Sendiri

Sendiri
Episode 73


__ADS_3

Setelah mengetahui dirinya hamil, Naomi tidak pernah keluar dari kamar atau bahkan dari rumahnya, wajahnya lebih senduh dan sangat muram. Raka dan Livy berusaha menghibur Naomi karena tahu ini adalah hal tersulit baginya melewati semua ini, Hans yang selalu setia mendatangi Naomi tak di gubrisnya sama sekali. Naomi kebanyakan diam, jika waktunya makan Bi Rita yang akan mengantar makanan untuk Naomi karena Ia tak ingin keluar kamar.


Hari demi hari, bulan berganti bulan. tak terasa usia kandungan Naomi sudah memasuki 7 bulan, Ia sudah mulai bisa menerima bayinya dari Darvin, perlahan ada senyum yang mulai menyeka di bibirnya. Raka yang memperhatikan wajah Naomi ada rasa bahagia dalam dirinya, sangat senang, akhirnya Naomi kembali semangat menjalani hidupnya. Manda yang telah dijelaskan oleh Raka kala itu tak bisa menerimanya, namun perlahan Manda mencoba mengerti semuanya, hingga Ia memutuskan untuk tinggal di kota B selama masa kehamilan Naomi.


Sementara itu di kantor Darvin, Ia selalu memperhatikan foto-foto Naomi dari Livy yang mengirimkannya. Meski tak pernah berada di samping Naomi, Darvin menjaga Naomi dari kejauhan, Ia selalu memberikan vitamin, buah bahkan apapun yang diinginkan Naomi. Semuanya diperantarai oleh Livy


"maaf, aku ingin sekali memeluk dan mengelus perutmu yang semakin membesar. Aku rindu kamu, tunggu aku ya". tutur Darvin sedih menatap foto itu diruang kerjanya. Ada air mata yang sedikit jatuh di pelupuk matanya, Ia kemudian tersadar dan mengusap wajahnya dengan begitu kasar. Ia meletakkan foto itu kembali ke lemari kecil yang Ia sediakan khusus berada dekat dengan mejanya dimana semua foto Naomi terkumpul dari awal kehamilannya, Ia menguncinya lalu pergi meninggalkan ruang kerjanya. Dimana hari ini Darvin telah berjanji kepada Sarah untuk pergi melihat cincin pertunangannya, meski Ia sedang malas melayani Sarah, namun Darvin harus melakukannya agar Ia dapat segera bertemu dengan Ronny. Darvin ingin sekali semuanya cepat berlalu, Ia ingin menyelesaikan semuanya selesai sebelum anaknya lahir.


Kala itu Naomi dan Manda sedang berjalan-jalan di pusat perbelanjaan, Manda memaksa Naomi keluar untuk berjalan-jalan dipusat perbelanjaan dimall, tak sengaja mereka bertemu Hans. Akhirnya merekapun jalan bertiga, Naomi merangkulkan tangannya ke Manda sembari berjalan, tanpa sadar mereka sedang berpapasan dengan Sarah dan Darvin. Saat itu wajah Darvin terlihat sangat bahagia karena bertemu ibu dari anaknya. Sarah yang menyadari Darvin menatap Naomi langsung merangkulkan tangannya dengan erat.


"Halo nona Naomi, kamu kelihatan gendutan dan perutmu buncit". tutur Sarah dengan nada bicara menyindir, Darvin melihat Sarah menaikkan alisnya Ia sangat geram tapi menahannya, Darvin berharap Manda akan melawannya. Ia khawatir perasaannya menjadi buruk. " anak siapa itu?" tanya Sarah makin menyindir. Naomi tetap diam tak menghiraukan kata-kata Sarah, Ia tetap mengelus-elus perutnya. "apa kamu tidur dengan banyak orang? hingga tak tahu siapa ayah dari anak itu?" seru Sarah makin membuat Naomi malu, tapi Naomi tak bergeming, Darvin mulai mengepal tangannya tanda Ia mulai emosi dan ingin sekali memukul Sarah.


