
Kencan pertama Livy bersama Raka, Ia sangat tampil mempesona. Memakai dress di atas lutut berwarna merah mudah kesukaan Livy, sepatu wedges dan tas hermes dengan rambut terurai. Saat Ia keluar melihat Raka yang begitu tampan memakai pakaian biasa, kemeja hitam dengan tangan digulung dan memakai celana kain. Livy terperangah melihat Raka, langkahnya terhenti saat Ia ingin ke Raka. Melihat Livy terdiam, Raka menghampirnya seraya menjentikkan jarinya beberapa kali. "Hey, kamu melamun lagi?
" Ehm, maaf". Balas Livy tersadar dan wajahnya memerah. Ia pun berlari kearah mobil Raka dan masuk sesegera mungkin untuk menghindari Raka melihat wajahnya yang malu.
"Apa kamu hoby melamun?" Tanya Raka sembari menyetir.
"Tidak, maaf. Aku jadi.. " Terpotng saat Raka menyela pembicaraannya.
"Hm, aku paham. Kau terperangah dengan penampilan ku malam ini". Sergah Raka.
" Huh, yah aku akui dari awal melihatmu kamu sangat tampan, jarang-jarang aku melihat lelaki tampan di kota Bandung, kecuali kakakku". Jelas Livy mengendus.
"Tak apa, lama-lama kamu akan terbiasa melihat ku". Ucap Raka seraya memegang tangan Livy dengan lembut, hati Livy makin berdetak kencang, Ia tak bisa menahan lagi wajahnya makin merah dan tangannya mulai berkeringat.
Hm, cukup menarik dan punya nyali besar dengan kejujurannya. Aku akan belajar mencintai Livy, bagaimanapun juga sangat tidak enak mencintai orang tanpa terbalaskan, cukup aku merasakannya yang hampir 7 tahun tidak bisa melupakan Naomi. Gumam Raka dengan tatapan nanar.
__ADS_1
" Mau kemana kita?" Tanya Livy penasaran.
"Candle light dinner, di restoran". Balas Raka senyum.
" Dok, aku boleh tanya sesuatu?"
"Yah". Balas Raka singkat.
" Kenapa dokter Raka mau menerima ku?"
"Ya, aku ingin tahu. Aku tidak mau dokter Raka terpaksa menerima ku". Balas Livy.
" Hm, aku menerima mu karena ingin mencobanya. Apa itu salah?"
"Tidak". Ucap Livy menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
" Aku akan berusaha membalas perasaanmu, jangan berpikir aku terpaksa. Karena aku lelaki lajang, yang harus belajar membalas perasaan orang kepadaku".
"Bagaimana kalau di kemudian hari dokter bertemu orang yang disukai saat hubungan kita masih berjalan?" Tanya Livy cemas.
"Kamu mencemaskan aku jadi lelaki playboy?" Tanya Raka balik seraya tertawa. "Aku telah lama sendiri, sudah 7 tahun. Setiap ada orang yang ingin mendekati ku, aku menghindar. Aku tidak mau menyakiti mereka. Sekarang aku sudah punya kamu, aku akan menjagamu & berusaha semampuku". Jelas Raka dengan tatapan seduh.
" Maafkan aku, dok. Aku pikir dokter menerima ku karena menjaga ku dari rasa malu".
"Aku dan kamu sama-sama lajang. Kenapa tidak saling mencoba? Meski kamu yang lebih dulu menyukai ku, bukan berarti aku harus memanfaatkan perasaanmu? Aku tidak sekejam itu terhadap perempuan". Jelas Raka seraya meremas tangan Livy dengan lembut.
Benar, jika Ia mau mempermainkan ku untuk apa Dokter Raka menjemput ku dirumah? Huh, aku terlalu berpikir jelek terhadapnya. Gumam Livy dengan perasaan lega.
" Apa kau tidak keberatan jika Mas Darvin tahu hubungan kita?" Tanya Livy.
"Ya, terserah kau saja. Jika kamu khawatir denganku di masa depan aku melukaimu, kau boleh mengadu ke Darvin dan menyuruhnya memukul ku". Balas Raka santai.
__ADS_1
Livy merasa lega, Ia benar-benar tidak salah memilih Raka sebagai orang yang disukainya. Meski Raka mengakui belum ada rasa, Livy akan berusaha membuatnya jatuh cinta dan melihat sikap Raka di hari pertama, Ia begitu yakin Raka bukanlah laki-laki bejat. Di hari pertama mereka jadian Raka yang lebih dulu mengajaknya serta tidak menunjukkan rasa keterpaksaan. Raka memang melakukannya dengan sepenuh hati, bagi Raka cinta akan tumbuh dengan sendirinya jika Ia membuka hatinya, bukan menolak hatinya dari orang lain.