
Naomi masuk ke ruangan Darvin dengan menerobos pintunya tanpa mengetuk dan mengindahkan kata-kata Bella. Darvin yang saat itu sedang bekerja, tetap santai dengan sikap Naomi.
"Maaf Tuan, Nona ini memaksa masuk". Ujar Bella.
Darvin berdiri dari kursinya dan menyuruh sekretarisnya keluar. Dengan melipat kedua tangannya, Darvin bertanya, " tidakkah kau punya sopan santun terhadap gurumu?"
"Aku tidak peduli". Ucap Naomi tegas.
" Kau mulai arogan, aku terlalu memanjakanmu selama ini". Kata Darvin dingin.
"Terserah Tuan Darvin ingin bilang apa mengenai diriku". Naomi acuh.
Darvin makin tidak paham dengan tingkah laku Naomi, Ia mengernyitkan dahinya sambil menatap Naomi dengan tatapan santai. Naomi membalas tatapan Darvin dengan tajam dan penuh keberanian. Darvin terheran baru pertama kalinya Naomi membalas tatapannya dengan begitu tajam, Ia pun tertawa sambil berkata, " Kau sudah mulai berani menatapaku".
"Karena Tuan Darvin bukan lagi guruku, tapi mantan guruku". Ucap Naomi tegas.
" Katakan ada perlu apa? Tidak perlu membuang waktuku".
"Aku ingin Tuan Darvin, membantuku mencari temanku". Kata Naomi tenang.
__ADS_1
Darvin tercengang, Ia melangkahkan kakinya perlahan-lahan kearah Naomi sembari melepas kedua tangannya yang terlipat dan mendekatkan wajahnya ke Naomi sambil berkata, " carilah orang lain, aku sudah cukup membantumu selama ini". membalikkan badan, membelakangi Naomi.
"Tapi aku butuh dia, namanya Sagita Savinda".Jelas Naomi.
Darvin tercengang mendengar nama Gita, Ia kemudian mengepalkan kedua tangannya dan marah. Seketika membalikkan badannya, lalu mencengkram tangan Naomi dengan keras dan Ia pun kesakitan.
" Apa maksudmu menyebut nama itu di depanku?"Tanya Darvin emosi.
"Sakit, hentikan Tuan Darvin Kamu menyakitiku". ujar Naomi kesakitan dan air matanya pun menetes. Darvin yang tersadar telah menyakiti Naomi, melepaskan cengkraman tangannya dan keringat dingin.
"Aku tahu, kau bukan teman Gita, kau hanya ingin tahu kebenaran dari cerita yang kau dengar".
"Kau sangat salah, kau bukan siapa-siapa ku lagi, kau tidak berhak tau soal Gita". Balas Darvin sedih.
" Waktu itu kau juga bukan siapa-siapa ku tapi sangat ingin tau tentang Rayyan dan Ranvie". Jelas Naomi dengan suara keras.
"Sekarang sudah berbeda, aku sudah menyerah dengan dirimu. Hampir 4 tahun aku menanti jawaban "IYA" darimu, tapi yang ku dapatkan selalu penolakan".
"Kalau sekarang aku berkata " IYA" padamu apakah Tuan Darvin memberiku kesempatan? " Tanya Naomi senyum. Darvin kaget dan melihat kearah Naomi dengan keheranan.
__ADS_1
"Apa maksudmu?" Tanya Darvin balik.
"Aku rasa tanpa ku jelaskan padamu, Tuan Darvin pasti paham dengan maksudku". Balas Naomi.
" Yah, aku paham maksudmu, tapi semuanya sudah terlambat". Ujar Darvin lembut.
Naomi kaget dan terdiam, Ia pun menangis dan begitu menyesal karena telah membuat Darvin akhirnya benar-benar meninggalkannya untuk selamanya. Naomi tidak bisa berkata apapun, dalam dirinya ingin mengembalikan waktu yang telah Ia sia-siakan selama Darvin mengejarnya, Ia pun berkata dengan lirih. "Maafkan aku".
Darvin sedih melihat Naomi menangis di depannya, Ia tidak sanggup melihat air mata orang yang dicintainya jatuh karena dirinya. Ia berjalan kearah Naomi, lalu memeluknya sambil berkata, " semua yang kau dengar tentang Gita itu benar. Kau pantas untuk yang terbaik, aku tau kau pasti akan sulit dengan semua ini, perlahan-lahan kau akan menemukan cinta yang baru".
Naomi melepaskan pelukan Darvin sambil mendoronganya dan berkata sambil terisak-isak dengan nada keras, "Aku tidak butuh cinta baru, aku tidak butuh nasehatmu".
" Aku sadar, kamu dihidup ku hanya akan membawamu ke dalam bahaya". Ucap Darvin senyum.
"Apa Tuan Darvin membahas soal mafia?" Tanya Naomi.
Seketika Darvin terdiam, tanpa sadar Ia membuka sendiri rahasia yang telah Ia tutupi dari Naomi selama bertahun-tahun, Ia kemudian menghindari Naomi dan pergi ke kursi kerjanya. Tanpa menjawab, Ia mengusir Naomi dengan suara keras, yang membuatnya kaget dan berlari keluar dari ruang kerja Darvin sambil menangis.
Darvin kemudian menyesali perkataannya, air matanya jatuh sambil menyandarkan tubuhnya dikursi dan berulang kali mengucapkan kata "Maaf".
__ADS_1