Plak!! Hans menampar Sarah karena sangat geram, Ia tak tahan mendengar hal buruk tentang Naomi, tanpa pikir panjang Ia menamparnya, sehingga membuat semua tercengang.


"Kau". Sarah menatap Hans dengan penuh amarah, sembari memegang pipi yang ditampar Hans.


Hans. gumam Darvin terkejut, namun Ia langsung menarik kerah baju Hans, menariknya menjauh dari mereka. "bagus, ayo kita berakting". bisik Darvin ditelinga Hans, Ia terkejut, hans berpikir Darvin ingin menghajarnya namun Ia mendapat pujian darinya. "beraninya kau". gertak Darvin masih menarik kerah baju Hans sedang pura-pura emosi.


" wanitamu telah menghina wanita ku, dia pantas mendapatkannya." seru Hans, Naomi dan Manda berlari kearah mereka, karena takut jika mereka berkelahi di tempat umum. sementara Sarah diam di tempatnya senyum terkekeh senang melihat Darvin membelanya.

__ADS_1


"Kak Hans". teriak Naomi, " kak Hans hentikan".


"Omi, hati-hati". seru Manda yang berusaha mencegahnya namun Naomi tak mengindahkan perkataan Manda. Darvin yang melihat Naomi berlari kearahnya, langsung melepaskan kerah baju Hans, karena takut sesuatu terjadi pada Naomi dan bayinya.


" tunggu saja, aku akan memberi mu pelajaran karena sudah memukul wanitaku". ancam Darvin lalu pergi meninggalkan Hans dan berlalu melewati Naomi. Hati Naomi seketika sakit, air mata di pelupuk matanya hampir jatuh namun Ia berusaha menahannya. Hans menghampiri Naomi yang sedang mengkhawatirkannya.


"kamu baik-baik saja?" tanya Naomi cemas, Hans merangkul pinggang Naomi dengan satu tangannya.


"tidak, aku baik-baik saja". balas Hans senyum kecil. Darvin mendengar Naomi memperhatikan Hans seketika hatinya begitu panas, aura suram di wajahnya sangat tampak.


" ayo kita pergi, aku akan membuat perhitungan pada keluarga Hans setelah mengantar mu pulang". ucap Darvin ke Sarah, Ia terus berjalan tanpa menggandeng atau merangkul Sarah. Ia mengikuti Darvin dari belakang dengan senyuman membahagiakan. Hans, Naomi dan Manda yang mendengar hal itu hanya bisa diam.


"kak Hans, bagaimana ini? keluarga mu akan terancam". ujar Naomi sedih.


"Omi, jangan khawatir Hans pasti akan baik-baik saja". seru Manda mengelus rambut Naomi.


"Maafkan aku kak". ucap Naomi tertunduk dan air matanya jatuh. Manda dan Hans khawatir dengan kondisi Naomi Ia segera membawanya pulang, apalgi setelah melihat Darvin pasti hatinya tak karuan. Hans tahu Darvin tak akan melakukan apapun pada usaha keluarganya, karena Darvin senang ada yang memberikan pelajaran pada Sarah.


Ketika Naomi tiba dirumahnya, Ia sedang berbaring dikamarnya dengan perasaan tak tenang memikirkan Hans, Ia tak mau orang lain kena imbas karena dirinya. hingga Naomi bertekad mendatangi Darvin untuk memohon padanya.

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 19:00, Ia tahu Darvin masih ada di kantornya maka Naomi mendatanginya dengan berjalan kaki dari rumahnya ke Kantor Darvin, karena Ia sama sekali tak punya uang dan tak berani minta diantar oleh Raka pasti akan dicegah, minta uang ke Manda pun akan banyak pertanyaan. Tiba di kantor Darvin yang memakan waktu 2 jam, saat itu Darvin memang sedang menenangkan dirinya di kantor karena kejadian tadi siang di mall. Ia duduk di kursi kerjanya dengan menyandarkan dirinya dan menatap ke atap kantor sembari matanya terpejam.


