
Kedatangan Raka membuat hati Darvin tidak karuan, Ia tidak mau keluar rumah sebelum Raka atau Naomi yang keluar terlebih dahulu. Darvin menyadari kedatangan Raka kesini bermaksud untuk memenangkan hati Naomi. Meski Ia tahu, Naomi sudah memilihnya akan tetapi Ia tetap saja merasa khawatir. Namun rasa khawatirnya tidak Ia tunjukan ke Naomi karena takut akan terjadi pertengkaran di antara mereka, terlebih lagi Darvin tahu bagaimana sikap Naomi membela mantan iparnya.
Ketika sedang melamun, tanpa sadar Naomi masuk dan beberapa kali memanggilnya tapi tidak ada jawaban, Naomi kemudian mengagetkannya dari belakang dengan memeluknya secara tiba. Darvin tercengang dan berkata, "sekarang kamu jadi pintar mengagetkan ku".
" Mas Darvin melamun, dari tadi aku memanggilmu tapi tidak ada jawaban. Ada apa sih Mas?" Tanya Naomi penasaran.
"Tak ada, hanya memikirkan urusan kerjaan saja". Jawabnya berbohong.
" Mas kamu setujuka Mas Raka disini?" Tanya Naomi lagi.
Mendengar hal itu Darvin tak bergeming, Ia terdiam dan mnggertakka giginya tapi Naomi tidak menyadarinya. Sambil melepas pelukan Naomi dari belakang Ia pun menjawab dengan suasana hati yang penuh kecemburuan, "asal kau bahagia".
"Mas, aku tahu kau cemburuan. Tapi bisakah kau berdamai dengan Mas Raka?" Biar bagaimanapun aku hanya punya mereka sebagai keluarga".
__ADS_1
"Sudahlah tidak perlu di bahas". Sergah Darvin datar, Ia pun pergi meninggalkan Naomi.
Aku tahu kau cemburu, aku sengaja membuat Mas Raka tinggal disini agar kau tidak bisa meninggalkan ku. Gumam Naomi senyum sinis.
Naomi kegirangan karena Darvin marah, membuatnya marah adalah rencana Naomi agar Darvin tidak pernah berpikir untuk menjauhinya lagi meski Darvin telah berjanji untuk menikahinya tapi Naomi tetap merasakan kekhawatiran di tinggal Darvin.
Melihat keakraban Raka dan Naomi, Darvin makin memanas hatinya. Darvin seperti ingin meledak, tapi Ia menahannya. Ia menghampiri mereka yang sedang berada di ruang tamu, mengobrol dengan penuh canda tawa. Darvin makin geram dan tidak bisa menahannya, Ia kemudian memanggil Naomi untuk bicara berdua.
" Tunggu sebentar ya Mas Raka". Ujar Naomi yang kemudian menuju kamarnya.
"Aku buat apa?" Tanya Naomi balik.
"Kamu tahu aku sangat cemburuan, kenapa kamu terlalu akrab dengan Raka? Aku tahu Raka kau anggap kakak bagimu, tapi bagaimana dengan dia?"
__ADS_1
"Mas, kamu jangan marah dulu". Ucap Naomi menarik tangan Darvin, tapi Darvin menghempasnya. " Kamu jangan kayak anak kecil". Lanjutnya.
"Yah, kalau menurut kamu aku anak kecil, batalkan saja semuanya". Tandas Darvin emosi.
Naomi yang mendengar hal itu kaget dan terdiam sejenak, air matanya kemudian menetes, Ia pun berbalik dan berkata, " aku memang bukan yang terbaik untukmu, maaf aku membuatmu kesal dengan tingkahku. Aku tidak akan memintamu lagi di sampingku, jika kau ingin membatalkan semuanya, tak apa tapi kita berpisah baik-baik yah, jangan dengan penuh amarah agar kita bertemu tidak saling dendam".
Sontak Darvin tersadar, Ia kemudian berlari menarik Naomi dalam pelukannya. Ia sadar ucapannya membuatnya akan kehilangan Naomi lagi. "Maafkan aku, sesaat aku terbawa emosi. Aku memang kekanak-kanakan, aku akan belajar untuk tidak cemburu kepadamu".
" Percayalah padaku, aku percaya padamu. Kenapa kau tidak seperti itu juga?" Tanya Naomi.
"Rasa takutku di masa lalu membuatku mudah cemburu".
" Yah, aku paham. Belajarlah perlahan-lahan".
__ADS_1
Beberapa saat mereka menikmati pelukan, Darvin kembali tenang dan Naomi merasakan kenyamanan serta kehangatan dalam pelukan Darvin.