
Beberapa hari setelah pertemuan mereka di restoran kala itu, Manda harus kembali ke Kota X karena urusannya yang tak bisa Ia tinggalkan. Hal ini membuat Naomi kembali murung dan sedih, merasa sendiri. Berhari-hari Hans selalu datang mengunjunginya untuk menghiburnya namun tak berhasil, hingga Hans sadar bahwa cinta Naomi ke Darvin sangat besar akan sulit baginya untuk masuk ke kehidupan Naomi. Tak ada yang dapat dilakukan Hans kecuali menceritakan semua yang dilihatnya kepada Darvin. Ia mendatangi kantor Darvin dengan tatapan rasa sedih, Hans sangat iba melihat sikap Naomi yang lebih banyak diam, murung di kamar bahkan sesekali menangis, serta mogok makan.
"maafkan saya tuan, anda harus melihat kondisi Naomi yang begitu memprihatinkan".tutur Hans menatap Darvin sayu Ia membalas tatapan Hans dengan datar. Darvin paham Hans sedang khawatir, tapi Ia lebih paham Naomi.
" biarkan saja, aku harus menjalankan urusan ku setelah itu aku pasti akan kembali kepadanya".
"tapi tuan, lihatlah Naomi sekali saja. agar semangat hidupnya kembali". bujuk Hans berharap Darvin mau menemuinya walau hanya sekali saja. Darvin tak berkata lagi Ia hanya diam di tempatnya, tak menatap Hans lagi karena melihat wajah Hans membuat hatinya luka. Hans pergi dengan wajah penuh kekecewaan karena tak berhasil membujuk Darvin, Ia keluar dari kantor Darvin dengan perasaan sedih dan tatapan sayu, Ia kemudian berpapasan dengan Ram mengahadangnya dengan memegang salah satu bahunya.
" jagalah dia, aku yakin bos akan mempercepat ini semuanya". tutur Ram.
"tapi aku takut sesuatu terjadi padanya".
" bos sangat memahami Nona Naomi, Ia tak akan bertindak ceroboh jika Ia tak tahu Naomi seperti apa". tutur ram. Hans tak berkata apapun, Ia terdiam memikirkan perkataan Ram, seketika hatinya sedikit tenang dengan ucapan Ram. Ia berlalu meninggalkan Ram dan menuju ke arah mobilnya.
*****
Malam harinya Naomi tidur tanpa ada makanan yang masuk dalam perutnya, Ia bermimpi bertemu Rayyan dan Ranvie di sebuah taman indah, Ia melihat Rayyan dan Ranvie sedang bermain di suatu kolam yang berada dalam taman. Naomi menghampiri mereka yang sedang menikmati pemandangan ikan-ikan yang ada dalam kolam tersebut. Ketika Naomi dengan jelas melihat mereka berdua, air mata Naomi jatuh Ia menangis terharu melihat suami dan anaknya sudah bahagia, sementara dia masih saja dalam keadaan selalu sedih. Naomi menyeka air matanya lalu berjongkok menyentuh punggung Ranvie.
__ADS_1
"Ranvie". panggil Naomi dengan suara seraknya. Ranvie dan Rayyan menoleh kearah Naomi. Ranvie dengan senang melihat Naomi datang, melompat memeluk Naomi.
" mama". ucap Ranvie dengan suara lucunya.
"Omi". sapa Rayyan lembut. Naomi berdiri sembari menggendong Rayyan, lalu menatap Rayyan dengan wajah yang basah karena Ia tak mampu menahan tangisnya.
" mas Rayyan".
"Omi, apa yang telah terjadi kamu harus bisa menghadapinya dengan kuat. Aku selalu bersamamu dimanapun kau berada, aku dan Ranvie adalah bintang-bintang yang selalu kau tatap dimalam hari. Kau tak pernah sendiri, jangan menutup dirimu lagi. Aku selalu merestui segala hal yang kamu lakukan". kata Rayyan menasehati Naomi, Ia terdiam mendengar ucapan Rayyan, Naomi masih menggendong erat putranya, Ia sangat merindukan mereka berdua.
" mas, aku ingin ikut bersama kalian". pinta Naomi terisak-isak.
" mah, aku merindukan mu, aku dan papa akan selalu menunggumu ". ucap Ranvie dengan polos. Rayyan kemudian mengambil Ranvie dari gendongan Naomi.