Tok! tok! tok!


suara ketukan pintu dari ruangan Darvin terdengar sangat lembut, matanya terbuka.


siapa yang ada di kantor jam segini? bukankah aku sedang sendiri sekarang. batin Darvin mengernyitkan dahinya. Naomi yang telah sampai dengan keadaan nafas yang hampir habis, keringat bercucuran, karena tak ada yang tahu Ia pergi dari rumah untuk menemui Darvin. Suara ketukan pinitu terdengar lagi, Darvin bangkit dari tempat duduknya lalu berjalan kearah pintu dan membukanya. Ia kaget saat melihat Naomi yang berdiri di depannya dengan keadaan menyedihkan membuat Darvin hancur seketika. "apa yang kau lakukan disini?" tanya Darvin yang memandanginya dari atas kebawah, terlihat kaki Naomi bengkak. Darvin menyuruhnya masuk lalu duduk dan mengambilkannya segelas air tanpa menolak Naomi mengambilnya dan meneguknya langsung tanpa tersisa, karena Ia sangat haus setelah berjalan jauh. Darvin lalu mengambilkan makanannya yang tadi di belikan oleh Bella sekertarisnya dan meletakkan makanan itu di depan Naomi. "makanlah". ucap Darvin datar sembari duduk disampingnya. Namun Naomi menolaknya dengan menggelengkan kepala.


"tuan Darvin terima kasih air putihnya, maaf aku mengganggu mu". ucap Naomi dengan tatapan sendu kearah Darvin dan membuat Darvin tak berani menatapnya kembali hingga Ia memalingkan wajahnya. Darvin melirik Naomi yang sedang mengelus perutnya, ingin rasanya Ia mengelus perut itu yang semakin membesar.


" lalu apa tujuan mu kemari?" tanya Darvin yang meliriknya terus.


"tuan, tolong jangan lakukan apapun pada usaha Hans, aku bersedia melakukan apapun untukmu". Naomi memohon dengan mengatup kedua tangannya. Darvin tercengang tak menyangka Naomi mendatanginya hanya untuk memohon padanya demi Hans.


" apa Hans yang menyuruhmu?" tanya Darvin lagi.


"tidak, ini hanya inisiatif ku sendiri, Hans tidak tau aku mendatangi mu tuan, aku tidak mau karena membelaku Hans akan dapat masalah". jawab Naomi menggelengkan kepalanya.


" baiklah, temani aku malam ini ". tutur Darvin senyum menyeringai.

__ADS_1


" apa!" Naomi terkejut. Ia terdiam sejenak dan menundukkan kepalanya. Darvin memandanginya, dengan wajah sedih tapi Naomi tak melihat itu.


"bagaimana?" tanya Darvin dengan suara meninggi membuat Naomi kaget. Naomi langsung. mengiyakannya. "kalau begitu makanlah, aku menunggumu di kamar pribadiku". ucapnya lagi dengan lembut sembari berdiri berjalan ke kamar pribadinya yang ada di ruang kerjanya. Malam ini memang Darvin tak ingin pulang karena hatinya tak karuan, namun rasa itu telah hilang ketika melihat Naomi, Ia memanfaatkan situasi ini demi bisa menghabiskan malam dengan Naomi. Meski tujuannya untuk Hans, namun Darvin mengerti kekhawatiran Naomi. Maka ia tak ingin berdebat lama dengannya, takut membuat suasana hatinya tak tenang. Naomi menuruti keinginan Darvin Ia memakan makanan itu dengan lahap, karena memang Ia sangat lapar, semakin perutnya membesar semakin banyak yang ingin di makannya. Darvin memperhatikan Naomi dari balik pintu dengan hati yang teramat sedih, karena membuat wanita disayanginya harus menderita dimasa Ia hamil anaknya. Air mata di pelupuk matanya jatuh, namun sesegera mungkin menyekanya dengan tangannya.


__ADS_2