
Keesokan harinya, ada yang melihat Naomi bersama Pak Dika makan siang bersama disebuah warung, pikiran jahatnya pun muncul yang melihat hal itu segera memotretnya dan menyebarkan rumor dikampus, Naomi simpanan Om-om. Ia mengirimnya ke situs internet kampus, sehingga dengan cepat menyebar. Hal ini pun sampai ke Hans, tapi Hans tidak percaya, Ia ingin sekali segera bertemu Naomi.
Livy yang melihat hal itu segera mengabari kakaknya Darvin. Kebetulan Livy berada dikantor Kakaknya.
"Ada apa sih Livy, datang dengan nafas tersenga-senga begitu?" Darvin keheranan melihat adiknya.
"Mas Darvin, lihat ponsel kakak yang sudah ku kirim pesan". Jawab Livy masih dengan nafas tersenga-senga.
Darvin membuka ponselnya, betapa kagetnya melihat Naomi sedang makan bersama dengan pria tua. Matanya kemerahan dipenuhi amarah.
"Katanya, Naomi sekarang jadi simpanan Om-om Mas". Lanjut Livy.
Pantas saja akhir-akhir ini Ia mengabaikan pesan dan telponku, ternyata sibuk dengan pria tua. Gumam Darvin.
"Siapa yang mengirim ini?"
"Aku hanya dapat disitus kampus, Mas. Tidak tahu siapa yang mengirimnya".
"Asisten Ram, temukan pria tua itu dan bawa Ia kehadapanku, aku ingin tahu apa yang membuat Naomi menyukainya". Asisten Darvin pun melaksanakan perintah Bosnya.
*********
Dikampus..
"Naomi", Teriak Hans dari kejauhan.
"Kak Hans".
"Naomi, kamu sudah baca berita dikampus?"
"Belum Kak Hans aku sibuk dari kemarin".
"Itu dia wanita murahan, sudah muncul" seorang perempuan berkata, Naomi mendengar hal itu naik pitam.
"Usir dia dari kampus ini". Teriak salah seorang mahasiswa lainnya. Naomi heran kenapa sekampus jadi membullynya.
"Ada apa sebenarnya Kak Hans?"
"Lihatlah berita situs kampus,Nao".
Naomi membuka, betapa kagetnya melihat fotonya bersama pak Dika dengan caption "Gadis simpanan Om-om tajir". Emosinya naik dan benar-benar ingin tahu siapa yang memfitnahnya.
"Nao, kamu dipanggil keruang dosen".
__ADS_1
"Aku akan hadapi dan membereskan semuanya Kak Hans".
"Apa mau aku temani?"
"Tidak perlu Kak Hans, terima kasih atas tawarannya". Ucap Naomi sembari menuju keruang dosen.
Diruang Dosen, Naomi diadili atas rumornya. Naomi santai dan menjawab dengan tenang.
"Beri aku waktu untuk membereskannya dan menemukan pelakunya". Pinta Naomi.
"Baiklah, waktu mu cuma seminggu". Ucap Pak Riko dosen ketua jurusan.
"Bagaimana kalau aku menemukan pelakunya dan itu semua hanya fitnah? Apa kalian akan menghukumnya?"
"Tentu saja, karena telah mencemarkan nama baik kampus kita".
"Kalian yakin, tidak akan pilih kasih?"
"Jangan banyak bicara Naomi, kamu bisa buktikan atau tidak?"
"Saya akan membuktikannya asal kalian mau berjanji menghukum orang yang sudah memfitnah saya".
"Baiklah, kami akan berjanji dan tidak akan melihat siapapun orangnya. Sekarang kamu pulang sementara waktu kami akan menskors kamu dulu". Kata Pak Riko.
"Bagaimana hasilnya?"
"Aku diskors selama seminggu Kak".
"Apa benar kamu....??" Terpotong oleh Naomi.
"Kak Hans, kalau mau percaya silahkan. Nanti tunggu saja kejutan dariku". Ucap Naomi sambil berlalu meninggalkan Hans.
Beberapa jarak dari kampusnya, Naomi menerima telpon dari Bu Lia sambil menangis. Naomi bergegas ke alamat yang diberi Bu Lia.
Setibanya di tempat tujuan, yang ternyata kantor Darvin.
"Tuan Darvin, lepaskan Pak Dika. Ia tidak ada hubungannya dengan semua rumor yang kau terima".
"Sebegitu pentingnya pria tua ini bagimu". Ejek Darvin senyum sinis
"Ku peringatkan jangan menyakitinya, atau aku akan bersikap kasar kepadamu".
"Kau berani? Demi pria tua ini?
__ADS_1
"Kenapa tidak? Asalkan aku berada di posisi benar aku tidak akan takut".
"Naomi, kenapa kamu datang?" Raut wajah Pak Dika khawatir.
"Aku tidak ingin Bapak kenapa-kenapa".
"Bapak tidak mau kamu terluka".
"Jangan khawatir, Pak. Aku akan baik-baik saja".
"Berhenti romantis didepan ku". Gertak Darvin dengan penuh amarah.
"Kalau kau tidak suka, lepaskan kami saja". Kata Naomi dengan santai.
"Aku tanya? Berapa banyak yang pak tua ini berikan padamu?"
"Banyak, tidak bisa terhitung".
"Kau lebih senang dengan mainan yang tua-tua ya sekarang". Ejek Darvin
"Tentu saja, aku senang dengan mereka daripada sama yang muda-muda".
Plak. Emosi Darvin tidak terkendali lagi sehingga Ia menampar Naomi dengan keras. Pak Dika yang melihat hal itu bercucuran air mata.
"Tuan, saya mohon jangan sakiti anak saya". Pinta Pak Dika sambil memohon dan bersujud.
"Anak?" Darvin keheranan. "Apa maksudmu dengan anak?".
"Omi, adalah anak angkat saya dan istri, selama 20 tahun menikah kami tidak punya anak, apapun yang Tuan inginkan akan saya kabulkan asal jangan sakiti, Omi kami".
"Bapak, jangan memohon" Ucap Naomi sambil mengangkat Pak Dika.
"Tidak, Nak. Bapak tidak mau kamu dipukul, Ibu juga pasti sedih kalau tahu kamu dipukul".
"Omi, jelaskan padaku". Raut waajah bersalah Darvin dengan mata berkaca-kaca.
"Tidak perlu penjelasan, kamu sudah dengar semuanya. Hubungan kita antara murid dan guru telah selesai, aku tidak ingin melihatmu lagi".
"Maafkan aku, Omi". Suara serak yang lembut.
"Aku tidak marah atas tamparanmu, tapi kamu menculik ayah angkatku tanpa meminta penjelasanku, langsung menuduh hanya sebuah foto, membuat istrinya dalam ketakutan".
Darvin terdiam, Ia begitu menyesal terlalu gegabah dalam bertindak, hanya karena sebuah foto yang belum jelas.
__ADS_1
Naomi pergi memapah Pak Dika, meskipun tidak terluka tapi Naomi tahu Pak Dika berada dalam trauma besar.