" ayo kita harus pergi. kami pamit yah, jaga dirimu baik-baik". kata Rayyan lalu berjalan kearah sinar putih yang membuat pengelihatan Naomi jadi silau, Ia tidak dapat melihat kepergian Rayyan dan Ranvie, Ia mengejarnya dan berteriak memanggil nama mereka berdua dengan tangisan yang terus jatuh dipelupuk matanya. Kemudian Naomi terjatuh saat mengejar mereka, seketika Naomi terbangun kaget dan langsung duduk, tubuhnya dipenuhi keringat, Naomi tersadar itu hanya sebuah mimpi yang tak bisa nyata lagi, tapi kata-kata Rayyan masih menggema di pikirannya.saat Ia menoleh kearah sofa yang ada di kamarnya Naomi sangat kaget Ia melihat Darvin duduk menatapnya dengan pandangan menakutkan. Darvin berdiri dan menghampirinya naik di atas kasur
"kau,, sejak kapan kau disini?" tanya Naomi melototnya dengan penuh kebencian.
__ADS_1
"sejak kau memanggil nama Rayyan dan Ranvie" jawab Darvin tak senang. Ia kemudian menarik tangan Naomi secara paksa turun dari tempat tidur lalu keluar dari kamar dan rumahnya, membawanya masuk ke dalam mobil. Naomi meronta menolak, tapi Darvin tak peduli, kebetulan kala itu Raka sedang berada di rumah sakit.
"kau mau apa?" tanya Naomi dengan suara meninggi. tapi tak diindahkan oleh Darvin Ia hanya terus fokus menyetir mobil, Naomi makin kesal dan semakin memberontak minta turun dari mobil. lagi Darvin tidak mempedulikannya. Darvin membawa Naomi ke sebuah hotel lalu memaksanya turun, Ia hanya menatap Darvin dengan penuh amarah karena kesal Ia diculik malam hari, Darvin lalu memesan kamar. Ia menggenggam erat tangan Naomi secara paksa tiba di kamar itu Ia langsung membuang Naomi ke tempat tidur. Darvin membuka jasnya Ia membuangnya ke lantai, lalu membuka kancing bajunya, menindih Naomi dengan paksa. Naomi terkejut menatap Darvin.
apa yang akan dilakukannya? gumam Naomi keheranan. Naomi memberontak tapi karena Darvin begitu kuat sehingga Ia kalah dan membiarkan Darvin menindihnya.
"dengarkan aku, lahirkan anak untukku". ucap Darvin di telinga Naomi, seketika Naomi terbelalak.
" apa kau bilang? kenapa harus aku? bukankah sudah ada sarah? minta anak sama dia". gerutu Naomi marah, Ia masih tetap saja berusaha memberontak.
"aku mau kau, lebih baik kau diam dan ikuti perintah ku". tegas Darvin menatap Naomi dengan wajah dingin.
" aku tidak mau, aku..... Mmm". ucapan Naomi dipotong oleh Darvin karena Ia langsung membungkamnya dengan mencium Naomi secara ganas, membuat Naomi tak bisa bernafas. Darvin kemudian turun ke leher lalu ke dada Naomi, seketika Naomi mengeluarkan suara yang membuatnya makin membenci lelaki itu. Darvin membuka baju Naomi dan meraba tubuhnya dengan lembut.
Kenapa kamu lakukan ini.batin Naomi bersedih,air matanya tak dapat Ia bendung lagi, Naomi pasrah ketika Darvin menjamah tubuhnya. Namun perlahan Naomi mulai merasakan kenikmatan cumbuan Darvin, meski hatinya tidak rela Darvin memperlakukannya secara tidak hormat, namun tak ada yang bisa dilakukannya kecuali hanya pasrah, bahkan tanpa sadar Darvin telah membuka semua pakaiannya dengan dirinya. Kini mereka tidak memakai sehelai apapun, sehingga Darvin mulai menggauli Naomi perlahan-lahan karena tak ada penolakan darinya, Darvin juga meninggalkan tanda merah di leher putih Naomi.
"sayang tunggulah aku". bisik Darvin dengan nafas yang tersenga-senga, Ia tak bisa menahan hasratnya saat menggauli Naomi, Ia makin membuat Naomi semakin merasakan kenikmatan itu.
__ADS_1
" Mmm,, aahh,, aku tidak percaya padamu". tutur Naomi marah. Darvin semakin kencang memberikan serangan ke Naomi hingga Ia makin meringis kesakitan.
"aku sungguh mencintaimu, lahirkan anak untukku, jangan gugurkan". pinta Darvin kali ini Ia semakin membabi buta menyentuh bagian sensitif Naomi. sungguh malam itu adalah malam Darvin menikmati hasratnya yang sedang merindukan Naomi beberapa lama tak bertemu, Naomi yang semakin merasakan gesekan dari tubuh Darvin makin mencengkram tangannya ke kasur, dengan kedua tangannya menahan rasa sakit yang dipaksakan oleh Darvin. Hatinya makin membenci Darvin dan tak ada yang bisa menolongnya dari kegilaan Darvin malam itu.