Sendiri

Sendiri
Episode 72


__ADS_3

Beberapa minggu telah berlalu, sejak kejadian di hotel kala itu Darvin tak pernah lagi menampakkan dirinya ke Naomi bahkan menghubunginya melalui via whatsapp atau telpon pun tak ada. Rasa kebencian dalam diri Naomi muncul terhadap Darvin Ia telah mengira Darvin lelaki bejat yang hanya ingin mengambil keuntungan darinya. Sejak saat itu dimanapun Naomi berada Ia lebih banyak diam dan tak berinteraksi dengan siapapun, saat melihat Livy atau Hans di kampus Naomi sangat acuh. Ia benar-benar tak peduli dengan keberadaan mereka, Hans dan Livy sangat sedih melihat Naomi. Dirumah pun tetap sama, Naomi tak mengindahkan Raka Ia selalu menikmati dunianya sendiri dengan memainkan piano, berlatih bela diri dan melukis. Naomi lebih banyak diam. Raka hanya bisa mengawasinya saja, Ia membiarkan Naomi dengan dirinya sendiri, apalagi sekarang dirumah mereka sudah ada Bi Rita yang mengurus urusan rumah, sembari menjaga Naomi.


Hari berikutnya, Naomi mulai merasakan sesuatu yang lain di perutnya, bahkan Ia sedikit mual di pagi hari. Setiap kali Ia makan rasanya sedikit membuatnya ingin muntah, Naomi merasa tak biasanya, hingga Ia menanyakan ke Raka yang sedang terjadi dengannya kala itu, Ia menghampiri Raka yang sedang bekerja di meja kerja di kamarnya, kamar Raka terbuka jadi Naomi masuk menghampirinya tanpa mengetuk.


"mas aku merasa beberapa hari ini perutku tidak enak dan selalu saja mual di pagi hari, aku kenapa ya?" tanya Naomi dengan wajah cemas dan sedikit agak pucat, Raka senang akhirnya Naomi mau berbicara kepadanya.


"aku periksa kamu, kita ke rumah sakit B sekarang juga". seru Raka bersiap diri mengambil tas dan menarik tangan Naomi menuju mobilnya. lalu menancap gas menuju kearah rumah sakit B.


Setibanya disana, mereka bertemu Livy karena tadi saat di mobil Raka menghubunginya menyuruhnya ke Rumah sakit B. Raka menyuruh Naomi masuk ke ruangannya ditemani Livy, Ia memeriksa Naomi. Namun karena Raka tak mengerti akhirnya Ia memanggil dokter kandungan, saat di USG dokter yang teman Raka mulai menjelaskan.


" Nona selamat anda hamil". tutur sang dokter. Mereka semua terkejut, terutama Raka yang tak menyangka jika Naomi hamil, selama ini Ia sangat tahu jika Naomi adalah orang yang paling menjaga dirinya. Dokter itupun keluar dengan wajah senang, sementara Raka dan Livy tak percaya.


"Omi, siapa yang melakukannya?" tanya Raka dengan pandangan sayu. Livy sangat terkejut hingga Ia tak bisa berkata apapun. Naomi hanya bisa diam, Ia seakan tak tahu harus menjawab apa, Naomi hanya bisa menangis dan bingung harus bagaimana dengan anak yang dikandungnya, Ia menyangka jika Darvin tidak mau bertanggung jawab padanya "Omi jawab aku, apa Darvin yang melakukannya?" Tanya Raka lagi dengan suara yang mulai meninggi, karena telah prustasi hingga Ia tak bisa mengontrol dirinya, Raka paham diamnya Naomi adalah benar, Ia keluar dari rumah sakit dengan penuh amarah. Sementara Naomi hanya bisa menangis, Livy mengejarnya namun Raka sangat cepat hingga Ia kehilangan Raka. tapi Ia juga tak mau meninggalkan Naomi sendiri, Livy merasa saat ini Naomi sedang berada dalam keterpurukan. Ia mendekati Naomi yang sedang duduk di kasur pasien dalam keadaan menangis, Livy memeluknya dan ikut menangis. Ia sangat mengerti dengan perasaan Naomi saat ini Jika benar ini adalah kelakuan kakaknya, Livy tak akan pernah memaafkan Darvin.


Sementara itu, Raka yang tiba di kantor Darvin menerobos masuk ke ruang kerja Darvin. bahkan satpam tak bisa menghentikan langkah Darvin yang begitu sangat marah. Darvin yang melihat kedatangan Raka menanggapinya sangat santai, Raka mendekati Darvin yang sedang berdiri membaca dokumen, tanpa basa basi Raka langsung menghantam Darvin dengan kapalan tangannya. Karyawan yang melihat hal itu ingin melarai karena melihat Darvin mengeluarkan sedikit darah dari pinggir bibirnya, namun Darvin melarang mereka ikut campur.

__ADS_1


"biadab kamu Darvin". maki Raka dengan emosi. Meski Darvin tak mengerti arti dari kemarahan Raka Ia tak membalas pukulan dan makiannya, Ia tahu ini semua ada hubungannya dengan Naomi. " kenapa kamu menghancurkan hidup Naomi?"


