mengantarmu. Tapi kamu bersihkan dirimu dulu setelah itu aku antar kamu". ucapnya lagi, Naomi hanya menganggukkan kepalanya, Ia kemudian beranjak dari duduknya lalu menuju ke kamar mandi. Meski kakinya yang bengkak belum mereda Ia ingin memaksakan dirinya pulang karena tak kuat tinggal bersama Darvin, hatinya akan terus merasakan kesakitan dengan perlakuan yang menurutnya tak biasa.
Beberapa menit kemudian Naomi keluar dari kamar mandi, Darvin telah bersiap diri dengan pakaiannya. Namun langkahnya tertatih karena perutnya mulai keram, Darvin yang melihat Naomi yang tak biasanya berlari kearahnya dan langsung memapahnya. "apa kau baik-baik saja?" tanya Darvin cemas.
"yah, hanya sedikit keram". jawab Naomi.
" tak perlu, aku hanya butuh berbaring sebentar saja keramnya akan reda". sergaj Naomi, Ia paham dengan kondisinya karena ini bukanlah kehamilan pertamanya, sewaktu hamilkan Ranvie Ia juga selalu merasakan keram karena seringnya beraktivitas, apalagi ia telah berjalan selama 2 jam. "bawa aku ke tempat tidur saja". pintanya lagi, lalu Darvin langsung menggendong Naomi menuju tempat tidur. Naomi terbaring hingga Ia merasakan kantuk dan membuatnya tertidur. Darvin melihat wajah Naomi penuh kelelahan sehingga membiarkannya tertidur, menyelimutinya lalu mengcup kening Naomi dengan lembut.
Ditempat lain, Manda dan Raka tersadar Naomi tak ada di kamarnya membuat mereka cemas hingga berusaha menghubungi ponsel Naomi.
"halo". suara laki-laki dari balik telpon, membuat Manda tercengang.
" halo kamu siapa?" tanya Manda penuh kecemasan.
__ADS_1
"aku Darvin". Jawabnya. Karena Naomi sedang tertidur dan melihat panggilan dilayar handphone Naomi tertera nama Manda maka Ia pun berinisiatif mengangkatnya karena Darvin yakin orang rumah Naomi sedang mengkhawatirkannya.
" Darvin kenapa kamu?" tanya Manda keheranan.
"aku menemukan Naomi, jadi aku membawanya bersamaku". jawab Darvin santai.
" apa perlu aku menjemputnya?" tanya Manda.
"tak perlu, biarkan dia bersamaku malam ini. aku ingin bersamanya, besok aku akan membawanya kembali dalam keadaan baik,tak perlu cemaskan dirinya". jawab Darvin datar, tanpa berkata lagi Manda langsung menutup telponnya.
" mah, dimana Naomi?" tanya Raka cemas.
"dia bersama Darvin. ia ditemukan Darvin sekarang sedang tertidur". jawab Manda datar.
" apa perlu kita jemput?"
"tidak usah, malam ini Darvin ingin bersamanya. Biarkan saja, mungkin Naomi keluar sedang menenangkan hatinya". balas Manda, Ia kemudian pergi meninggalkan Raka, Ia tak mau Raka semakin banyak bertanya.
Darvin yang tak berhenti menatap Naomi dengan senyuman yang mekar bahagia. Ia benar-benar ingin memuaskan dirinya malam ini menatap Naomi dan mengelus perutnya. Ia pun ikut membaringkan dirinya disamping Naomi sembari memegang perutnya dan sesekali mengelus perutnya dengan menatap Naomi. tatapannya tak pernah Ia palingkan dari wajah yang saat ini tertidur pulas, hingga Darvin pun tertidur dengan salah satu tangannya memegang perut Naomi.
__ADS_1