"apa maksudmu?" tanya Darvin menatap Raka dengan keheranan sembari menyeka darah yang ada di pinggir bibirnya. Raka menatap sekelilingnya yang dikerumuni oleh para karyawan Darvin, Ia tak berani mengatakan di hadapan banyak orang karena takut mencemarkan aib Naomi. Darvin yang paham hal itu memerintahkan Ram. "ram suruh mereka kembali kerja". ram hanya mengangguk dan menyuruh mereka semua kembali bekerja lalu Ram menutup pintu Darvin dengan rapat, sekarang hanya ada mereka bertiga dalam ruangan itu. Namun Raka menatap Ram, Darvin paham. " tenanglah, Ia orang kepercayaan ku" tutur Darvin.


"Vin, Omi hamil". seru Raka sedih, Ja sedikit agak tenang dan mulai mampu mengontrol emosinya. Darvin mendengar hal itu tercengang Ia diam menatap Raka dengan santai, sementara Ram sangat terkejut karena merasa bosnya baru pertama kali menghamili seorang wanita.


" Raka, sementara waktu jagalah Omi dan bayiku. Aku mengakui anak itu". jelas Darvin tatapan sedih dan bercampur bahagia. Raka melihat ke arah Darvin dengan rasa tak percaya jika Ia akan mengakuinya, selama ini Raka sudah salah menilai Darvin, Ia bertanya-tanya dalam benaknya kenapa Darvin meninggalkan Naomi disaat Ia sudah mulai bisa menerima Livy dalam hidupnya. "Ram jelaskan padanya". Titah Darvin sembari melirik kearah Ram. Ram lalu menjelaskan semuanya, sesaat Raka tercengang. Semua tanda tanya dalam benaknya akhirnya terjawab.


" aku paham. aku akan mencegahnya sebisaku". tutur Raka.


"cegahlah Omi menggugurkannya, jika ini selesai aku akan langsung menikahinya. Tapi ketika aku gagal, aku akan membuat seluruh yang ku punya menjadi milik Omi". Jelas Darvin. Raka pergi meninggalkan Darvin dan Ram.


"Ram, hubungi Hans kabarkan hal ini kepadanya agar Ia bisa lebih waspada menjaga Naomi". titah Darvin, Ram hanya mengiyakan perintah bosnya.


Raka kembali kerumah sakit dengan perasaan sedih dan kecewa. Livy menghampirinya dengan rasa cemas. " bagaimana?" tanya Livy. Raka hanya melihat Livy dengan tatapan yang dapat diartikannya ada rasa kecewa dan sedih. Ia kini paham maksud dari Raka tak ada apa-apa yang bisa dilakukannya. Raka menghampiri Naomi. "raka, Omi ingin menggugurkan bayinya". sergah Livy memberi tahu Raka karena dari tadi dia berusaha mencegah Naomi tapi tak berhasil.

__ADS_1


" Omi, lahirkan anak itu. Dia tak bersalah". tutur Raka.


"bagaimana dengan mama? dia pasti tidak akan mau menerima ku, aku sudah buat kesalahan" Naomi menangis sembari memukul perutnya, Raka mencoba melerai sebisanya dan berusaha menenangkan.


"aku akan menjelaskan ke mama, jangan khawatir. aku akan pulang ke kota X sekarang juga". Raka ingin pergi tapi tangannya di tarik oleh Naomi.


" tidak perlu mas, mama akan datang dalam beberapa hari". seru Naomi.


"Dok apa kata kakakku?" tanya Livy penasaran.


"tidak ada, dia tak ingin bertanggung jawab". balas Raka kecewa. Livy dan Naomi kaget mendengarnya. Naomi makin terisak-isak suaranya makin keras sedangkan Livy dalam dirinya penuh amarah.


" brengsek, akan ku bunuh mas Darvin" teriak Livy, Ia kemudian pergi dari kamar Naomi namun Raka berhasil mengejarnya dan mengajaknya duduk di bangku koridor rumah sakit, Ia menjelaskan semuanya.


"aku tidak bisa berbicara hal ini ke Naomi, kamu harus bantu aku menjaga dan mencegahnya". pinta Raka.

__ADS_1


" iya, bagaimanapun juga itu adalah keponakan ku, setidaknya mas Darvin bukan orang seperti itu". ucap Livy tenang. setelah mendengar penjelasan Raka, ia akhirnya paham dan akan membantu kakaknya, pantas saja selama ini Darvin tak pernah emosi ketika menghadapi siapapun yang berhubungan dengan Naomi.


Sementara itu Naomi sedang meratapi nasibnya yang tak mau diakui oleh laki-laki yang telah menghamilinya. Ia benar-benar bingung, dalam pikirannya selalu ingin menggugurkan kandungannya namun selalu terngiang suara Ranvie di telinganya yang terus memanggilnya "mama". Mengurungkan niatnya untuk tidak menggugurkannya, tapi setiap kali mengingat Darvin, pikirannya kembali lagi ingin melakukan aborsi.


__ADS_2